(Spin off dari The love story'of Single Parents)
Disarankan membaca novel The love stroy of single parents dulu, agar mengetahui bila Raka dan Jodhi itu tidak bisa terpisahkan.
🌺🌺🌺
Novel ini bergenre Romantis Dewasa, dengan membaca ini, pembaca berarti telah mengerti jika jalan cerita membutuhkan kebijaksanaan yang lebih.
***
Galuh, wanita itu merasa hidupnya hancur kala mengetahui jika suaminya telah menikahi wanita lain secara siri tanpa sepengetahuan dirinya.
Hingga takdir mempertemukan dirinya dengan duda yang notabene merupakan Ayah dari murid tempat dia mengajar. Bisakah mereka bersama? Saat rival masing-masing menghantam tak kenal kasihan?
***
Cintanya yang bertepuk sebelah tangan kepada Lintang membuat Jodhi memiliki sedikit dendam kepada teman semasa SMP- nya itu. Tak di nyana, di masa depan ia bertemu dengan Lintang yang menjadi wanita malam.
Kejadian fatal malam itu membuat Lintang harus mengandung benih dari Jodhi. Sialnya, Jodhi harus kehilangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Eng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Di batas keresahan
Bab 27. Di batas keresahan
.
.
.
...🌺🌺🌺...
Fajar menyembul diatas cerahnya horizon pagi itu. Menyulut cakrawala dengan cahaya benderang dari pemilik semesta.
Seperti biasa, para karyawan kembali ke kantor, para siswa kembali ke sekolah, dan para guru kembali mengajar. Menggeliat menapaki jalan takdir masing-masing.
Orang tua Adipati juga telah pulang kerumahnya. Meninggalkan dua pasangan penuh keironisan itu, untuk kembali meniti hidup yang penuh fatamorgana.
Galuh melirik suaminya dari tempatnya mencuci piring. Pria itu terlihat tekun mengetik sebuah pesan dengan wajah tersenyum. " Apa yang membuatmu sebahagia itu mas?"
Galuh mendadak merasa ada sesuatu yang tak nyaman menyelinap di relung hatinya. Suatu hal yang mungkin saja bisa di sebut dengan, keingintahuan.
" Makasih Luh kamu... udah mau bersikap wajar saat mama sama papa datang kemari!" Ucapnya sesaat sebelum Galuh keluar dari mobil Adipati. Terlihat bernada suara lembut.
Galuh tersenyum kecut, dengan hati yang sama mencelosnya. Pantas saja suaminya itu mau mengantarnya saat ini, ke sekolah tempatnya mengajar. Rupanya tak lain hanya karena sebagai bentuk ucapkan terima kasih belaka.
Kasihan sekali kamu Luh. Sepertinya kamu memang tidak bisa berharap terlalu banyak dari pernikahan ini.
" Aku berharap di hari-hari depan aku melakukannya bukan hanya untuk bersandiwara saja mas. Tapi aku ingin semua itu terjadi, karena memang sebuah sikap yang mustinya memang ada dalam orang yang berumah tangga. Sikap kewajaran dari sepasang suami istri!"
BRAK!!!
Adipati tersentak saat Galuh dengan kerasnya membanting pintu mobil itu.
Adi seketika tertegun demi mendengar ucapan menohok dari bibir istrinya. Ia tahu, makna dari ucapan yang terlontar dari Galuh itu sangat dalam. Wanita itu sebenarnya tidak kurang suatu apapun. Hanya saja keadaan mereka yang salah.
Adi membasuh mukanya kasar. Ia benar-benar seolah menemui jalan buntu saat ini. Ia mencintai Maya, dan dalam rahim wanita itu sudah tumbuh janin dari buah cinta mereka.
Tapi Galuh? Astaga. Adipati tak sadar jika ia sebenarnya telah menggali lubangnya sendiri. Lubang yang sewaktu-waktu bisa membuatnya terperosok dan menguburnya dalam-dalam.
Hanyut, dan tak akan pernah terselamatkan lagi.
