Soraya harus merasakan sakit yang luar biasa ketika mengetahui Mario yang tak lain calon suaminya menghamili wanita lain, padahal dia juga sedang mengandung anak Mario.
Soraya tidak punya alasan untuk mempertahankan hubungannya dengan Mario, dia memilih untuk melepaskan Mario dan menyuruh Mario untuk bertanggung jawab pada wanita itu.
Mario tentu tidak terima, karena dia tidur dengan wanita itu tanpa sengaja, dan dia kekeh ingin menikahi Soraya, tapi Soraya juga kekeh menolak.
karena tidak ingin Mario mengejar-ngejarnya lagi Soraya, nekad menikahi pria bayaran yang sudah memiliki kekasih, tentu saja Soraya melakukan ini demi status dari anak yang di kandung karena Mario belum tau bahwa dia mengandung dan selama bertahun-tahun pula, Soraya berhasil menyembunyikan fakta, bahwa anak yang dulu dia kandung adalah anak Mario.
Dan karena masih dendam dengan keputusan Soraya, Mario terus mengganggu Soraya dan menyakiti anak Soraya, yang juga tanpa dia sadari adalah anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewi kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Men temen maafin aku baru update ya, anak keduaku drop dan baru pulang dari RS, aku update 3 bab karena kalian kemarin komen banyak banget sampa aku terharu. Yuk bisa yuk komen sama kaya kemarin
Mario dan Kelvin sama-sama turun dari mobil, mereka datang ke rumah sakit dengar waktu yang sama, dan juga mereka memarkirkan mobilnya bersebelahan. Hingga ketika Keduanya turun, Mario dan Kelvin saling menatap.
"Untuk apa kau ke rumah sakit?" tanya Mario dengan sewot, dia menatap Kelvin dengan tatapan tak suka, entah Kenapa dia berpikir bahwa Kelvin akan menemui Soraya di rumah sakit.
Mendengar pertanyaan Mario, Kelvin berdecak kesal. "Memangnya kenapa, Apa ada urusan denganmu?" Jawaban Kelvin tidak kalah sengit.
"Jangan bilang kau ingin menemui Soraya?" tebak Mario dengan rasa jengkel yang luar biasa.
"Bukan urusanmu!" hardik Kelvin, tidak ingin melayani Mario, Kelvin langsung melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam rumah sakit agar bisa Secepatnya melihat keadaan Soraya.
Rupanya, Kelvin meminta suster menghubunginya, jika Soraya datang dengan kondisi drop, dan beruntung Joseph dan Jenna membawa ke rumah sakit tersebut, hingga suster bisa langsung menelepon Kelvin memberitahukan bahwa Soraya datang ke rumah sakit dengan kondisi tidak sadarkan diri, tapi sayangnya, Kelvin tidak tahu bahwa Soraya datang bersama Jena dan Joseph serta keluarga yang lain.
Sedangkan Mario tahu dari anak buahnya, anak buahnya mengatakan bahwa Soraya di bawa ke dalam rumah sakit, hingga Mario pun lekas menyusul.
***8
Joseph mengerutkan keningnya ketika melihat Mario dan Kelvin berlari arah mereka, sudah DI pastikan bahwa keduanya ingin menjenguk Soraya. Mungkin Josep tidak terlalu bingung dengan kehadiran Mario, tapi yang membuat Joseph bingung kenapa kelvin yang tak lain mantan kekasih istrinya bisa datang ke rumah sakit.
"Bagaimana keadaan Soraya?" Kelvin dan Mario bertanya pada Joseph secara bersamaan. Namun belum sempat Joseph menjawab, Joseph menoleh ke arah Kirea yang sudah turun dari kursi, dan pindah ke kursi lain yang sedikit jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Tapi, Joseph tidak menghampiri kIrea lagi, terlebih lebih lagi di depannya ada Mario.
"Kalian kenapa kemari?"tanya Joseph, dan tak lama tatapan lelaki itu langsung teralih pada Kelvin.
"Kelvin Kenapa kau ada di sini? Kau ada keperluan dengan adikku?" tanya Joseph, Kelvin yang ditanya seperti itu langsung merasakan bingung yang luar biasa. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sekarang dia bingung harus menjawab apa, Seandainya dia tahu ada keluarga Soraya, pasti dia tidak akan menghampiri Soraya ke rumah sakit dan akan datang secara diam-diam.
