NovelToon NovelToon
Fisherman'S Book

Fisherman'S Book

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:92.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Skyligh

[Minggu,Selasa, Jumat libur].
Novel ini mengisahkan perjalanan seorang pemuda yang, di usia sepuluh tahun, mengalami tragedi pahit—didorong oleh ibu tirinya hingga terjatuh dari tebing ke laut. Dalam perjuangannya bertahan hidup, ia tanpa sengaja menemukan sebuah buku misterius yang tersembunyi di dasar laut. Saat kesadarannya mulai memudar, buku itu menyatu secara ajaib ke dalam pikirannya, menjadi awal dari takdir luar biasa yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyligh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dermaga Dan Rencana Yang Di Buka

Langit mulai terang. Kabut tipis yang menggantung di antara pepohonan perlahan menghilang, digantikan oleh sinar matahari yang hangat merambat dari ufuk timur. Cahaya keemasan itu menari di permukaan laut, membangkitkan kehidupan pagi yang baru di pulau kecil milik Alvarez.

Alvarez keluar dari gubuk kayunya, ditemani Max dan Toni yang berjalan menguap di belakangnya. Udara pagi masih sejuk, namun semangat mereka telah membara.

Dari kejauhan, di seberang laut, dermaga desa Mosuh mulai ramai. Suara kayu bergesekan, teriakan perintah, dan tawa ringan warga terdengar samar di atas ombak. Para warga desa telah berkumpul sejak pagi-pagi buta, memindahkan tumpukan kayu yang kemarin dibeli Alvarez ke atas kapal besar yang telah disiapkan. Kayu-kayu itu akan dikirim menuju pulau kecil Alvarez—pondasi pertama pembangunan mimpinya.

Alvarez tersenyum kecil. Ada rasa haru dalam dadanya melihat warga desa bergotong royong, membantu tanpa banyak tanya. Di tengah kerumunan itu, tampak dua sosok yang ia kenal: Paman Jao dan Paman Sam, berdiri memantau proses pemuatan dengan wajah serius namun tenang.

Sekitar satu jam kemudian, kapal yang mengangkut kayu pun bertolak. Ombak kecil mengayun lembut badan kapal, menuju pulau yang kini menjadi pusat harapan baru.

Alvarez menunggu di bibir pantai, pandangannya tertuju ke arah kapal yang mendekat. Ketika akhirnya kapal itu bersandar, para warga segera menurunkan kayu satu per satu dengan teratur. Paman Sam dan Paman Jao ikut turun, menjejakkan kaki di pulau Alvarez.

Alvarez menyambut mereka bersama Max dan Toni yang masih mengunyah sisa bekal roti pagi.

“Selamat pagi, Paman!” sapa Alvarez ramah.

Paman Jao hanya mengangguk singkat, sedangkan Paman Sam membalas dengan senyum tipis. Tak lama kemudian, salah seorang warga menghampiri mereka dengan nafas terengah.

“Pak, kami warga siap mulai membangun. Tolong arahkan kami, seperti apa bentuk dermaga yang akan kita bangun?” tanyanya pada Paman Sam.

Paman Sam mengangguk. “Baik, kita mulai sekarang. Saya sudah merancang bentuk dermaganya,” jawabnya singkat namun penuh keyakinan.

Ia lalu berjalan bersama warga itu menuju lokasi yang akan dibangun, meninggalkan Alvarez dan lainnya.

Alvarez terdiam sejenak. Di benaknya muncul satu kekhawatiran: makanan. Ia memikirkan para warga yang akan bekerja seharian penuh—bagaimana ia bisa memastikan mereka semua mendapat sarapan?

“Paman,” tanyanya pelan sambil menoleh ke arah Paman Jao. “Paman kan punya banyak anak buah. Biasanya, bagaimana cara Paman menyediakan makanan untuk mereka?”

Paman Jao menoleh, lalu tersenyum sambil menunjuk ke arah barat pantai.

“Tenang saja, saya sudah pesan makanan dari warung dekat pantai sana. Kamu tinggal bayar nanti. Makanan akan diantar ke sini, cukup untuk semua orang,” jelasnya santai.

