NovelToon NovelToon
Seputih Melati

Seputih Melati

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Duda / Tamat
Popularitas:65.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dede Dewi

Melati adalah seorang gadis dengan keterbatasan fisik, yang membuat dirinya menjadi gadis yang tertinggal dari teman seusianya. Dan bermula di usia SMP, dia mulai mengenal teman dekat yang begitu baik, guru yang baik, dan tetangga yang sangat baik. Namun, di waktu itu pula, dimana cinta pertamanya harus meninggal dunia karena kecelakaan, membuat dirinya mampu berdiri lebih kuat, dan mampu mencapai suatu perubahan yang dirasanya mustahil, atas kerja keras dan usaha nya yang tak mengenal putus asa. Hal baik apa yang akan dia temui nantinya? Siapa sesungguhnya cinta pertamanya?

Bagaimana perjalanan hidup Melati? Yuk, simak cerita Seputih Melati ini sampai selesai. Jangan lupa tinggalkan jejakmu😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berpamitan

Pagi itu, terdengar suara adzan subuh berkumandang. Latif segera bersiap diri untuk melangkahkan kaki menuju masjid tempat ia biasa sholat subuh berjamaah. Sebelum sholat, Latif sempat berpapasan dengan Melati yang juga akan pergi ke masjid bersama kedua adiknya.

"Assalamualaikum Melati." sapa Latif.

"Wa'alaikumsalam mas. Maaf, Melati permisi duluan." kata Melati berjalan agak cepat menyusul kedua adiknya yang sudah berlari menuju masjid.

"Ehm, ya...Melati." jawab Latif berhenti sejenak, merasa ada sesuatu yang mengganjal.

"Semarah itukah Melati menanggapi gosip yang beredar? Dan mengetahui pernyataanku kemarin?" batin Latif. Namun kemudian Latif segera melanjutkan langkahnya menuju masjid. Saat sudah di dalam masjid, Latif melihat pak Wahid akan mengimami, Latif memberi isyarat Dengan mengangguk sebagai sapaan dia kepada sang takmir masjid.

Seusai sholat, Pak Wahid masih wiridan, sedangkan Latif di baris shof putra juga masih terduduk, sambil menunggu pak Wahid bangun dari duduknya.

Hingga sang Mentari mulai memancarkan sinarnya, pak Wahid baru bangun dari duduknya. Saat membalikkan badan, pak Wahid melihat Latif yang juga ikut berdiri dan segera mencium punggung tangan pak Wahid. Selain dipercaya sebagai ketua takmir masjid, pak Wahid juga menjadi penasehat di TPQ, dan pak Wahid pula yang turut serta mengelola TPQ, sehingga dia sangat dekat dengan pak Wahid. Pak Wahid juga guru ngaji nya, semenjak Latif pindah dari Palembang lima tahun lalu, setelah lulus SMA.

"Assalamualaikum pak Wahid." sapa Latif sambil mencium punggung tangan guru ngajinya.

"Wa'alaikumsalam mas Latif." jawab pak Wahid sambil memegang pundak Latif dan menggiringnya keluar dari masjid.

"Ehm, pak. Saya atas nama mama saya..." kata Latif terputus.

"Ah sudahlah... Lupakan saja. Mamamu baru pulang dari luar kota, wajar saja kalau beliau marah-marah. Mungkin karena kecapekan." jawab pak Wahid sambil menutup pintu masjid.

"Tapi, saya sungguh menyesal pak, kenapa mama saya harus marah marah pada bapak. Padahal, selama ini kan bapak banyak membantu saya, membimbing saya, dan tak lelah menasehati saya untuk bisa menjadi insan yang lebih baik." kata Latif.

"Iya, bapak mengerti. Tapi ya sudahlah... kamu ceritakan saja pada mamamu dengan apa yang sebenarnya terjadi. Mamamu tadi malam baru pulang dari jauh, belum cuci tangan kaki, jadi emosinya belum stabil. Ya siapa tau, pagi ini mamamu sudah lebih baik lagi emosinya." kata pak Wahid.

"Oh, iya pak."

"Ehm. pak Wahid." panggil Latif.

"Ya?"

"Ehm, maaf pak sebelumnya. Ehm... saya... saya mau pamit pak." kata Latif ragu.

"Pamit? Pamit kemana?" tanya pak Wahid heran.

"Pamit ikut mama ke Palembang pak." jawab Dewa.

