Shira adalah pengasuh ke-14 yang berhasil bertahan lebih dari dua bulan dan satu-satunya pengasuh yang berhasil membuat Lulu - gadis kecil pemurung yang diasuhnya - tersenyum. Ia menyukai pekerjaannya, karena dia setulus itu mengasuh Lulu. Sampai suatu malam, Ruan - ayah Lulu - yang sedingin es kutub, memberikannya tawaran kerjasama dengan gaji lima kali lipat dan bonus gaji setiap hari! Tawaran fantastis yang tidak bisa diabaikan oleh seseorang yang sedang membutuhkan suntikan dana darurat seperti Shira.
Masalahnya kerjasama itu berupa pernikahan kontrak dimana Shira harus berperan sebagai istri sungguhan di depan semua orang. Kontrak itu akan diatur dalam pasal-pasal tertulis yang disepakati bersama, salah satunya adalah "Tidak boleh melibatkan perasaan pribadi dalam menjalankan peran."
Tapi masalahnya, ketika sandiwara membuat peran terasa nyata, Shira menyadari perasaannya telah melanggar pasal. Ia tidak lagi bisa meneruskan, apa lagi ketika ibu kandung Lulu datang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiky Mungil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Jam Dua Dini Hari.
Di dalam kamar yang tidak seberapa besar, di atas ranjang yang juga tidak seberapa besar, Shira harus mati-matian menahan pegal pada punggungnya karena harus bertahan dengan posisi yang sama, memunggungi Ruan yang tepat berada di belakang Shira, bahkan lengan pria itu terasa menyentuh punggung Shira.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari, tapi rasa kantuk tak kunjung datang walaupun Shira terus memaksa kedua kelopak matanya terpejam.
“Punggungmu bisa sakit besok pagi kalau begitu terus.” Suara berat, setengah berbisik membuat Shira terkesiap pelan.
Dia belum tidur.
“Saya tau kamu belum tidur.” kata Ruan lagi.
Ah sudahlah, percuma pura-pura tidur dari tadi. Keluh Shira.
Dengan menebalkan mukanya menahan rasa malu dan enggan, Shira bergerak, menelentangkan tubuhnya, sementara Ruan justru mengubah posisinya dengan menghadap Shira.
“Eng… Pak Ruan ga bisa ngadep sana aja?” tanya Shira sedikit gugup sembari menunjuk pintu di belakang Ruan.
“Saya ga bisa tidur menghadap pintu.”
“Loh, kenapa?”
Ruan mendesah pelan, lalu menjawab, “Takut.”
Shira refleks menengok ke sampingnya dan karena saking dekatnya wajah mereka, Shira memundurkan kepalanya sedikit.
“Ta-takut?”
Ruan mengangguk, dengan senyuman tipis.
“Bohong, ya?”
“Ga juga. Saya punya trauma tidur menghadap pintu.”
“Pak Ruan punya trauma?”
“Bukan hal besar, cuma cerita horor masa kecil supaya saya tidur. Tapi, kebayang aja setiap kali saya menghadap pintu.”
Shira kembali kembali menghadap langit-langit kamar.
“Kenapa kamu mau saya memunggungi kamu? Takut salah tingkah?”
“Hah?” Shira menengok sebentar lalu menghadap langit-langit lagi. “Eng…ga, biasa aja.”
“Kenapa kamu belum tidur?”
“Belum ngantuk.”
“Kenapa belum ngantuk?”
Duh, tumben banget sih Pak Ruan banyak tanya gini.
“Ga tau…”
“Apa karena dekat saya?”
“Eng… ga tau, Pak.”
Hening kemudian.
Tidak bermaksud kegeeran, tapi melalui sudut matanya, Shira bisa melihat Ruan yang masih menancapkan pandangannya pada Shira.
“Pak Ruan sendiri kenapa belum tidur?”
“Banyak yang saya pikirkan. Salah satunya … kamu.”
“Hah? Saya? Saya kenapa?”
“Kamu pikir kenapa tiba-tiba saya menyusulmu?”
“Mungkin karena Pak Ruan ragu saya bisa menjaga Lulu di sini.”
“Saya ga ragu, kalau saya ragu, sejak awal pasti saya ragu dengan pengasuhan kamu.”
“Kalau gitu saya ga tau kenapa tiba-tiba Pak Ruan nyusul.”
Ruan terdengar membuang napas hingga Shira bisa merasakan hembusannya menyentuh kulit.
“Itu karena Beno.”
“Loh, kenapa Beno?”
“Dia menyukaimu.”