Alvarez menghembuskan napas lega dan mengusap dadanya. “Huh... untung Paman sudah mempersiapkan semuanya.”

Waktu terus berlalu. Sekitar pukul setengah sepuluh pagi, para warga yang membantu istirahat sejenak di bawah pohon kelapa. Tujuh orang warga duduk melingkar, ditemani nasi bungkus dan teh manis. Jika dihitung bersama Paman Jao dan Paman Sam, total ada sembilan orang yang bekerja di dermaga hari itu.

Max dan Toni ikut bergabung, makan bersama warga sambil tertawa dan berbincang ringan. Keceriaan sederhana memancar dari wajah mereka, seolah beban dunia tak pernah menyentuh pulau kecil itu.

Sementara itu, Alvarez berdiri sedikit jauh, memperhatikan dua pamannya yang duduk bersandar di batang kelapa, tampak sedang berdiskusi kecil. Tanpa berkata apa-apa, ia masuk ke gubuk, lalu keluar kembali membawa sebuah gulungan kertas yang digenggamnya erat.

Ia berjalan cepat menuju kedua pamannya, lalu membuka gulungan kertas itu di hadapan mereka.

“Paman! Coba lihat ini!” katanya penuh semangat.

Paman Jao menyipitkan mata, mencoba memahami apa yang tergambar di atas kertas itu. Garis-garis melengkung, kaki-kaki baja, lampu-lampu besar tergantung di atas jaring—semuanya membuat dahi Paman Jao berkerut.

“Al... apa yang kamu gambar ini?” tanyanya bingung.

Namun Paman Sam tidak berkata apa-apa. Matanya terpaku pada blueprint itu, wajahnya perlahan berubah serius, seolah kenangan lama sedang berusaha muncul ke permukaan.

“Jao... mungkin kamu nggak tahu, karena pekerjaanmu bukan di laut. Tapi saya tahu kapal ini,” gumam Paman Sam perlahan.

Paman Jao menatapnya heran. “Sam, ini kapal apa?”

Paman Sam menarik napas panjang, lalu mulai bercerita. “Nenek saya dulu sering bercerita tentang kapal ini. Kapal dengan kaki kayu yang kuat dan cahaya terang. Konon Katanya, ini kapal yang pernah membantu nelayan menangkap ikan dalam jumlah besar… sebelum akhirnya hilang ditelan waktu dan gelombang.”

Alvarez menatap mereka berdua, seakan menanti pengakuan itu sepenuhnya keluar.

“Nama kapal ini... Bagan,” lanjut Paman Sam lirih, seolah menyebut sesuatu yang sakral.

Alvarez mengangguk pelan. Kini, mimpi yang lahir dari mimpi, mulai menemukan tempatnya dalam kenyataan.

Setelah percakapan itu, suasana kembali sibuk. Angin laut meniupkan aroma garam dan serat kayu ke seluruh pulau. Paman Sam melangkah ke tengah-tengah para warga, membawa secarik kertas lain yang tampak kusut namun penuh coretan presisi.

“Ini denah dermaganya,” katanya lantang. “Kita akan membangun jembatan utama yang memanjang lima belas meter ke arah laut. Di bagian ujung, akan ada pelataran lebar untuk bersandar kapal. Di sini,”—ia menunjuk titik tertentu di denah—“akan kita pasang tiang-tiang utama. Setiap kayu harus dipancang dalam-dalam ke dasar laut.”

Warga-warga itu mengangguk pelan. Meskipun bukan insinyur, tangan mereka sudah terbiasa dengan kayu dan paku, dengan angin dan gelombang. Mereka adalah nelayan, tukang perahu, dan anak pantai yang tahu bahwa bangunan di atas laut tidak bisa dibangun dengan sembarangan.

Tanpa banyak kata, mereka mulai bekerja.

Suara gergaji mulai bersahutan, berpadu dengan ketukan palu yang ritmis. Kayu-kayu besar diseret ke pinggir pantai, lalu diukur dan dipotong sesuai kebutuhan. Sebagian warga mulai membenamkan tiang-tiang panjang ke dalam pasir basah, memperkuatnya dengan batu dan tali pengikat.

