NovelToon NovelToon
Lost Memories

Lost Memories

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Light Novel
Popularitas:17.8k
Nilai: 5
Nama Author: ZeroGame

Hampa— tak mengerti apapun. Sang Protagonis terbangun di tempat asing bersama seorang gadis Half-Elf yang menyelamatkan nyawanya. Ia dibawa ke sebuah desa yang memberinya kehangatan.
Ketika Sang Protagonis mencoba mengingat berbagai hal, justru sakit kepala hebat yang ia dapat. Dengan ingatannya yang sebagian besar hilang, ia bertekad mengumpulkan kembali serpihan ingatannya. Tapi, perjalanannya tidak akan mudah. Ia harus dipaksa menelan pil pahit takdir yang menuntunnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZeroGame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CH. 27 [Arc: Desa Harapan]

Aku mulai membuka mataku. Secara samar, aku melihat ada seseorang di hadapanku. Setelah penglihatanku kembali sepenuhnya, aku terkejut mendapati wajah Riri berada tepat di hadapanku. 

Aku bangun dan segera mengambil jarak. Aku melihat lagi ke wajah Riri yang masih tertidur. Ia terlihat begitu manis namun begitu rapuh— tidak, aku tidak boleh berpikiran aneh. Akan kubiarkan dia tertidur lebih lama, ia terlihat begitu terlelap.

Segera ku mencari pakaianku dan mulai berganti baju. Setelah selesai ganti baju, aku melihat meja semalam yang tadinya ada makanan kini berganti menjadi sebuah teko putih dengan beberapa ukiran bunga serta beberapa cangkir di sekitarnya. Ada buah segar dan roti disana.

Aku tidak tahu kapan para pelayan disini keluar masuk kamar dan menyiapkan semua ini. Sedikit menakutkan bagiku.

Aku mulai duduk dan menuangkan cairan dari teko itu kedalam cangkir. Rupanya yang disiapkan adalah sebuah teh. Aromanya begitu menenangkan. Teh itu mulai kuminum lalu mencoba rotinya. Tehnya tidak terlalu manis, membuat lidah bisa terus meminumnya, sementara rotinya renyah di luar namun lembut di dalam serta tidak meninggalkan rasa seret di tenggorokan.

"Ummn—" sepertinya Riri mulai bangun. "Uh, Azura. Kau sudah bangun ya… hoam." 

Aku sedikit memalingkan tatapan mataku. "Lebih baik segera ganti bajumu Riri. Kita harus segera mencari 'Petir Ungu'."

"Benar juga." gadis mungil itu meloncat keluar dari tempat tidur dan segera berganti baju.

Gadis itu ganti baju dengan cepat. "Ayo, Azura."

"Kau tidak mau teh dan roti?"

"Mau!" Riri segera menuangkan teh di cangkirnya dan memakan beberapa roti.

Senang melihatnya ceria kembali seperti dulu. 

Setelah menikmati teh dan roti yang ada, kami segera mengambil perlengkapan dan bergandengan menuju ke kamar Adi. Tapi, begitu kami ketuk pintu kamarnya, ia tidak menjawab. Mungkin ia sudah keluar dan menunggu di pintu keluar. Tidak mungkin juga orang disiplin seperti Adi masih tertidur. 

Segera, kami menuju ke pintu keluar. Benar saja, Adi sudah menunggu di dekat sana.

"Kalian berdua lama sekali."

"Justru kau yang terlalu cepat tahu."

"Sudahlah, ayo kita— um, hanya perasaanku atau sikap kalian sedikit aneh. Apa terjadi sesuatu tadi malam?"

Kami berdua tersentak kaget. Kenapa insting teman kami ini bisa begitu tajam.

"U— um, kami berdua bersikap seperti biasa kok." gadis mungil ini mencoba-coba mencari alasan.

"Bergandengan tangan kalian lakukan setiap hari?" kami berdua langsung teringat— begitu keluar dari kamar, kami selalu bergandengan tangan. Kami pun langsung memisahkan tangan kami secara cepat. "Ya ampun, aku tidak tahu kalian berdua sudah sejauh mana. Tapi kita harus fokus pada tujuan kita terlebih dahulu, pergi ke Akademi Sirius dan mencari Petir Ungu." 

