Bagaimana jadinya jika dijodohkan dengan ketua osis yang selalu menghukum mu disekolah? Konyol? Yah tentu saja!
Itulah yang terjadi dengan gadis bernama Bianca Dealova Christabel. Dijodohkan dengan ketos yang minim ekspresi. Hemat dalam mengeluarkan kalimat. Agam Ezekiel Arbyshaka, the king disekolah SMA Garuda.
Namun, siapa sangka dibalik cover kalem, dingin nan bijaksana, tersimpan sebuah sisi liar yang baru diketahui oleh Bianca setelah menikah dengannya.
"Dasar ketos nyebelin!"
"Shit! I'm addicted to that girl's lips."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rsawty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Parkiran
Saat hendak memasuki kelas, tangan Zella dicegat oleh Sherly dan ditariknya menuju ujung lorong yang cukup sepi. Dikarenakan memang jam mata pelajaran, jadi memang di lorong kelas ini tak ada murid yang berlalu lalang.
"Kenapa lagi Sher?"
"Hapus foto itu!!"
Zella menunduk, kedua tangannya saling bertaut takut. "K-kenapa? kamu takut aku sebarin, terus kamu bakalan dicap sebagai ******?"
"Berani-beraninya ya lo sebut gue ******!"
Wajah Zella terangkat dan membenarkan letak kacamatanya. "M-memang benarkan?" tanyanya mencoba memberanikan diri.
Muka Sherly memerah dipenuhi amarah. "Gue gak seperti itu!"
"Tapi a-aku lihat kamu sama om-om kemarin."
"Shut up damnit!" Terlampau emosi, Sherly mencengkram dagu Zella dan hendak mendaratkan tamparan dipipi Zella. Namun, sebelum tamparan itu mendarat, Zella sudah terlebih dahulu menjatuhkan diri seperti telah disakiti oleh Sherly.
Padahal Sherly belum melakukan apa-apa. "Lo--"
"Sherly!" tegur salah satu siswi yang baru saja muncul. Dirinya tadi baru dari toilet dan hendak ke kelas. Akan tetapi ia melihat kejadian yang tak mengenakkan. "Lo apain Zella?!" lantas segera membantu Zella untuk berdiri.
Kepala Zella tertunduk, kedua tangannya meremas roknya. "Gak papa Nis, tadi dia dorong aku, tapi aku gak papa kok."
Mata Sherly membulat mendengar penuturan gadis itu, padahal tadi ia belum melakukan apa-apa.
"Sher! gue tahu lo pinter dan menjadi kebanggaan guru-guru disekolah ini tapi itu gak menjadi alasan lo supaya seenaknya menindas orang lain!" cerca siswi yang bernama Nisa.
Tangan Zella mengusap air matanya yang menetes lalu memegangi lengan Nisa. "Udah, gue gak papa kok Nis."
Nisa menatap tajam Sherly yang saat ini terdiam tak mampu mengatakan sepatah katapun untuk membalas perkataan Nisa barusan. "Gue nyesel pernah temenan sama lo Sher sumpah!"
Dia kemudian menarik tangan Zella berlalu dari sana. "Udah Zel, gak usah nangis cuma karena orang seperti itu."
Sherly menatap nanar punggung kedua orang itu. "Kalian gak tahu apa-apa tentang hidup gue.." lirihnya.
...***...
Saat ini Bianca dan Agam berjalan beriringan dikoridor kelas dengan posisi Bianca memegangi ujung seragam lelaki itu. Dia seperti seorang anak yang takut ditinggalkan sendirian oleh Ayahnya.
Agam menghela napas dan menghentikan langkah. Bianca yang berada dibelakangnya otomatis menabrak punggung tegapnya. "Ih keras banget sih!" tangannya menggeplak punggung tersebut.
"Lo, jalan duluan."
"Gak mau!" Bianca mengerucutkan bibir. Mungkin lantaran siklus datang bulannya, bawaannya pengen marah-marah, ngambek dan ingin dimanja. Intinya ya begitulah. Lelaki itu menarik tangan Bianca dan ia posisikan disampingnya. "Jalan disamping gue aja."
"Gak mau," gadis itu kembali mundur memegangi ujung seragam Agam.
Lagi lagi hembusan napas yang seakan mencoba sabar dengan Bianca itu terdengar. Lantaran tak ingin membuat gadis ini yang tengah senggol bacok ini mengeluarkan tanduknya, terpaksa ia harus mengalah. Keduanya kembali melanjutkan jalan menuju toilet beberapa menit.
"Masuk sana." Perintah Agam saat sudah sampai didepan toilet sambil menyerahkan kantong kresek yang ditentengnya.
Bianca menyautnya dan sedikit melirik kedalam toilet. Ia kembali menoleh pada Agam dengan raut memelas. "Temenin."
"Gila! disangka orang nanti gue ngapa-ngapain lo lagi!" cetus Agam kembali mode semula.
Bianca menghentak-hentakkan kesal kakinya dilantai. "Ih kok jadi galak lagi sih!"
Bola mata Agam berputar tanda ia mulai jengah. "Gak mau masuk? gue tinggal nih."
