NovelToon NovelToon
Archiles Heels

Archiles Heels

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Iblis / Romansa / Fantasi Wanita / Romansa Fantasi
Popularitas:11.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Shamrock

Nadine adalah seorang wartawan yang gigih dan nekat meskipun dia memiliki fisik yang lemah. Kenekatan itu membawanya untuk meliput sebuah kasus besar dan berbahaya yang naasnya keberadaan gadis itu dicium oleh para penjahat yang dia liput. Dalam keadaan terdesak, Nadine memutar otaknya agar tidak ketahuan, yaitu dengan cara mencium sosok lelaki yang tiba-tiba muncul di depannya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Raja Iblis yang tengah menjalankan misi di dunia manusia.

Nadine pikir pertemuannya akan berakhir setelah Elliot, si Raja Iblis pergi, namun takdir berkata lain Raja Iblis yang anti manusia itu terus mendekati Nadine. Pertemuan mereka seperti benang merah yang terhubung di antara benang-benang kusut, berkesinambungan dengan cara yang tidak biasa.

Apa yang dimiliki Nadine hingga sang Raja Iblis terus mendekatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shamrock, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB XXVII AYAH UNTUK ANAKNYA

Nadine terbangun di sebuah ruangan yang tak pernah dia masuki sebelumnya, pasti terjadi sesuatu yang membuat gadis itu tertidur. Namun, alih-alih mencoba mengingat apa yang terjadi dia memilih untuk mencari cara untuk kembali menemui Aileen, sayang yang ditemui bukanlah partner galaknya melainkan Dream yang tampak sedang menunggunya.

"Kau sudah bangun," sapa Dream padanya.

"Aileen?"

"Kenapa kau sangat mengkhawatirkannya padahal lihat keadaanmu--kau manusia yang tak akan mampu melawan makhluk immortal." Benar, tapi apa itu penting saat sahabatnya sedang dikurung.

"Apa itu penting saat keluargaku dalam keadaan bahaya?" Dream mengerti bagi manusia yang selalu diliputi oleh perasaan yang menggebu-gebu dan cinta akan melakukan hal-hal bodoh untuk orang yang dicintainya.

"Secara teknis, Aileen adalah keluargaku dia anakku bukan keluargamu."

Tawa kering Nadine terdengar begitu nyaring di ruangan kosong itu, sedikit banyak Dream menilai Nadine yang dianggap terlalu nekad dan gila. "Keluarga? Ayah? Ayah mana yang mengurung anaknya hanya karena sebuah aturan yang membunuh jiwa anaknya?" Napas Nadine memburu, letupan emosinya tampak tak stabil. Cahaya kemerahan kembali terlihat dari sana Dream menyimpulkan bahwa kemarahan dan emosi buruk Nadinelah yang memicu kekuatan iblis itu muncul.

"Aku tak pernah menghancurkan jiwa anakku. Apa yang harus dia lalui itu adalah takdir dari yang di atas. Sebuah keharusan yang harus dipenuhi setiap makhluknya."

"Oh ya? Apa kau tau seberapa banyak rasa bersalah yang Aileen rasakan hanya karena menjadi Nighmare? Rasa bersalah yang akhirnya menyakitinya setiap saat hingga membuatnya berpikir bahwa lebih baik dia tak ada. Apa kau pernah memikirkan perasaan anakmu sedikit saja?" Cahaya jingga kemerahan itu kembali berkobar.

"Kami bukan manusia. Kerajaan mimpi memiliki aturan dan apa yang ku lakukan pada Aileen adalah yang terbaik untuknya. Takdir dari Yang di Atas tak bisa diubah. Hukuman ini adalah kasih sayang yang bisa ku berikan padanya." Mata Nadine menyipit tajam ke arah Dream yang bersikap acuh seolah semua ucapan Nadine tak mengoyak nalurinya sebagai seorang ayah. Dalam hati Nadine mengasihani Aileen yang harus memiliki ayah seperti Dream, jika saja mereka para anak bisa memilih orang tuanya sendiri.

"Kau bukan ayah yang baik." Dream tak menyangkalnya, dia memang bukan ayah yang bisa seperti ayah lainnya yang harus mementingkan anaknya di atas segalanya.