Aku dan Riri hanya bisa diam termenung sambil menatap satu sama lain. Semua ini salah pelayan elf itu, awas saja kalau ketemu lagi. 

Kami segera keluar dari penginapan ini dan mencari tujuan kami, menemukan seseorang yang di panggil 'Petir Ungu'. Masalahnya, dimana kami bisa menemukan orang dengan nama itu di kota sebesar ini.

"Apa kita tidak punya petunjuk? Akan memakan waktu lama jika menanyai setiap orang." 

Adi mulai berpikir. "Kalau tidak salah Paman Bonar bilang 'Petir Ungu' adalah kenalannya dan punya sebuah kapal. Walaupun masih susah, setidaknya area pencarian kita bisa lebih sempit. Mari kita ke pelabuhan." 

Sesuai instruksi Adi, kami segara menuju ke pelabuhan yang ada di sisi Barat kota. Semilir angin di kota ini terasa sedikit kuat, dan ada juga beberapa aroma yang sedikit mengganggu. Aroma amis ikan. Setelah terbiasa berkutat dengan aroma kandang Anoa di desa, rasanya bau amis ikan tidak separah yang ada.

Kami memasuki kawasan pasar, lebih tepatnya pasar penjualan ikan. Banyak sekali ikan berbagai ukuran dan jenis yang dijual di tempat ini. Ada juga beberapa kereta yang lalu lalang membawa kotak-kotak besar menuju arah pelabuhan. Hingga kami tiba di area pelabuhan. Banyak sekali kapal-kapal besar yang berlabuh di sini. Kapal-kapal itu ada yang sedang mengangkut kotak-kotak yang di angkut oleh kereta yang menuju kesini. 

Ini juga pertama kalinya aku melihat wujud kapal. Begitu menakjubkan, kenapa benda sebesar itu masih bisa mengapung di atas air ya? Mungkinkah ada sihir di kapal itu? Lupakan, aku harus mencari seseorang saat ini.

"Apa kita harus berpencar?"

"Lebih baik jangan. Ini tempat asing bagi kita. Aku tidak mau kejadian kemarin terulang lagi." ucap Adi.

"Baiklah."

Meskipun memakan waktu yang lebih lama, setidaknya kami lebih merasa aman jika bersama. Satu persatu orang mulai kami tanyai di sekitar sana.

Waktu terus berlalu hingga matahari tepat berada di atas kepala.

"Ini sudah tengah hari, tapi tidak seorang pun kenal dengan 'Petir Ungu'."

Kaki kami mulai terasa lelah dan kerongkongan kami rasanya mulai kehausan. 

"Hei, kita cari minum dulu yuk." gadis mungil ini sepertinya kehausan. 

"Bagaimana kalau kita istirahat sejenak disana?" Adi menunjuk sebuah toko kecil yang sepertinya menyediakan minuman segar. 

Kami bertiga segera menuju ke toko itu untuk membeli minuman dan beristirahat sejenak. Kami mulai masuk dan mencari tempat untuk duduk. Tak lama, seorang pelayan datang. Seorang gadis dengan daun telinga yang mirip seperti sirip ikan. Aku mulai berpikir keras dan mengingat sesuatu dari buku yang pernah aku baca, kalau tidak salah mereka adalah ras mermaid. Ciri khas ras itu adalah daun telinga yang mirip sirip ikan dan tentu saja tidak bisa jauh dari air. 

"Selamat datang, mau pesan apa?" pelayan itu kemudian memberikan papan yang berisi menu yang ada di tempat ini.

Kebanyakan minumannya berupa arak ya. Aku tidak terlalu kaget mengingat lingkungan disini banyak pekerja yang butuh tenaga keras. Tapi ada satu yang menarik perhatianku, 'es teh'. Setahuku teh disajikan saat hangat, tapi ini es. Apa maksudnya? Karena yang kutahu, es adalah salah satu elemen lanjutan berupa air padat sekeras batu dan sangat dingin, Bu Mary pernah memperlihatkan sihir es padaku. Jadi kita minum elemen lanjutan, atau teh yang menjadi keras seperti es? Aku benar-benar bingung, tapi aku mau mencobanya.

