Keyla Salsabila, rela mengorbankan dirinya dalam sebuah pernikahan kontrak. Demi mendapatkan biaya untuk pengobatan sang Ibunda yang tengah sakit keras.
Hubungan pernikahannya dengan Edgar, pria yang menawarkan pertolongan dengan sebuah perjanjian kontrak awalnya jelas terasa hambar. Hingga berjalannya waktu, benih-benih cinta itu mulai tumbuh. Namun, ego mereka lebih besar menutupi cinta yang sudah lama bersemi.
Lantas, akankah mereka memilih tetap bersama atau malah memutuskan untuk berpisah sesuai surat perjanjian pernikahan?
Mari sama-sama kita simak perjalanan cinta mereka dalam cerita author amatir berikut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iing Nirmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senjata makan tuan
Edgar tidak menyangka, rencananya untuk makan siang bersama Keyla harus gagal total karena keberadaan Olivia.
Yang lebih mengejutkan, wanita itu tanpa tahu malu langsung menggelayuti tangan kekar Edgar.
"Sayang!" seru Olivia dengan senyum lebarnya. Ia bahkan mencuri kecupan di pipi Edgar.
Keyla yang melihat adegan didepannya hanya bisa terdiam mematung. Terkejut bercampur rasa sesak di dadanya.
"Apa-apaan kamu!" bentak Edgar yang langsung melepas kasar pelukan Olivia di tangannya. "Lepas!"
Olivia terdorong kebelakang, pupil matanya membesar. Tak menyangka bahwa akan diperlakukan kasar seperti ini.
"Jahat kamu, Edgar! Bisa-bisanya kamu perlakukan aku kasar begini!" pekiknya tertahan dengan air matanya yang telah menggenang. "Hanya gara-gara gadis kampung yang bahkan bebet bobotnya gak jelas!"
Memang pemain handal. Dia yang salah, tapi bertindak sebagai korban. Memang Olivia lebih pantas menjadi seorang aktris dibandingkan model.
Wajah putih wanita itu lambat laun menjadi memerah. Menahan amarah dan malu yang bercampur menjadi satu. Merasa tak terima dengan sikap Edgar yang membentaknya di depan publik.
Desisan kesal keluar dari celah bibir Olivia. Jari telunjuknya mengacung pada Keyla.
"Dasar pelakor!" hardiknya dengan murka.
Edgar yang tidak terima dengan tudingan Olivia hampir saja melayangkan tinju kepada wanita itu. Tapi diurungkannya ketika Keyla menahan tangannya.
"Dengar kalian semua!" Olivia berteriak tanpa tahu malu. "Dia adalah seorang pelakor! Wanita ini merebut kekasih saya, menjebaknya agar bisa dinikahi! Dasar perempuan murahan!"Akibat dari tudingan tidak berdasar Olivia. Orang-orang di sana lantas mulai berbisik dan menatap Keyla sebagai tersangka.
"Wanita murahan, pelakor!" desis Edgar yang masih berusaha menekan amarahnya. Kedua tangannya mengepal, buku jarinya memutih. Ia bahkan tidak segan dan tidak menyesal jika harus memberikan bogem mentah kepada mantan kekasihnya.
Tetapi sebelum itu terjadi. Keyla sudah lebih dulu mengambil satu langkah lebih dekat dengan Olivia.
"Bagaimana bisa aku disebut seorang pelakor?" tanya Keyla dengan tenang. Matanya teduh dengan sedikit senyum di sana. "Akulah istri Kak Edgar. Dia menikahi ku karena keinginannya sendiri. Dan ya, kami saling mencintai."
"Bee...." Panggil Edgar dengan ragu. Tidak, pria itu tidak masalah jika Keyla berani membalas perkataan Olivia. Tapi Edgar sangsi jika Olivia hanya diam saja.
Keyla mengangkat tangannya, memberi kode untuk sang suami diam.
"Wanita bisa disebut pelakor, ketika dia merebut suami orang," balas Keyla yang kini wajahnya mulai datar. "Sedangkan diposisi sekarang, kamu bukanlah salah satu istri dari suamiku."
Olivia mendelik marah, ia bahkan sudah mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Namun Keyla dengan refleks yang cepat menahan tangan sang model cantik itu.
"Rendahan sekali harga dirimu. Kamu rela ditonton banyak orang dan memfitnah orang lain tanpa dasar begini." Keyla langsung menghempaskan tangan Olivia dengan kasar. "Aku juga gak sudi diperistri oleh laki-laki yang masih mencintai wanita lain." Tapi itulah kenyataannya Edgar masih mencintaimu, mungkin sampai saat ini," sambungnya dalam hati.
