Raina menelan ludah. Dia ingin kabur, tapi melihat luka lebar di perut manusia itu membuatnya mengurungkan langkah.
"Pergi, atau kau ku bunuh!" Manusia setengah hewan mengerang berat, namun Raina tahu dia menahan sakitnya.
"K-kau.. terluka. Biarkan aku menyembuhkanmu." Lanjut Raina. Walau takut, dia tetap ingin melakukan itu.
"Aku bilang, pergi, manusia sialan!" Pekiknya berang, membuat Raina lagi-lagi menelan ludah.
"Aku.. aku akan menyembuhkan lukamu... Elian."
Manusia setengah hewan itu berhenti mengerang saat namanya disebut.
"Aku punya kekuatan. Aku bisa menyembuhkan lukamu." Tangan Raina terulur. Perlahan ia mencoba menyentuh luka yang menganga di perut Elian. Namun Elian menepisnya sampai tangan Raina terluka.
Mata Elian seketika terbelalak saat luka yang ia baru goreskan di tangan Rayna langsung mengecil hingga nyaris menghilang seluruhnya.
Gadis itu memiliki kekuatan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfajry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekuatan Baru Terbuka
Marella berjalan kesana kemari. Dia menjambak rambutnya dengan kesal lantaran tak menyangka Elian datang secepat itu. Belum lagi raut amarah Elian yang memang sering ia lihat tapi tidak untuknya. Kali ini Elian marah padanya.
"Sial!" Desis Marella. Panik, tentu saja. Dia takut Elian akan menghabisinya. Serigala itu dikenal sebagai makhluk yang dendam. Elian, mungkin saja dia memang tidak mencintai Raina. Tapi gadis itu sudah menjadi bagian dari keluarganya. Pantang bagi Elian jika keluarganya diusik seperti apa yang Marella lakukan pada Raina.
"Paman! Bukankah paman berjanji akan mendukung dan melindungi jika aku berpihak padamu!" Marella frustrasi, dia kesal karena tidak ada yang mau mendukungnya.
Pria yang dipanggil paman itu mengusap dagu. Pandangannya menerawang pada kilas balik serangan yang dilakukan Marella pada gadis incarannya. Dia melihat Marella terus menyerang. Sementara Raina terus mengelak. Raina tidak membalas, hanya mengeluarkan sedikit api untuk membuat Marella melepas cekikan. Padahal, Raina bisa saja menyerang Marella dengan kekuatan yang dia miliki.
"Paman! Kenapa diam saja!"
"Kenapa kau menyerangnya?" Tanyanya dengan suara yang berat.
"Apa?" Marella terperanjat sesaat. Kenapa pria yang tengah duduk di kursi kekuasaan itu malah mengatakan itu?
"Seharusnya kau menangkapnya dan menyerahkannya padaku."
Alis Marella mengerut. "A-apa maksudnya? Kenapa aku harus melakukan itu?"
Morgan yang ada disana diam, mencerna semua yang baru saja ia pahami. Untuk apa ayahnya meminta Raina? Pandangannya naik pada sang ayah saat ia menyadari sesuatu.
"Apa gadis itu yang sejak dulu ayah incar?"
Seringai Tigri muncul seketika. "Ya. Aku mengejarnya bahkan dari ia masih sebuah janin. Kalau kalian bisa membawanya padaku, maka aku akan mengabulkan permintaan kalian. Termasuk kau, Morgan." Katanya, beralih pada anaknya. "Aku akan segera menjadikanmu raja, setelah aku berhasil merebut Shiera dan menghancurkan kekuasaan Elian."
Marella mengernyit bingung. "Perempuan itu? Apa paman tidak salah? Apa yang membuat paman menginginkan dia? Dia lemah!"
Tigri malah tertawa lebar sampai langit-langitnya terlihat jelas. Lucu rasanya saat dia mendengar itu dari Marella yang tidak tahu apa-apa soal kekuatan yang dimiliki Raina.
"Kekuatannya mungkin belum ia tunjukkan padamu. Atau mungkin dia belum menyadari apa yang dia miliki. Tapi satu yang harus kau sadari. Yaitu saat William sengaja mencampuri urusanku, adalah agar aku tidak bisa mengalahkannya melalui kekuatan gadis itu. Lalu William membuat ayah gadis itu punya hutang budi hingga mau menyerahkan anaknya pada Elian. Karena William tahu, hanya gadis itu yang bisa menjaga cucunya!"
Baik Morgan maupun Marella diam. Marella sendiri tidak paham apa yang sebenarnya terjadi. Dia hampir membunuh gadis itu, tapi tidak pun Raina mengeluarkan kekuatannya. Lalu, kenapa? Kenapa Raina menyembunyikannya?
Apapun itu, Marella tidak peduli. Baginya, yang paling penting adalah Elian.
"Aku akan membantumu menangkapnya. Asal kau ingat janjimu sejak awal, paman. Kau tahu kan, aku berada di pihakmu adalah karena kau berjanji untuk membuat Elian jatuh ke tanganku. Dan satu lagi, kau tidak boleh membunuh Elian apapun yang terjadi!" Jelas Marella dengan penuh tekanan.
