Seorang wanita cantik yang bernama Hellen Keller bercita-cita menjadi seorang dokter namun cita-citanya harus punah karena kejadian yang ia alami saat usianya berumur 13 tahun ...
Hellen menjadi saksi mata pembunuhan di salah satu gedung tua ..
apakah kehidupan Hellen akan tenang ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka manga toon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lelah...
Menangis . itulah yang aku lakukan saat ini , rasa sakit dalam dadaku semakin membuat air mata ku terus terjatuh .
Aku menutup mataku menggunakan kedua telapak tangan ku yang terbuka , aku menangis dengan isakan yang semakin lama semakin pelan .
Setelah meninggalkan Thomas aku langsung berlari menuju kamar jaga milik mahasiswa magang seperti ku .
Ayah..
Ibu..
Aku semakin terisak saat gumaman bibirku tanpa sadar menyebutkan dua orang yang paling berharga untukku .
" Kau hanya Dokter bedah Ellen . tidak , lebih tepatnya calon Dokter bedah " ucap seseorang tepat di sisi kanan ku
Aku hanya mengabaikan suara itu dan memilih untuk menghentikan isak tangis memalukan yang aku keluar kan .
" Kenapa air mata ini tidak berhenti " ucapku dengan Isak tangis sambil mengelap sisa-sisa cairan pada kedua pipi ku hanya saja itu semua sia-sia , semakin aku ingin menghilangkan jejak air mata ku semakin deras pula air mata itu mengalir di kedua pipi ku .
" Aku mendengar pembicaraan kalian , pembicaraan mu dengan Dokter Charles . Aku tidak sengaja mendengarkan nya saat aku ingin memberikan laporan pasien padanya " ucapnya lagi
Aku menghentikan kegiatanku dan menatap orang yang berada di samping ku , orang itu adalah Gina teman magang ku .
" Benar yang di katakan oleh Dokter Charles , kau hanya Dokter bedah tidak lebih , kau bahkan belum mendapatkan predikat itu Hellen . untuk menyembuhkan seseorang dengan kelainan psikis harus mengumpulkan banyak team , termasuk psikiater . kau bukan Dokter yang dibutuhkan dalam proses penyembuhan pasien dengan kelainan mental seperti itu " jelas Gina panjang lebar
Gina yang semula menatap lurus ke arah depan kini menolehkan kepalanya kearah ku dan menatapku saat aku hendak menangapi ucapannya , Gina kembali menyelanya dan melanjutkan kembali ucapan nya .
" Kita memerlukan hasil scan otak pada pasien dan lagi mereka harus melewati serangkaian test lainnya Ell . Sekalipun kau seorang Dokter , kau tidak bisa seenaknya karna itu bukan area mu . Kau hanya calon Dokter bedah yang tidak bisa terlibat pada kasus seperti itu , aku berbicara seperti ini untuk membuka pikiran konyol mu itu . Tugas kita hanya mengoperasi , membelah dan menjahitnya kembali , hanya itu " Sambungnya datar seolah tengah memarahi ku
Aku kembali memejamkan mataku dan membuka nya saat di rasa diriku sudah mulai tenang seperti sebelumnya .
" Bukankah tugas seorang Dokter untuk menyembuhkan pasien ?? , Lalu apa alasanmu untuk menjadi Dokter Gina ?? " Tanyaku datar
" Gina , Aku memiliki impian untuk menyembuhkan semua orang yang berada disekitar ku , tidak perduli dia orang yang sangat aku benci sekalipun aku tetap ingin menyelamatkan hidup seseorang dengan kedua tanganku " Ucapku lagi
Beberapa saat hanya keheningan yang menyelimuti ruangan tersebut hingga akhirnya aku pun bangkit dari dudukku dan meninggalkan Gina yang hanya diam tak bersuara sama sekali .
Aku terus berjalan sampai akhirnya aku tiba di teras rumah sakit . kulihat langit-langit yang kini sudah mendung , dengan langkah pelan aku berjalan hingga aku benar-benar menjauh dari rumah sakit itu . aku pun kemudian berhenti di halte bus namun aku hanya duduk terdiam di kursi halte bus tersebut .
" Seberapa banyak kau mencampuri kehidupan ku , Thomas "
Pikiran itu tidak pernah menghilang dari kepalaku serasa terus terus berputar di dalam pikiran ku . Seharusnya aku bisa mengendalikan diriku tadi , seharusnya aku tidak mengatainya pembunuh , aku sama saja seperti hakim yang menghakimi terdakwanya pikirku .
Aku hanya terdiam menatapi jalanan yang dipenuhi sesak kendaraan yang berlalu lalang , aku sedikit teringat tentang kejadian masa lampau hingga tanpa sadar aku kembali meneteskan air mataku .
Flashback...
" Ayah , kenapa ada orang yang membunuh ?? " Tanyaku polos
Kala itu aku sedang menonton televisi yang menyiarkan kasus pembunuhan satu anggota keluarga penuh . Ayah yang sedang menonton pun menatapku lalu tersenyum lembut saat mendengar pertanyaan ku .
