Terpaksa menyetujui sebuah tawaran yang membawanya pada kehidupan pernikahan yang sangat rumit untuk dijalani.
Begitu banyak masalah dan kerumitan dalam kehidupan rumah tangganya yang harus Viona lewati. Dia tetap bertahan dan mengikuti alur takdir yang entah akan ke mana membawanya untuk melangkah. Merelakan dan bahkan mengizinkan suaminya untuk berpacaran menjadi salah satu kerumitan yang dia alami. Selama orang-orang di sekelilingnya bahagia, dia sanggup melakukan apapun untuk mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao Sinha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pikiran Konyol Nona
Selama perjalanan Viona hanya menyandarkan punggungnya dijok mobil dalam diam. Viona diantar pulang oleh Rio menuju rumah Marshal.
"Emm.. Tuan Rio. Apa saya boleh bertanya?" Ujar Viona ragu sembari menoleh kedepan pada Rio yang fokus mengemudi. "Bertanya apa, Nona?.." Rio melirik Viona dari spion depan "ah, iya nona jangan memanggil saya 'tuan' panggil Rio saja!"
"Bolehkah, saya memanggil seperti itu?.. Nanti tidak sopan"
Rio kembali melirik spion dan tersenyum pada Viona. "Boleh, Nona. Jika dipanggil 'tuan' oleh nona, rasanya tidak nyaman didengar karena nona majikan saya. Jadi panggil nama saya saja! Jangan memanggil 'tuan' lagi Saya ini kan juga masih muda Nona, lebih nyaman dipanggil nama saja" pintanya kembali.
"Lah, anda tidak ingin dipanggil 'tuan' beralasan karena masih muda, terus tuan Mashal bagaimana? Bukankah usia tuan Marshal juga masih muda. Usianya bahkan sama dengan Kakak saya, Kak Vino. Tapi dia selalu dipanggil 'tuan' tuh" guraunya Viona membuat Rio jadi salah tingkah.
"Kalo itu kan beda lagi, Nona..." Rio geleng kepala "kenapa Nona jadi menyamakan saya dengan Tuan Muda" diakhiri senyuman jenaka.
Viona hanya tersenyum. "Baiklah. Kalo gitu kita juga gak usah bicara terlalu formal ya!.. biar nyaman aja" Rio hanya mengangguk penuh ragu.
"Apa kita bisa berteman baik, Rio?" Tanya Viona ragu penuh harap. Sedangkan Rio hanya mengernyit dalam diam. "Emm.. maksudnya.. kan aku gak kenal siapa-siapa lagi selain dengan anda juga tuan Marshal. Jadi aku ingin kita akrab supaya aku tak merasa sendirian... Aku mau kita berteman baik. Ya.. bisa akrab aja biar kita juga saling mengenal. Mau kan?" Rio hanya diam dalam bingungnya. Bagaimana dia berteman dengan majikannya sendiri?.. begitu pikirnya.
"Rio, maukan?.. Aku gak tahu harus berinteraksi dengan siapa saat dirumah tuan Marshal. Aku belum mengenal siapapun. Jadi kita bisakan lebih akrab?" Tanyanya kembali karena Rio tetap diam. "Baiklah, Nona" setujunya penuh keraguan.
Wajah Viona terlihat berbinar mendengarnya.
"Jadi Nona ingin bertanya apa?" Ujar Rio karena Viona malah diam tak jadi bertanya.
"Ah, itu.. aku mau menanyakan tentang tuan" Rio menaikkan alisnya menunggu pertanyaan sembari terus fokus mengemudi. "Tuan punya pacar?" Tanya Viona ragu membuat Rio seketika mati kutu.
Nona tahu?.. darimana nona tahu tentang hal itu?.. kenapa nona menanyakan itu?..
Viona duduk dengan sigap menoleh pada Rio. "Rio, kenapa malah diam?.. a6ku kan bertanya..." Viona melirik tajam pada Rio meminta jawaban. "Jadi benar ya, Tuan Marshal itu punya pacar?"
Aku harus menjawab apa?..
