Orion terperanjat, Putri (8 tahun), anak semata wayangnya tiba-tiba saja membawa seorang wanita yang akan menjadi ibu sambungnya sendiri. Sudah lebih dari 7 tahun Orion penyandang status sebagai duda pasca di tinggalkan untuk selamanya oleh istrinya tercinta.
Apakah Orion akan menikahi wanita yang di bawakan oleh putrinya setelah anak itu terus saja merengek-rengek ingin memiliki seorang ibu sama seperti anak lain seusianya? Atau, dia telah memiliki calon ibu sambung lain untuk sang putri?
Di baca perbab jangan lupa like ya, Reader.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISUP bab 27
"Jadi benar," lirih Tania seraya memundurkan langkah kakinya, "Orang yang telah menabrak ke dua orang tuaku adalah Ibu?" tanyanya lagi bola matanya seketika membanjir, buliran bening pun berjatuhan kian membasahi wajah cantiknya.
"Tidak, sayang. Bukan seperti itu kejadian yang sebenarnya, bukan Ibu yang telah menabrak orang tau kamu, tapi--"
"Jadi, kamu juga tahu tentang hal ini, tapi kamu tidak pernah bercerita apapun sama aku, Mas?" sela Kania bahkan sebelum suaminya sempat menyelesaikan apa yang ingin dia sampaikan.
"Sayang, dengarkan penjelasan Mas dulu. Mas tidak bermaksud untuk menyembunyikan semua ini, saya hanya--" Orion menahan ucapannya, dia tidak tahu harus berkata apa, karena pada kenyataannya dirinya memang berniat untuk menyembunyikan kenyataan ini karena tidak ingin kehilangan istrinya.
"Hanya apa? Kenapa kamu tidak meneruskan ucapan kamu, Mas?" tanya Tania, dadanya seketika terasa sesak.
"Tania sayang, suami kamu tidak salah. Ibu yang salah," lirih Diana dengan nada suara lemah, wajahnya pun terlihat membanjir karena air mata itu kian deras bergulir, "Rion juga baru tahu hari ini, Tania. Ibu baru memberitahu dia di kantor tadi. Jangan salahkan suamimu, sayang. Ibu yang salah, Ibu yang telah menyebabkan kecelakaan itu terjadi. Ibu benar-benar minta maaf," lirih Diana nada suaranya terdengar bergetar.
Tania memejamkan ke dua matanya sejenak. Dia mencoba untuk menahan rasa kecewa yang terasa menyesakan dada. Ternyata, Ibu mertuanya ini adalah orang yang telah menyebabkan kecelakaan yang merenggut nyawa ke dua orang tuanya.
Meskipun dia sudah dapat menduga hal itu, tapi dirinya sama sekali tidak menyangka bahwa rasanya akan sesakit ini. Tania seketika mencabut jarum infus yang menempel di pergelangan tangannya membuat Orion seketika merasa terkejut tentu saja.
"Astaga, sayang! Kenapa jarum infusnya kamu cabut?" tanya Orion hendak meraih pergelangan tangan istrinya, tapi segera di tepis kasar oleh sang istri.
"Ibu tahu kamu kecewa sama Ibu. Kamu boleh membenci Ibu sebanyak yang kamu inginkan, jika itu bisa membuat hati kamu tenang. Ibu pantas mendapatkan kebencian kamu, Tania. Ibu memang salah," lirih Diana tatapan matanya terlihat sayu.
Tania sama sekali tidak menanggapi ucapan ibu mertuanya. Dia mencoba untuk menekan emosinya dalam-dalam, berusaha untuk menahan agar bibirnya tidak mengeluarkan kata-kata yang akan menyakiti hati ibu mertuanya. Walau bagaimanapun, dirinya sudah menyayangi wanita paruh baya ini layaknya ibu kandung sendiri, tapi hati juga perasaannya benar-benar kecewa dan terluka setelah mengetahui kenyataan yang ada.
"Kamu mau ke mana, sayang?" tanya Orion saat Tania tiba-tiba saja berbalik dan hendak berjalan, "Jangan banyak bergerak dulu. Kata Dokter kamu harus banyak beristirahat, sayang," pinta Orion seraya meraih telapak tangan istrinya.
"Lepaskan aku, Mas. Aku ingin menenangkan diri, aku tak mau kalau aku sampai menyakiti perasaan Ibu jika aku terus berada di sini," jawab Tania seraya memalingkan wajahnya ke arah lain, juga melepaskan tautan tangan suaminya.