" Karena mereka sendirian " ucap Ayah menjawab pertanyaan ku
Tak berapa lama Ibu datang dengan cookies yang baru keluar dari oven dan segelas coklat panas , Ibu mengambil tempat di sebelah Ayah sementara aku duduk di bawah tepat kaki Ayahku .
" Kenapa begitu ?? , Bukankah itu hal yang kejam dan tak termaafkan ?? " Tanya ku lagi semakin penasaran dengan apa yang ada di kepalaku saat ini
" Semua hal di dunia ini bisa dimaafkan Hellen , Banyak hal dan alasan yang menyebabkan mereka membunuh . salah satunya lingkungan dan kesepian " ucap ayahku menjelaskan
" Apa yang sedang kalian bicarakan , hm " tanya ibuku yang mulai penasaran dengan obrolan kami
Aku pum menjawab pertanyaan Ibu dan langsung menanyakan sesuatu padanya.
" Ibu , kenapa ada orang yang membunuh ?? , Dan Kenapa mereka melakukan itu ?? " Tanyaku yang mengulangi ucapan ku pada ibu
Ibu pun tersenyum hangat sambil mengusap lembut kepalaku dengan sayang.
" Apapun yang menjadi alasan mereka , itu memang hal yang salah . Tapi pernahkan Hellen berfikir tentang Pelampiasan ? " Tanya nya sambil menatap ku namun aku menggeleng tanda aku tidak pernah berpikir seperti itu,
" Bagaimanapun mereka salah Ibu , bukankah mereka memang pantas di jatuhkan eksekusi mati " ucapku sambil mulai memakan Cookies yang dibuat Ibuku
" Tidak ada yang pantas untuk menentukan kehidupan seseorang dengan eksekusi mati . Mereka butuh kehidupan yang layak dan tentu saja mereka juga perlu di bimbing , Mereka –pembunuh- namun tidak akan suka di katai pembunuh oleh orang -orang terdekatnya " ucap Ibu panjang lebar
Aku menoleh kan kepalaku pada Ibu lalu menelan kunyahan pada mulutku dan menelan hingga habis .
" Kenapa begitu ? , bukankah Itu memang kenyataan bahwa dia seorang pembunuh ?? " Tanyaku bingung
" Karna itu akan menambah merusak mental mereka . Seorang pembunuh pun masih tetap ingin di akui , bukan di akui karena ulah nya . Mereka hanya ingin sembuh namun tidak tau bagaimana cara nya . Mereka memiliki sisi baik dan hal itu yang membuat mereka menangis dan hancur saat orang terdekat mengatainya sebagai pembunuh " Jelas Ibu padaku
Aku hanya terdiam seolah berpikir namun aku mengerti tentang itu semua .
" Jadi Hellen , apa kau sudah menentukan ingin menjadi apa , hm ? " Tanya ayah membuyarkan lamunanku
Pertanyaan ayah membuat aku merubah pikiran ku , saat pikiran yang semula berpusat pada penjelasan Ibu kini berpusat pada pertanyaan Ayah , aku berpikir sejenak lalu tersenyum cerah kearah kedua orang tua ku.
" Dokter , Aku ingin menjadi Dokter " ucap ku sambil tersenyum senang
" Wow , impian yang sangat luar bisa . Kenapa kau ingin menjadi dokter , nak ? " Tanya Ayah sembari mengusap pucuk kepalaku dengan sayang
" Karena Aku ingin , aku tidak memiliki alasan Ayah " ucapku polos hingga membuat mereka tertawa karena jawabanku .
Aku tersenyum senang saat melihat kedua orang yang paling berharga di kehidupanku tersenyum cerah .
" Jadilah Dokter yang hebat nak dan gunakan hatimu untuk menyembuhkan banyak orang . tidak peduli jika kau sangat membenci orang itu , sekalipun orang itu adalah seorang pembunuh mereka tetap manusia dan seorang manusia berhak untuk hidup bagaimanapun kondisi dan latar belakang mereka . Mengerti " jelas sang ayah dengan tatapan lembut
" Aku mengerti Ayah " ucapku paham
flashback off...
Aku menata kearah langit-langit yang kini kian mendung aku berusaha untuk tidak menangis kembali . Andai saja Ayah dan Ibu masih di sisiku aku akan memberikan jawaban pada Ibu kenapa aku ingin menjadi Dokter .
" Ayah , Bukankah aku sudah seperti seorang Dokter yang Ayah inginkan ? . Aku bahkan tidak membunuh orang yang membunuh kalian dan Rayhan , aku bahkan ingin menyembuhkan nya " ucapku dalam hati
" Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang ? " Sambung ku lirih sambil mengalihkan pandangan ku ke bawah seolah aku merasa sangat lelah dengan keadaan ku saat ini .
.
.