Siapa yang kamu pilih? Daniel seorang kristiani berwajah tampan, ramah dan baik hati kepada semua orang. Terlahir dari keluarga kaya tapi tetap rendah hati. Atau Arfan laki-laki shalih, ketua Rohis di kampus, memiliki wajah teduh dan tampan sehingga banyak dikagumi oleh wanita-wanita di kampusnya.
Aku memilihmu tapi tidak tahu siapa yang Allah pilihkan untukku. Aku tidak mau terlalu cepat memilih karena kelabilan pikiran ini. Maukah kau menunggu selagi aku memantapkan hati?
-Alisha Sabiya Nadifah
Naskah ini pertama kali dibuat pada tanggal 5 Maret 2019
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirna Samsiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Tujuh
Daniel sengaja menginap di rumah Aisyah semalam untuk menghindari acara kebaktian di gereja yang biasa dilakukannya setiap kali natal. Daniel menginap di rumah Kakak nya tanpa sepengetahuan orangtuanya, jika ia memberitahu mereka tentu saja Daniel tidak akan mendapat izin.
"Ayo pulang." Aisyah datang dari ruang tengah menghampiri Adik nya. Daniel melirik arloji di pergelangan tangan kiri nya, pukul 1 siang.
"Mas Umar mana?" Tanya Daniel pada Aisyah, mereka hendak pergi ke rumah Mama Dan Papa nya untuk berkumpul dengan keluarga besar. Walaupun Aisyah sudah memeluk islam, setiap natal ia tetap pergi ke rumah orangtuanya untuk menjaga hubungan kekeluargaan.
"Masih di masjid, ada kajian katanya." Jawab Aisyah yang sedang mengenakan sepatu. "Jemput gih, Kakak tunggu disini."
Daniel menurut, ia masuk ke mobilnya untuk menjemput Umar di masjid dekat toko buku Arfan, tempat biasa Umar mengisi pengajian. Daniel menginjak gas perlahan, menjalankan mobil dengan kecepatan rendah di antara kendaraan lain.
Mata Daniel menangkap sosok Ica tengah berjalan di trotoar sambil membawa bungkusan di tangannya. Daniel meminggirkan mobilnya sambil menekan klakson.
"Dek Ica!" Kepala Daniel melongok lewat jendela.
"Kak Daniel." Ica tersenyum manis. "Mau kemana?"
"Mau ke masjid jemput Mas Umar, kamu dari mana?" Tanya Daniel ceria, rasanya ia ingin melompat-lompat saking senangnya bertemu Ica.
"Dari warung, beli makan siang, Kak Daniel mau?" Ica menunjukkan kantong plastik berisi bungkusan makanan.
"Emang kamu beli lebih?" Daniel melihat kantong plastik di tangan Ica.
"Mau nggak?" Tawar Ica sekali lagi. Sepertinya Daniel menginginkan makanan tersebut walaupun belum tahu isinya. Ica membeli tiga porsi nasi tempong dari warung dekat tempat kos nya. Dianis memang sering makan dengan porsi dobel. Ica akan memberikan nasi miliknya pada Daniel, ia bisa memasak mie instan sesampainya di tempat kos. Lagi pula selama ini Daniel sering memberi Ica makanan.
"Mau!" Jawab Daniel cepat sambil tersenyum lebar.
Ica tertawa melihat eksprei Daniel seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan es krim kesukaannya. Ica melangkah turun dari trotoar sembari menyodorkan salah satu kantong plastik pada Daniel yang juga mengulurkan tangan.
"Makasih ya." Ujar Daniel masih dengan senyum merekah di wajahnya.
"Kak Daniel udah terlalu sering ngasih aku makanan jadi sekarang gantian." Ica kembali naik ke atas trotoar setelah Daniel mengambil alih makannya. "Hati-hati di jalan."
"Iya." Daniel mengangguk. "Aku jalan ya, Dek Ica juga hati-hati."
Daniel menutup jendela mobilnya, menekan klakson sekali sebelum mulai menjalankan mobilnya. Daniel masih sempat melihat Ica dari kaca spion, ia tak bisa berhenti tersenyum karena telah bertemu Ica secara kebetulan.
Masjid Al-Fatah dipenuhi oleh orang-orang yang sedang mengikuti kajian rutin tiap minggu bersama Umar. Daniel turun dari mobilnya sambil membawa kantong plastik pemberian Ica. Entah kenapa Daniel tidak rela meninggalkannya di dalam mobil.
Daniel berdiri di atas teras, sedikit melihat ke dalam masjid yang masih penuh oleh para jamaah laki-laki. Daniel memutuskan untuk duduk disana sambil menunggu Umar selesai.
"Apa boleh makan disini?" Daniel bertanya pada dirinya sendiri. Ia membuka styrofoam yang membungkus makanan. Mata Daniel membelalak ketika melihat ternyata Ica memberinya nasi tempong, ia lupa kapan terakhir kali makan salah satu makanan khas Banyuwangi ini.
Tanpa menunggu lama, Daniel melahap makanan tersebut seperti baru saja menemukan sebongkah emas saking girangnya.
"Kasih sayang Allah pada hambanya begitu banyak, namun terkadang sebagai manusia kita tidak menyadarinya."
Indra pendengaran Daniel menangkap suara Umar yang terdengar melalui pengeras suara.
Tiba-tiba Daniel tersedak, makanan nya masuk ke tenggorokan bukannya kerongkongan. Daniel kebingungan, ia lupa tidak membawa air padahal ada air di dalam mobilnya.
"Minum dek!"
Daniel mendongak. Seorang lelaki dengan baju koko putih dan sarung menyodorkan segelas air mineral pada Daniel.