Karena tak mendapat jawaban juga, Viona memajukan badannya condong kedepan mendekati Rio yang fokus menyetir. "Tuan Marshal punya pacar?" Tanyanya kembali didekat telinga Rio yang masih fokus mengemudi.
Rio mengangguk dengan lemah dan Viona kembali memundurkan badannya duduk kembali dengan sigap. "Jadi benar tuan punya pacar" Viona manggut-manggut.
Rio melirik Viona lewat spion. Dia mengernyit menatapnya penuh heran.
Nona tidak marah? Kenapa dia biasa saja.
"Nona" panggil Rio lirih. Dan Viona melihatnya. "Iya?"
"Nona tahu dari mana tuan punya pacar?"
"Tadi pacarnya nyamperin" sahut Viona santai membuat Rio terbelalak penuh rasa kaget juga heran.
Nona Amanda muncul dihadapan Nona muda? Kenapa bisa seperti ini? Kapan?apa yang terjadi?.. pikiran Rio mulai bertanya-tanya.
"Tadi waktu aku lagi sama tuan, Nona Amanda datang keruangan wardrobe" lanjutan tuturannya membuat Rio kembali terbelalak.
Nona juga tahu namanya?.. tapi, kenapa dia biasa saja?..
"Kalo tuan punya pacar, terus kenapa dia malah nikahin aku, Rio? Kenapa dia gak nikahin pacarnya saja?"
"Saya tidak bisa menjawabnya, Nona. Lebih baik Nona tanyakan langsung pada tuan saja!"
Viona mendesah "hahh.. mana mungkin aku berani bertanya pada tuan"
"Ah, sudahlah jangan dibicarakan lagi. Itu gak penting bukan urusan aku juga. Lagian aku juga gak mau ikut campur urusan tuan Marshal. Biarlah dia berbuat semaunya juga aku gak peduli"
Rio mengernyit. "Tapi Nona, Nona harus tahu banyak tentang tuan muda. Nona kan istrinya jadi yah,.. Nona harus tahu urusan tuan juga, menurut saya"
Viona geleng-geleng kepala. "Untuk apa, Rio? Toh, tuan Marshal juga tidak mau aku terlalu ikut campur urusannya. Dan.. menurutku lebih baik seperti itu. Aku tidak perlu repot ngurusin hidup orang. Aku juga punya hidupku sendiri yang perlu diurus" menghela napas sejenak. "Mungkin alangkah lebih baik, kita urus hidup kita masing-masing saja"
Kenapa Nona bisa berpikiran seperti itu?.. bukankah semua pasangan harus saling peduli urusan pasangannya satu sama lain...
"Apa Nona tidak suka tuan punya pacar?" Pertanyaan asal dari Rio membuat Viona seketika tersenyum sinis.
Rio yang melihat hal itu dari spion, dan seketika pikirannya kembali bertanya penuh heran.
"Nona tidak marah jika tuan punya kekasih?" Kini pertanyaan Rio membuat Viona tertawa renyah. "Mana mungkin aku marah, Rio. Hahaa kamu ini, aku kan gak punya hak untuk marah" sahutnya sembari tertawa renyah kembali yang membuat Rio semakin terbelalak heran.
Kenapa Nona malah ketawa?.. apanya yang lucu coba? Dia bilang gak punya hak untuk marah, lah dia kan istrinya tuan. Sudah jelas nona punya hak untuk marah. Nona ini kenapa?
"Nona, Nona ini kan istri tuan. Jelas Nona punya hak untuk marah akan hal itu. Tapi kenapa Nona tidak marah?"
"Meskipun aku istrinya, aku tidak akan pernah marah. Itu urusan tuan. Aku gak mau ikut campur, Rio" Kekehnya. Rio hanya diam mendengarkan dengan penuh heran.
"Rio, kamu tahu sendiri kan aku menikah dengannya juga bukan keinginanku. Jadi tuan mau punya pacar atau punya banyak wanita sekalipun aku gak peduli. Justru aku malahan bahagia mengetahui tuan punya pacar.. haha"
"Kenapa Nona malah senang tuan punya pacar?" Tanyanya kaget membuat Viona langsung menghentikan tawanya beralih menatap Rio yang fokus dibelakang kemudi.