Sontak Shira terduduk sampai hampir membuat Ruan terjatuh ke belakang, Shira refleks menahan lengan Ruan, tapi sayangnya tubuh Ruan lebih besar dari pada Shira. Dan pada akhirnya, mereka berdua sama-sama terjatuh dari atas kasur, mendarat di atas lantai yang keras dan dingin dengan Shira yang berada tepat di atas dada Ruan.
Dan bukan hanya tubuhnya yang mendarat, bibirnya pun tanpa sengaja dan tanpa direncanakan juga ikut mendarat di atas bibir Ruan.
Situasi yang sungguh canggung pada pukul dua dini hari, dengan suara jangkrik yang samar-samar terdengar dari luar kamar.
Jantung Shira berdebar cepat dan kuat seperti ada paku bumi yang menghantam, buru-buru Shira bangkit dari atas tubuh Ruan, ragu-ragu dia masih membantu Ruan untuk duduk kembali di atas tepi kasur.
“M-maaf Pak, saya ga sengaja…”
Ruan hanya mendengkus pelan.
“Jika Beno melihat, dia ga akan percaya kalau kamu ga sengaja, dia akan menganggap itu adalah sandiwara.”
“T-tunggu, Beno tau kalau kita cuma sandiwara?”
“Dia tau, makanya dia berani menyukaimu.”
“Tapi gimana bisa dia tau soal sandiwara ini?”
“Itu yang membuat saya heran. Dan dia menyukaimu.”
“Kalau dia tau soal kontrak ini, apa ga bahaya? Apa dia akan ngadu ke Mama Ratna? Ke Nenek?”
“Shira… saya bilang dia menyukaimu. Apa tanggapanmu?”
“Itu ga penting, Pak. Yang penting sekarang, gimana kalau dia mengadu ke Nenek dan Mama Ratna?”
Ruan menelengkan kepalanya memandang Shira yang benar-benar tidak peduli.
“Tapi bukankah, keinginanmu adalah…”
“Keinginan saya saat ini pun juga ga penting, Pak.” Shira menatap jengkel pada Ruan. “Beno bisa aja mengadu ke Nenek dan Mama Ratna, kenapa Pak Ruan kayaknya ga menganggap itu ga penting?”
Ruan tersenyum tipis, “Karena saya tahu bagaimana dia.”
“Maksudnya?”
“Dia ga akan melakukan hal-hal yang sekiranya akan merugikan orang-orang di sekitarnya. Dia ga akan berlaku licik hanya untuk mendapatkan keinginannya, kecuali jika kamu juga menyukainya dan memintanya untuk bebas dari ikatan ini.”
Shira terdiam. Bahunya merosot dengan posisi duduknya yang bersila.
“Jadi, apa kamu menyukainya?”
“Saya… belum tau.”
“Belum tau?”
“Maksud saya, Beno punya karakter yang membuat semua orang mudah menyukainya, pribadinya menyenangkan.”
Ruan mendengkus.
“Saya pun juga suka berteman dengannya, tapi bukan berarti suka yang saya rasakan ini adalah suka dari hati. Hanya suka karena Beno menyenangkan.”
Ruan menatap Shira, tatapan yang membuat Shira tidak bisa lama-lama memandangnya balik.
“Kalau dia mengutarakan perasaannya padamu, apa yang akan kamu katakan padanya?”
Aku akan katakan kalau aku sudah jatuh cinta padamu, tapi sayangnya cintaku hanya bertepuk sebelah tangan.
“Ga tau, mungkin saya hanya akan berpura-pura menyukai Pak Ruan, supaya Beno ga berharap lebih.”
“Berpura-pura menyukai saya?”
“Iya, jadi seolah-olah saya … jatuh cinta sama Pak Ruan, walaupun Pak Ruan engga.”
“Bukan kah itu akan membuatmu terlihat menyedihkan di mata Beno?”
Ah, sekarang pun aku sudah menyedihkan.
“Ga apa, lagi pula hanya sementara.”
“Kalau begitu, saya juga harus pura-pura jatuh cinta padamu juga di depan Beno, supaya dia menjauhimu.”
Shira tersenyum setuju, tapi hatinya terasa begitu getir dan nyeri. Mungkin seharusnya dia menerima Beno saja, dia akan merasa dicintai tanpa harus merasakan sakit seperti ini.
Tanpa mereka berdua sadari, dari luar kamar, seseorang menguping pembicaraan mereka yang cukup terdengar meski samar-samar karena pembicaraan dilakukan dengan volume minimal.
Dia menahan senyum.
Pura-pura aja terus kalian...
.
.
.
Bersambung