NovelToon NovelToon
Gema Syahadat Aisyah

Gema Syahadat Aisyah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa
Popularitas:70.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mirna Samsiyah

Hidayah itu milik Allah, jika Dia telah berkehendak memberikan hidayah pada seseorang maka siapapun tidak dapat mencegahnya.

Termasuk pada Atalie—gadis chindo tersebut tidak pernah mengira bahwa berawal dari iseng ikut kajian Ustadz Umar dapat membawanya menemukan hidayah untuk memeluk Islam.

"Mas Umar, bantu aku, selama ini kamu udah banyak bantu aku tanpa diminta."

"Bantu apa?"

"Bantu aku bersyahadat."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirna Samsiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hati Wanita

"Beneran nggak boleh masuk?" Ayana berbisik ketika menghentikan motor di depan pondok pesantren Adz-Zaidan, dari dulu ia ingin mengunjungi pesantren tersebut tapi tak pernah punya kesempatan. Ayana iri pada Aisyah karena bisa dengan mudahnya tinggal bersama keluarga Zaid.

"Jangan, aku nggak enak kalau bawa temen." Aisyah turun dari motor Ayana, ia berterimakasih karena Ayana bersedia menunggunya hingga selesai bimbingan dan mengantarnya kesini. Sebenarnya Aisyah bisa naik kendaraan umum tapi Ayana yang baik itu bersedia menunggunya.

"Ya udah, masuk gih." Ayana mengibaskan tangan menyuruh Aisyah segera masuk, ia ingin menunggu sampai Aisyah masuk seolah tak percaya jika sahabatnya itu benar-benar tinggal disana.

"Makasih ya." Aisyah melambaikan tangan membalikkan badan dan melangkah menjauh, karena gerbang tidak tertutup ia bisa langsung masuk.

Terdapat mobil lain di depan kediaman Zaid, Aisyah memilih lewat pintu belakang untuk masuk. Perlahan Aisyah memutar kenop pintu, setelah pintu terbuka ia sedikit terkejut karena disana juga ada beberapa orang yang tidak dikenalnya. Aisyah menganggukkan kepala dan mengulas senyum ketika mereka melihat ke arahnya. Aisyah memang belum mengenal semua orang disini.

"Lho, Aisyah kenapa kamu lewat pintu belakang?"

"Saya lihat di depan banyak orang Ummi, jadi saya lewat sini."

"Kalau begitu Ummi boleh minta tolong bawa ini ke depan?"

"Boleh Ummi."

"Taruh tas kamu dulu ke kamar."

Aisyah bergegas pergi ke kamar untuk meletakkan tas kuliah dan paper bag yang Daniel bawakan tadi. Aisyah perlu membaca ulang beberapa buku untuk kebutuhan tesisnya.

Aisyah membawa nampan berisi dua piring kurma, setelah beberapa saat tinggal disini ia jadi kenal dengan buah bercita rasa manis bernama kurma tersebut.

Sesampainya di ruang tamu, Umar adalah orang pertama yang melihat Aisyah membawa nampan. Umar tak bisa menahan senyum karena Aisyah terlihat sangat kaku saat melakukan itu. Umar berani jamin jika Aisyah tidak pernah melakukan itu sebelumnya.

Umar beranjak mengambil alih nampan di tangan Aisyah, "lihat jalan jangan nampan nya." Gumamnya pada Aisyah.

"Aku takut kurma nya tumpah."

"Bisa tumpah kalau kamu tersandung dan jatuh."

Aisyah hanya melirik tajam membalas ejekan Umar, ia gemas ingin mencubit bibir yang telah berani tersenyum mengejeknya. Aisyah selalu unggul di kelas, ia tak pernah mendapat peringkat 2. Ia selalu menduduki peringkat teratas sejak sekolah dasar. Namun setelah mengenal Umar, Aisyah ternyata bukan apa-apa, ada banyak hal yang tidak ia ketahui.

"Terimakasih ya, mari duduk." Maryam menahan tangan Aisyah agar duduk bersama mereka.

Aisyah yang hendak pergi dari sana akhirnya duduk di samping Maryam.

"Ummi, kami datang hanya untuk mengantar buku tapi Ummi justru repot-repot begini."

"Tidak repot kok, cuma teh dan kurma."

Tamu yang datang hari ini adalah Hilya bersama Idham dan satu supir. Mereka mengantar banyak buku untuk koleksi perpustakaan pondok. Abizar meminta Hilya ikut sekaligus untuk bertemu Umar. Karena Umar menolak bertukar nomor telepon maka mereka harus lebih sering bertemu agar saling mengenal sebelum menikah sekaligus meyakinkan keraguan dalam hati.