Bola mata Edgar membesar, ia tak percaya kata-kata seperti itu keluar dari mulut istrinya.Meskipun Keyla juga sedikit bar bar Keyla selalu berlaku sopan pada orang lain. Tapi kali ini keberanian istrinya melawan seorang Olivia patut di apresiasi.
Belum sempat Edgar menginterupsi, Keyla kembali melanjutkan ucapannya.
"Tapi dengan pernikahan kami yang sangat bahagia ini. Dan aku sudi untuk menjadi istrinya. Harusnya perempuan cantik dan pintar sepertimu tahu membandingkan sebesar apa rasa cinta Kak Edgar untukku. Dan seberapa banyak sisa cinta Kak Edgar untukmu." Senyum penuh kemenangan tersungging di bibir Edgar apalagi menatap Olivia yang sudah kalah telak dari istrinya.
Kini Olivia terdiam dengan menahan amarah. Tiba-tiba saja tubuhnya bergetar, ia seakan membisu. Tak bisa membalas kata-kata Keyla. Padahal beberapa menit sebelumnya Olivia dengan lantang meneriaki Keyla dengan sebutan ******.
"You lost!" bisik Keyla dengan senyum kecilnya. "Percuma kamu sesumbar begini. Karena cinta Kak Edgar kepadamu sudah habis tak tersisa. "
Dengan perasaan marah dan juga malu Olivia pergi keluar dari restoran. Kebenciannya kian menumpuk setelah Keyla mempermalukan dirinya.
Niat hati ingin mempermalukan Keyla, dengan begitu Edgar akan membenci istrinya dan meminta kembali padanya. Tapi hal yang terjadi malah lebih buruk seperti senjata makan Tuan.
Setelah kepergian Olivia, Edgar pun membawa Keyla keluar mencari restoran yang lain.
"Maaf, " mata Edgar menatap Keyla dengan tatapan bersalah.
Biar bagaimanapun penyebab kemarahan Olivia karena dirinya. Dipegangnya lembut sebelah tangan Keyla yang ada di atas meja.
"Tidak apa-apa. " Keyla mengusap lembut punggung tangan Edgar dengan tangan yang satunya.
"Ayo masuk! "
Mereka melangkah masuk ke dalam restoran mewah di depannya.
*
*
"Cantik, " Keyla menunduk menyembunyikan rona merah di pipinya mendengar pujian Edgar.
"Ayo! " Edgar menunjuk tangan menggunakan dagu, Keyla yang paham kode dari Edgar segera melingkarkan tangannya di lengan suaminya.
"Anak Bunda cantik sekali,"
Ya, mereka semalam menginap di rumah Keyla. Meskipun merasa kurang nyaman, Edgar tetap menyetujui permintaan istrinya yang ingin menginap karena merindukan orang tuanya.
"Kakak ikut masuk? " tanyanya dengan wajah bingung melihat Edgar yang ikut turun dari mobil.
Edgar hanya mengangguk kemudian berjalan memutari mobil. Senyum merekah terbit di bibir Keyla dengan wajah berbinar cerah mendongak menatap Edgar yang berdiri di sampingnya.
"Mama, Papa, Kakek juga ada disini, Kak? "
"Iya, semua keluarga kita juga disini. Duduklah! "
Keyla mengalihkan pandangan matanya, dan benar saja semua keluarga Edgar juga duduk di deretan kursi mereka.
Biasanya hanya papa Edgar yang hadir di saat acara wisuda di tahun sebelumnya. Tapi lain halnya hari ini, semua anggota keluarga Addison ikut serta menjadi saksi keberhasilan menantu keluarga Addison.
"Ayo duduk! semua orang melihat kita, " Keyla tersenyum kaku menatap sekelilingnya, kemudian ikut duduk di samping sang suami.
"Para Wisudawan dan Wisudawati di persilahkan menuju tempat yang sudah di persiapkan." Suara MC mulai terdengar memberi instruksi pertanda acara akan segera di mulai.
Setelah mendapatkan anggukan dari suaminya Keyla melangkah menuju tempat untuk para peserta wisuda.
"Hari ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, " suara MC terdengar ceria dengan wajah berbinar.
"Kata sambutan pimpinan kampus kali ini akan disampaikan langsung oleh Direktur utama, pewaris tunggal keluarga Addison. Kepada Bapak Edgar Emiliano Addison dipersilahkan naik ke atas panggung. "
Mata dan mulut Keyla kompak membulat saat mendengar nama suaminya disebutkan, apalagi melihat Edgar begitu gagah berjalan menuju panggung.
Kemeja lengan panjang bewarna biru muda, jas dan celana panjang bewarna biru tua sangat pantas dikenakan olehnya. Sepatu pantofel hitam menambah elegan penampilannya. Rambutnya tertata rapi semakin menambah ketampanannya.
***