Di usianya yang sudah genap dua puluh tujuh tahun Sandi Atmojo belum sedikitpun memikirkan tentang pernikahan sehingga kedua orang tuanya jadi khawatir putranya tersebut akan memilih hidup Single seumur hidup. Untuk mencegah hal itu sampai terjadi, sang mamah terus memaksanya untuk mencari calon istri, namun jawaban Sandi tetap sama, yaitu belum berniat menikah sebab belum memiliki calon. "Jika kamu tidak sanggup mencari calon istri, biar mama yang akan mencarikan calon istri untuk kamu." Pada akhirnya sandi tak dapat menolak lagi, dan membiarkan mamah mencarikan calon istri untuknya. Akan tetapi, Sandi tak menyangka jika pilihan mamahnya adalah seorang wanita yang berstatus single Mommy.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20.
Tak lama setelah Vania tertidur Sandi pun mematikan laptopnya, meletakkan benda tersebut ke atas nakas kemudian ikut mengistirahatkan tubuhnya. Seharian berkutat dengan rutinitas di hotel kemudian dilanjutkan dengan mengecek beberapa pekerjaan lainnya, membuat Sandi lumayan lelah hingga tak butuh waktu lama untuk memasuki alam mimpi.
Sinar matahari yang nampak malu-malu terlihat menyelinap masuk melalui celah ventilasi kaca membangunkan Vania dari tidurnya.
Saat pertama kali membuka mata, pandangan Vania tertuju pada sosok pria yang kini tidur di sampingnya. Tidak dapat dipungkiri, seorang Sandi Admodjo memang memiliki wajah yang sangat tampan, bahkan dalam kondisi tidur sekalipun pria itu tetap saja terlihat tampan. Tak sedikitpun terlihat aura keburikan apalagi kekucelan. Pesona anak tunggal dari keluarga kaya raya sangat kental pada diri seorang Sandi Admodjo, berbeda jauh dengannya yang hanya seorang anak yang dibuang oleh ibunya akibat dianggap sebagai aib dalam keluarga.
Vania sontak saja memalingkan wajahnya saat menyadari pergerakan tubuh Sandi. Sandi menyipitkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya.
"Sudah jam berapa sekarang?."
"Jam enam pagi."
Sandi merubah posisi tidurnya, kini pria itu duduk bersandar pada hearboard ranjang.
"Hari ini saya tidak akan ke hotel, soalnya ada urusan penting di perusahaan." Secara tidak langsung Sandi menyampaikan jika hari ini mereka tidak bisa berangkat bersama. Ya, arah menuju perusahaan dan hotel tidak searah. Jika Sandi mengantarkan Vania terlebih dahulu ke hotel bisa dipastikan pria itu akan terlambat tiba di perusahaan.
Vania mengangguk paham. Lagipula tidak masalah baginya jika harus berangkat seorang diri, begitu dalam hati Vania. Justru lebih aman, ia tak perlu merasa khawatir ketahuan oleh pegawai hotel Admodjo Group turun dari mobil pimpinan hotel.
"Pagi pah....pagi mah...." Kedatangan Sandi dan Vania di ruang makan disambut oleh senyuman manis Sesil.
"Pagi, sayang..."Balas Sandi dan Vania nyaris bersamaan. Sandi mengecup puncak kepala Sesil dengan penuh kasih sayang.
"Masih pagi begini anak papah sudah cantik banget. Memangnya Sesil mau pergi kemana, hm?." Sandi menarik kursi di sisi kiri Sesil kemudian menempatinya. Sedangkan Vania menempati kursi yang berada di sisi kanan bocah itu.
Sesil memandang pada Oma dan Opanya yang kini duduk bersebrangan dengan posisi mereka. "Sesil mau jalan-jalan bersama Opa dan Oma."
"Ohiya...sayang banget papah harus berangkat kerja, jadinya nggak bisa ikut."
"Papah jangan sedih! Nanti kalau papah lagi nggak sibuk, kita bisa pergi jalan-jalan bertiga. Papah, mamah dan juga Sesil, pasti seru deh." Sesil mengusap lembut wajah Sandi seolah sedang menghibur agar ayahnya itu tidak bersedih.
"Okey." Balas Sandi seraya mengukir senyum di bibirnya.
"Sekuat inikah ikatan batin?." Dalam hati Vania saat menyaksikan interaksi hangat antara Sandi dan Sesil.
Setelah selesai sarapan, Baik Sandi dan juga Vania berpamitan untuk berangkat kerja. Keduanya meninggalkan rumah dengan mengemudikan mobil masing-masing. Sandi bertolak menuju perusahaan, sedang Vania menuju hotel.
*
Baru saja tiba di hotel, pandangan Vania sudah disuguhi perkumpulan beberapa pegawai yang terdengar membahas tentang urusan pribadi bos mereka.
"Aku jadi penasaran secantik apa istrinya tuan Sandi."
"Sama, aku juga penasaran banget."