Dari kejauhan, ia bisa melihat Galuh yang di peluk seorang bocah perempuan. Terlihat akrab sekali. Bahkan ia bisa melihat senyum yang merekah di wajah istrinya itu. Senyum yang tak pernah ia lihat saat istrinya itu telah berada di rumah.
Sejumput rasa aneh menggelayuti kalbunya. Adipati turut tersenyum saat melihat Galuh bercengkrama dengan bocah itu.
Galuh terlihat lepas sekali.
Getaran panjang dari benda persegi itu, membuatnya harus merelakan diri untuk memungkasi pemandangan langka yang terasa menentramkan itu. Sebuah panggilan dari Maya membuatnya buru-buru melajukan mobilnya.
Galuh menoleh saat mobil suaminya kini telah pergi, " Kenapa Mas Adi baru menjalankan mobilnya?" Gumamnya.
" Bu Guru habis dari mana? Kemaren Citra nyariin loh?" Tutur Citra sembari menggelayuti tangannya yang lentik.
Gadis kecil itu rupanya datang lebih pagi saat ini. Mungkin karena terlalu bersemangat.
" Lusa beliau sudah masuk!" Begitu kata Bu Bening.
Nining yang pagi itu mengantarkan Citra juga turut angkat bicara, " Nyariin Bu Galuh terus Bu. Saya sempat tanya ke Bu Bening, ternyata Ibu ada acara keluarga!" Ucap Nining sungkan.
Galuh tersenyum dengan hati senang, Gadis kecil itu benar-benar bisa menjadi pelipur laranya.
.
.
...🌺🌺🌺...
Apartment Madania Land
" Ada apa May?" Adi terlihat panik demi mendengar ucapan Maya yang terdengar mengkhawatirkan.
Maya mengulum senyumnya saat melihat Adipati benar-benar telah berwajah pias.
" Sini!" Maya tersenyum sambil menarik lengan suami sirinya itu masuk kedalam Membuat Adipati bingung.
" Aku seneng ngelihat kamu cemas begitu mas. Itu tandanya kamu bener- bener cinta dan sayang sama aku!" Maya menyenderkan kepalanya dengan manja ke lengan atas Adipati.
" Apa-apaan kamu May!!! "
"Kamu jangan begini dong!"
" Ini enggak lucu sama sekali!"
Adi sedikit marah. Pasalnya ia sampai meminta izin kepada Gresya jika ia sedikit terlambat, demi memastikan keadaan Maya.
Ya, wanita itu sengaja berbohong agar Adi mau menemuinya. Rasa rindu yang menggebu-gebu, jelas memantik sikap Maya untuk bertindak ngawur
" Kok kamu bentak aku sih mas?" Maya seketika merajuk. Ia hanya ingin di perhatikan oleh suaminya itu, apa salah?
" Kamu dua hari enggak kesini, datang-datang malah marahin aku!" Maya seketika memasang wajah bersungut-sungut. Ia tentu tak terima.
Adipati seketika menghembuskan nafasnya pasrah. Otaknya benar-benar tengah butuh penyegaran. Ia tak bermaksud menyakiti Maya dengan lisannya. Tapi sungguh, ia benar-benar merasa cemas kala mendengar Maya mengatakan jika wanita sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
" Maafin aku!" Suaranya kini berubah melembut. Pria itu menarik Maya dalam rengkuhannya.
Emosi kerap membuatnya lepas kendali.
" Galuh kayaknya mulai berontak May!" Ucapnya sembari mengeratkan pelukannya ke tubuh Maya.
Pria itu menyuguhkan wajah murung kembali, demi mengingat jika istri pertamanya itu sempat beberapa kali menyudutkannya dengan ucapan-ucapan yang menohok.
Maya tertegun, kini pandangannya nanar menatap kaki meja di depannya. Harusnya ia yang pertama. Bukan seperti ini. Tentu sebagai wanita, ia jelas tak mau menyakiti siapapun.
Tapi kenyataannya, ia sangat mencintai Adipati dan tidak mau sampai kehilangan pria itu.
.
.
.
.
To be continued...