"Makasih Pak." Ucap Daniel, ia segera meminum air tersebut untuk meredakan batuknya akibat tersedak.
"Baca bismillah makanya kalau mau makan." Ujar lelaki itu sebelum masuk ke dalam masjid.
Daniel terdiam. Ia meletakkan air mineral yang tersisa setengah bagian.
"Hal-hal kecil yang kadang kita abaikan padahal itu adalah bukti kebesaran Allah dalam mengurus Makhluk-Nya, semuanya sudah diatur oleh Allah, semata-mata demi kita."
Air mineral yang menyelamatkan Daniel dari rasa tersedak. Pertemuan dengan Ica yang membuat Daniel berbahagia. Semuanya sudah diatur Allah.
Daniel menghentikan makannya. Perlahan hati Daniel membenarkan ucapan Umar. Daniel menekan dadanya yang bergemuruh.
Kemana aku selama ini? Kasih sayang Allah begitu besar namun aku masih ragu mengucap syahadat.
Daniel memejamkan mata bersamaan dengan kristal bening yang membasahi pipinya. Kini ia merasakan pelukan kasih sayang Allah, ia merasa ada yang mendekap tubuhnya yang lemah itu, ia nyaman seperti ini.
Berikan aku kekuatan untuk bersyahadat..
"Daniel.."
Daniel membuka mata sambil mengusap pipinya yang basah oleh air mata saat seseorang menepuk bahunya dari belakang. Daniel memutar kepala dan melihat Umar telah berdiri di belakangnya.
"Ayo pulang." Ujar Umar.
Daniel segera membereskan makanan dan air nya. Ia bangkit dari posisi duduk. Entah kenapa kakinya berat untuk meninggalkan masjid ini. Daniel merasa telah menemukan jawaban dari segala keresahannya selama ini.
***
Keluarga besar Alindra berkumpul di sebuah ruang keluarga. Mereka tampak bahagia, momen berkumpul dengan anggota keluarga di hari natal adalah hal yang berharga. Berbagai hidangan khas hari natal disajikan di atas meja. Semuanya tersenyum ceria kecuali Daniel.
Aisyah dan Umar yang juga berada disana mengerti pada perasaan Daniel. Butuh keberanian untuk mengatakan keputusan Daniel tersebut. Dulu Aisyah juga begitu, namun Allah selalu memberinya kekuatan hingga akhirnya orangtua Aisyah menerima keputusan besar itu.
"Atalie belum hamil?" Tanya seorang perempuan yang tampak lebih muda dari Renata.
"Belum Tante." Jawab Aisyah, ia sudah terlalu sering mendapat pertanyaan seperti itu. Namun bukannya terbiasa, ia masih merasakan sakit hati yang sama setiap kali mendapat pertanyaan tersebut.
"Kami minta doanya agar segera diberi keturunan." Sahut Umar disertai senyum tipis di wajahnya. Tangan Umar juga mengusap paha istrinya agar tetap tenang.
Umar tahu istrinya selalu menangis di sepertiga malam saat bermunajat pada Allah. Aisyah begitu menginginkan seorang anak namun Allah belum memberi mereka kepercayaan. Tidak ada sedikitpun prasangka buruk, mereka percaya bahwa Allah akan memberikan keturunan itu nanti tepat pada waktunya.
Daniel banyak diam dari tadi. Tangannya dingin, ia ingin segera memberitahu orangtuanya tentang keputusan tersebut. Daniel tidak membutuhkan izin, ia hanya ingin mereka tahu keputusannya.
"Daniel sebentar lagi mau lanjut S2 atau kerja?" Roy, Adik Papa Daniel melihat ke arah Daniel yang dari melamun.
"Tentu saja kerja, biar dia benar-benar menggunakan ilmu kedokteran hewannya, akhirnya nanti juga dia akan mengelola salah satu perusahaan kita." Tukas Jaya menjawab pertanyaan Adik nya. "Dia bisa pilih Mall atau hotel." Tambahnya.
"Yah." Roy manggut-manggut. "Kalau bukan Daniel siapa lagi, dia satu-satu nya harapanmu."
Daniel tertegun mendengan ucapan Om nya, ia menelan saliva nya dengan susah payah. Daniel menjadi satu-satunya harapan bagi orangtuanya, itu membuat nya semakin ragu untuk memberitahu keputusannya memeluk islam.
Tiba-tiba ponsel Daniel berdering keras tanda ada telepon masuk. Daniel merogoh saku jeans nya, tertulis nama Dean di layar telepon.
"Halo, kenapa De?" Daniel beranjak dari duduknya berjalan keluar dari ruang keluarga agar bisa mendengar suara Deanna dengan jelas.
"Niel, Papa aku kritis." Suara Deanna terdengar gemetar di seberang sana bahkan sesekali terdengar gadis itu sesenggukan.
"Papa kamu kritis?" Ulang Daniel. "Ya udah aku kesana sekarang, kamu tenang dulu ya."
Deanna menutup telepon tak lama setelah Daniel menyelesaikan kalimatnya.
Daniel kembali ke ruang keluarga memberitahu bahwa ia akan pergi ke rumah sakit karena Papa Deanna sedang kritis. Rencana Daniel untuk memberitahu Papa dan Mama nya tentang keputusan besar itu ia urungkan. Sekarang Daniel harua menemui Deanna terlebih dahulu. Daniel tahu arti hari natal bagi Deanna, ia tidak ingin malam natal justru meninggalkan kenangan buruk bagi Deanna.
Emang icha nya mau sama Babang 🤭🤭
iya tidak maniss karna manis nya udah di Icha nyaa 🤭🤭 jadi tak apa kue nya Hambar asal orang nga Manisss 🤭🤭
bilang aja mau mintak 😅😅🙈🙈