Hubungan persahabatan yang terjalin antara Reyhan dan juga Nehta, harus berubah karena sebuah ikatan pernikahan yang terjadi karena keinginan Hanifah, neneknya Reyhan.
Hanifah ingin sekali melihat Reyhan menikah sebeluk akhir hayatnya. Karena Reyhan telah gagal menikah sebanyak dua kali. Maka dari itulah, Hanifah meminta Nehta agar menikah dengan Reyhan.
Tidak ingin membuat Hanifah kecewa, akhirnya Reyhan menuruti keinginan neneknya.
Lalu bagaimana kelanjutan pernikahan mereka, setelah kepergian Hanifah? Akankah berakhir bahagia atau tidak? Terutama dengan kehadiran Sara, perempuan yang begitu terobsesi dengan Reyhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nhay_23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Sudah Tidur?
Za-Zara...?
Nama belakangnya memang Zara, tapi selain Alvin, Rosa dan juga Azka, tidak pernah ada yang memanggilnya dengan sebutan Zara.
Zara, jangan lari-lari...
Ayo makan, Zara...
Jangan menangis, Zara!
Zara mau permen kapas?
Zara...
Zara...
Suara-suara itu terngiang di kepalanya, seakan bermunculan silih berganti. Tapi dia sama sekali tidak mengingat, siapa pemilik suara anak laki-laki yang baru saja terdengar melalui ingatannya.
“Akhhh... Kepalaku sakit banget...” Gumam Nehta setelah merasakan nyeri hebat di bagian kepalanya.
“Ta... Kamu nggak apa-apa?” Wina bertanya sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Nehta, sedangkan perempuan yang di panggil namanya sama sekali tidak menyahut.
“Tuan, apa anda tidak apa-apa?”
“Ya, saya tidak apa-apa. Bagaimana dengan kamu?”
Entah sejak kapan, Alex mengubah panggilannya, sebelumnya dia selalu menyebut Nehta dengan kau. Nehta hanya menatap lamat-lamat wajah laki-laki yang baru saja menolongnya.
Raut wajahnya sama sekali tidak menampakkan raut kekhawatiran, tapi sorot mata itu, rasanya dia pernah melihatnya, tapi di mana?
“Sa-saya, tidak apa-apa tuan. Terima kasih sudah menolong saya.” Nehta sedikit menundukkan kepalanya, kemudian berusaha berdiri di bantu oleh Wina.
Tersadar dari lamunannya, Nehta bisa melihat dan mendengar bisik-bisik dari semua orang. Karena kejadian itu menjadi tontonan karyawan yang lewat dan yang keluar bersamanya dari ruang meeting.
Wina memberikan segelas air minum pada sahabatnya. Lagi-lagi, Wina mendapati sahabatnya itu melamun.
“Kamu yakin nggak apa-apa, Ta?” Tanya Wina memastikan kalau Nehta baik-baik saja.
Nehta menggelengkan kepalanya. Wina terpaksa maklum, mungkin karena kejadian tadi, membuat Nehta sedikit syok.
“Mbak Nehta kenapa?”
Sherly yang baru kembali dari kamar mandi, melihat Nehta sedikit pucat langsung mendekat.
“Tadi ada insiden kecil. Tapi jadi besar karna tuan Alex yang menolong Nehta.” Darwin yang menjawab, karena Nehta dan juga Wina hanya diam.
“Ya Allah, tapi mbak nggak apa-apa kan? Tuan Alex gimana? Kejadiannya gimana?”
“Aduh, mas Darwin!” Pekik Sherly yang merasakan gulungan kertas mengenai keningnya.
“Nanyanya satu-satu bisa kan?”
Sementara Darwin menceritakan kejadiannya seperti apa pada Sherly, ponsel Nehta berdering, tanda seseorang tengah menghubunginya.
Nehta melihat nama Gibran yang tertera di layar ponselnya. Bukannya mengangkat, Nehta malah membalikkan ponselnya. Ya, sejak kemarin, Nehta mengabaikan pesan dan juga panggilan dari Gibran.
Ingin rasanya, Nehta menghubungi Reyhan. Dia berharap, dengan mendengar suara suaminya, hati dan pikirannya bisa lebih tenang. Tapi melihat jam di pergelangan tangannya, mungkin suaminya masih berada dalam pesawat.
...*****...
Butik yang sebelumnya ramai oleh pelanggan, baik itu pelanggan biasa ataupun VIP. Para pekerjanya kini tampak santai di bandingkan dengan sebelumnya. Karena ada beberapa pelanggan yang membatalkan pesanannya. Mereka kecewa, lantaran rancangan yang mereka pesan tidak sesuai keinginan mereka, atau tenggat waktunya yang mulur.
“Saya sangat kecewa dengan butik ini. Seharusnya saya membatalkannya sejak tahu kalau butik ini tidak lagi di kelola oleh Nehta.” Ungkap Veronica, salah satu pelanggan VIP di butik itu.