"Sudah, biarkan saja, dia tidak penting!" ucap Mario yang menjawab pertanyaan Joseph pada Kelvin. “ Bagaimana keadaan Soraya sekarang?" tanya Mario lagi, Sedangkan Kelvin dia tidak bertanya lagi, lelaki itu malah melihat ke arah Kirea yang sedang duduk sambil membelakangi semuanya. Seperti ada magnet yang menarik Kelvin untuk berjalan ke arah Kirea, hingga lelaki itu pun langsung menghampiri putri dari wanita yang dia cintai. Sedangkan Mario tentu saja tidak terlalu memperhatikan Kelvin, dan fokus menatap Joseph mencari jawaban dari sahabatnya, tentang kondisi Soraya.
“Joseph!” Panggil Mario lagi ketika Joseph tidak menjawab pertanyaannya. Joseph Menatap Mario dengan lekat, sekarang dia pun dalam posisi serba salah, terlebih lagi ketika tahu Kirea adalah anak Mario.
Dan tentu saja Joseph pun juga marah pada Cio, karena lelaki itu sudah melanggar janjinya dan malah menghianati perjanjian yang mereka buat, di mana Cio tidak meninggalkan Marry.
Dan sekarang Joseph memutuskan untuk tidak memberitahukan apa-apa pada Mario, tentang Kirea, karena dia tidak mau melangkahi Soraya.
“pergilah jangan membuat keributan!” hanya itu yang bisa Joseph katakan pada kakak iparnya yang juga sahabatnya.
Jena yang mendengarkan pembicaraan kakaknya dan suaminya, langsung bangkit dari duduknya. Kemudian dia menarik tangan Mario.
“Jena apa-apaan kau!" omel Mario ketika Jena menarik tangannya.
“Ini rumah sakit, jangan berisik! Jika kau terus berisik pergi dari sini!” Hardik Jena.
Mario melepaskan tangannya dari tangan jeena, dia memutuskan untuk duduk di kursi tunggu, dan tidak bertanya lagi.
Gueen menolehkan kepalanya ke sana kemari, mencari keberadaan suaminya. Dia baru menyadari bahwa kalindra tidak masuk rumah sakit, tapi walau begitu dia enggan mencari ke mana suaminya, dia juga masih kecewa dengan tingkah Kalindra.
***
Kelvin mendudukkan diri di sebelah Kirea, tangan lelaki itu mengelus rambut anak dari wanita yang dia cintai. Hingga Kirea yang sedang menangis langsung menoleh.
"Pa-paman siapa?” tanya Kirea, dia menghapus air matanya kemudian menatap Kelvin dengan bingung. Karena tentu saja dia tidak pernah melihat Kelvin sebelumnya.
“Paman teman mommymu. Bagaimana jika kita membeli minum dan cemilan di bawah?" Kelvin terlalu bingung bagaimana cara berinteraksi dengan Kirea, hingga lelaki itu mengajak Kirea untuk turun ke kantin bawah.
“Kirea kau ikut saja dengan paman ini.” tiba-tiba terdengar suara Jena dari arah belakang, padahal sedang ada Cio di sana, tapi Jena enggan berbicara dengan lelaki itu dan malah menyuruh Kelvin untuk membawa kirea ke bawah, karena dia tahu pasti Kirea sangat terpukul. Dia tidak tahu, kenapa Kelvin ada di sini, seingatnya, Soraya dan Kelvin tidak pernah dekat tapi bagi Jena itu tidak penting yang terpenting Kirea bisa sedikit tenang.
Joseph yang melihat Jenna menghampiri Kelvin tentu saja merasa jengkel, tapi dia berusaha untuk tetap tenang karena ini di rumah sakit terlebih lagi dia juga setuju jika Kelvin membawa Kirea ke bawah, dia tahu kira pasti terpukul ketika melihat Mario, dan sebenarnya, Joseph juga eenggan berbicara dengan Cio.
Seperti terhipnotis, Kirea menganggukan kepalanya, terlebih lagi dia tidak ingin melihat Mario. Gadis kecil itu terlalu terpukul, mengetahui bahwa ternyata Ayah kandungnya adalah orang yang selama ini dia takuti.
Setelah Kelvin dan juga kirea turun, dokter keluar dari ruang rawat Soraya hingga semua langsung menghampiri dokter termasuk Cio.
“Bagaimana keadaan adikku dok?” tanya Joseph.
