Steven adalah seorang pria Psychopath di mana masa lalunya yang kelam terlebih ada keturunan psychopath dari ke dua orang tuanya membuat perasaan Steven mati.
Hingga dirinya dipertemukan oleh seorang gadis yang bernama Leona Alexander putri dari pasangan Jessica Alexander dan Lemos Alexander yang juga ternyata keturunan psychopath.
Akankah mereka bersatu dalam ikatan pernikahan mengingat Steven sudah merusak Leona akibat dirinya salah menuduh Leona.
Ikuti novelku yang ke 32
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayuk Triatmaja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Draft
"Baik Nyonya," jawab dokter tersebut mulai memeriksa keadaan Leona.
Soraya hanya menganggukkan kepalanya sambil mencari nama suaminya dari kontak ponselnya setelah ketemu Soraya menekan nomer tersebut dan sambungan pertama langsung di angkat.
("Hallo Sayang, baru juga dalam perjalanan sudah mulai kangen," goda Lemos).
("Sayang, kembali ke rumah sakit!" perintah Soraya dengan nada panik).
("Ada apa?" tanya Lemos yang ikutan panik).
("Mommy, dadaku sakit." rintih Leona sambil mencekam dadanya yang terasa sesak).
("Sabar ya sayang, semoga Katarina dan Kak Alex datang." ucap Soraya).
("Tadi ada dokter gadungan yang memeriksa putri kita dan kini Leona lagi diperiksa dokter," ucap Soraya).
(Cittttttt .... terdengar suara rem mobil dan bisa dipastikan milik Lemos).
("Baik Daddy, akan kembali ke rumah sakit." ucap Lemos sambil menahan amarahnya).
Tut Tut Tut Tut
Sambungan komunikasi langsung diputuskan secara sepihak kemudian Soraya mencoba menghubungi Katarina dan Katarina mengatakan kalau mereka sebentar lagi sampai.
Di tempat yang sama hanya berbeda ruangan, Steven membuka paksa kamar perawatan di mana Julia sedang di rawat membuat Jimmy, Jessica, Anton dan Julia menatap ke arah pintu.
"Ada apa Steven? Kenapa wajahmu seperti menahan amarah?" tanya Jimmy yang melihat wajah Steven sangat menakutkan tapi Jimmy sama sekali tidak takut.
"Tadi ada dokter yang menyuntikkan sesuatu ke botol infus milik Leona dan ternyata dokter itu gadungan. Mommy Soraya memintaku agar aku dan Paman mencari dokter dan perawat itu." jawab Steven menjelaskan.
"Apa? Ayo kita pergi." ucap Lemos sambil menahan amarahnya sambil turun dari kursi dan berjalan ke arah Steven.
"Kak Anton, tolong bantu Kak Steven untuk menemukan dokter gadungan itu." mohon Julia.
"Benar kata Julia, biar Mommy yang menjaga Julia." ucap Jessica.
"Baik Mom," jawab Anton patuh.
Lemos, Steven dan Anton keluar dari ruang perawatan untuk mencari dokter kandungan.
"Kita lebih baik mencari di parkiran mobil." usul Steven.
"Lebih baik kamu dan Anton ke parkiran mobil sedangkan Paman pergi ke ruang cctv agar kita mengetahui kemana mereka." ucap Jimmy memberikan solusi.
"Solusi yang bagus Paman, kalau begitu Steven dan Anton ke parkiran mobil." ucap Steven sambil berjalan ke arah parkiran mobil.
Anton dan Steven pergi ke arah parkiran mobil sedangkan Jimmy ke arah ruangan cctv yang berada di rumah sakit. Di tempat yang berbeda tepatnya di dalam mobil di mana Lemos melajukan mobilnya ke arah rumah sakit membuat Daddy Nathan dan Mommy Maya menatap ke arah Lemos.
"Ada apa Lemos?" tanya Daddy Nathan sambil menatap mata Lemos yang tiba-tiba berubah berwarna merah lewat spion mobil karena Daddy Lemos duduk di kursi belakang pengemudi.
Daddy Nathan tidak mendengar ucapan Soraya karena Lemos menggunakan handset.
"Ada dokter gadungan yang memeriksa Leona, takutnya mereka melakukan sesuatu ke putriku." jawab Lemos.
"Apa? Siapa yang berani melakukan hal itu."ucap Daddy Nathan.
Mommy Maya yang mendengar ucapan Lemos mengambil ponselnya untuk menghubungi Mommy Maya dan sambungan pertama langsung di angkat.
Mommy Maya menceritakan apa yang tadi di dengarnya yang diceritakan oleh Lemos setelah selesai Mommy Maya menyimpan kembali ponselnya.
"Tadi Lemos mendengar suara kesakitan Leona, Lemos takut kejadian waktu Kak Jessica keracunan gara-gara dokter kandungan kini putriku mengalaminya." ucap Lemos sambil mencengkram kemudi dengan erat.
"Semoga saja Leona tidak apa-apa dan Katarina serta Alex datang tepat waktunya." ucap Mommy Maya penuh harap.
"Amin." jawab Daddy Nathan dan Lemos bersamaan.
Daddy Nathan, Mommy Maya dan Lemos sangat kuatir dengan keadaan Leona. Sedangkan di tempat yang berbeda tepatnya di ruangan Leona, Leona merasakan sesak di dadanya hingga Leona merintih kesakitan.
"Mommy, aku kesulitan bernafas." ucap Leona dengan wajah mulai pucat.
"Ambilkan oksigen, cepat!" perintah dokter.
"Baik Dok." jawab perawat tersebut.
Perawat itupun pergi meninggalkan ruang perawatan sedangkan Soraya menggenggam erat ke dua tangannya sambil menahan amarahnya terhadap orang yang mencelakai putrinya sekaligus sedih melihat putrinya tersiksa.
'Aku akan menyiksa dokter dan perawat yang telah berani membuat putriku kesakitan.
'Sayang, kamu harus kuat karena Mommy tidak sanggup kehilangan dirimu." ucap Soraya dalam hati dengan mata berkaca-kaca.
"Uhuk ... Uhuk ...Uhuk ..."
"Putri!" teriak Soraya.
tes tes tes tes
Putri mulai batuk-batuk sambil menutup mulutnya dengan menggunakan ke dua tangannya bersamaan darah hitam keluar dari sela-sela jari jemari milik Putri membuat Soraya berteriak bersamaan air matanya akhirnya keluar.
Ceklek
Tiba - tiba pintu ruang perawatan terbuka membuat Soraya menatap ke arah pintu dan melihat Steven berjalan ke arah Steven.
"Steven, Putri hiks ... hiks ..." ucap Soraya sambil terisak.
Steven menatap ke arah Putri dan matanya membulat sempurna membuat Steven berjalan ke arah Leona dengan mata berkaca-kaca.
"Sayang." panggil Steven.
"Sayang, tolong jaga Mommy dan Daddy." pinta Leona.
"I Love You." ucap Leona sambil tersenyum.
Setelah mengatakan hal itu Leona tidak sadarkan diri membuat Steven memeluk Putri sambil berteriak.
Grep
"Tidak! Kamu harus kuat Put, Kakak tidak sanggup kehilanganmu!" teriak Steven.
"Maaf Tuan dan Nyonya harap menunggu di luar." ucap dokter tersebut.
Steven melepaskan pelukannya kemudian ke dua tangannya mencengkram jubah dokter sambil menatapnya dengan tatapan tajam.
"Dari tadi kamu itu ngapain? Kenapa kekasih ku belum juga di tangani?" tanya Steven dengan tatapan membunuh.