"Ish iya-iya!" berengutnya kemudian masuk kedalam toilet.
Agam memasukkan kedua tangannya didalam saku celana dan menyandarkan punggungnya didinding. Tatapannya tak sengaja teralih kearah dua murid yang terlihat sedang bertengkar di ujung koridor. Entah apa permasalahannya, selama itu tak mempengaruhi ketertiban sekolah, Agam tak peduli.
Selang lima menit, Bianca muncul dari balik pintu utama toilet. Dia menyembulkan kepalanya dari sana. "Pshh, pshh."
Agam menoleh dengan raut datar. "Apa?"
Gadis itu cengengesan lalu keluar dari balik pintu. "Kakak liat apaan?" tanyanya mengikuti arah pandangan Agam barusan. Akan tetapi murid yang bertengkar tadi sudah bubar. Tersisa seorang lagi yang sedang menatap punggung dua siswi yang sudah berlalu.
Sebelah telapak tangan Agam mendarat dikedua matanya menutupi penglihatannya. "Udah ayok, gue anter ke kelas."
Bianca melepas tangan lelaki itu dari matanya. "Tau ah! gak pengen masuk kelas!."
"Jangan bandel yaa!" Agam meraih tangan Bianca.
"Ayok, gue anter ke kelas." Keduanya berjalan dikoridor dengan Agam menggenggam tangan Bianca.
Gadis itu diam-diam melirik Agam. Dia merasa bingung dengan lelaki ini, kadang bae kadang dingin, datar, galak dan batu, itulah yang bisa mendeskripsikan sikapnya. Bisa dibilang seperti bunglon. Hanya saja perbedaannya, bunglon berubah-ubah warna sedangkan Agam berubah-ubah sikap ataupun sifat.
Tatapan Bianca turun kebawah, dimana tangannya digenggam oleh tangan Agam. Dia baru sadar jika tangan seorang ketos nyebelin ini sebesar dan sehangat ini. Dia pun entah mengapa tak bisa melepas genggaman ini, terasa nyaman dan hangat. Tak bisa dipungkiri bahwa hati Bianca sedikit tergerak dengan perlakuan Agam, akan tetapi semuanya ditepis oleh akal sehatnya.
"Sana masuk." titah Agam melepas tautan tangan mereka. Saat ini mereka sudah berada didepan kelas X MIPA 7.
Bianca mengusap tengkuk. "Anu kak, almamaternya nya gue pinjem dulu ya, ntar pulang baru gue kembaliin"
Lelaki itu mengangguk singkat.
...***...
Di jam pulang, Bianca berjalan menuju parkiran dengan Tasya disampingnya. "Gini ya Bi, kalo misalnya lo sampe jadian sama kak Agam, kita ngadain acara syukuran!"
Bianca memutar bola mata malas mendengarnya. "Jadian apaan! Gue punya cowok!"
"Aelah, apa bedanya sama jomblo! dia aja lebih prioritasin cewek Laen!"
"Cuma temannya dari kecil Sya!, gak lebih"
Tasya mencebikkan bibir. "Afhh iya dekk?!"
"Serah lu dah."
Sementara itu, diparkiran. Nathan menyikut pelan lengan Agam saat ia melihat kedua gadis itu sedang berjalan menuju ketempat ini. "Crush lo tuh." dia menggerakkan alis dan dagu menunjuknya.
"Yang mana? si Bia atau yang mulutnya gak berhenti komat-kamit itu?" Camella ikut kepo. Yang dimaksudnya mulut tak berhenti berkomat-kamit itu adalah Tasya. Memang sedari tadi gadis itu tak berhenti mengoceh.
"Si Bia kali, memang gue liat akhir-akhir ini Agam curi-curi pandang ke dia." Bella ikut menimpali membuat Camella heboh seketika. "Omo! demi apa?! kok gue gak sadar sih Bell?!"
Bella menoyor kepala Camella. "Makanya, jangan cuma Nathan aja yang diperhatiin."
"Ishh siapa yang merhatiin dia sih!" Camella melirik Nathan yang saat ini mengedipkan sebelah mata genit kepadanya. Melihat itu, ia memasang ekspresi ingin muntah. "Gak bangett ihh!"
Tak seperti mereka, Agam hanya diam dengan muka datarnya. Saat ini posisinya sedang duduk menyamping di motornya. Tatapannya mengarah pada Bianca yang sudah makin mendekat dikawasan parkiran.
"Kak Nathan ganteng!" sapa Tasya saat sudah sampai tepat di parkiran.
"Iya cantik."
Bella menyenggol lengan Camella dan membisikkan sesuatu. "Sasimo." ucapan itu dia tujukan untuk Nathan
Camella mengangkat bahu acuh tak acuh. "Bodo amat."
Tangan Tasya melingkar di lengan Nathan. "Apalagi kalo bawa aku beli jajanan, tambah ganteng 100 kali lipat deh."
Nathan memutar bola matanya, pantes saja ini anak memuji-mujinya. Padahal, memang ada maunya. "Lagi bokek!"
