NovelToon NovelToon
The Mafia'S Obsession

The Mafia'S Obsession

Status: tamat
Genre:Pengganti / Keluarga & Kasih Sayang / Action / Mafia / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Psikopat itu cintaku / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:245.1k
Nilai: 4.8
Nama Author: eka zeya257

WARNING!!

Mengandung adegan baku hantam, harap bijak dalam membaca!!



Ava Claire, gadis muda yang memiliki sifat tenang dan juga cuek. Ava tergabung dalam organisasi yang menawarkan jasa pengawalan. Ava menjadi salah satu anggota bodyguard paling terkenal di dalam lingkup organisasinya, ia bahkan banyak di idolakan oleh para pria yang seprofesi dengannya.

Hingga suatu hari, Ava yang baru saja selesai bertugas menjadi target pembunuhan oleh orang tak di kenal. pertarungan di antara mereka tak bisa terelakan hingga akhirnya Ava terjatuh ke dalam jurang dan meninggal seketika.

Ava mengira ia akan pergi ke alam kematian, tapi ternyata ia justru masuk ke dalam tubuh seorang gadis yang sedang mendekam di penjara.

Seperti apa kisah perjalanan Ava selanjutnya? yuk baca aja gaes...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 27

Malam sudah berganti pagi, namun Ava masih terlelap di alam mimpi. Ia bahkan mengabaikan suara alarm yang ada di ponselnya. Hingga tarikan selimut dan suara lantang sang Mamah, membuat gadis itu terlonjak kaget.

"Ava, bangun! Kamu mau telat ke sekolah?" ujar Jasmine seraya berkacak pinggang.

"Eugh, lima menit lagi, Mah."

"Nggak bisa, bangun sekarang, Sayang. Itu di bawah ada calon suami kamu." Tutur Jasmine.

Mendengar perkataan sang Mamah, gadis itu justru tertawa. Ia mengira jika ucapan sang Mamah hanya gurauan semata.

"Mah, ini masih pagi. Jangan bohong dulu, Azhar semalam udah pulang loh," sahut Ava.

"Ck kamu nggak percaya sama Mamah?"

Melihat wajah Jasmine yang cemberut, Ava langsung duduk di atas kasur dan memeluk pinggang Jasmine dengar erat.

"Aku percaya, Mah." Sahut Ava.

Gadis itu merasakan usapan lembut di atas kepalanya, seketika Ava terbuai ia sudah lama tidak mendapat perhatian kecil seperti itu dari seseorang.

"Sudah, sana mandi. Kamu bau," ledek Jasmine.

"Ih Mamah kok gitu, badan aku wangi gini di bilang bau?" protes Ava tak terima.

Jasmine tersenyum, ia melepas pelukan Ava lalu menangkup kedua pipi putrinya, "Ya, anak Mamah memang wangi tapi..."

"Tapi apa, Mah?" sahut Ava penasaran.

"Tapi wangi jigong haha," jawab Jasmine seraya melepas kedua tangannya dari pipi Ava.

"Mamah!" pekik gadis itu cemberut.

Jasmine masih saja tertawa, ia lalu menyuruh Ava bergegas mandi agar tidak telat masuk ke sekolah.

Beberapa saat kemudian, Ava sudah selesai berpakaian. Ia mengenakan seragam sekolahnya, lalu meraih ransel serta ponsel. Ia bergegas keluar dari kamar.

Namun langkah Ava terhenti ketika melihat sosok Azhar, sedang duduk bersama Jasmine di meja makan. Ia merasa heran, masih pagi-pagi begini tapi Azhar sudah ada di rumahnya, padahal semalam pemuda itu pulang larut.

Ava menghampiri mereka, begitu netranya bertatapan dengan pemuda tersebut Ava langsung bertanya padanya.

"Kenapa kamu sudah ada di rumahku?" ujar Ava tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.

"Mau nganter kamu sekolah, tadi Bang Marvel pergi duluan katanya ada kelas pagi." Sahut Azhar, tanpa mengalihkan pandangan dari Ava.

Mereka bertiga sarapan dengan lancar, hingga dua puluh menit kemudian mereka berdua berpamitan pada Jasmine.