"Es teh!" aku dan Riri mengucapkannya bersamaan. Kami berdua langsung diam setelah itu.

Adi menggeleng pelan melihat kami. "Kalau begitu aku juga sama."

"Tiga es teh ya. Baiklah, tunggu sebentar."

Tak perlu menunggu lama, pesanan kami akhirnya tiba. Pelayan itu membawakan 3 gelas kayu berukuran besar, kemudian meletakkannya di atas meta kami.

Aku melihat kedalam gelasku. Isinya cair berupa air dan tercium aroma teh. Hanya saja, dari dalam gelas keluar aura dingin. Saat kuperhatikan lagi, di dalam teh terdapat beberapa bongkahan es.

Aku mengambil gelasku dan mulai meminumnya. "Rasanya… teh." benar— rasanya teh seperti umumnya. Hanya saja, ini dingin, bukan hangat atau panas. Sebuah cara menikmati teh yang berbeda bagiku. Dan ini sangat menyegarkan tenggorokan, apalagi di cuaca yang begitu panas. 

"Tenggorokanku jadi segar kembali." gadis mungil itu terlihat begitu menikmati minumannya. 

Adi setelah menenggak es tehnya, ia mulai berpikir. "Sepertinya es ini diciptakan oleh sihir, lalu dimasukkan ke dalam teh. Karena setahuku, belum ada alat yang bisa menciptakan es selain sihir."

Mungkin sudah jadi kebiasaan Adi untuk menganalisa suatu hal yang baru baginya.

Kami selesai minum dan berniat melanjutkan pencarian.

"Sepertinya sudah cukup kita istirahatnya. Mari kita lanjutkan pencariannya."

"Hum, tunggu sedikit lebih lama lagi. Lagipula tempat ini masih begitu besar untuk mencari seseorang yang bernama 'Petir Ungu'." ketus gadis kecil itu. 

"Darimana kalian mendengar nama itu?" ada yang menyahut. Saat aku cari, ada seseorang yang duduk di ujung ruangan. Aku tahu ia yang menyahut karena tempat ini sepi, hanya ada kami dan orang di pojokan itu. Seorang pria ras dwarf paruh baya dengan rambutnya yang sedikit memutih. Ia memegangi gelas berisi araknya dan sepuntung cerutu tergeletak di dekatnya. 

"Um, dari seseorang. Apa Paman tahu siapa Petir Ungu itu?" 

"Aku mengenalnya." ia mulai menenggak arak di gelasnya.

"Benarkah? Bisakah Paman mengenalkannya pada kami?"

Pria tua itu mulai berbalik badan, memperlihatkan wajah tuanya kepada kami. Ia mengenakan setelan berwarna coklat dan mengenakan sebuah jaket kulit. "Kalian sudah melihatnya disini."

Tunggu— apa?! Pria tua ini adalah orang yang kami cari? Kupikir ia terlihat lebih gagah karena ia orang yang dipercaya oleh seorang anggota Ashiah. Sepertinya aku terlalu banyak berharap.

Adi mulai mendekati Kakek itu. "Kami ingin membicarakan sesuatu—" kakek tua itu langsung mengangkat sedikit tangan kanannya. 

"Tunggu. Hei Nona…" ia memanggil sang pelayan. "Apa ruangannya kosong?"

"Tempatnya selalu kosong tuan."

"Bagus. Hei bocah-bocah. Ikuti aku." kakek tua ini mulai berjalan entah kemana menuju salah satu ruangan. 

Kami kebingungan, kami bahkan belum sepenuhnya percaya dengan omongan kekek tua itu. Bisa saja ia hanya mengaku-ngaku. Tapi di sisi lain, hanya ia yang menyahut ketika mendengar nama 'Petir Ungu' yang orang disini tidak tahu siapa dia. Mau tidak mau kami harus mengikutinya sambil terus waspada.