Seringai Tigri muncul lagi. Dia menatap ke depan dengan wajah liciknya.
"Ya. Tentu saja. Aku ingat janjiku."
...🦊...
Sepertiga malam, Elian kembali ke mansion. Dia menarik napas sebelum masuk ke dalam kamar. Hari ini dia tidak menemukan Marella di manapun. Nampaknya wanita itu tahu kalau dia tengah diburu. Oleh sebab itu Marella kabur dan bersembunyi dari Elian dan pasukannya.
Elian memutar handle pintu, lalu masuk perlahan karena tak ingin membangunkan Raina.
Elian terhenti saat merasakan suhu dingin di ruang kamarnya. Dingin seperti saat musim salju tiba. Lalu dia melihat ranjang mereka telah membeku sebagiannya.
Elian menyentuh sprei putih yang ternyata sudah mengeras. Elian tentu saja terkejut, apalagi suhu tubuh Raina belum juga kembali normal dan malah semakin dingin.
Dia menyentuh lengan Raina, merasakan detak jantung istrinya di nadi pergelangan tangan. Detaknya sangat lemah, Elian sampai bingung harus melakukan apa. Dia pun memutuskan untuk keluar dan memanggil Piloma.
Tak berapa lama, manusia merpati itu datang dan masuk ke kamar Elian guna memeriksa kondisi Raina yang ternyata semakin dingin. Bahkan tempat tidur sudah membeku.
Piloma menatap Elian. Beratus tahun hidupnya, Piloma baru pertama melihat hal yang seperti ini.
"Yang Mulia, sebaiknya kita pindahkan Ratu ke ruang perapian supaya meminimalisir pembekuan hebat."
Elian setuju. Dia menggendong Raina, lalu membawanya ke ruang yang sudah dibersihkan dan diberi tempat tidur oleh pelayan.
Elian meletakkan Raina dengan perlahan di atas kasur persis depan tungku perapian yang menyala dengan harapan agar bekunya bisa berkurang.
"Yang Mulia Ratu tidak mengalami luka yang lebar karena es yang menahannya. Tapi aku khawatir kalau es itu mencair, maka tubuh Ratu dalam bahaya."
Elian mengembuskan napas perlahan. Matanya tidak lepas dari Raina yang menutup mata. Terlihat tenang, padahal tubuhnya seputih dan sedingin salju.
"Kalau tubuh Ratu tidak juga membaik, aku menyarankan agar Yang Mulia membawanya ke telaga. Telaga itu memiliki kekuatan yang kuat. Merendamkan tubuhnya disana, aku pikir itu akan menunjukkan dampak baik nantinya."
Elian hanya diam dan tenggelam dalam pikirannya. Jika Raina tidak juga sembuh, maka dia tidak tahu harus bagaimana. Hubungannya dengan gadis ini baru saja dimulai. Hari-hari baik selalu menyertainya setelah ia menikah. Jangan sampai ia kehilangan perempuan yang sudah masuk ke dalam hatinya.
Setelah Piloma pergi, Elian duduk di tepi ranjang dan memperhatikan Raina. Es halus muncul di rambut dan bulu mata Raina. Dengan hati-hati Elian menghapusnya. Ternyata perapian besar pun tidak membuat esnya mencair.
Sungguh, Marella pasti mengerahkan seluruh kekuatannya untuk melukai Raina. Sampai es ini tidak mencair sedikitpun dan malah semakin parah saja.
Elian meraih sebelah tangan Riana. Dia menggenggamnya. Dalam hati Elian meminta maaf, karena tidak bisa menjaganya dengan benar. Padahal inilah satu-satunya yang diminta Damian, agar Elian terus melindungi putrinya.
Namun tiba-tiba Elian melepaskan tangannya dengan cepat dari Raina. Dia terkejut saat tangannya terkena es dan telapak tangannya membeku.
Elian terpaku. Ini mirip kutukan es. Siapapun yang menyentuh maka akan ikut membeku.
Elian menatap telapak tangan Raina yang terbuka. Matanya membulat melihat titik biru disana.
"Es?"
Kini ia beralih menatap wajah tidur Raina. Elian mulai menyadari bahwa ternyata Raina tengah menyerap energi yang masuk ke dalam tubuhnya. Dan sekarang, proses itu masih berlaku. Raina menyimpan kekuatan Marella, dan tinggal menunggu waktu saja, maka Raina akan kembali sadar dengan kekuatan barunya.
"Empat kekuatan dalam satu tubuh?" Elian tidak percaya kalau Raina punya daya sebesar itu.
To Be Continued...
**Telekinesis, Api, Es, dan Penyembuh. Apa ada lagi ??**
sayang aja gak dilanjutin semangat kakk
ayo erina km bisa melewati ini...dan terimalah elian serta bantu dia tuk melewati fase itu
ih makin demen deh klo mereka romantis n saling menyayangi bgtu😍😍😍
apakah Elian menemukan cara tanpa mengorbankan Erina untuk tetap mendpatkan wujud manusianya