"Aku tak pernah mendapat julukan sebagai ayah terbaik, tapi aku berani menjamin bahwa mereka--Aileen dan Ellian--kelak akan berterima kasih atas apa yang kulakukan." Tatapan dingin seorang Dream menusuk tulang seolah sang raja ingin memaksa Nadine berhenti dan Elliot yang baru sampai bisa melihat itu semua.

"KAU--" Napas Nadine yang tadi memburu diliputi emosi kini mulai melemah bersamaan dengan rasa pening yang menyerang tiba-tiba. Erangan lirih tanda kesakitan dari Nadine mendesak Elliot untuk mendekat pada Nadine yang terus memegangi kepalanya. Jendela hatinya kini mulai memerah dan berair menunjukkan seberapa banyak gadis itu bertingkah sok kuat melawan rasa sakitnya.

“Nadine.” Napas Elliot memburu, dadanya bergemuruh digerogoti rasa khawatir melihat Nadine yang menahan kesakitan.

“El,” lirihnya beriringan dengan tangan yang bergerak pelan mencoba meraih Elliot yang ada di depannya. Sayang, sebelum tangan kurusnya bisa menyentuh Elliot tubuhnya sudah limbung ke belakang, dia kalah melawan sang gravitasi.

Nadine cukup beruntung karena sebelum kepala ataupun punggung menghantam marmer putih milik Dream, Elliot menahannya. Sayang kesadaran mulai pergi menjauh darinya sebelum bibirnya sempat untuk mengatakan terima kasih pada Elliot.

Bayangan dirinya akan kehilangan Nadine terus beterbangan di lubang otaknya, untuk kali pertama Elliot merasakan ketakutan. Ketakutan itu semakin nyata tatkala kelopak ganda Nadine tak sanggup lagi terbuka.

“Nadine.”

“Nadine.” Elliot merapalkan nama Nadine seolah itu adalah sebuah mantra yang pas untuk membangunkan Nadine.

“Dia pingsan bukan mati.” Dream memberitahu seolah Elliot tak tahu bahwa Nadine hanya pingsan.

Elliot menegakkan kepalanya memberikan tatapan tajam pada Dream, lewat tatapan itu Dream mengartikan bawa Elliot mencoba menyalahkannya atas apa yang terjadi pada Nadine. “Aku berani bersumpah aku tak melakukan apa pun padanya, dia hanya terlalu banyak menggunakan kekuatan.”

Dream benar sementara Elliot terdiam terhantam fakta bahwa Nadine bukanlah manusia biasa sekalipun sejak awal dia sudah menduganya, tapi membayangkan Shamrock yang hilang selama 25 tahun kini berubah menjadi manusia sungguh tak masuk di akalnya. “Urusanmu hanya ingin menjemput manusia itu, ‘kan?” Elliot tak menjawab dia hanya mempererat pelukannya pada Nadine yang tak sadarkan diri.

“Kalian pulanglah.” Tentu Elliot memang berniat untuk membawa Nadine pulang, tapi sebelum dia pulang, dia harus memastikan satu hal. “Apa yang akan kau lakukan pada Aileen?”

“Aku yakin kita sudah sepakat untuk tak saling mencampuri urusan masing-masing.” Elliot mulai muak dengan isi perjanjian yang terus saja dibawa-bawa.

“Aku bertanya bukan untuk mencampuri urusanmu. Aku bahkan tak peduli kau membuang anakmu atau bahkan membunuhnya, tapi gadis ini pasti akan bertanya nasib temannya begitu dia bangun. Jadi, lebih baik kau beritahu aku apa yang akan kau lakukan karena jika aku tak punya jawaban untuknya aku yakin bukan hanya atap istanamu yang akan dia rusak.”

Hal yang dikatakan Elliot tak terdengar salah di telinga Dream yang bijak, dengan sikap keras kepala Nadine dan juga kekuatan yang dimiliki gadis itu mungkin ada kemungkinan akan ada kerusakan yang lebih parah dari itu semua. “Kau terdengar peduli dengan istanaku atau kau hanya mencoba membujukku?”

