Awan tidak pernah menyangka kalau gadis yang akan di jodohkan dengannya itu adalah Senja kekasihnya sendiri. Kedua orang tua mereka sudah sepakat dan akan segera menikahkan mereka. Tapi suatu konflik telah terjadi karena kebohongan orang tua Awan yang mengaku kalau dirinya orang kaya. Pak Agung telah mengetahui kalau Awan bukan anak orang kaya seperti yang di harapkan nya.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Akankah hubungan mereka bisa berlanjut ke jenjang pernikahan setelah hal tersebut terjadi?
Mari ikuti ceritanya dalam Pernikahan Tanpa Restu.
👉 Selamat membaca semoga suka 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristina dinata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senja kecewa dengan sikap Awan
Senja pergi melihat Jingga duduk berdekatan ia sedang membersihkan luka Awan. Melihat semua itu Senja terdiam ia tidak bisa menahan gejolak hati ya yang terbakar cemburu melihat kebersamaan Awan dan Jingga. Akhirnya ia pun langsung berlari keluar gak jadi masuk menemui Awan. Padahal hari awalnya itu Senja merasa senang pergi ke tempat itu, karena baru kali itu ia dapat ijin keluar dari Papanya. Seketika rasa senangnya berubah kekecewaan Senja menagis menuju mobilnya.
Awan yang melihat Senja berlari keluar berusaha mengejar dan berteriak memanggilnya namun Senja sudah menjauh Awan tidak dapat berjalan cepat badannya belum pulih. Awan marah dengan dirinya sendiri karena tidak mungkin memarahi Jingga yang juga tidak tau Senja akan datang.
"Ya Tuhan, Senja sudah salah paham aku tidak bermaksud membuat ia cemburu. Aku dan Jingga tidak melakukan apa-apa, ia hanya membantu aku membersihkan lukaku," lirih Awan sambil melihat di sekeliling tempat Senja sudah tidak ada. Awan semakin sedih ia berhenti berjalan dan terduduk dilantai menyesali semuanya.
Sementara Senja yang saat itu sudah berada di mobil masih melihat depan rumah sakit dengan harapan Awan yang akan mengejarnya dan memanggilnya. Tapi tidak ada dilihatnya sosok Awan hanya ada perawat dan berberapa pengunjung lain yang hilir mudik. Setelah menunggu beberapa menit sambil menenangkan dirinya ia pun menyuruh supir jalan. Mobilnya sudah jalan Senja pergi membawa luka di hatinya.
"Mas Awan dan gadis itu telihat sangat dekat, pasti selama ini dialah yang menemani Awan di sana. Awan sudah tidak membutuhkan aku lagi ....," ucap Senja sambil menangis.
"Non kenapa?" tanya supir yang diam-diam memperhtikan Senja dari tadi di kaca mobil depannya.
"Tidak Pak," jawab Senja singkat.
Supir menghela nafas panjang.
"Sekarang kita mau pergi kemana Non? tanya Pak Supir lagi.
"Jalan saja Pak," jawab Senja.
Pak supir pun menurut. Mobil melaju membawa Senja perjalanan sudah lumayan jauh tapi Senja belum memutuskan akan pergi kemana Pak supir jadi bingung sendiri mau bertanya tidak enak melihat Senja yang sibuk dengan pikirannya sendiri. Dari tadi dia diam seribu bahasa yang tampak di wajah Senja hanya titisan-titisan air mata yang membasahi pipinya
Saat itu Senja masih larut dalam lamunannya ia baru sadar saat pak supir menghentikan mobilnya.
Senja menoleh sambil menepis air matanya ia berkata, "Kenapa berhenti Pak?"
"Abisnya Bapak tidak tau mau kemana Non, ini sudah cukup jauh. Bapak takut nanti Pak Agung kuatir karna kita terlalu lama di luar, tadi kan Non ijinnya cuma sebentar," jelas Pak Supir yang bernama Jimmy itu.
"Hem ... iya Pak, aku juga bingung mau kemana," Senja baru sadar mereka sudah jauh dari rumah sakit.
"Yah kok bisa gitu sih Non?" Jimmy geleng kepala melihat anak majikannya yang tampak aneh.
"Aku lagi pusing Pak, pikiranku kacau kita balik saja."
"Balik? jadi kita cuma jalan aja nih gak mampir kemana-mana lagi?" tanya Jimmy kurang yakin.
"Gak deh Pak, aku gak tau mau kemana."
"Ya sudah mari kita pulang saja," ajaknya.
Jimmy memutar balik mobilnya dan melaju menuju rumah Pak Agung.
Sesampainya di rumah Senja langsung di interogasi oleh Papanya karena kebetulan hari itu Pak Agung pulang cepat karna sebentar lagi mereka akan kedatangan tamu di rumahnya.
"Senja kamu dari mana saja? kenapa lama apa kamu ketemuan sama anak brengsek itu lagi?" bentak Pak Agung.
"Ti-tidak Pa, Senja gak ketemuan Mas Awan Senja lagi ke rumah teman tadi."
"Awas kamu kalau bohong, jangan coba-coba bohongi Papa. Hubunganmu sama anak brengsek itu sudah selesai."
Senja tampak murung dan sedih mendengar ucapan Papanya itu ia pun langsung berlari menuju kamarnya, meninggalkan Papanya yang masih mau bicara.
"Senja tunggu! Papa masih mau bicara!" seru Pak Agung.
Senja menghentikan langkahnya. "Mau bicara apa lagi Pa? mau menghina Mas Alam lagi?" ucapnya bicara keras.
"Nanti sore kita akan kedatangan tamu istimewa Kamu juga harus hadir karna Papa akan mengenalkan kamu dengan mereka."
"Siapa Pa?" tanya Senja.
"Nanti kamu juga akan tau, siapa mereka yang pasti mereka bukan orang brengsek dan penipu seperti keluarga Awan," ucap Pak Agung.
Tanpa bicara iya Senja langsung masuk ke kamarnya langsung menghempaskan tubuhnya di ranjang. Air matanya kembali mengalir deras mengingat kejadian tadi di rumah sakit Awan dan Jingga tampak mesra di tambah lagi penghinaan Papanya sama keluarga Awan, Senja semakin sedih dan terpuruk.
Sepertinya tidak ada lagi harapan hubungan ku sama Awan apa aku harus menyerah saja? tapi aku sangat mencintai Mas Awan aku tidak bisa melupakan dia, hanya bersama Mas Awan hidupku sempurna. Tapi kini ada Jingga yang bersama Awan. Apa aku harus mengalah atau bagaimana?
ucap Senja membatin.
Senja bangun terlintas dipikirannya hendak menelpon Awan untuk menanyakan apa yang sedang terjadi, kenapa Awan tidak pernah lagi menghubungi dia. Senja perlu kepastian dari Awan.
Awan langsung merespon telpon dari Senja mereka pun berbicara Awan menjelaskan pada Senja, kalau ia tidak ada hubungan apa-apa dengan Jingga ia juga menjelaskan kenapa ia tidak menghubungi Senja selama dia di rumah sakit.
Senja terdiam mendengar ucapan Awan yang di luar dugaannya katanya ia tidak mau membuat Senja terlalu berharap lagi dengannya Awan akan segera memutuskan Senja karna kedua orang tua Senja yang sudah melarangnya untuk bersama lagi. Senja semakin bersedih dan kecewa dengan sikap Awan.
ijin follow yaa, follback thor
PaMud mampir