Ini adalah novel religi pertamaku. Banyak banget yang butuh perbaikan sana sini. jika ada yang tidak sesuai, othor terima banget masukannya.
Tiba-tiba dilamar oleh seorang Ustad, membuat Arin berpikir dan melakukan berbagai cara untuk membatalkan pernikahan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27
Arin keluar dari kamarnya dengan mengenakan hijab yang saat ini sudah bertengger di kepalanya. Ya, setelah pindah ke Tubansari, Arin harus belajar mengubah penampilan.
Arin tak bisa lagi mengumbar rambutnya seperti sebelumnya. Perlahan, wanita itu belajar menutup aurat dengan mengenakan hijab, meskipun sebenarnya ia merasa keberatan.
"Gerah banget," gumam Arin merasa kepanasan karena pakaian serba panjang yang ia kenakan di siang bolong.
Wanita itu benar-benar merasa tidak nyaman. Tetapi tak mungkin juga Arin melepaskan hijabnya. Arin malu jika tidak mengenakan hijab. Mengingat semua orang yang ada di lingkungannya tinggal saat ini mengenakan hijab, mau tidak mau ia juga harus segera menyesuaikan penampilan.
Huda sendiri juga meminta Arin untuk mulai belajar mengenakan hijab. Namun, baru dua hari memakainya, Arin sudah benar-benar sesak dan merasa tidak betah.
"Abi!" Suara teriakan Riski membuat Arin langsung bangkit dari bangkunya untuk menyambut sang suami.
Wanita itu pun langsung lupa dengan rasa gerah yang saat ini menyiksanya, dan mengalihkan perhatian pada sang suami yang baru saja datang dengan membawa banyak buah tangan. "Riski lagi ngapain sama Umi?" sapa Huda pada sang putra.
"Kok udah pulang, Mas?" tanya Arin sembari menghampiri Huda dan mengecup punggung tangan suaminya yang baru pulang itu.
"Tadi cuma nganterin Abi sebentar. Mas bawain sesuatu buat kamu," seru Huda.
Huda membawakan banyak makanan ringan dan minuman dingin. Pria itu pun duduk bersama anak istrinya dan menghabiskan waktu santai sejenak di hari yang panas itu.
"Mas beli es banyak banget!" seru Arin kegirangan.
Huda melempar senyum tipis. Pria itu memang sengaja ingin membawakan banyak makanan untuk Arin.
"Cuaca lagi panas banget. Kamu pasti pengen yang seger-seger," seru Huda.
Arin dan Riski pun melahap makanan ringan yang dibawa oleh Huda dengan lahap. Sesekali Huda tertawa kecil sembari mengusap kepala sang istri yang sangat minim sudah tertutup hijab.
"Kenapa ketawa, Mas?" tanya Arin.
"Kamu makannya lahap banget. Pipi kamu belepotan tuh sama kaya Riski," timpal Huda.
Arin nampak panik dan berusaha mengusap bibirnya dengan punggung tangan. "Masa' sih belepotan? Biasanya aku nggak pernah belepotan kalau makan es krim," gumam Arin membuat Huda semakin gemas.
"Gimana, Rin? Pakai hijab nggak terlalu berat, kan?" tanya Huda tiba-tiba.
Arin segera merapikan kerudungnya, begitu Huda membahas mengenai kain yang saat ini bertengger di kepalanya. "Aku masih belum terbiasa," seru Arin.
"Nanti lama-lama juga terbiasa. Kamu terlihat makin cantik kalau pakai hijab," puji sama suami.
Pipi Arin langsung memerah. Wanita bandel yang biasa berpenampilan urakan itu terpaksa harus mengubah penampilan, setelah menikah dengan pria dari keluarga gamis seperti Huda.
"Mukaku kelihatan bulat banget. Aku ngerasa nggak cocok pakai hijab," seru Arin.
"Itu kan cuma perasaan kamu aja. Kamu cocok dan cantik banget pakai hijab," timpal Huda.
Pujian dari suaminya membuat Arin semakin percaya diri dengan hijabnya. Arin akan berusaha sebaik mungkin untuk mempertahankan hijabnya dan mengubah penampilannya menjadi lebih baik lagi untuk menyesuaikan diri di lingkungan kampung Tubansari.
"Riski, jangan makan es krim banyak-banyak, ya! Habis ini kita makan buah yuk sama Umi!" ajak Arin pada Riski.
Tidak sulit bagi Arin untuk mengambil hati Riski setelah ia menjadi istri dari Huda. Riski mudah cepat akrab dengan Arin, dan bocah kecil itu bahkan mau memanggil Arin dengan panggilan Umi.