"Mungkin dengan tuan punya pacar, itu akan lebih menguntungkan untukku, Rio. Apalagi kalau hubungan mereka semakin baik, dengan begitu tuan akan merasa muak padaku dan lebih memilih pacarnya. Lalu kami bercerai.. hahaha bahagianya" Viona kembali tertawa sembari membayangkan jika dirinya bisa terbebas dari pernikahan ini.
Mata Rio seketika membulat sempurna. Bisa-bisanya Viona berkata seperti itu. Bahkan sudah memikirkan perceraian, padahal mereka baru saja menikah.
"Nona, kenapa nona berpikir seperti itu? Apa Nona menginginkan Nona Amanda menjadi perusak rumah tangga Nona dengan Tuan?"
"Iya. Mungkin dengan kehadiran wanita itu bisa mempermudah dalam mengakhiri pernikahan ini" sahutnya asal.
"Kenapa Nona sudah berpikir untuk mengakhiri pernikahan ini? Padahal Nona baru saja menikah dengan Tuan. Bahkan baru sehari kalian menikah. Tapi kenapa Nona sudah membicarakan perceraian?" Rio melirik Viona intens dari spion meminta jawaban. "Apa Nona tidak mau mempertahankan rumah tangga Nona?"
Viona menghela napas dalam. Menyandarkan punggungnya dengan posisi nyaman. "Bukan pernikahan seperti ini yang aku inginkan." Viona mendesah malas. "Aku tidak menginginkan semua ini terjadi. Membayangkannya pun tidak pernah. Aku juga tidak tahu bagaimana kelanjutannya pernikahan ini. Pernikahan yang dijalin tanpa rasa cinta. Pernikahan yang penuh dengan keterpaksaan. Aku tak yakin pernikahan ini akan bertahan lama. Apalagi setelah aku mengetahui tuan punya kekasih, Aku semakin yakin bahwa pernikahan ini memang tidak akan bertahan lama"
Rio hanya fokus mengemudi dalam diamnya mendengarkan ujaran Viona. Namun dia juga berpikir keras memahami.
Nona benar, Bahkan semua orang juga tidak ada yang mau menjalin pernikahan seperti ini. Semua orang juga pasti akan mendambakan pernikahan yang dilandasi cinta bukan keterpaksaan.
"Rio" panggil Viona ragu menoleh pada Rio yang hanya terdiam. Rio melirik lagi Viona dari spion "iya, Nona?"
"Em, apa kamu mau mendengarkan ocehanku?" Pertanyaan Viona membuat Rio mengernyit. "Aku hanya ingin mengeluarkan semua yang ada dikepalaku sekarang. Apa kamu mau mendengarkannya?" Rio mengangguk "Ya, Nona. Silahkan!"
Viona menarik napas dalam setelah Rio menyetujui. Memposisikan duduknya supaya lebih nyaman sembari tetap menyandarkan punggungnya supaya rileks. "Sebenarnya, orang tuaku selalu meminta aku untuk menjalin hubungan dengan pria. Mereka ingin aku punya pacar tapi aku selalu tidak mau... Mereka selalu menanyakan hal itu hampir setiap hari sampai telingaku rasanya sudah tidak bisa mendengar lagi sangking bosannya mendengar pertanyaan itu terus. Setiap hari yang ditanyakan hanya 'Kamu udah punya pacar? Lagi deket sama siapa?' Itu terus yang ditanyaain..."
