Santri Rock'n Roll..
Ricky Sanjaya adalah anak dari seorang pengusaha yang sukses, kehidupan mewah dengan segala fasilitas yang dia miliki membuatnya hidup tanpa aturan.
Ricky selalu membuat ulah dimanapun dia berada, bahkan dia sering berpindah-pindah sekolah karena kenakalannya.
Sang Ayah yang merasa sudah tidak sanggup lagi mengatur perilaku anak semata wayangnya, mencoba menitipkannya ke sebuah pondhok pesantren yang jauh dari rumahnya, dengan harapan Ricky akan mampu hidup mandiri dan bisa lebih menghargai orang lain.
Kehidupan pesantren yang penuh aturan nyatanya juga tidak membuatnya berubah, hingga dia dikeluarkan dari pesantrennya. Namun kehadiran sosok perempuan yang juga merupakan anak dari sang Kiai perlahan-lahan mampu mengubah hidupnya.
Bagaimana petualangan Ricky selanjutnya. Ikutu kisahnya yuk..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green Aple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Intan buru-buru mengambil ponsel dari meja belajarnya saat mendengar ponselnya berdering, dan segera mengangkatnya saat melihat nama my love yang tertera di layarnya.
"Ya Sand, ada apa?" Tanya Intan kepada seseorang yang berada di seberang telepone.
"Aku tunggu kamu di taman biasa ya, ada hal penting yang mau aku omongin sama kamu" jawab pria tersebut yang kemudian langsung mematikan ponselnya.
Intan menjauhkan ponsel dari telinga dan memandanginya. "Sandy kenapa ya, kenapa hpnya tiba-tiba langsung dimatiin, dia mau ngomongin soal apa ya kira-kira, apa sebaiknya aku bilang sekarang aja ya" pikir Intan mengingat ada hal penting juga yang ingin dia sampaikan kepada kekasihnya.
Intan pun kemudian berkemas dan langsung menuju tempat di mana Sandy sudah menunggunya.
"Hai sayang, udah lama ya nunggunya, sorry ya lama, abis kamu mendadak sih ngasih kabarnya" ucap Intan saat melihat Sandy tengah duduk menunggunya.
"Nggak papa, aku juga baru nyampe kok" jawab Sandy sambil tersenyum canggung pada Intan.
"Emang kamu mau ngomongin apaan sih, tumben banget ngajakin aku ke sini, biasanya juga cuma lewat hp" tanya Intan yang kemudian duduk di sebelah Sandy. "Aku juga pengen ngomong sesuatu sama kamu, tapi kamu dulu aja deh" sambungnya lagi.
"Hmm..yaudah kamu duluan aja, emang kamu mau ngomong apa?" Tanya Sandy sambil menatap Intan yang berada di sampingnya.
"Nggak ah, ntar aja, kamu duluan aja yang ngomong" tolak Intan lagi.
"Emm..aku..aku mau..
Sandy tidak meneruskan kalimatnya, wajahnya tertunduk tanpa berani menatap Intan.
"Tegang amat sih, emang kamu mau ngomongin soal apa hnn.?" Tanya Intan saat melihat perubahan raut wajah Sandy.
"Ntan, maafin aku ya" ucap Sandy memberanikan diri menatap wajah kekasihnya.
"Tunggu..tunggu, sebenarnya kamu mau ngomongin apa sih Sand, kenapa tiba-tiba kamu minta maaf, emang apa yang udah kamu lakuin?" Tanya Intan yang bingung dengan sikap Sandy.
"Aku..aku dijodohin sama ayah aku Ntan" jawab Sandy dengan raut wajah penuh penyesalan. "Maafin aku Ntan" sambungnya lagi lemah.
Sandy pun kemudian menceritakan semua tentang perjodohannya dengan Syifa, tubuh Intan langsung terasa lemas tatkala mendengar cerita Sandy, apalagi setelah tahu perempuan yang dijodohkan dengan Sandy adalah Syifa, sahabatnya sendiri.
"Terus kalian menerimanya, kenapa kalian nggak menolak hah!" Teriak Intan lirih, tapi nadanya penuh kekecewaan yang bercampur emosi.
"Aku nggak bisa Ntan, aku minta maaf, aku benar-benar nggak berguna" jawab Sandy menyalahkan dirinya sendiri.
"Kamu nggak bisa apa emang nggak mau hmm?" Tanya Intan dengan berurai air mata. "Jadi ini balasannya, setelah semua yang aku punya kamu ambil, kamu tinggalin aku gitu aja, iya! jawab aku!" Teriak Intan dengan penuh emosi.
Sandy hanya diam menunduk, dia tidak cukup berani untuk menjawab pertanyaan Intan, apalagi menatap Intan yang sedang dipenuhi emosi dan kekecewaan karena dirinya.
"Oke,kalo kamu emang nggak mau jawab, makasih buat semua yang udah kamu lakuin ke aku" ucap Intan yang kemudian berdiri. "Satu hal yang perlu kamu tahu, didalam perut ini ada janin yang merupakan darah dagingmu" sambungnya lagi lalu pergi meninggalkan Sandy yang kaget mendengar ucapan Lisa.