"Aisyah, kenalkan ini Hilya putrinya Kyai Abizar." Tukas Maryam.

Deg!

Aisyah terpaku mendengar nama seseorang yang Maryam sebutkan, jadi gadis bercadar itu adalah Hilya yang telah dijodohkan dengan Umar. Hilya bukan gadis sembarangan, ia menutup auratnya dengan sempurna. Hilya telah berjalan sangat jauh sedangkan Aisyah baru menapaki jalan itu. Dari sisi manapun Aisyah kalah telak oleh Hilya kecuali soal mengumpat—Aisyah jagonya.

"Aisyah seorang mualaf." Tambah Maryam.

"Masya Allah, semoga Aisyah selalu istiqomah." Hilya mengulurkan tangan pada Aisyah.

"Aamiin, terimakasih doanya." Aisyah tidak tahu apakah sekarang Hilya sedang tersenyum atau tidak di balik cadarnya tapi ia membalas uluran tangan Hilya dan mengulas senyum hambar.

"Kamu memilih nama yang bagus."

"Setelah mengenal—maksud saya membaca kisah Bunda Aisyah maka saya mengubah nama menjadi Aisyah." Entah kenapa suara Aisyah terdengar gemetar, seperti ada benda tumpul yang menghujam dadanya berkali-kali. Matanya terasa ditusuk-tusuk jarum dan telah siap mengeluarkan airnya.

Khalid menyadari satu hal ketika mendengar alasan Aisyah mengubah nama. Ia menatap Umar penuh arti, jadi gadis lain yang Umar sukai itu adalah Aisyah yang saat ini tinggal bersama mereka. Khalid melihat Aisyah sekilas lalu kembali menatap Umar.

Umar mengangguk samar seolah mengerti arti tatapan sang kakak. Ternyata gadis itu begitu dekat dengan mereka.

Sekarang apakah Aisyah harus mentertawakan dirinya sendiri atau menangisi nasibnya yang begitu miris. Mungkin ia akan tertawa sekaligus menangis. Untuk pertama kalinya Aisyah kalah, ia hanya unggul di dalam kelas.

Ini adalah pertama kalinya Aisyah jatuh cinta, ia dihadapkan antara dua pilihan. Mengejar Umar hingga akhir atau menyerah sebab Aisyah tahu Hilya bukan tandingannya.

Hilya menyadari satu hal bahwa cara Umar memandang Aisyah tampak berbeda. Begitu Aisyah datang, Umar langsung beranjak dan mengambil alih nampan di tangan Aisyah. Bahkan Umar bisa bercanda dengan Aisyah. Jika boleh jujur Hilya iri karena ia tak pernah punya kesempatan untuk melakukan itu. Kini Hilya mempertanyakan pendapat Umar mengenai perjodohan ini. Apakah selama ini hanya Hilya yang terlalu bersemangat untuk memenuhi perjodohan tersebut sedangkan Umar tidak.

******

Aisyah membereskan gelas bekas teh dan piring kurma di atas meja setelah Hilya dan dua orang lainnya pulang. Meski Maryam telah melarangnya tapi Aisyah tetap membereskan gelas-gelas tersebut. Aisyah ingin belajar hal-hal kecil seperti itu karena ia terlalu banyak dilayani selama ini.

Setelahnya mereka bersiap shalat magrib berjamaah di musholla lalu dilanjutkan dengan mengaji. Aisyah kembali bertemu dengan guru dadakannya yang amat baik yakni Hana. Aisyah senang karena dikelilingi orang baik di pesantren kecuali seseorang yang menyuruhnya menggoreng tempe, tidak—Aisyah bukannya dendam, rasanya ia masih trauma terkena cipratan minyak panas itu.

"Sampai disini dulu ya malam ini Mbak, saya juga masih harus belajar sama yang lain."

"Kalau gitu saya duluan ya." Aisyah izin pada Khawla untuk pergi lebih dulu karena walaupun berdiam disini ia tidak akan mengerti apa yang sedang mereka pelajari. Aisyah bisa bekerja di kamarnya sebelum tidur.

"Ummi!" Aisyah melihat punggung Maryam, ia setengah berlari untuk mengejar Maryam. "Ummi mau ke rumah?"

"Iya."

