Meizura terpaksa memenuhi permintaan ayahnya untuk menjadi gadis penebus hutang. Awalnya dia berpikir akan dijadikan wanita simpanan oleh Armano Davies. Akan tetapi siapa sangka, dirinya justru dinikahkan dengan putranya yakni William Davies, pria yang dikabarkan meninggal beberapa bulan lalu.
"K_kau masih hidup?" tanya Maizura tak percaya. Dia mengerjap beberapa kali untuk menyakinkan penglihatannya.
William Davies menatap Meizura tajam. Dia tak suka wanita yang cerewet. "Diam! Jangan banyak bertanya. Kau hanya gadis penebus hutang," kata William penuh penekanan.
Setelah menikah dengan William, hidup Meizura mulai berubah. Banyak hal yang terjadi hingga suatu saat Meizura mengetahui fakta lain yang di sembunyikan oleh suaminya. Bagaimana kelanjutannya? Simak kisah mereka di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon emmarisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Status Meizura
Seusai makan malam romantis itu, Meizura dan William langsung kembali ke kamar hotel. Mereka berdua tahu jika ada orang lain yang memata-matai keduanya. Orang itu mengambil beberapa gambar Meizura yang mesra dengan William.
William sudah meminta Elliot mengerahkan para pengawal untuk mencegat orang itu. William tidak akan melepas orang itu dengan mudah. Apalagi dia bahkan sampai mengikuti keduanya hingga mereka berdua masuk kamar.
"Liam, bagaimana ini?"
"Tidak perlu khawatir. Sekarang bersihkan diri dan ayo tidur." Meizura menatap William ragu. Akan tetapi William memberikan tatapan meyakinkan. Akhirnya Meizura masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah memastikan Meizura masuk ke kamar mandi, William menghubungi Elliot. Suaranya terdengar datar dan dingin. Elliot bahkan merasa membeku mendengar suara William. Meski sekarang atasannya itu duduk di kursi roda, auranya masih sangat kuat.
"Ba_baik, Tuan. Saya langsung ke sana sekarang."
William langsung mematikan teleponnya saat melihat Meizura keluar dari kamar mandi dengan memakai bathrobe.
"Setelah ini, tidurlah. Aku harus pergi sebentar. Tidak perlu menungguku. Aku membawa kartu akses cadangan."
"Ini sudah malam, Liam. Kemana kau akan pergi?"
"Elliot memiliki beberapa berkas yang harus aku selesaikan malam ini," ujar William.
William meraih tangan Meizura dan menariknya. Niatnya dia ingin Meizura duduk di pangkuannya, tapi kali ini Meizura mampu menahan berat tubuhnya dengan bertumpu pada pegangan kursi roda William, hingga tubuhnya tidak jatuh ke pangkuan suaminya.
"Liam, kakimu akan semakin sakit, jika aku duduk di pangkuanmu."
"Kau mulai banyak alasan, Sayang. Apa kau memang tidak suka berdekatan dengan pria cacat sepertiku?"
Mata Meizura melebar dan bergetar. Dia menggeleng kuat, "Aku tidak memiliki alasan lain untuk menolakmu, Liam. Aku sadar, statusku sebagai istrimu, tapi aku benar-benar memikirkan kesembuhan kakimu," ujar Meizura dengan suara bergetar.
"Bagaimana jika aku tidak pernah bisa sembuh? Kau selamanya akan terjebak dengan pria cacat sepertiku. Apa kau mau buang-buang waktu menghabiskan sisa waktumu denganku?"
Meizura menggigit bibir bawahnya yang mulai bergetar. Air matanya bahkan sudah mengalir deras. Dia tak habis pikir dengan William yang mudah berubah. Meizura merasa bingung dengan perubahan William yang begitu tiba-tiba. Apa William tersinggung hanya karena perbuatannya?
Meizura diam dan terus menunduk. Dia sesekali mengusap sudut matanya yang basah.
"Dasar cengeng." William mengusap punggung tangan Meizura lembut. Meizura mengangkat wajahnya, keningnya berkerut dalam.
"Kau mengerjaiku?"
"Tidak. Aku kan hanya bertanya, tapi siapa sangka kau begitu cengeng," ucap William sambil tersenyum remeh. Meizura mengepalkan tangannya. Ingin rasanya dia memukuli William sampai babak belur.
"Kau keterlaluan."
Meizura langsung menghempas cekalan tangan William, dia cemberut dan langsung naik ke ranjang. Meizura menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh.
William tersenyum lebar melihat tingkah istrinya yang kekanak-kanakan. Dia merasa Meizura memang menjadi semakin cengeng. Padahal sebelumnya gadis itu pernah mengancam dirinya.
William menekan tuas kursi rodanya. Dia berhenti sejenak saat ada pesan masuk dari Elliot. Setelah membaca pesan dari asistennya, William menyeringai mengerikan.
"Sayang, aku benar-benar harus pergi sekarang. Jangan menungguku. Aku minta maaf jika sudah membuatmu marah, Ok!" William mengusap punggung Meizura yang tertutup selimut. Lalu tak lama dia memutar kursi rodanya dan pergi. Setelah pintu tertutup. Meizura membuka selimutnya dan menatap pintu kamar hotel yang tertutup.
"Bercandanya sangat tidak lucu."
...****************...
sungguh mantap sekali ✌️🌹🌹🌹🌹
terus lah berkarya dan sehat selalu 😘😘