Sandy merasa bagaikan disambar petir di siang hari saat mendengar ucapan Intan, dia menyesal telah memaksa Intan dan merenggut mahkotanya, dengan janji untuk menikahinya. Bahkan tidak hanya sekali dia memaksa Intan untuk melakukannya.
Sekarang dia merasa bagai makan buah simalakama, di satu sisi, dia nggak mungkin bisa menolak keputusan ayahnya, tapi disisi lain ada Intan yang tengah mengandung darah dagingnya dan harus dia tinggalkan.
Intan yang merasa frustasi bingung harus kemana, dia berjalan tak tentu arah karena tidak cukup berani untuk pulang ke rumah, apalagi dengan kondisinya yang tengah hamil, dan calon ayah dari bayi yang dia kandung akan menikahi perempuan lain. Jelas saja, keluarganya pasti akan menanggung malu atas perbuatannya.
Intan berhenti di sebuah jembatan, pikirannya yang kacau membuatnya tidak bisa berfikir jernih. Intan menaiki pembatas jembatan, dia hendak mengakhiri hidupnya karena tidak sanggup menanggung beban yang ada di pundaknya. Apa yang akan orang katakan nanti jika dia melahirkan bayi tanpa sosok ayah bagi anaknya.
Intan yang siap melompat tiba-tiba ditangkap dari belakang oleh Aldi.
Aldi yang baru pulang dari kampus tidak sengaja melihat Intan yang hendak melompat ke sungai, diapun berlari dan berhasil menangkapnya.
"Ntan..apa yang kamu lakukan, apa kamu sudah nggak waras" teriak Aldi saat Intan berontak dan ingin melompat lagi.
Aldi memeluk Intan dari belakang, dan mendekapnya erat, sementara Intan hanya menangis.
"Istigfar Ntan..istigfar" ucap Aldi mencoba menenangkan Intan dan mendudukkannya.
Setelah keduanya duduk, dan Intan sudah mulai menguasai emosinya, Aldi pun meminta Intan untuk menceritakan masalah yang sedang menimpanya. Awalnya Intan bungkam dan tidak mau bercerita, tapi setelah Aldi memaksanya, Intan pun akhirnya luluh dan menceritakan masalah yang sedang dia hadapi.
"Kamu nggak usah sedih, aku yakin masih banyak jalan keluar yang lebih baik, dan aku janji bakal bantu kamu, tapi kamu harus ingat, jangan lakuin hal bodoh seperti itu lagi" ucap Aldi, Intan pun mengangguk dan berterima kasih pada Aldi. "Sekarang aku anter kamu pulang ya" sambungnya lagi kemudian membantu Intan berdiri.
***
Seperti biasa, selepas ngaji rutinan Ricky langsung pulang dan selalu mengurung diri di kamarnya. Bahkan dia juga jarang makan malam, tubuhnya tampak kurus dan tidak tetawat.
"Rick, dipanggil Abi" ucap Syifa setelah mengetuk pintu. Sebenarnya Syifa juga kasihan dan merasa bersalah atas perubahan Ricky, karena dia tahu, Ricky jadi seperti itu juga karena dirinya, meskipun Ricky selalu menyangkalnya.
Ricky pun turun dan menemui Pak Yusuf yang sudah menunggunya di teras.
"Ada apa Pak Kiai?" Tanya Ricky setelah Pak Yusuf memintanya duduk.
"Belakangan ini saya melihat perubahan sikap mu, ada masalah apa sebenarnya, coba ceritakan" pinta Pak Yusuf pada Ricky.
"Nggak papa Pak Kiai, saya baik-baik saja" jawab Ricky menolak untuk bercerita.
"Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, tapi bukan dengan cara berdiam diri dan mengurung diri di dalam kamar" ucap Pak Yusuf menasehati.
"Bukankah Rejeki, jodoh dan maut sudah diatur oleh Alloh, lalu apa yang harus kita lakukan, bukankah kita harus menerimanya?" Tanya Ricky pada Pak Yusuf. "Dan itu yang sedang saya lakukan, mencoba menerima takdir dari Alloh" sambungnya lagi sambil menatap Pak Yusuf.
"Memang benar, rejeki memang sudah atur oleh Alloh, tapi apakah kita harus berdiam diri dan tidak melakukan apapun? tidak nak, kita harus bekerja dan berjuang untuk mendapatkannya" jawab Pak Yusuf menjelaskan. "Begitupun dengan jodoh dan maut, kita tidak akan tahu, karena semua adalah rahasia Tuhan" sambungnya lagi.
"Lalu bagaimana jika kita mencintai orang yang mungkin bukan jodoh kita?" Tanya Ricky yang masih belum puas dengan jawaban dari Pak Yusuf.
"Mungkin? berarti masih ada kemungkinan lain, lalu bagaimana kalau mungkin juga dia adalah jodoh kita?" jawab Pak Yusuf. "Cinta itu datangnya dari hati, selama kita tahu batasannya dan tetap menjaga batasan itu, maka sah-sah saja" sambungnya lagi yang membuat Ricky tersenyum tampak memikirkan penjelasan Pak Yusuf.
___
Ya begini ini cerita yg aku suka.
semangat buat authornya.
dah lama banget