NovelToon NovelToon
Terpaksa Bertahan Denganmu

Terpaksa Bertahan Denganmu

Status: tamat
Genre:Angst / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:93.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hasna_Ramarta

Rising Star Potensial (Lomba Pernikahan Angst)

Assalamu'alaikum Guys! Ini karya pertama saya. Boleh like doang, boleh baca doang, tapi alangkah baiknya like, baca n komen. Semoga kalian tertarik dengan karya pertama saya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Membujuk Belia

Bu Enok masih mencoba membujuk Belia supaya mau menemui Muntaz. Namun Belia diam saja, dia hanya menenggelamkan wajahnya di balik bantal. Dia masih menangis dalam diam.

"Baiklah Neng, kamu coba tenangkan diri dulu, ibu sama bapak mau ajak ngobrol dulu suamimu. Semoga setelah ini kamu bisa berubah pikiran dan mau menemui suami kamu," ujar Bu Enok masih berusaha membujuk Belia.

Bu Enok keluar kamar, sementara Muntaz sedang ngobrol dengan Pak Deden bapaknya Belia. Sedangkan Cica yang tadi sudah menyuguhkan air minum untuk Muntaz dan bapaknya kini kembali ke kamarnya.

Sejenak Bu Enok menilai sikap Muntaz, selama ini walaupun Muntaz jarang ke rumahnya, akan tetapi sikap Muntaz selalu memperlihatkan perilaku yang baik, sopan, dan ramah. Namun saat tadi Belia menceritakan sedikit sikap Muntaz yang ternyata belum bisa mencintai Belia, Bu Enok hanya bisa mengelus dada serta membesarkan hati Belia supaya bersabar dan memberikan satu kesempatan lagi untuk Muntaz bisa mencintainya.

Di sisi lain sebagai orang tua, Bu Enok tidak berhak mengintervensi atau menekan supaya Belia meninggalkan atau berusaha memberikan kesempatan kepada Muntaz. Bu Enok dan Pak Deden hanya bisa memberikan saran supaya Belia menghadapi ini dengan kepala dingin dan jangan dengan emosi sesaat.

"Bagaimana, Bu?" Muntaz bertanya pada Bu Enok, di wajahnya ada menyimpan harapan Belia mau bicara padanya.

"Bela belum mau bicara pada Nak Muntaz, ibu sengaja meninggalkan Belia di kamar supaya dia bisa berpikir dengan jernih. Jika dibujuk terus, ibu takutnya disangka mengintervensi dia. Biarkan dia tenang dulu.

"Kedatangan Muntaz ke sini sekalian mau minta maaf pada Ibu dan Bapak, bahwasanya Muntaz ternyata belum bisa bahagiakan Bela. Muntaz sadar, Muntaz salah selalu mengabaikan perasaan Bela. Untuk itu Muntaz minta maaf." Muntaz menunduk dan memohon maaf, kali ini sepertinya serius.

"Kalau begitu lebih baik Nak Muntaz malam ini bermalam di sini saja. Ini sudah malam, alangkah lebih baiknya Belia dibujuk sendiri oleh Nak Muntaz. Sepertinya dia akan senang kalau Nak Muntaz nginap di sini juga. Besok pagi kalian baru pulang pagi sekali dari sini untuk bekerja," bujuk Pak Deden pada Muntaz untuk bermalam saja di kediamannya malam ini.

Muntaz setuju malam ini dia bermalam di rumah mertuanya. Lagipula Muntaz tidak enak jika harus menolaknya. Sebelum Muntaz masuk kamar menyusul Belia yang sudah sejak tadi di kamar, Muntaz terlebih dahulu memasukkan motornya ke teras rumah mertuanya. Setelah merasa aman, Muntaz kembali ke dalam dan bersiap masuk kamar yang kini ditiduri Belia.

"Sebelum tidur sebaiknya Nak Muntaz makan dulu, sepertinya Nak Muntaz sejak pulang kerja tadi belum makan, ya? Ayo, makanlah dulu sama bapak," ajak Bu Enok mempersilahkan Muntaz ke dapur. Muntaz tidak membantah, apalagi dirinya memang lapar, sejak pulang kerja dia memang belum makan.

Menyudahi makan malamnya, Muntaz segera ke kamar mandi dulu untuk menggosok gigi dan membersihkan diri. Sementara Pak Deden masih di teras depan menyesap rokoknya seraya melihat ke depan sana, melihat lalu lalang orang yang masih setia menemani malam di luar sana.

Muntaz segera memasuki kamar yang kini ditempati Belia. Belia nampak duduk di atas kasur dengan kedua tangan memeluk satu sama lain, keadaannya sungguh memprihatinkan. Seorang perempuan muda bersuami, namun kurang kasih sayang dari suaminya sendiri. Dan Muntaz sadar dirinya memang tidak memberikan itu. Dia hanya sibuk menyimpan luka lama tentang cinta pertamanya yang membuat dia bersikap dingin selama ini pada Belia.

"Bel, ayo tidur!" ajak Muntaz menyadarkan Belia. Muntaz sengaja memeluk pinggang Belia dan merangkulnya. Belia sontak mendongak dan berusaha berontak menolak rangkulan Muntaz.

"Ayolah, Bel. Kali ini aku mohon dengarkan aku sekali ini saja. Aku mohon maafkan aku. Dan kasih kesempatan sekali ini saja untuk aku bisa perbaiki diri aku. Terutama bisa berusaha mencintai kamu."

"Jangan katakan kata-kata itu lagi di hadapan Belia, Bang!" mohon Belia.

"Kenapa?"