“Apa di sini ada suaminya?" Tanya dokter.
“Tidak ada, Aku kakaknya.” Joseph menjawab dengan cepat, dia tidak ingin Cio terlibat lagi dengan kehidupan Soraya, hingga Cio menghela nafas dia tidak berani membuka mulut karena tentu saja posisinya salah.
“Mari ikuti saya."
***
“Ja-jadi, maksud anda, dok?” seluruh tubuh Joseph terasa melemas ketika dokter mengatakan tentang kondisi Soraya yang menderita penyakit di ginjal, dan yang paling membuat Joseph semakin syok, kondisi Soraya sudah sangat parah.
Jika Soraya dioperasi kemungkinan Soraya selamat adalah 30%, karena dulu Soraya pernah menjalani transplantasi dan ketika akan menjalani transplantasi lagi, resiko kematian akan semakin besar, dan untuk cuci darah pun juga tidak menjamin akan memperpanjang hidup Soraya.
“Hmm, tuan Joseph. sekarang semua tergantung pasien. Anda bisa terlebih dahulu merundingkannya dengan pasien.”
***
Joseph keluar dari ruangan dokter, lelaki tampan itu menghentikan langkahnya sejenak, Dia memegang pinggiran dinding karena merasakan kakinya terasa lemas, semua kenangan berputar-putar di otak Joseph dari mulai Soraya menikah sampai saat ini, ternyata adiknya memendam semuanya sendiri.
“Soraya kenapa kau sebodoh ini!” bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Joseph, membayangkan bagaimana penderitaan Soraya selama ini.
Setelah beberapa saat berlalu, Joseph kembali melanjutkan langkahnya.
“Dad, Bagaimana keadaan Soraya?" Tanya Jena ketika Joseph menghampiri mereka. Jena semakin panik ketika melihat wajah Joseph memerah, pertanda suaminya baru saja menangis.
Seketika tatapan Joseph langsung teralih pada Cio yang juga sedang menatapnya, tanpa diduga Joseph langsung berjalan ke arah Cio, dia menatap Cio dengan tatapan amarah yang membara. Lalu setelah itu, dia menarik kerah jas Cio, lalu membawa ke tempat sepi dan sedetik kemudian Joseph kehilangan kesabarannya, kaki itu menghajar Cio tanpa suara.
Men temen jangan di skip ya huhu, yuk di beli yuk pdf ini cuman 15000 ribu sudah sampai tamat, seperti biasa aku sedang butuh dana untuk anak bungsuku, jadi yuk di beli, murah kok karena lagi promo hehe bisa wa di 088222277840
cinta tulus setelah bercerai. (Lanjutannya ada di pdf ya)
.Iren menatap makanan di depannya dengan mata berbinar, ia bangga pada dirinya sendiri karena berhasil memasak menggunakan tangannya sendiri.
Hari ini, ia sengaja memasak dengan tangannya sendiri karena berharap bisa makan malam bersama Albi, suaminya. Terlebih lagi, hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan mereka yang pertama.
Setelah puas memandang masakan yang telah ia buat dan terhidang rapih di atas meja makan, Iren pun berbalik dan pergi ke kamarnya, untuk bersiap-siap.
Setelah mandi, Iren membuka lemari, jari lentiknya memilih-milih dres yang menurutnya cocok untuknya. Dan pilihannya, jatuh pada dres berwarna merah, Iren mengambil dres tersebut kemudian memakainya.
Iren tampak cantik saat memakai dres merah, dan tatanan rambut sebahu, di tambah lagi makeup tipis yang semakin membuat Iren terlihat cantik alami.
Setelah di rasa penampilannya sempurna, Iren mengambil ponselnya dan melihatnya, berharap sang suami membalas pesannya.
Namun sayang, ponsel Iren tak ada notifikasi apapun. Bahkan Albi hanya membaca pesannya tanpa membalasnya.
"Ia pasti pulang ... Pasti pulang," gumam Iren, yang masih berharap bahwa suaminya akan pulang dan merayakan hari spesial untuk yang pertama kalinya.
••
Waktu menunjukan pukul 9 malam, ia sudah menunggu selama dua jam, matanya terus menatap ke arah pintu, berharap suaminya datang.
Tak lama, ia menunduk. Bahunya mulai bergetar. Ia menangis. Ternyata sangat sulit berpura baik-baik saja. Hari ini, Iren terlalu berharap. Padahal, ia tau bahwa suaminya takan mungkin datang tepat waktu hanya karena keinginannya.