"Ya, Umi!"
Setiap malamnya, Riski akan tidur bersama dengan Huda dan Arin. Riski tidak terlalu canggung dengan kehadiran Arin dan dengan mudahnya menerima wanita itu sebagai ibu baru.
*****
"Paket!" Arin langsung berlari girang usai ia mendengar suara kurir. Wanita itu menggandeng Riski dan mengajak putranya untuk menyambut kurir yang mengantarkan barang yang sudah ia tunggu-tunggu.
"Riski, paket kita datang!" seru Arin sembari menunjukkan box besar pada Riski.
"Ini apa, Umi? Buat Riski, ya?" tanya Riski dengan penuh harapan.
"Umi beli mainan bagus buat Riski! Riski mau coba nggak?" ajak Arin.
Saat mengetahui ternyata paket itu dibeli oleh Arin untuk Riski, tentu saja Rizki langsung menyambutnya dengan sumringah. "Riski mau mainan! Riski mau main sekarang!"
"Kita buka sekarang, yuk!"
Arin pun membuka boks barang yang ia beli secara online itu. Ternyata barang yang dibeli oleh Arin adalah sebuah kolam karet kecil untuk anak-anak.
Arin sengaja membeli kolam untuk mengajak Riski berenang. Karena putranya itu mempunyai trauma mengenai air, Arin pun berinisiatif untuk membantu Rizki mengobati traumanya dan hendak mengajak Riski bermain menggunakan kolam tersebut.
"Ini buat main apa, Umi?" tanya Riski.
"Ini buat main air, Sayang! Riski mau main air nggak sama Umi?" ajak Arin.
Riski terdiam sejenak. Karena bocah kecil itu memang takut air dan tidak ingin melakukan sesuatu yang berhubungan dengan air, tentu saja Riski menolak.
"Riski pengen mainan robot! Mainan robot lebih seru!" timpal Riski.
"Mainan air juga seru, kok! Riski mau, kan? Nanti ditemenin sama Umi. Riski tenang aja. Kita coba kolamnya sama-sama, ya?"
Arin pun segera mencari tempat untuk meletakkan kolam tersebut dan mengisinya dengan air. Arin juga tidak mengisi kolam tersebut sampai penuh.
Arin hanya mengisi air sampai setinggi betis orang dewasa. Arin yakin, kolam karet kecil seperti ini tidak akan membahayakan Riski dan bisa ia gunakan untuk membantu Riski mengobati trauma.
"Riski beneran nggak mau cobain? Airnya seger, loh! Kolamnya juga dangkal. Sini masuk!" bujuk Arin pada Riski.
Riski hanya diam dan memandangi Arin yang sudah masuk ke dalam kolam tersebut. "Riski nggak mau main air! Riski mau main mobil-mobilan aja!" ucap Riski masih menolak. Bocah kecil itu terlihat takut.
"Airnya nggak dalam. Riski beneran nggak mau nyobain?"
Arin terus berusaha membujuk putranya itu sampai mau masuk ke dalam kolam. Setelah lelah mengoceh, akhirnya Riski pun ikut penasaran dan mau masuk ke dalam kolam bersama dengannya.
"Tuh nggak apa-apa, kan? Seru kan berendam di kolam?" cetus Arin.
Riski mulai menikmati bermain di kolam tersebut. Arin benar-benar bersyukur dan merasa rencananya berjalan dengan lancar.
Wanita itu pun berencana untuk meninggalkan Riski menghabiskan waktu sendiri di kolam tersebut. "Riski, Umi ke toilet dulu ya sebentar!" pamit Arin pada Riski.
Riski hanya mengangguk dan membiarkan ibunya pergi. Bocah kecil itu masih menyibukkan diri di dalam kolam, sementara Arin bersembunyi di belakang dan mengamati Riski sejenak dari kejauhan.
"Riski baik-baik aja, kan? Kayaknya traumanya bisa disembuhkan," seru Arin dengan yakin.
Wanita itu pun menyibukkan diri di belakang sejenak tanpa mengawasi Riski yang bermain sendiri yang di air. Setelah mengulur waktu cukup lama, Arin pun memutuskan untuk melihat keadaan Riski.
"Riski, Umi bawain minuman dingin!" seru Arin sembari membawa dua botol minuman untuk Riski.
Namun langkah Arin terhenti dan jantungnya hampir copot begitu ia melihat Riski. Manik matanya membulat lebar, menatap Riski yang saat ini sudah gelagapan berada di dalam air dan tenggelam di kolam karet dangkal itu.
"RISKI!"
****
semangat up nya thor 💪💪💪