...***...

Satu jam kemudian, Ava tiba di depan gerbang sekolahnya. Ia berniat turun, namun secara mendadak Azhar menarik pergelangan tangannya.

"Tunggu sebentar, Va." Ujar pemuda itu.

Ava terdiam, ia menaikan satu alisnya ketika melihat Azhar sibuk membuka dompet. Pemuda itu mengambil salah satu kartu berwarna hitam, lalu memberikannya pada Ava.

"Ini pakailah sesukamu, jika kurang kamu minta saja padaku." Ujar Azhar.

Namun Ava menolaknya, "Aku nggak mau, kamu simpan saja! uang jajanku masih cukup."

"Tapi, Va. Bisa saja kamu kekurangan uang nanti,"

"Zhar, di sekolahku belum ada sistem bayar pake kartu. Lagi pula jajanan di sini harganya masih terjangkau, aku nggak mau mencolok." Tolak Ava lagi.

Mendengar penjelasan Ava, Azhar kembali memasukan kartunya ke dalam dompet. Ia lalu menarik uang tunai yang ada di sana, dan menyodorkan kembali pada gadis itu.

"Aku ada uang cast, terima yah meski ini cuma sedikit." Ucap Azhar memelas.

Ava menghela nafas berat, uang yang di berikan Azhar berbentuk dollar dan jumlah lebih dari sepuluh juta jika di nominal kan ke dalam rupiah.

"Zhar, ini bukan luar negeri. Aku nggak bisa pakai dollar, sudahlah aku turun dulu keburu bel masuk nih." Pamit Ava.

Tanpa menunggu jawaban pemuda itu, Ava bergegas turun dan berlari memasuki halaman. Seketika Azhar menggeram marah, ketika melihat seorang pemuda menyambut kedatangan Ava lalu merangkul pundak gadis itu.

"Sialan, siapa pemuda itu? Dari kemarin dia selalu menempel pada gadisku!" gerutu Azhar.

Ia memperhatikan mereka berdua yang berjalan menuju lorong, setelah Ava tak terlihat Azhar tanpa sadar memukul stir mobil cukup keras, hingga meninggalkan bekas kemerahan di tangannya.

"Aku harus menyelidiki pemuda itu, bila perlu akan aku singkirkan dia dari sisi gadisku!" tekad Azhar.

Ia menyalakan mesin mobil, dan bergegas meninggalkan area sekolah. Tanpa Azhar sadari, sejak tadi seorang gadis tengah memperhatikannya dari samping sekolah.

"Siapa pria yang bersama Ava? Sepertinya tidak asing," gumam gadis itu yang tak lain adalah Mila.

Ia tidak mengenali Azhar, karena saat Azhar berkunjung ia selalu izin pada guru. Entah itu pura-pura sakit, atau pulang lebih awal. Itulah alasan Mila tidak mengenal Azhar, ketika berpapasan di rumah sakit.

...***...

Di lain tempat, Kai baru saja menyelesaikan laporan yang di minta oleh Azhar kemarin malam. Pemuda itu memijit pelipisnya pelan, setelah semalaman menggarap berkas tanpa tidur sedikit pun.

"Kalau saja dia bukan bosnya, sudah pasti aku maki-maki dia!" dumel Kai.

Bersamaan dengan itu, pintu ruang kerjanya di buka oleh Gilang. Seketika Kai mengernyit heran melihat kedatangan pria, yang di benci oleh Tuannya.

"Selamat pagi, Pak." Sapa Kai sopan.

"Pagi, dimana adikku?" sahut Gilang, seraya bertanya balik.

"Tuan muda sedang menemui gadisnya," jawab Kai.

Sontak Gilang menaikan satu alisnya, "Gadisnya?"

"M-maksud saya, calon istrinya, Pak."

Kai terlihat panik, ia terbiasa mendengar Azhar selalu memanggil Ava dengan sebutan gadisnya. Maka dari itu, tanpa Kai sadari ia mengikuti sebutan tersebut.

"Begitu, tolong sampaikan padanya untuk menemui ku nanti setelah anak itu kembali ke sini." Ucap Gilang.

