Hai ini karya terbaru saya, dukung saya dengan meninggalkan komentar like dan ikuti agar saya lebih semangat membuat cerita tentang hubungan Sashi yang panas dan penuh konflik.
Terimakasih ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lakuna Amerta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27, Menemani Agatha
Agatha sudah pulang dari rumah sakit, ia hanya 1 hari 1 malam saja di rumah sakit. Karena Sashi agak khawatir, Agatha menginap di apartemen Sashi sampai kondisinya pulih.
Hari itu Sashi libur, ia jadi bisa menghabiskan waktunya untuk merawat Agatha, sambil menemaninya.
Jam menunjukan pukul 10, Sashi baru selesai mandi karena tadi mengajak Agatha untuk mengobrol di balkon sambil ngopi bareng. Dia segera menuju dapur dan bertempur untuk memasak, Sashi mau memasak untuk makan siang.
Karena tadi pagi Agatha sudah sarapan bubur yang di buatkan Sashi. Kali ini Sashi ingin menyajikan makan yang sehat namun enak.
Agatha berpindah, masuk dan menuju dapur untuk menemani Sashi masak di dapur untuknya.
Ia menarik kursi coklat yang dan mendudukinya, sambil memegang cangkir berisi susu hamilnya. Agatha mengajak Sashi ngobrol.
“Sas,” panggil Agatha memulai obrolan. “Rio nggak kesini?”
“Hah?” Sashi menoleh ke belakang. “Ah enggak, kemarin bilangnya ada proyek luar kota yang harus ia kontrol.”
“Oh baguslah kalo begitu.”
“Emang kenapa, kamu nggak mau ketemu Rio?”
Sashi mengambil mangkuk di lemari kitchen set nya dan menuangkan sayur yang di masaknya ke dalam mangkuk itu.
“Ya gitu deh Sas.”
“Eh tunggu deh,” ucap Sashi sambil mendekat ke arah Agatha. Dia berdiri tepat di sampingnya. Agatha menoleh ke arah Sashi.
“Hm…” Agatha tersenyum mendengarkan.
“Sebenarnya kalian ada masalah apa sih? Kalo boleh aku tau?”
Agatha membenarkan posisi duduknya, sedangkan Sashi masih di posisinya. Agatha enggan untuk menceritakan semuanya, apa masalahnya antara mereka berdua.
“Ya gitu deh Sas. Nanti kamu juga tau sendiri.”
Sashi diam dan terus memandang Agatha, Agatha salah tingkah dan memutar bola matanya.
“Oke baiklah…” Sashi berjalan mundur untuk melanjutkan masakannya. “Aku nggak akan ikut campur urusan kalian selagi itu tentang kerjaan.”
Mendengar itu Agatha pun kini bisa bernafas lega, jangan sampai Sashi tau kalo Agatha dan Rio bermusuhan karena suatu hubungan yang tidak bisa dijelaskan lagi.
Akhirnya Sashi pun selesai, dia sudah menyiapkan segalanya diatas meja makan. Agatha yang ada di depannya pun kegirangan melihat meja penuh makanan.
“Wah banyak banget, mana enak-enak lagi…” ungkap si bumil yang terkagum-kagum melihat seisi meja.
Di atas meja tersebut ada beberapa lauk, seperti tempe dan udang goreng tepung. Beserta sayuran dan beberapa menu, seperti sayur bayam dan ayam tepung asam manis. Dan masih ada yang lainnya.
Sashi benar-benar melengkapi 4 sehat 5 sempurna Agatha, selama Agatha ada disitu. Bahkan Agatha bertepuk tangan saat Sashi menyajikan piring di depannya.
“Sashi, kalo Rio nggak mau menikahimu. Menikahlah denganku,” gurau Agatha sambil memegang lengan Sashi.
Sashi menyingkirkan tangan Agatha lembut, “Ogah. Kamu udah beranak 1.”
Senyuman tipis Sashi, mengundang gelak tawa Agatha. Ia tertawa sambil memegang perutnya.
“Emang apa masalahnya menikahi wanita beranak 1 woy?”
Sashi masih menanggapi leluconnya, “Ogah! Yang bikin enak-enak kamu yang repot aku.”
Tawa mereka pun pecah, sampai Sashi berhenti dari aktivitasnya untuk tertawa. Sedangkan Agatha, ia tak membayangkan bisa sedekat ini dengan wanita yang dulu ia tusuk dari belakang.
Agatha merasa bersalah akan kelakuannya dulu, dia melihat semua yang tergambar di wajah Sashi. Sashi adalah wanita baik-baik dan tulus hatinya.