"Kalau gitu sekalian jalan bareng." Aisyah menggandeng tangan Maryam, jujur saja ia merindukan mama nya. Aisyah ingin menceritakan banyak hal pada mama nya seperti yang biasa ia lakukan. Namun sekarang apakah mereka masih bisa seperti itu? "Ummi, saya boleh curhat?"

"Tentu saja, mendengarkan curhatan orang lain itu sudah menjadi bakat Ummi." Kata Maryam lembut.

"Sebenarnya saya sedang jatuh cinta sama seseorang." Setelah menyusun kalimat sejak berada di musholla tadi akhirnya Aisyah bisa mengucapkannya pada Maryam.

"Jatuh cinta itu memang hal wajar untuk gadis seusia mu."

"Sekarang saya bingung, apakah akan mengejar orang tersebut atau menyerah saja."

"Cinta itu harus diperjuangkan tentu saja dengan cara yang halal, hanya ada dua pilihan menikah atau lepaskan, jangan sampai perasaan itu membuat mu terjerumus pada kemaksiatan."

"Tapi begini Ummi, ada gadis lain yang sepertinya juga memiliki perasaan pada laki-laki tersebut, dia terlihat baik hati dan sholehah, saya tidak percaya diri untuk bersaing dengannya."

Maryam tertawa pelan, "kamu tidak harus bersaing dengannya, jika lelaki itu ditakdirkan untuk mu maka ia akan tetap jadi milik mu walaupun kamu berpikir gadis itu lebih baik dari kamu."

Aisyah spontan menghentikan langkah mencerna kalimat Maryam dengan perlahan seolah tak ingin melewatkan satu kata pun.

"Sekarang yang harus kamu lakukan adalah memperbaiki kualitas diri kamu dan jangan terlalu memikirkan gadis itu, kalau kamu fokus pada orang lain kamu tidak akan bisa fokus pada dirimu sendiri, perbaiki diri dan berdoa lalu pasrahkan semuanya pada Allah, kamu punya Allah."

Perkataan Maryam telah membuka pikiran Aisyah yang mulanya begitu sempit. Aisyah merasa lebih tenang, ia bercerita pada orang yang tepat.

1
Lina Siti
Luar biasa
Rahmi Ami
bagus
Bundanya Abhipraya
udh baca sampe cerita anaknya daniel br tau cerita ini pokoke capcus baca maraton
Nina
kalo baca cerita yang pasangan suami istri belum di kasih keturunan,kadang tuh suka inget ke diri sendiri
Nina
di balik itu semua pasti ada hikmah nya
ℕ𝕦𝕟𝕦𝕥𒈒⃟ʟʙᴄ
semoga aisyah cepat hamil, jadi ikutan sedihh dehh
Immha Gadlys
alhmdulilah akhirnya yg di tggu2
✿⃝⭕🌼Ohti
ikut sedih
Nina
enak loh jantung pisang kalo di olah,bisa di sayur sama santan,di bikin bakwan,bisa di pepes,enak deh pokoknya
Nina
seharus nya Nelly bicara dulu baik baik jangan asal ngambil aja,belum tentu kan orang yg kita ambil uang nya orang yg gak punya kesulitan
Nina
ujian dalam kehidupan itu gak pernah gak ada,pasti selalu ada,itu lah cara Allah supaya kita bisa sabar, ikhlas,kuat,Allah tau yg terbaik buat kita
Nina
semangat terus Aisyah dalam segala hal apapun
૦ 𝚎 ɏ ꄲ 𝙚 ռ
aku banget ini kaak mirna.. 😭
૦ 𝚎 ɏ ꄲ 𝙚 ռ: Aaamiin Ya Allah.. 🤲🤲
total 2 replies
Anis Hasan
lanjut semoga aisyah selalu bahagia dan istikomah
Nina
rutinitas kehidupan sehari2
Nina
dalam rumah tangga harus ada yggg saling mengalah,Yang satu api yg satunya jadi air
Nina
selalu banyak cobaan di rumah tangga,entah itu dari saudara,orang tua,kerabat,teman
Nina
semangat Aisyah,jangan sedih
૦ 𝚎 ɏ ꄲ 𝙚 ռ
salah satu obat mujarab ketika jadi istri itu, bagaimanapun rasanya sakit hati, sesesak apapun dadamu ketika dikecewakan.. harus bisa dan wajib diutarakan. biar g mengakibatkan penyakit datang bermunculan..
semangat terus kak Atali🥰
༄⃞⃟⚡Kᵝ⃟ᴸ𒈒⃟ʟʙᴄ-ᴺᵘᵗ
kasian aisyahh, jd ikutan nyesek berada diposisi aisyah🥲
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!