Menyadari keberadaan Vania berjalan melintasi lobby, para pegawai tersebut lantas membubarkan formasi pergunjingan mereka, dan berlalu satu persatu.
Vania hanya geleng kepala. Bisa-bisanya mereka sibuk menggunjing pimpinan, bukannya justru menyelesaikan pekerjaan mereka.
"Pagi Vania ku, sayang." Sapa Cika melihat Vania hendak memasuki ruang kerjanya.
"Pagi juga Cika ku, sayang." Balas Vania dengan wajah dibuat lebay, mirip dengan Cika ketika menyapanya.
"Hahaha...." Cika tertawa melihat Vania menirukan gayanya. "Kamu ini bisa saja."
"Ohiya, tadi pak manager menitip pesan untukmu. Katanya siang nanti kamu di minta menemani beliau meeting diluar."
"Meeting di luar?." Cicit Vania dan Cika pun mengangguk mengiyakan.
"Baiklah." Sekalipun hati nurani ingin menolak, tapi sebagai bawahan hal itu tidak dapat dilakukan oleh Vania.
Tepat pada waktu istirahat makan siang, Vania dan manager hotel bertolak meninggalkan hotel dengan diantarkan oleh sopir hotel.
Dua puluh menit kemudian mereka pun tiba di sebuah restoran. Tanpa rasa curiga sedikitpun, Vania memasuki restoran bersama atasannya tersebut.
"Kamu mau minum apa, Vania?."
"Nanti saja pak, saya akan membuat pesanan setelah klien kita datang. Biar sekalian membuat pesanan untuk klien." Jawab Vania.
"Barusan tuan Amir mengirim pesan pada saya, katanya beliau akan datang sedikit terlambat soalnya terjadi sedikit masalah di sana. Daripada kamu kehausan menunggu lama, sebaiknya sekarang kita pesan minum, Vania!." Sejujurnya Vania pun merasa haus.
"Baiklah, pak."
Vania melambaikan tangan pada pelayan guna membuat pesanan. Setelah pelayan menghampiri meja mereka, Vania lantas membuat pesanan begitu juga dengan pak manager.
"Saya ke toilet sebentar." Pamit pak manager dan Vania pun mengangguk mengiyakan tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun.
Tak lama kemudian, pak manager kembali dan di susul oleh pelayan yang membawa dua gelas jus jeruk pesanan mereka. Usai menghidangkan minuman dimeja, pelayan lantas pamit undur diri guna kembali melanjutkan pekerjaannya.
Jus jeruk tersebut terlihat begitu menggoda sehingga Vania langsung meneguknya hingga tersisa setengahnya.
Beberapa saat setelah meneguk jus jeruk tersebut Vania merasa kepalanya mulai pusing.
"Ada apa, Vania?." Tanya pak manager dengan nada khawatir, namun dalam hati pria itu tersenyum penuh kemenangan.
"Tiba-tiba saja saya merasa kurang enak badan, pak." Vania berdiri dari tempat duduknya.
"Saya akan mengantarmu pulang, Vania."
"Tidak perlu, pak. Saya bisa naik taksi online." Vania menepis tangan pak manager ketika hendak menyentuh bahunya, kemudian berlalu dengan langkah sempoyongan.
Kini bukan hanya kepala Vania yang terasa pusing tapi suhu tubuhnya pun terasa panas, hingga Vania tak sengaja menabrak tubuh seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya.
"Maaf tuan, saya tidak sengaja."
"Vania...." Suara bariton milik pria yang kini tampak memegang kedua sisi bahunya, seperti tidak asing ditelinga Vania. Wanita itu lantas mengangkat pandangannya.
"Tuan." Di sisa kesadarannya, Vania masih dapat mengingat bahwa saat ini mereka tidak sedang berada di rumah sehingga ia merasa harus memanggil Suaminya itu dengan sebutan tuan, terlebih saat ini Sandi datang ke restoran tersebut bersama rekan bisnisnya.
Sesaat kemudian pandangan Sandi menangkap keberadaan manager hotel yang menyusul Vania.
"Biar saya yang mengantarkan_." Pria bersatus duda tersebut tak menuntaskan kalimatnya saat menyadari tatapan tajam bosnya itu.
Tanpa banyak bicara Sandi menggendong tubuh Vania menuju mobilnya, meninggalkan rekan bisnisnya dengan wajah bingung atas sikapnya. Untungnya saat itu asisten pribadi Sandi ikut bersama, hingga pria itu pun meminta maaf atas nama tuannya.
Jangan lupa dukungannya ya sayang-sayangku biar aku makin semangat updatenya.....😘😘🙏🙏🥰🥰
bisa gak dia aja yang di pecat 😏
Sandi pasti akan dukung Vania.
lagian apa urusannya sama Atika kalau pun ada kejadian jebak menjebak antara Vania dan Harto.
Atika melabrak seolah dia istri sah Harto 😆😆😆😆