"Kamu mau ninggalin saya dan Putri?" tanya Orion dengan nada suara lemah.
Tania seketika menghela napas berat lalu menoleh dan menatap wajah istrinya, "Apa kamu gak dengar apa yang baru saja aku katakan? Aku hanya ingin menenangkan diri. Mas pikir aku akan baik-baik saja setelah mengetahui hal ini? Kamu pikir perasaan aku tidak akan terluka dengan kenyataan ini?" tanya Tania penuh penekanan, "Jika aku tetap berada di sini, aku takut kalau aku tidak akan bisa mengendalikan emosi aku, Mas? Aku takut kalau aku akan mengatakan hal-hal yang tidak pantas aku ucapkan kepada orang tua, karena walau bagaimana pun aku sayang sama Ibu, tapi aku kecewa. Sangat kecewa," tegas Tania sebelum nada suaranya mulai melemah karena tubuhnya benar-benar terasa lemas.
Tania melanjutkan langkah kakinya. Sementara Orion tidak mampu berkata apapun lagi. Apa yang baru saja diucapkan oleh istrinya 100% benar, lebih baik menghindar dari pada saling menyakiti nantinya. Setelah hanya diam mematung selama beberapa saat, Orion akhirnya mengejar Tania yang baru saja keluar dari dalam kamar seraya mengusap ke dua matanya yang tiba-tiba saja berair.
"Tania, tunggu saya!" teriak Orion berusaha untuk mengejar istrinya yang sudah mulai menjauh.
"Daddy?" sahut Putri, berjalan dari arah yang berlawanan dengan istrinya.
Orion tentu saja menghentikan langkah kakinya. Dia pun memutar badan dan menatap wajah Putri seraya mengusap wajahnya kasar, dadanya pun terlihat naik turun menahan rasa sesak.
"Daddy kenapa? Memangnya Mommy Tania mau kemana?" tanya Putri.
Anak itu berjalan bersama asisten rumah tangga yang bekerja di kediamannya. Putri berhenti tepat di depan sang ayah dengan kening yang mengkerut heran. Sementara Orion segera berjongkok tepat di depan sang putri seraya menatap wajahnya dengan tatapan mata sayu.
"Putri sayang, kamu tunggu di dalam ya. Oma sudah menunggu kamu, Daddy ada urusan dulu sebentar," ucap Orion seraya merapikan helaian rambut putrinya.
"Memangnya Daddy mau ke mana?" tanya Putri menatap wajah sang ayah penuh tanda tanya. Namun, Orion sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari putrinya ini.
Laki-laki itu segera berdiri tegak lalu berlari ke arah yang sama dengan istrinya. Orion berharap, istrinya itu belum pergi terlalu jauh. Dirinya berlari di koridor Rumah Sakit seraya menatap sekeliling berharap dapat menemukan sosok wanita yang dia cari.
"Saya mohon, Tania. Saya mohon jangan pergi, saya tidak bisa hidup tanpa kamu," gumam Orion dengan napas yang tersengal-sengal.
Sampai akhirnya, langkah seorang Orion Dirgantara tiba-tiba saja melambat. Tatapan matanya nampak tertuju kepada dua orang manusia yang sedang duduk di kursi di ujung koridor. Dada seorang Orion terlihat naik turun akibat rasa lelah usai berlari. Rasa panas pun seketika terasa membakar hatinya bahkan seolah menghanguskan seluruh organ tubuhnya di dalam sana, tatkala ke dua matanya menangkap sosok istrinya yang sedang bergenggaman tangan erat dengan seorang laki-laki seraya menangis sesenggukan. Ya, dua orang yang sedang duduk itu adalah Tania dan David sepupunya.
"Tania?" gumam Orion hembusan napasnya nampak berhembus tidak beraturan bola matanya pun mulai memerah lengkap dengan buliran bening yang memenuhi kelopak matanya, "Saya mohon jangan ... jangan pernah meninggalkan saya dan Putri, Tania. Saya mohon jangan pernah berpaling kepada laki-laki lain," lirih Orion dengan nada suara pelan, tapi tetap saja terdengar samar-samar oleh Tania membuatnya seketika menoleh ke arah di mana suaminya berada saat ini.
"Mas Rion," gumam Tania seketika berdiri tegak.
BERSAMBUNG