Rasanya sungguh menyakitkan dan sangat menyesakkan. Tak lama, tangis yang tadi hanya berupa isakan, berubah menjadi tangisan yang kencang, tangisan itu terdengar sangat pilu.
Setelah lelah menangis, kantuk menyerang Iren. Ia melipat tangannya dan menyimpannya di meja, lalu ia menaruh kepalanya di tangan, menjadikan tangan sebagai bantal.
••
Waktu menunjukan pukul 1 malam, suara hujan dan petir saling bersautan membangunkan Iren yang sedang tertidur.
Iren mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah dingding unrtuk melihat jam. Ia tersenyum. getir saat melihat jam dan waktu menunjukan pukul 1 pagi. Tak ada harapan lagi, suaminya takan pulang.
Dengan hati yang hancur, Iren mengambil piring lalu menaruh makanan ke piringnya. Dengan tersenyum getir, Ia menyuapkan sendok demi sendok kemulutnya.
Saat sudah selesai, Iren bangkit dari duduknya, tak lupa ia mengambil ponselnya dan berbalik, kemudian ia menapaki tangga untuk pergi ke kamarnya.
Tanpa membersihkan wajahnya dan tanpa membuka gaun yang di pakainya, Iren membaringkan dirinya dengan posisi meringkuk dan menjadikan kedua tangannya sebagai bantal.
Tatapannya lurus kedepan, ia menatap jendela dengan tatapan kosong, tatapan itu penuh luka. Selalu seperti ini setiap malam, sendirian, sunyi dan kesepian. Tak, lama bulir bening kembali membasahi pipinya, ia masih belum bisa menghilangkan rasa sesaknya.
Iren pikir, saat ia berhasil menjebak Albi, menjadikan Albi sebagai miliknya dan menikah dengan Albi, kehidupannya akan sempurna. Namun, Iren salah. Semuanya malah berbanding terbalik dengan keinginannya.
Ya, satu bulan dua bulan, setelah menikah, Memang semua berjalan lancar. Kehidupan pernikahan mereka sama seperti kehidupan pernikahan lain pada umumnya, pernikaha yang hangat dan penuh cinta.
Namun, semuanya berubah kala ayah Iren terkena kasus korupsi. Dunia Iren menggelap kala sang ayah di tetapkan sebagai tersangka, ayah Iren terbukti melakukan korupsi di rumah sakit tempatnya bekerja. Dan karena kasus ayahnya, Iren yang merupakan seorang dokter bedah di rumah sakit yang sama dengan ayahnya bekerja pun memilih mengundurkan diri karena merasa malu dan tak kuat menerima gunjingan dari sesama dokter.
Tak cukup duka yang Iren terima karena sang ayah di penjara. Sikap Albi pun berubah padanya.
Sikap Albi menjadi dingin, semakin hari sikap Albi semakin tak berperasaan. Ia hanya bagaikan pajangan yang tak terlihat di mata suaminya.
Dan yang lebih menyakitkan, adalah saat Iren bertanya kenapa Albi berubah, dan jawaban Albi adalah ia malu mempunyai mertua yang menjadi tersangka kasus korupsi dan membadingkan Iren dengan mantan kekasihnya yang kaya dan sepadan dengan dirinya.
Perih, dan sangat menyesakkan. Di tengah luka yang menerjangnya, ia berusaha iklas dan selalu berpikir bahwa apa yang ia alami kini adalah sebuah karma, karma karena dulu ia merebut Albi dari kekasihnya.
Iren hanya sebatang kara, aset ayahnya sudah di sita oleh bank, dan yang ia bisa lakukan adalah tetap bertahan bersama Albi, walaupun sangat menyakitkan.
Dan tau apa yang paling menyakitkan dari semua sikap dan ucapan Albi, Albi mengatakan pada Iren bahwa Albi masih mencintai mantan kekasihnya. Cinta Iren yang begitu besar pada Albi membuat Iren terus menguatkan dirinya, berharap suatu saat nanti, Albi bisa mencintainya sama seperti ia mencintai Albi.
Akankah itu terwujud? Sampai kapan ia terus menunggu ...
Entahlah ... Hanya waktu yang bisa menjawab dan hanya rasa sakit yang akan memberi jawaban, akan terus bertahan atau menyerah ...
Ingat dah kena strok