“Saya mohon maaf atas kekecewaan anda nyonya, saya dan anak saya akan memperbaiki rancangan ini sesuai dengan keinginan nyonya.” Ucap Dewi, dia menekan gengsinya untuk merendahkan dirinya di hadapan Veronica, karena dia tidak mau kehilangan salah satu pelanggan VIP mereka.
“Tidak. Saya sudah memberikan kalian kesempatan. Kalian tahu? Itu juga saya lakukan karena Nehta yang meminta saya tidak membatalkan pesanan saya. Tapi kalian mengecewakan saya.” Setelah puas menyampaikan kekecewaannya, Veronica meninggalkan Dewi dan juga Rasti yang menahan kesal.
Tapi sebisa mungkin mereka memasang wajah yang ramah. Dengan perginya Veronica, Rasti langsung mencak-mencak. Mengeluarkan kekesalannya.
“Udah di usir dari sini pun masih aja buat masalah.” Gerutu Rasti.
“Kamu juga sih, kenapa sering menunda-nunda menyelesaikan pekerjaan kamu?”
“Bunda nyalahin aku?”
“Bunda tahu sendiri kan, aku juga masih kuliah. Mana bisa bagi waktu sama ngerjain rancangan juga. Bunda mau aku sakit?” Bukannya menenangkan kekesalannya, ibunya malah seakan-akan menyalahkannya.
“Bukan begitu maksud bunda. Ya udah, sekarang kamu kerjakan pesanan yang lain!”
“Nggak bisa bunda, aku ada kelas jam dua nanti. Ini pun aku udah mau berangkat.”
Dewi hanya bisa menghela napasnya kasar. Dia juga sebenarnya tidak begitu mengerti soal desain atau semacamnya. Sifat serakahlah yang membuatnya berakhir seperti sekarang, dia harus kehilangan salah satu pelanggan VIP butik yang sudah sangat lama seperti Veronica.
Mau bagaimana lagi, dia menyerahkan pekerjaan pada pekerja yang selama ini kerjanya hanya membantu sedikit sedikit. Karena selama ini, Nehta dan sahabat-sahabatnyalah yang berperan banyak untuk kesuksesan butik tersebut.
...*****...
Di tengah gelapnya tempat di sekelilingnya, Nehta tengah terduduk di lantai tanpa alas. Sambil terus menangis memanggil-manggil kedua orang tuanya. Di sisi kanan dan kirinya, dua anak laki-laki juga tengah duduk bersamanya. Bedanya, mereka tidak menangis.
Nehta baru sadar, bahwa saat itu dia juga seorang anak kecil. Karena dia dapat melihat dengan jelas kedua tangan dan kakinya yang kecil. Serta dress yang di pakainya saat itu adalah dress kesukaannya sewaktu dia kecil.
Nehta kecil menangis semakin kencang, saat merasakan perutnya lapar. Tenggorokannya juga kering akibat terus menangis.
“Diammmm!!!” Teriak sorang laki-laki bertubuh besar setelah membuka pintu ruangan dengan kasar.
“Buat dia diam, atau kalian akan tahu akibatnya!”
Ancaman yang laki-laki itu berikan membuat Nehta kecil semakin takut, sehingga dia menyembunyikan kepalanya di pelukan salah satu anak laki-laki yang duduk bersamanya.
“Zara takut...” Lirihnya.
“Mama... Papa...” Ucapnya begitu pelan, karena tidak ingin laki-laki tadi benar-benar berbuat sesuatu pada mereka.
Guk. Guk. Guk.
Entah dimana mereka berada, tapi yang jelas mereka bertiga tengah berlari dari kejaran beberapa anjing penjaga. Mereka berlari dengan saling memerhatikan satu sama lain. Saat kakinya tak mampu lagi untuk berlari, anak laki-laki yang selalu menggenggam tangannya dengan erat, melepaskan tautan tangan mereka begitu saja.
“Pergilah...” Anak laki-laki itu tersenyum ke arah Nehta.
“Kaaaaakkk...”
Nehta terbangun dari tidurnya, napasnya terlihat ngos-ngosan, seperti orang yang baru saja berlari maraton. Bulir keringat membasahi kening dan lehernya. Salah satu tangannya menyeka keringat tersebut.
Nehta menyadari kalau mungkin dia baru saja menangis saat tidur, karena matanya yang basah. Bahkan mengalir sampai ke telinganya yang ikut basah.
“Kakak?”
“Kakak siapa yang aku maksud? Kenapa aku memimpikannya? Ada apa ini sebenarnya? Ini kedua kalinya aku melihatnya, bedanya kalau sekarang melalui mimpi. Aneh, kenapa juga aku sampai menangis?” Nehta terus saja bergumam sendiri.
“Astaghfirullah...” Nehta terkejut mendengar dering ponselnya sendiri yang berada di atas nakas, samping tempat tidurnya.
Dia melihat jam yang tertera di ponselnya. Jam tiga dini hari. Reyhan menghubunginya.
“Assalamualaikum, Rey.”
“Waalaikumsalam. Kamu sudah tidur?”