"Karena semua itu hanya dusta dan bualan Abang semata," ucap Belia seraya berdiri dan hendak keluar membuka pintu, namun sayang pintu kamar sudah dikunci oleh Muntaz, dan kuncinya tentu saja disimpan di dalam saku celana Muntaz untuk mengantisipasi jika Belia tiba-tiba memaksa keluar.

Malam ini Muntaz bertekad akan berusaha meraih simpatik Belia kepadanya, walaupun sikap Belia kini bertolak belakang dengan kebiasaannya. Muntaz tidak peduli dengan sikap Belia.

"Bel, ayo tidur, temani aku tidur! Aku malam ini ingin memeluk tubuhmu. Ayolah, tidak enak nanti dilihat Ibu dan Bapak jika aku membiarkan kamu keluar dan tidur sama Cika,"

Muntaz dengan sigap memeluk pinggang Belia dan membawa tubuh Belia terbaring di atas ranjang. "Aku mohon Bel, tidurlah malam ini dalam pelukan Abang," ujarnya seraya melabuhkan ciuman mesra di kepala Belia dan mengusapnya.

Akhirnya deru nafas Belia yang teratur kini terdengar, sepertinya Belia telah tertidur. Sementara Muntaz yang menyadari itu sangat senang dan kini berani melilitkan tangannya di pinggang Belia.

"Andai saja sejak dulu aku menyadari rasa cinta pada Bela, mungkin saja Bela tidak akan sekecewa in," ucapnya dalam hati penuh sesal.

Akhirnya karena rasa kantuk yang sudah menyerangnya, Muntaz pun menyusul ke alam mimpi memeluk Belia yang sejak tadi membelakanginya.

Besoknya, saat pagi menjelang. Belia sudah terbangun, begitu juga Muntaz. Mereka berdua sudah bersiap akan pulang. Setelah dibujuk Muntaz, akhirnya Belia mau pulang hari itu meskipun hatinya masih enggan untuk pulang ke rumah Muntaz.

"Pak, Bu, kami pulang ya," pamit Muntaz seraya menyalami kedua orang tua Belia dengan hormat lalu menyalakan mesin motor dan menghidupkannya. Belia segera naik motor Muntaz setelah dirinya berpamitan dan menyalami tangan kedua orang tuanya.

"Baik-baik ya, Neng!" pesan Bu Enok pada anak perempuannya seolah mau melepas pergi ke suatu tempat saja.

"Assalamu'alaikum!" salam Muntaz dan Belia bersamaan.

"Waalaikumsalam," sahut kedua orang tua Belia kompak. Merekapun menatap kepergian motor Muntaz dengan tatap penuh harap, mengharapkan hubungan rumah tangga anak dan menantunya bisa baik-baik saja ke depannya.

Motor tiba di depan rumah Muntaz. Belia segera turun diikuti Muntaz. Muntaz membuka kunci rumah dan membuka pintu lebar-lebar.

"Bel," sapa Muntaz. Belia langsung menoleh dan mengerutkan keningnya.

"Aku, minta tolong siapkan baju kerja dan sarapanku. Bukankah kamu masih istri aku?" ujar Muntaz seraya menatap Belia. Belia seketika menunduk tapi tidak menyahut, kata-kata Muntaz kini menjadi terasa janggal di telinganya.

Belia berlalu ke dalam kamar berniat menyiapkan baju seragam Muntaz dan membuka lemari. Namun Muntaz tiba-tiba memeluk Belia dari belakang dan mencium pipi Belia. Debaran jantung Belia kini berpacu seiring suatu hal yang diminta Muntaz di pagi buta ini.

1
Ida Susmi Rahayu Bilaadi
Lha bodoh harusnya ditagih dong uangnya suruh kembalikan. Lumayan loh 5jt
Ida Susmi Rahayu Bilaadi
klo pke bahasa daerah harusnya dikasih terjemahannya thor
Nasir: Iya Kak, nanti dibetulkan ya...
total 1 replies
antha mom
👍👍👍👍👍
antha mom
semangat bel jangan langsung luluh
Annie Soe..
Karya yg bagus & membumi tokoh2nya..
Tidak melulu CEO ,, good jobbthor,,
Trm kasih, teruslah tetap berkarya..
Nasir: Kak, mampir lagi di karya terbaru saya. 🙏🙏🙏
total 2 replies
dewi_nie
jgn bodoh dan naif bell jgn terlalu berharap dg suamimu..lebih baik pisah aja..kasian dirimu sendiri.
Hera sasuwe
👍
Nasir: Mksh Kak...
total 1 replies
🇮🇩 ♏ Q 🎱 🇵🇸
Smua novelnya alur ceritanya sama. 😅
n_utami
woi lah.. mamak kau muntaz... 🤣🤣
falea sezi
bahasa mana sih amburadul bgt bahasa Jawa nya yg biasa aja lah
Nasir: Bukan bahasa Jawa tapi bahasa Palembang Kakak.
total 1 replies
seftiningseh@gmail.com
Hai kak ja gan lupa mampir karya aku judul nya istri kecil tuan mafia dan terpaksa menikah judul nya
makasih oh yaa novel kakak juga bagus
Nasir: Wahhh trmksh byk.....
total 1 replies
Ai Oncom
bagus ceritanya..
Nasir: Mksh byk Kak...
total 1 replies
anggita
lahiran.. 👶
Nasir
Makasih Kak @Yohani likenya...
Senajudifa
selamat thor kelar dah 1 karya
Nasir: Iya Kak terimakasih..
total 1 replies
Senajudifa
selamat ya belia
Senajudifa
kpn bela lahiran nih
Senajudifa
sdh mw tamat aj nih
Nasir: Iya Kak, trmksh dukungan Kakak, smg sukses.. m
total 1 replies
Senajudifa
selamat sel
Nasir: Mksh Kak...
total 1 replies
auliasiamatir
hahaha syukurin kau muntaz
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!