"Oh... jadi kamu mau diajak mamamu lagi? Lalu, siapa yang akan membantu mengajar anak-anak mengaji?" tanya Pak Wahid sempat bingung, karena kabar ini sangat mendadak baginya.

"Itulah pak, sebenarnya saya juga kurang enak bicara ini pada pak Wahid, tapi..." kata Lagi namun belum sempat diselesaikan, pak Wahid langsung memotongnya.

"Santai saja. Ikuti kata mamamu. Pasti mamamu yang memintamu untuk kembali ke Palembang 'kan?"

"Iya pak."

"Bismillah. Ridhollahi fi ridho walidain. Ridho Allah ada pada ridho kedua orangtuamu. Terutama ibumu. Berangkatlah nak." kata Pak Wahid menepuk pundak Latif.

"Tapi..."

"InshaaAllah, bapak Yakin, Allah akan kirimkan pengajar TPQ yang akan menggantikan mu nanti. Salah satunya Melati 'kan?" tanya pak Wahid dengan senyum khas ala pak Haji di film kiamat sudah dekat.

"Ehm, ya itulah salah satu masalahnya pak, Melati kemarin sore, pamit sama saya, kalau mulai kemarin, dia sudah tidak bisa mengajar TPQ lagi." kata Latif risau.

"Lho, kenapa?" tanya pak Wahid heran dengan wajah ala Dedi Mizwar.

"Katanya, dia mau lanjut pendidikan Kejar paket B pak." kata Latif.

"Oh. Jadi Melati sudah ada kesibukan lain? Begitu?" tanya pak Wahid.

Latif mengangguk.

"Hem, ya coba nanti saya bicara dulu sama Melati. Dan beberapa remaja Masjid yang lain. Yang penting, kamu ga usah risau. Ikutlah dengan ibumu. Yakin. Bismillah, untuk membahagiakan ibumu. Itu baktimu padanya." kata pak Wahid menyemangati.

"Baik pak. Kalau begitu, saya pamit ya pak. Saya mohon maaf, jika selama ini saya banyak salah sama pak Wahid, suka bikin kecewa bapak dan..."

"Ya sudah sudah... santai saja sama bapak. Tidak ada yang salah, semua sudah bapak maafkan. Jaga diri kamu baik-baik di sana, jangan lupa sholatnya, dan ngajinya." pesan pak Wahid sambil menepuk pundak Latif perlahan.

"InshaaAllah pak. Terimakasih banyak ya pak atas bimbingannya selama ini." kata Latif sambil mencium punggung tangan guru ngajinya.

"Iya, sama-sama. Sudah menjadi kewajiban bapak untuk menjaga dan mendidikmu. Titip salam ya buat ayahmu di sana." kata pak Wahid.

"InshaaAllah pak." jawab Latif.

Latifpun segera pergi meninggalkan pak Wahid yang sudah akan masuk ke dalam rumahnya. Sedangkan Latif berjalan gontai menuju rumahnya, tetapi tidak untuk pulang, melainkan berbelok ke rumah depan rumahnya. Ya, rumah Melati.

"Assalamualaikum." salam Latif di depan pintu rumah Melati yang sudah terbuka, dan tampak dua anak kecil sedang bermain di dalam rumah sambil cekikak cekikik persis seperti si kembar botak di serial film Upin & Ipin.

"Wa'alaikumsalam." jawab keduanya serempak sambil berlari menuju pintu, penasaran dengan tamu yang datang pagi-pagi buta.

"Mas Latif. Ada apa kesini?" tanya Aldo dengan muka datar tanpa senyum sedikitpun.

"Ho.oh." jawab Aldi.

"Mbak Melatinya ada?" tanya Latif.

"Lagi sibuk." jawab Aldo.

"Mas Latif kenapa nyariin mbak Melati? Nanti mamanya mas Latif marah-marah lagi lho." kata Aldo polos.

"Marah marah lagi? Kapan?" tanya Latif.

Aldo dan Aldi saling pandang.

"Kemalin sole." jawab Ipin yang masih cadel.

"Jam berapa? Kok mas Latif ga tau?" tanya Latif heran.

"Ya ga taulah, orang mas Latif baru aja pergi naik motor, terus mamanya mas Latif datang." jawab Aldo yang menyaksikan sendiri kejadian kemarin sore.

Belum sempat Latif melontarkan pertanyaan, tiba-tiba nenek datang.

