Ruri dan Zainudin adalah orang yang sama-sama punya kisah gagal dalam rumah tangga. Zai mempunyai putra yang menguak tabir rumah tangganya, sementara Ruri harus berjuang sendiri demi anak-anaknya.
Pertemuan keduanya tak terduga di sekolah anak mereka. Apa yang terjadi selanjutnya dengan mereka berdua? Yuk, ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabir Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LSC 27
"Ruri." Zai memandang wajah wanita yang ada di depannya dengan tersenyum manis. Sedang yang ditatap nampak malu dan menundukkan wajah cantiknya.
"Maukah, kamu menikah denganku, Ruri?" tanya Zai dengan gugup seperti baru pertama kali pacaran.
Ruri terkejut dengan apa yang dikatakan Zai. Lelaki yang baru saja dekat dengannya beberapa bulan ini. "Tapi Zai? Apakah anak-anak akan setuju? Lalu, bagaimana dengan orang tuamu?" tanya balik Ruri pada lelaki tersebut.
"Anak-anak pasti akan setuju. Kita jalani dulu setelah kamu menjawab pinanganku," kata Zai berharap cintanya tak bertepuk sebelah tangan.
Zainudin nampak bingung dengan keadaan ini. Selama ini, dirinya belum mengatakan berita besar ini pada orang tuanya ataupun anaknya. Zai berpikir, apapun keputusannya mereka tetap akan setuju saja asal bahagia.
Setelah mendengar apa yang dikatakan Ruri, ternyata ada benarnya, bahwa di bicarakan dulu ke orang tua. Tentang setuju tidaknya semua keputusan ada di orang tua Zai.
Zainudin tidak mengetahui bahwa, anak-anak mereka ada dibelakang Zai menyimak obrolan orang dewasa. Dan Ruri tampak menahan senyum sedari tadi melihat wajah tegang Zai saat ini.
"Kalau begitu, besok atau lusa aki jemput kamu untuk menemui orang tuaku. Bagaimana?" tanya Zai yang begitu menggebu-gebu.
"Papa. Apakah Papa sudah tidak tahan menjomblo, sampai membuat Tante Ruri wajahnya memerah seperti tomat karena desakan Papa mengajak nikah!"
"Iya. Eh..." Zai seketika menoleh terkejut saat mendengar suara anak kecil di belakangnya. "Kalian, sejak kapan ada disini."
Pecahlah tawa mereka semua mendengar jawaban Zai. Ruri tertawa lebar dengan tingkah Zai yang mengejar anak-anak mereka berlari menuju pantai karena merasa malu di dengar oleh anak-anak mereka.
Ruri akui, dirinya cukup bahagia setelah Zai mengajaknya menikah setelah sekian lama menjanda. Sudah waktunya, dirinya membuka hati untuk lelaki yang ternyata adalah teman sekolahnya dulu waktu SMP.
Dunia ini ternyata sempit. Cinta mereka dipertemukan oleh takdir yang unik dan beruntungnya bahwa Berry dan Gabriel adalah teman satu kelasnya. Itulah cinta, unik dan nyata. Kita tidak pernah tahu jodoh kita dimana dan berasal darimana. Ketika pertemuan sudah ditentukan oleh takdir, jalani dan nikmati prosesnya dengan sabar dan ikhlas.
Ruri tersenyum melihat kebahagiaan yang ada di depan matanya. Inilah kebahagiaan yang diimpikannya. Sebuah keluarga bahagia sejahtera yang diinginkannya bersama mantan suaminya dulu. Tetapi, takdir tetaplah takdir yang tidak bisa diubah. Kini, masa itu sudah terlewati, luka hatinya yang lama menutup telah tergantikan oleh Zai, lelaki baik hati yang dikenalnya satu tahun ini.
Dari kejauhan, anak-anak dan Zai melambaikan tangan pada Ruri dan Ruri pun melambaikan tangannya.
"Papa, mau menemani Tante Ruri dulu. Kalian mainlah sebentar. Setelah itu kita makan dan pulang," pinta Zai dan langsung pergi melangkah menuju Ruri.
"Oke, Siap, Papa."
"Kita akan jadi saudara, Berry."
"Iya, kita akan jadi saudara. Aku cukup senang. Akhirnya ada teman dirumah. Yeeeyyy". Berry bersorak riang gembira karena selama ini, dirinya selalu kesepian dirumah. Hanya ada kakek dan neneknya dirumah.
Rere dan Bobby bermain rumah pasir dan mereka berdua tersenyum walau jarang ada obrolan dari mereka. Tetapi, mereka adalah kakak yang bisa diandalkan oleh keluarga kelak di masa depannya nanti. Kecerdasan mereka menurun dari orang tua masing-masing.
Setengah jam kemudian, anak-anak pun selesai bermain dan membersihkan badan mereka di toilet umum. Setelah selesai, keempat anak tersebut segera menemui orang tua mereka dan makan bersama karena hari semakin panas menyengat.
mampir y