"Mungkin, mereka takut aku jadi perawan tua kali. Karena orang lain kadang bilang kalo aku ini seperti tidak tertarik menjalin hubungan. Kadang ada juga yang bilang aku tidak laku. Karena memang sejak dulu sampai sekarang aku tidak pernah berpacaran. Jadi gak heran kalau mereka bicara seperti itu" Viona menyilangkan kakinya. Menatap lurus kedepan melihat jalanan. "Aku gak pernah menghiraukan ucapan mereka. Mau mereka ngatain aku tidak laku maupun aku lesbian sekalipun aku gak bakal peduli sama omongan orang lain. Toh, aku juga masih muda. Kuliah saja belum selesai tapi mereka selalu bilang seperti itu. Mereka gak tahu apa-apa. Tapi berbeda dengan orang tuaku yang kadang mungkin sangking seringnya mendengar ocehan orang lain, jadi mereka juga khawatir."
Kini Viona memejamkan matanya dengan tangan disimpan dipangkuan. "Aku tidak pernah pacaran, bukan karena aku tidak tertarik dengan laki-laki. Tapi karena aku emang gak mau aja pacaran. Menurutku untuk apa pacaran? Pacaran cuman status. Menurutku pacaran bisa merusak juga. Aku hanya belajar dari pengamatan, aku mengetahui bagaimana sepasang kekasih berinteraksi saat sudah ada kata 'pacaran' diantara mereka. Interaksinya aneh. Bahkan membahayakan. Aku meresa mereka jadi bebas. Bahkan melakukan hal-hal yang tidak senonoh seperti ciuman, bahkan sampai melakukan hal yang lebih jauh. Nah, makanya aku gak mau itu terjadi. Selain hal itu, aku juga belum mikirin pacaran. Aku pikir nanti juga kalo jodoh datang sendiri. Aku hanya selalu berharap suatu saat punya kekasih yang begitu mencintaiku. Begitu menyayangiku. Laki-laki yang aku cintai juga. Dan kami menikah penuh cinta dikemudian hari"
"Tapi aku salah ternyata, bukannya jodoh yang kudambakan yang hadir. Aku malah dinikahkan sama tuan Marshal. Orang yang tiba-tiba hadir, membantu perusahan Papa lalu menikahiku..." Viona kembali mendesah. "Entah bagaimana jadinya pernikahanku ini. Aku menikah dengan laki-laki yang tak aku pahami. Boro-boro aku cintai, kenal saja tidak. Aku penuh keraguan menjalin pernikahan ini, Rio. Bagaimana pernikahan ini bisa bahagia jika terjalin dengan awal yang tidak diinginkan. Aku tidak bisa menjalin hubungan ini dengan serius. Makanya aku berpikir hubungan ini akan segera berakhir dan aku bisa mendapatkan laki-laki yang aku cintai nantinya setelah terlepas dari tuan Marshal"
Rio yang dari tadi hanya diam mendengarkan, jadi merasa simpati pada Viona. Dia sangat mengerti apa yang Viona utarakan.
Kasian sekali Nona. Sepertinya Nona memang belum bisa menerima pernikahan ini.. memang benar, mana mungkin ada orang yang menginginkan pernikahan seperti ini terjadi... aku sangat mengerti Anda, Nona.
"Maaf, Nona. Mungkin saya lancang menanyakan hal ini.." Rio kembali melirik Viona dari spion.
Viona membuka matanya melirik Rio.
"Apa Nona benar-benar ingin mengakhiri pernikahan ini? Apa tidak sebaiknya dijalani saja dulu. Nona kan baru akan memulainya, masa iya Nona sudah ingin mengakhirinya?" Ujar Rio ragu.
Viona berpikir sejenak. Apa yang dikatakan Rio ada benarnya juga.
Menghembuskan napas kasar. Menatap Rio dengan muram. "Entahlah.. Sebenarnya aku juga sudah menerima pernikahan ini. Aku menerima kenyataan pahit ini dengan lapang dada. Aku terima kalau aku ini sudah menikah dengan tuan Marshal dan terikat olehnya" Viona menyandarkan kepalanya pada jendela melihat jalanan keluar jendela "Tapi untuk mengakhinya.... emm. Mungkin, iya" lanjutnya penuh keraguan.
Lama Viona diam seperti sedang berpikir keras. Tapi sesaat kemudian wajahnya terlihat tersenyum berseri. "Ha! Tapi dengan kehadiran Nona Amanda, mungkin bisa mempermudahku untuk mengakhinya" celotehnya membuat Rio seketika kembali mengernyit bingung.