“Aku tak melakukan itu untuk keduanya. Aku mengatakan itu mewakilinya.”

“Kau memberikan kekuatanmu, bahkan sebagai iblis yang tak punya hati kau juga membantunya menyampaikan perasaannya padaku. Kau pasti sangat menyukainya, Elliot.” Elliot mencebik, fakta bahwa dia menyukai Nadine tak ada hubungannya dengan ini semua.

Elliot hampir saja memuntahkan vokal yang tajam, tapi dia urungkan begitu Dream melanjutkan ucapannya. “Aku akan tetap menghukum Aileen berdasarkan kesalahannya, tapi kau tahu Elliot? Aku adalah seorang ayah, jadi katakan pada kekasihmu bahwa hukumanku tak akan membuat putriku sengsara. Tak ada ayah di luar sana yang mau melihat anaknya menderita.” Elliot rasa itu jawaban yang pas untuk dia perdengarkan pada Nadine yang pasti akan bertanya tentang Aileen ketika kesadaran menyapannya nanti.

“Baiklah,” putus Elliot akhirnya. Tangannya kini sibuk membawa Nadine dalam gendongannya. Gadis itu terasa begitu ringan, sepertinya hal-hal yang dialami si keras kepala itu membuat berat badannya turun drastis.

“Elliot,” panggil Dream membuat Elliot berbalik ke arah raja mimpi yang kini juga menatapnya.

“Aku tak bermaksud ikut serta dalam masalahmu, tapi melihat kau terlalu sibuk mengurusi gadismu aku rasa aku harus mengingatkanmu.” Alis Elliot mengkerut naik ke atas mewakili keadaan oraknya yang menerka-nerka arah pembicaraan Dream.

“Sidang keputusan seluruh alam akan segera dilaksanakan dan kau tentu tahu bahwa itu nanti akan menentukan posisimu. Apa kau akan tetap menjadi raja, atau kau akan dilucuti dari tahta yang kau duduki atau yang paling parah kau akan dihukum.”

“Aku tahu.” Jawaban Elliot terkesan sangat percaya diri bahwa tahta itu akan lepas dari dirinya, tapi sesuangguhnya sampai sekarang dia masih tak tahu apa yang harus dia lakukan untuk membuat title raja masih bisa dia sandang.

“Baguslah. Ku harap kau tak mengecewakan ayahmu, Lucifer.”

...****************...

1
Shamrock
terimakasih sudah mampirr
seruu uyy
owowowowowo
Aish
lanjut Thor,,,semangat upnya🤩🤩
Shamrock: thaknyouu 😁😁😁😁
total 1 replies
Aish
aku suka karyamu thor
Aish
lanjut Thor,,tambah seru
Aish
semangat Thor💪💪,,,sy suka karyamu Thor🌹🌹
Sindi Koldiyah
agak kesel si ya sama nadine, ke apa* tuh engga dipikirin dulu secara matang.
Shamrock: Wkwkw iya, dia emang agak impulsif jadi orang
total 1 replies
Erlina
menarik cerita nya
Shamrock: terimakasih
total 1 replies
Yunita Widiastuti
smangat kakak
Shamrock: wahhh terimakasihh
total 1 replies
Nijino Yume
ayo lanjutkan Athor ✨✨🐈
Shamrock: siaappp terimakasih
total 1 replies
Angeldust
Next semangat, kakk! ceritanya menarik 🔥
Shamrock: terimakasih banyakkk, mampur terus yaaa 🪸
total 1 replies
DegiFiras
Wihh, ditunggu lanjutan critanya 🙏🙏 jangan lama2 bikin penasarannya 🙏🙏
DegiFiras
Mulai memanas 👍👍
DegiFiras
Wihh mantap mantap buat kelanjutan ceritanya ..
DegiFiras
Semangat terus dalam melanjutkan ceritanya 💪💪
DegiFiras
Wih wih wih
DegiFiras
Nice, untuk lanjutan caranya
DegiFiras
"Karna aku lebih suka memelukmu dari pada miminjamkanmu jasku" ucapan yang romantis banget
DegiFiras
Nice, untuk kelanjutannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!