Segera, kami mengikutinya masuk kedalam sebuah ruangan. Ruangan ini tidak terlalu besar, hanya berisi beberapa kursi yang terlihat mewah dan sebuah meja lonjong. 

Kakek tua itu sudah duduk, kami pun mulai duduk dan siap memulai perbincangan.

"Kenapa kita harus masuk ke ruangan seperti ini hanya untuk perbincangan biasa?"

"Bisnis. Ruangan ini kedap suara, jadi obrolan kita tidak akan terdengar keluar. Jadi, apa yang kalian mau dari kakek tua sepertiku?" 

"Sebelum itu, buktikan pada kami kalau Paman benar 'Petir Ungu'." Adi kemudian meletakkan sisik Paman Bonar di atas meja. "Sisik itu diberikan oleh orang yang meminta kami menemui Petir Ungu. Jika Paman tahu siapa—"

"Bonar." 

"Bohong, dia bisa langsung tahu." gadis mungil ini terlihat tidak percaya— begitu pula dengan aku dan Adi.  

"Dasar naga tua itu, aku sudah bisa menduganya kalau anak-anak tengik ini ada kaitannya dengan dia. Maaf saja, aku tidak berniat menjadi pengawal. Jika kalian tidak ada urusan lagi denganku, segara pergi dari sini."

"Tunggu— kami tidak berniat meminta pengawalan dari Paman. Kami dengar Paman punya kapal, jadi, bolehkan kami menumpang?" Adi berusaha membujuknya.

"Kapalku adalah kapal barang dagang. Bukan kapal yang mengangkut penumpang umum. Cari saja kapal penumpang lain."

"Kami mohon, kami baru saja melewati masa sulit. Karena Paman salah satu kenalan orang penting, itu bisa sedikit meringankan beban kami." 

Kakek tua itu mengambil sisik Paman Bonar dan mulai melihat-lihatnya. Ia kemudian mengambil semacam lensa kacamata dan meletakkannya di matanya— kembali melihat sisik itu. 

"Baiklah. Aku akan mengantar kalian." kakek tua itu kemudian bangun dari duduknya. "Tapi kalian harus bayar, aku juga tidak berniat melindungi kalian, karena barang-barang di kapalku jauh lebih penting. Kalian paham?" Kami bertiga mengangguk. "Bagus. Sekarang bersiaplah, kita akan berangkat."

Kakek tua itu kemudian pergi dari ruangan, kami pun mengikuti langkahnya. Setelah berjalan beberapa saat, kami pun berhenti— tepat di samping sebuah kapal yang sangat besar. Kapalnya begitu megah hanya untuk seukuran kapal dagang.

"Oi kapten! Semua barang-barangnya sudah kami naikkan! Kami siap berlayar!" dari atas kapal, salah satu awak memberitahu kondisi kalau mereka sudah siap berlayar.

"Ayo anak-anak." kami pun naik ke atas kapal. 

Di kapal, banyak sekali orang yang merupakan awak kapal dan sedang melakukan tugas mereka masing-masing. Namun yang berbeda, mereka membawa senjata, entah itu pedang, tombak atau panah. Sebenarnya kapal dagang macam apa ini.

1
Kang Nyimak
Kutai Kartanegara? Indonesia?
Ayano
Diriku mampir thor. Baru baca chapter satu dulu. Abis cas handphone dilanjut lagi. Semangat ya. Kalo sempet mampir juga ya
Helmi Sintya Junaedi
otor kepentok apa ini ya??? sekian paripurna baru lanjut..
btw mkasih mo lanjutin y thor
ZeroGame: aku sibuk sama pekerjaan di real life kak wkwkwk
maaf banget jarang update, gak bisa kupaksakan juga karena bakal menganggu kualitas cerita
total 1 replies
Inira
Bunga untukmu, biar lebih semangat update!
ZeroGame: Makasih kak ≧﹏≦
total 1 replies
Cheonma
Semangat updatenya thorrr...
ZeroGame: Makasih kak ≧﹏≦
total 1 replies
Wardi Kun
Azura menggambarkan gweh nih
Jeco Alana
Baru baca eps 1, tapi bahasanya gurih banget. Mantap.
ZeroGame: makasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!