Kai mengangguk singkat, baru saja Gilang berniat pergi tiba-tiba Azhar muncul di depan pintu, sambil membawa dua gelas kopi.

"Ada perlu apa denganku?" tanya Azhar dingin.

Ia menyerahkan kopi itu pada Kai, setelahnya Azhar kembali menatap tajam ke arah sang Kakak.

"Maaf sudah mengganggu waktumu, Zhar. Tapi ada hal penting yang harus kamu tau,"

"Tidak usah basa basi, katakan saja poin pentingnya setelah itu segera keluar dari ruanganku!" tegas Azhar.

Gilang mengangguk lesu, tembok kebencian yang di bangun oleh Azhar begitu tinggi. Bahkan Gilang merasa mustahil bisa menerobos tembok tersebut.

"Papah sudah menyiapkan beberapa orang untuk menyambut kedatangan calon istrimu, Kakak harap kamu bisa menjaga calon istrimu nanti saat bertemu dengan Papah." Ucap Gilang.

Mendengar hal itu, bukan hanya Azhar yang terkejut tapi juga Kai. Mereka berdua tak menyangka, Morgan sampai membawa orang-orang hanya untuk menguji gadis kecil itu.

"Dari mana Kakak dapat informasi seperti ini?" ujar Azhar mulai curiga.

"Aku melihat secara langsung, dan Papah juga bilang jika kamu tidak boleh terlibat dalam ujian yang nanti di berikan pada calon istrimu."

Azhar mengangguk paham, "Ya, sekarang Kakak boleh pergi. Aku banyak kerjaan, informasi ini biar aku yang urus."

"Zhar, ini bukan masalah sepele. Calon istrimu dalam bahaya, sebaiknya kamu menunda pertemuannya dengan Papah!" saran Gilang.

Namun hal itu di tolak mentah-mentah oleh Azhar, ia sudah menunda pertemuan Ava dan Morgan dari janji yang ia jalin bersama sang ayah, jika ia terus mengulur waktu maka Morgan pasti akan bertindak seenaknya lagi padanya, Azhar tak ingin hal itu terjadi.

"Jangan ikut campur dengan urusanku, Kak! Gadisku tidak selemah yang kamu pikirkan, aku percaya padanya dan aku tetap akan mempertemukannya dengan Papah!"

"Tapi, Zhar-"

"Pergi! Sebelum aku robek mulutmu itu, Kak!" ancam Azhar tak main-main.

1
risa nisa
ooo plot twist ges
A.R
mungkin Carlos saudara sama mamanx Ava
A.R
ngk ush ksih ke bapak Lo tuhh uang 200T mending kabur truss nikah sama sih psikopat,supaya ada yg ngelindungi lohh
A.R
mungkin bpknx punya saudara kembar identik
Fatimah Ima
karyamu sangat bagus kak aku sukaaaa
marchang
gilaaa bagua bgt thorr alur nyaa
Kustri
byk bgt tokoh, masalah & misteri
hrs lbh teliti baca'a
Kustri
hah 200T...hanya di NT😁
klo di koinkan, brp gedung🤣
Kustri
lho lho lho, bukan'a ava msh dirumah hbs dicambuk sm mark, koq ini ada ditaman, apa cm bayangan🤔🤔🤔
Kustri
va, knp km gk kembali ke rumahmu sendiri
Kustri
iki bp kandung udu yo, biadab men
pembalasan lbh sadis dr perbuatan, siapkan dirimu mark
Kustri
sama" gk diakui di klga
wah ini jodoh😁
Kustri
wkwkkk kamu akan benar" gila azhar, makanlah omonganmu sendiri
Kustri
abot men jenenge bumi nggo galaxi
KaylaKesya
terbaek thor 🥰🫰💪
Eliza
bagus banget🥹
Kak Ruy
Ava kurang peka menjaga rahsianya sendiri
Sri Lestari
Luar biasa
Di Elva
bagus critanya.. tidak ada bumbu romantisme yg lebay, semua sesuai takaran yah.. sukak kale ahhh
siti nurkhasanah
keren banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!