Cinta yang membutakan segalanya,
Dan bila hati sudah jatuh cinta seberat apa pun rintangan akan ku lalui demi mendapatkan cinta mu yang seutuhnya.
😍😍😍😍😍😘😘😘😘😘😘😘
>>>>>>>>>>><<<<<<<>>><<<
Hai🖐 thank's buat yang udah mampir di Novel ku kali ini.😘
Mohon dukungannya💪 di Vote, subscribe, like, dan komen/saran. 🙏
Salam hangat dari Author 😍
~ Gadis Nias ~
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gadis Nias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Beberapa minggu yang lalu saat terakhir Cakra menemui Yuki di Cafe, sampai saat ini ia tidak pernah lagi muncul dalam kehidupan Yuki. Ia tidak pernah datang atau mengganggu gadis itu lagi, entah ia bosan atau sudah mencari gadis lain.
Sejak saat itu juga, hari-hari Yuki seperti tak bersemangat. Sering ia terlihat cemberut dan galau, mungkin gadis itu juga menaruh hati kepada Cakra sehingga perasaannya gundah saat tak dapat kabar tentang pria itu lagi?
"Yuk kenapa sih cemberut mulu, gak seru tau klo bos cantik kita galau gini, ia gak sih?"
Echy mendekat dan mengelus punggung Yuki yang sedari tadi terlihat tidak bersemangat.
"Dari kemarin kak Yuki cemberut mulu sih,"
"Lagi putus cinta tuh kayak nya,"
Tampaknya, karyawan-karyawan lainnya juga terlihat tidak bersemangat karena keadaan Yuki, biasanya Bos cantik mereka selalu ceria dan bahagia setiap hari. Kali ini berbeda ia malah diam tak banyak omong seperti banyak pikiran.
"Aku lagi gak mood, mending kak Echy tutup salonnya kita pulang sekarang," ia berdiri dengan lesu, mengambil tasnya lalu membereskan sedikit barang-barangnya setelah nya ia bersiap untuk segera pulang.
"Beneran loe, ini masih sore Yuki?" Echy merasa aneh, ia terlihat kebingungan dengan sikap Yuki. "Bener, kalian tutup aku mau pulang!"
Gadis itu tegas dengan keputusannya, ia mengambil motornya langsung beranjak daei sana tampa menyahuti lagi pertanyaan ini itu dari karyawannya. Sementara Echy dan yang lainnya hanya pasrah dan menurutinya saja.
Sesampainya dirumah
***
Wajahnya masih tidak bersahabat, ia memasuki rumah dengan cemberut dan terlihat capek.
"Non udah pulang?"
"Iyah Bi, Papah Mamah kemana?"
Tampak seorang pelayan dirumah menyambutnya, tak lupa wanita paruh baya itu mengambil alih untuk menyimpan tas miliknya.
"Udah pergi Non, mereka pulang mungkin nanti malam,"
"Hem baik lah,"
Ia menghempaskan tubuhnya di sofa, membuang nafas kasar sambil memejamkan mata.
"Maaf Non di taman belakang ada tamu lagi nunggu Non Yuki,"
Pelayan itu menjelaskan secara pelan, ia tau anak majikannya ini seperti kelelahan tidak bersemangat. Ia berbicara sehati-hati mungkin agar gadis itu tidak tersinggung padanya.
"Siapa Bi, kok gak kasih duduk di ruang tamu aja?"
Masih cuek dan sedikit tidak memperdulikan, ia pikir mungkin hanya tamu biasa saja.
"Ehm anu, dia kayaknya cowok yang sering kesini itu Non. Bibi juga kurang tau gak hafal namanya!"
Yuki memperbaiki posisi duduknya menatap pelayan itu dengan raut wajah penasaran. "Siapa sih, kok Bibi gak tanya siapa namanya?"
"Maaf Non, sebaiknya temui dia saja!"
"Hufftt, baik lah!"
Agak terlihat kesal sih, cuman rasa penasaran juga menghampirinya. Yuki akhirnya beranjak ketaman belakang untuk menemui tamu tersebut. Ia berandai jika itu mungkin Dicky, pria itu mungkin sengaja datang tak mengabari nya.
Drap!
Drap!
Drap!
"Sejak kapan kau disini?" ia menghentikan langkahnya menatap pria yang tengah duduk santai di kursi taman dengan laptop ditanganya. "Eh bidadari syurga ku akhirnya datang!"
Deg!