"Ada apa mas Latif ke sini?" tanya nenek dengan nada ketus.

"Ehm, Nek. Saya mau ketemu sama Melati." jawab Latif dengan sikap biasa saja.

"Ga usah mas. kalau ada pesan, sampaikan saja lewat nenek. Melati lagi sibuk nyiapain keperluan buat adik-adiknya." kata Nenek.

Latif pun tidak enak hati. Akhirnya dia memilih untuk mengatakan niatnya kepada nenek.

"Ehm, nek, tolong nanti sampaikan pada Melati, kalau mulai hari ini saya akan ikut mama ke Palembang." kata Latif.

Nenekpun mengangguk.

"Mas Latif mau pergi jauh? Ikut mamanya mas Latif? Naik pesawat?" tanya Aldo polos.

"Iya Aldo."

"Naik pesawat mas?" tanya Aldi.

"Iya Aldi."

Saat mendengar kata itu, Melati yang sedari tadi nguling di dapur, segera keluar dari dapur.

"Mas Latif...." sahut Melati pelan.

Seketika Latif menoleh ke arah sumber suara. Dan ada Melati di sana. Netra mereka bertemu.

"Melati..." gumam Latif.

"Aku... minta maaf.... atas kelakuan mama semalam.

Melati hanya mengangguk.

"Aku...mau... pamit..."

Melati hanya diam Tiba-tiba air matanya lolos, diapun menyembunyikan nya lalu berbalik badan dan pergi berlari ke dalam kamarnya.

nenek yang mengetahui itu, langsung mengambil alih perbincangan mereka.

"Biar nanti nenek yang menjelaskan." kata nenek.

"Baik nek. Terimakasih nek." kata Latif.

Nenek mengangguk.

"Latif pamit pulang dulu nek."

"Iya mas." jawab nenek.

Latifpun pulang ke rumahnya untuk siap-siap.

💞💞💞

Kasian Melati ya...dia harus kehilangan temannya lagi. terus nanti Melati sama siapa? ikuti terus ceritanya ya...😉

1
Nuryuniati Haryono
jalur cerita sangat menarik, terus berkarya.. 💪💪
Dede Dewi: terimakasih kak😍
total 1 replies
Neulis Saja
Thor, lanjut dong dgn putra dan putri dari para ortunya siapa tahu ada yg jadi besanan misalnya satria besanan sama keluarga melati kayanya seru yah Thor tidak menyambungkan keturunan. reader tunggu yah 🙏
Dede Dewi: siap kak. InshaaAllah author buat
total 1 replies
Neulis Saja
marwa menjadi obat bagi keluarga dari segala kepahitan, kesusahan dan kepedihan tergantikan dgn kebahagian yg tiada terkira semoga menjadi harapan bahagia bagi orang tuamu, bagi semua yg ada disekitarmu
Neulis Saja
semoga selamat sampai lahiran yah
Neulis Saja
next
Neulis Saja
udahlah jgn diingat kalau akhirnya akan merasa tersakiti dgn tindakannya
Neulis Saja
i agree with your attitude
Neulis Saja
duh pak guru udah bucin akut nyampe gak mau lepas nempel aja kayak perangko dgn amplonya
Neulis Saja
tinggal bahagia yg dirasakan berdua karena kepedihan dan kesulitan telah dilaluinya
Neulis Saja
cepet hamil biar tsabita ada temennya
Neulis Saja
ehm
Neulis Saja
hotel kali ko rumah
Neulis Saja
ehm tak berarti apa2 karena melati sdh jadi istri orang
Neulis Saja
oh panggilannya jadi mas yah ok lah gak my hubby
Neulis Saja
next
Neulis Saja
terasa beban berkurang padahal yg ngalamin melati dan pak guru kenapa serasa reader yg ngalamin yah itulah hebatnya author yg bisa membawa reader ke suasana yg ada dalam novel good job 👍
Neulis Saja
ehm sebuah pengorbanan yg luar biasa buat mereka, ugi yg telah membantu ibunya laili, pak guru yg membantu melati ketika di smp, dan melati membantu pak guru utk anak2nya yg sdh menganggap melati seperti ibunya itulah org2 yg success dlm artian telah memberikan manfaat utk sekitarnya
Neulis Saja
ehm sangat menyentuh di part ini sampai menitipkan air mata 😥
Neulis Saja
setiap kesusahan akan datang kebahagian
Neulis Saja
as a life lesson for front
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!