Max dan Toni ikut membantu mengangkat papan, meski wajah mereka penuh peluh. Toni sempat tergelincir dan nyaris jatuh ke air, namun gelak tawanya malah mengundang tawa dari para warga. Ia bangkit kembali, menepuk-nepuk celananya yang basah sambil berkata, “Sudah kayak kerja rodi, tapi saya suka!”

Di sisi lain, Alvarez duduk di atas peti kayu, matanya tak lepas dari tiap gerakan warga. Setiap paku yang ditanam, setiap balok yang disusun, adalah bagian dari mimpinya yang satu per satu menjelma nyata.

Paman Sam sesekali memberi arahan tegas namun sabar, memastikan struktur tiang-tiang sejajar dan stabil. Paman Jao sendiri lebih banyak mengatur logistik—membagi air minum, memastikan peralatan cukup, dan menyuruh anak buahnya bolak-balik ke kapal untuk mengambil tali, paku, dan alat lainnya.

Menjelang tengah hari, struktur dasar dermaga mulai terbentuk. Empat tiang utama telah berdiri tegak di laut dangkal, ditopang oleh balok melintang yang mulai membentuk jembatan awal. Belum sempurna, namun cukup untuk membuat semua yang melihatnya menyadari: dermaga itu sungguh sedang dibangun.

Sambil menyeka keringat dari dahinya, Alvarez melirik ke langit yang mulai terik. Ia kemudian berkata kepada Max, “Setelah dermaga ini selesai, kapal Bagan akan lebih mudah dibangun dan diuji coba di laut lepas.”

Max mengangguk sambil memandangi para warga. “Aku nggak pernah menyangka bisa terlibat dalam sesuatu seperti ini.”

Alvarez tersenyum samar. “Aku pun tidak. Tapi, mungkin memang begini caranya alam bekerja. Memberikan kita petunjuk lewat mimpi dan memberi kita tenaga lewat tangan-tangan yang tulus.”

Saat itu, seorang anak kecil dari desa Mosuh datang membawa keranjang anyaman berisi makanan tambahan dari warung. Ia menyerahkannya kepada Paman Jao, lalu berlari kembali ke sampan kecilnya, melambai ke arah para pekerja.

Alvarez berdiri dan bertepuk tangan keras.

“Istirahat! Ayo makan siang dulu!” serunya.

Para warga menyambut seruan itu dengan sorakan kecil. Mereka berkumpul di bawah naungan pohon kelapa, menyantap makanan sambil bercanda dan melepas penat. Toni sudah kembali berceloteh dengan suara keras, menghidupkan suasana.

Namun di balik semua itu, Alvarez tahu—dermaga ini bukan hanya soal kayu dan paku. Ia adalah permulaan. Titik awal dari perjalanan panjang menuju mimpi yang lebih besar: membangun kembali kapal yang hilang dalam sejarah, dan membawa harapan baru bagi para nelayan di negeri yang mencintai laut.

......Note:"Kalau kamu suka ceritanya, jangan lupa tekan like ya! Komentar kalian juga sangat berarti buat saya—ceritakan bagian favoritmu atau tebak apa yang akan terjadi selanjutnya!"......

1
Urang sunda
luar biasa
Hary
perempuan usia 40tahun lagi enak2nya jangan coba2 bangun gairah birahinya, pasti sangat luar biasa, legit menggigit
Laizajiloh
Hai.. kapan d lanjut ceritanya kak..
Dhewa Shaied
apakah hiatus?
Kinashi Minata
he opo iki?
Kinashi Minata
🤣
Kinashi Minata
🤭
Kinashi Minata
🤭 endi
Kinashi Minata
🤭 opo iki?
Swikong
Mantul👍
Swikong
Lanjutkan........
Swikong
Ayo semuanya semangat💪💪
Swikong
👍👍👍
Swikong
👍
Swikong
Alvarez 👍👍
Swikong
Bos Alvarez👍
Swikong
Ho oh
Swikong
Mengharukan/Cry/
Swikong
Oke
Swikong
Lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!