Dan entah kenapa perasaan Yuki sepertinya terasa senang saat melihat wajah Cakra, senyumannya juga membuat gadis itu meleleh. Detak jantungnya seketika berdetak tak karuan saat manik mata kecoklatan milik pria itu menatapnya begitu intens.
"Tumben kau pulang cepat?"
Cakra berdiri menghampirinya, tak kala perasaannya juga terasa senang melihat wajah cantik Yuki disana.
"Jangan galak-galak mulu dong," tanpa permisi bibir nakal pria itu melayangkan kecupan manis dipipi Yuki yang masih berdiri mematung menatapnya.
Cup!
"Kelihatannya kau bertambah manis setelah 3 minggu aku tidak melihat mu," sikapnya begitu lembut sehingga sukses membuat Yuki ketir. Karena tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut gadis itu, dengan santai ia meraih tangan Yuki dan menciumnya penuh kasih sayang. Mereka terlihat bak sepasang kekasih yang tengah melepas kerinduan disana.
"Duduk lah di sana," masih terdiam membisu persis seperti terhipnotis, tak kala kakinya mengikuti langkah kaki pria itu saat menggandengnya.
"Kau kenapa sih, hem?" Cakra memandangi wajahnya sangat cantik dan manis ia jadi terkesima melihatnya. "Ngapain kesini?" suaranya pelan dan santai, entah kenapa kali ini Yuki seperti boneka tak melawan atau memberontak sama sekali terhadap pria yang dia benci ini.
"Hanya sekedar menemui mu, apa kau tidak merindukan ku?" Cakra tersenyum sambil meneguk minuman yang telah di buatkan oleh pelayan padanya. "Jangan menghayal tinggi-tinggi, nanti tulang mu remuk klo terjatuh,"
Yah gadis itu masih berbohong pada perasaannya, keadaannya tengah di landa rindu kepada pria itu tapi mulutnya masih keras untuk berbohong.
"Astaga, kedengarannya sangat ngeri. Tapi aku merindukan mu Yuki,"
"Hem terserah lah, bodoh amat!"
Seketika wajah juteknya kembali muncul, ia melipat kedua tangannya sambil membuang muka kearah yang lain. Padahal hatinya sudah sangat ceria dan kegirangan tapi masih malu dan gengsi untuk mengatakannya dengan jujur.
"Ahh sudah lah, lebih baik kau ikut denganku!"
Tak peduli dengan mulut besar gadis itu, Cakra meraih tangan Yuki dengan semangat membawanya keluar dari sana.
"Kau membawaku kemana sih?" langkahnya ia paksa berhenti lalu memberontak agar pria itu melepaskan genggamannya. "Nurut dan jangan banyak pertanyaan," ia sedikit terlihat kasar, tangan besarnya menggendong tubuh Yuki untuk di masukannya kedalam mobil.
"Iiihh selalu aja kau menyebalkan," terpaksa ikut dan duduk, mengingat pria itu sigap mengunci mobil dan segera melajukannya.
Selama perjalanan Yuki masih terdiam begitu juga dengan Cakra. Ia hanya fokus menyetir sampai mobil mewah itu berhenti di suatu tempat.
Suara gemuruh ombak dan tiupan angin terdengar kencang kala gadis itu turun dan melihat sekeliling pemandangan disana. Rasa nya adem dan membuat hati sejuk, berada disana lebih lama mungkin akan membuatnya betah.
"Apa kau menyukai tempat ini?"
Pantai dengan pemandangan yang indah, disana begitu cerah kala mata hari memancarkan cahaya redupnya.
"Hem lumayan!" gadis itu mengangguk dan agak sedikit tersipu mengingat tingkahnya yang tadi terlihat jutek. Padahal, tempat seperti ini Yuki jarang mengunjunginya dan kelihatannya ia suka dan senang.
"Tunggu sebentar," Cakra berlari kearah mobil mengambil beberapa paper bag dengan berbagai cemilan dan minuman. "Ayo kesana," ia menunjuk sebuah pondok kecil, tampak Yuki kembali nurut tanpa berprotes lagi.
"Apa kau sering berkunjung di tempat seperti ini?" tanya Cakra menatap Yuki dalam senyum. "Tidak," jawabnya singkat sambil menggeleng kearah pria itu.
"Tapi kau suka bukan?"
"Hem tentu, disini sejuk dan damai,"
Yuki tidak bisa membohongi tentang apa yang dia rasa ditempat ini, pantainya sangat indah, ombaknya besar dan anginnya sepoi-sepoi, perasaannya yang sekarang mungkin terobati kala berada di pantai itu.
...----------------...
BERSAMBUNG...