“Dah! Yuk makan Tha.”
Sashi melepas celemek dan mengambil piring Agatha untuk diisi nasi. Agatha masih kebingungan mau mengambil lauk apa.
“Duh banyak gini jadi bingung, aku suka semua…”
Sashi tersenyum melihat tingkah lucu Agatha yang tidak menggambarkan bahwa dia sudah dewasa dan akan memiliki seorang anak. Ia pun sigap mengambilkan semua lauk dan sayur ke atas piring Agatha.
“Wah nggak kira-kira ya kamu Sas,” piring Agatha menggunung oleh makanan.
Lagi-lagi Sashi hanya tersenyum, “Pokoknya habisin, anakmu butuh ini semua.”
“Wah fix ayo kita nikah deh.”
Sashi membalasnya dengan ledekan, bahkan di masukannya udang ke dalam mulut Agatha yang ngoceh mulu.
Mereka pun akhirnya makan dengan nikmat, Agatha terlihat beberapa kali memuji masakan Sashi. Dan Sashi merasa senang melihat Agatha seperti itu. Beberapa waktu yang lalu wajah Agatha tidak se sumringah ini.
*****
Sore harinya, di ruang TV Sashi nampak 2 wanita ini sedang asyik menonton drama. Biasanya Sashi menonton drama dengan kekasihnya, kali ini dengan Agatha. Yang rupanya juga ia suka dengan drama-drama, bisa dikatakan mereka 1 frekuensi lah.
Sesekali Sashi menatap Agatha, sesekali ia juga memperhatikan juga tingkah lakunya. Dalam benaknya, apa yang sedang dialaminya. Mengapa ia kabur dari laki-laki yang menghamilinya.
Semua yang terjadi pada Agatha membuatnya terus berpikir, sangat terasa mengganjal di hati Sashi.
Saat sedang memperhatikan Agatha, tiba-tiba telepon selulernya bergetar. Sashi meraihnya, dan mengangkat telepon tersebut.
“Halo No, gimana?”
“Halo Sas, aku ngirimin kamu alamat. Nanti malem dateng ya, ke pesta ku.”
Sashi sumringah, “Pesta apa nih?”
“Ya biasa merayakan hari istimewa ku lah…i”
“Wah ada apa nih, jangan bilang kamu mau tunangan? Ini kan bukan hari ulang tahun mu.”
Agatha berbisik menanyakan, “Kino ya?”
Sashi mengangguk, “Oke deh No, sukses ya acaranya. Tar aku dateng deh… Daaa bye…”
Sashi menutup telepon dan langsung membuka chat Kino, rupanya ia mengirim link undangan. Tapi disana tidak menyebutkan acaranya.
Saat yang sama juga, chat dari Rio masuk.
[Sayang, dateng ya ke acara Kino. Aku juga diundang, nanti aku langsung ke lokasi aja]
Sashi membalasnya, ia menyetujui ajakan Rio itu. Ia pun juga berniat untuk mengajak Agatha, karena mereka saling kenal.
“Eh Tha,” panggil Sashi.
Agatha yang sedang asyik menonton itu pun menjawab tanpa menoleh, “Iya gimana Sas?”
“Ikut ke acara Kino yuk.”
“Kino bikin pesta?”
“Iya, nggak tau pesta apa. Dia juga mengajak temen-temen lainnya kok.”
Agatha diam sejenak memikirkan sesuatu, dia mulai berpikir tentang rencananya yang sedang ia jalankan.
“Tha… ayok,” rengek Sashi.
“Eh iya. Tapi masalahnya aku nggak ada gaun nih. Mau bantuin aku nyari?”
“Mau, jam berapa nih?” Sashi melihat jam di layar ponsel nya. “Ah masih ada waktu nih buat ke Mall.”
“Oke ayok!”
Mereka segera bergegas beranjak dan bersiap-siap menuju Mall samping gedung. Mereka berjalan kaki dan hanya menggunakan baju rumahan.
Sesampainya di Mall, Sashi menuntun Agatha menuju store langganannya. Ia biasa membeli dress-dress di store yang terletak di lantai 2 itu. Sashi pun memilihkan dress yang dikenakan oleh Agatha.
Sashi memilihkan Agatha dress dengan nuansa hitam karena temanya hitam-hitam gitu. Dia juga memilih untuk dirinya, karena dia merasa butuh dress baru. Dress panjang dengan bagian atas terbuka itu milik Agatha, dan dress pendek dengan tali di bahunya namun berkerut membentuk bodynya yang seksilah yang dipilih oleh Sashi.