"Semoga saja wanita itu bisa membantu mempermudah dalam mengakhiri pernikahan ini" antusiasnya diakhiri senyuman yang semakin mengembang.
'Apa Nona benar-benar ingin mengakhirinya, kenapa Nona begitu berharap hubungannya cepat berakhir?.. apa Nona benar-benar tidak ingin mempertahankannya?..
Rio larut dalam pikirannya sendiri sedangkan Viona mengambil ponsel dari tasnya.
"Nona, apa nona ingin itu semua terjadi? Jika terjadi, dan Nona Amanda penyebabnya, Nona akan ditinggalkan oleh tuan Marshal. Apa Nona tidak takut menjadi janda?"
Pertanyaan Rio membuat Viona mengalihkan fokusnya dari ponsel sembari tertawa renyah membuat Rio mengernyit heran kembali.
Kenapa Nona malah tertawa? Akukan serius?..
"Aku tidak takut jadi janda, Rio. Lagian setelah aku jadi janda pun bakalan masih banyak yang mau padaku. Aku tidak takut menua dengan status janda. Mungkin hanya butuh waktu beberapa saat aku sudah bisa memiliki suami lagi.. haha.. aku masih bisa menarik perhatian pria manapun" ujarnya jenaka membuat Rio semakin heran dengan sikapnya.
"Lagian saat aku jadi janda, Aku pasti masih perawan, Rio. Jadi begitu mudah untukku mencari pria manapun.. haha..."
Perawan? Nona bicara apa? Mana mungkin seorang janda masih perawan?.. pikiran Rio mulai kebingungan penuh tanya mencerna kembali ucapan Viona.
"Karena tuan Marshal juga tidak mungkin menyentuh aku, jadi saat menjadi janda pun aku akan tetap masih perawan biarpun statusnya janda.. haha" ujarnya kembali seolah tahu apa pertanyaan yang Rio dipikirkan dalam diamnya.
"Bagaimana Nona bisa berpikir seperti itu? Zaman sekarang banyak yang mengaku gadis tapi sudah tidak perawan. Apalagi seorang janda, mana mungkin ada seorang janda yang masih perawan? Kalopun iya janda itu masih perawan, tapi tidak mungkin ada yang percaya. Nona ini ada-ada saja" Rio geleng-geleng kepala. "Lagian tidak mungkin tuan tidak menyentuh Nona. Kalian suami istri sekarang. Dan tuan juga pria normal Nona. Tidak mungkin tuan tidak mau menyentuh istrinya sendiri" ujar Rio meyakinkan.
Viona menghentikan tawanya. Menyeka sudut mata yang berair karena terlalu banyak tertawa. Benar kata Rio. Bagaimana bisa dia berpikir tentang hal konyol seperti itu. Bahkan dia sudah membayangkannya sehingga membuat dirinya tertawa lepas menghilangkan rasa letihnya sejenak.
"Meskipun aku istrinya, tapi sepertinya tuan memang tidak akan menyentuh diriku, Rio. Lihat saja pacarnya tuan! Dia lebih seksi dariku. Tuan mana tertarik padaku. Sudah pasti tuan lebih tertarik dengan pacarnya"
Rio tertawa kecil geleng-geleng kepala. "Nona ini bicara apa? Kenapa pikiran Nona sudah kemana-mana? Nona istrinya, jadi tuan hanya akan menyentuh Nona muda istrinya, bukan Amanda pacarnya.." Rio terus saja geleng-geleng kepala sembari terus fokus menyetir dengan senyuman yang tak bisa pudar.
Menurutnya pikiran Viona ini sudah ngelantur jauh bahkan terasa konyol. Tidak mungkin seorang suami tidak tertarik dengan istrinya yang cantik seperti Viona ini. Bahkan menurut Rio, Viona jauh lebih cantik dan lebih baik dari segi apapun ketimbang Amanda, Pacarnya Marshal.
BERSAMBUNG.....