"Ayolahh Kak.." Tasya memasang ekspresi imut untuk merayunya. Nathan menghela napas panjanv. "Bisa aja lo rayunya!" Dia mengalihkan pandangannya pada Camella. "Mell masih lama gak kakak lo sampe?"
Camella melihat jam tangan yang melingkar di lengannya. "Gak tau, tadi di chat katanya sudah di perjalanan."
Memang alasan empat anggota osis itu belum pulang dan masih nangkring ditempat ini lantaran menunggu Kakak Camella yang akan menjemputnya. Tentu mereka sebagai teman akan menemani Camella untuk menunggu.
Nathan mengangguk-anggukkan kepala. "Yaudah, kalo gitu gue duluan ya Mell, mau bawa nih anak, jajan." tunjuknya kepada Tasya yang masih memeluk lengannya.
Camella melirik tak suka ke pada Tasya.
Tasya yang di lemparkan lirik kan seperti itu merasa heran. Padahal dirinya tak membuat salah apa-apa. Tetapi kenapa perempuan itu meliriknya dengan tatapan sinis seperti itu?
Nathan lantas memasangkan helmnya dikepala Tasya.
Di waktu yang sama, Bianca hendak akan berjalan kearah motornya, tapi Agam yang melihatnya segera menahannya dengan menarik tas gadis itu untuk mendekat padanya. Posisinya motornya berada di barisan kedua dari motor Agam saat ini.
Bianca membalikkan badan kearah Agam "Kenapa Kak?" raut wajahnya membentuk garisan menandakan ia bingung.
Tatapan Agam turun dengan kedua alis terangkat. "Almamater gue."
Gadis itu mengusap tengkuk kikuk. "Hmm boleh gue bawa almamaternya Kak? soalnya celana gue tembus."
"Gak lo bersihin tadi di toilet?" tanyanya mendapat gelengan dari sang empu.
"Yaudah." Ucapnya singkat dan terdengar ketus, lelaki itu meraih sebelah tangan Bianca.
Hal itu membuat gadis itu sedikit merasa risih, pasalnya ini ditempat umum. Takut-takut jika kelihatan orang bisa-bisa salah paham.
"Hmm itu tangannya, lepasin Kak." Untung genggaman mereka saat ini tertutupi oleh tubuh Bianca juga motor disebelah mereka. Dari posisi lain pun tak ada orang, dikarenakan kebanyakan murid sudah pulang.
"Bentar Bi." Bukannya melepasnya, Agam malah makin memperdalam genggamannya dengan menyelipkan jemari kekarnya disela jemari tangan Bianca. Sebelah tangannya terangkat menyelipkan rambut Bianca yang menjuntai kebelakang telinga dan menatap wajah gadis itu intens.
"Cantik."
"Woi Bia! gue duluan nih!" pamit Tasya yang saat ini sudah naik di jok motor, dibelakang Nathan. Bianca menolehkan kepala dan menganggukkan kepala sebagai tanggapan.
"Gam, duluan!" Kali ini suara Nathan tertuju untuk Agam dan dibalas dengan anggukkan sekilas dari sang empuh.
"Ehem, nyaman banget keknya yang pegangan tangan." celetuk Bella yang entah sejak kapan sudah berada di motornya yang berada tepat disebelah kanan motor Agam.
Bianca sedikit terperanjat dan secepat kilat melepas genggaman itu. Dia kalang kabut seperti terciduk sedang melakukan hal yang tidak-tidak dengan lelaki itu. "K-kakak aku duluan." Dia berjalan cepat kearah motornya berada.
Bella menggeleng-geleng. "Agam.. Agam.. lo, diem-diem menghanyutkan ya."
"Kakak Mella udah sampe?" Agam mengalihkan topik.
"Bentar lagi kek nya." Bella melirik kearah Camella yang saat ini sudah duduk di salah satu bangku dihalaman sekolah dengan muka ditekuk.
Disaat yang sama, motor Nathan melaju pelan melewati gerbang dan berpapasan dengan mobil mewah berwarna putih memasuki gerbang.
Camella berdiri dari duduknya saat melihat mobil itu berhenti dikawasan sekolah. Seorang pria turun dari dalam dengan setelan kemeja formal.
"Kak Darren!"
...•TBC•...
...***...
Tapi cuma itu yang bisa ngilangin rasa gabut kalo ngga pas lagi sendirian pasti gitu biar ngga terlalu bosen dan bingung mau ngapain jadi ya gitu 😂😭
bagus awal akhir kok jd
1-BIANCA YG SUDAH BERSUAMI,TAPI MASIH BERHUBUNGAN DENGAN LELAKI LAIN, APAPUN ALASANNYA TETAP AJA GAK DIBENARKAN..
2-AGAM SEBAGAI SUAMI TAPI KAYAK PECUNDANG,DAN GAK TEGAS, BISA2 MEMBIARKAN ISTERI NYA DIDEKATIN LELAKI LAIN, DENGAN ALASAN TERLALU BUCIN KE BIA..Ckkk jadi kecewa deh,maaf ya thor..🙏🙏