"Awas adik...." refleks aku maraih tangan gadis kecil yang melintas di depanku.
Anya adalah gadis kecil yang berumur kurang lebih 4 tahun. Putri pengusaha sukses yang bernama Zaidan. Harus mengalami peristiwa yang tragis. Ibunda meninggal saat melindungi dirinya dari serangan pembunuh yang menginginkan dirinya.
Peristiwa ini meninggalkan trauma yang mendalam pada dirinya. Sehingga menimbulkan rasa takut yang berlebihan.
Selanjutnya, silahkan membaca novel ini.
Apabila ada nama atau tempat yang sama, maka itu ketidaksengajaan, karena ini hanya fiksi belaka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 : Surat Cinta
Suasana benar-benar cair ketika kami sudah di meja makan. Semua menikmati masakan Dinda yang sangat lezat. Tak henti-hentinya nyonya Hendiyana memuji setiap makanan yang masuk ke mulutnya. Dan dengan sabar Zaidan dan Aldo menunggu hingga nyonya Hendiyana selesai mencoba setiap makanan yang ada.
Setelah itu baru mereka berani untuk mengambil makanan yang dibuat oleh Dinda. Antara Anya, Zaidan, Aldo tak jarang berebutan. Sehingga membuat nyonya Hendiyana berang dan geleng-geleng kepala. Menyaksikan sikap mereka seperti kanak-kanak saja. Biar tidak terjadi keributan, akhirnya Dinda harus membagi semua dengan rata. Lalu membiarkan mereka menikmati bagiannya dan memakannya dengan lahap. Sementara itu dia dengan telaten menyuapi Anya.
Berada diantara mereka, Dinda merasakan menemukan keluarga. Yang selama ini diimpikannya.
"Ndduk, kamu tak makan."
"Sudah, Mam. Tadi pagi."
"Jaga kesehatanmu."
"Iya, Mam."
Kehangatan dan keterbukan yang sudah tercipta membuat Dinda merasa betah. Mereka menganggapnya seolah-olah dia sudah menjadi anggota keluarga seutuhnya. Padahal mereka baru kenal dirinya. Tak henti-hentinya Dinda mengucap syukur kepada yang kuasa, yang sudah mempertemukan dia dengan keluarga ini.
Selesai acara makan-makan. Mereka bertiga berpamitan kepada nyonya Hendiyana, untuk melanjutkan aktifitas masing-masing yang tertunda. Zaidan kembali ke kantornya, dengan setumpuk pekerjaan menunggu. Dan harus segera diselesaikan. Sedangkan Dinda juga harus mempersiapkan acara untuk nanti malam, karena keluarga Zaidan resmi akan melamarnya. Kalau Aldo masih juga dengan tugas utamanya. Mencari bukti-bukti . Mengungkap siapa pembunuh istri Zaidan, ibu yang telah melahirkan Anya. Sampai sekarang, masih berupa puzle-puzzle yang belum terhubungan.
Untuk sementara ini, dia hanya bisa mengiringi Zaidan siapa tahu dari sana akan ditemukannya bukti-bukti.
Zaidan dan Aldo menuju ke depan rumah.
Dinda mengikutinya dengan berjalan berlahan, diringi nyonya Hendiyana dan Anya.
"Ndduk, nanti kami mau ke rumahmu, tapi tak usah repot-repot. Karena kamu telah membawa banyak makanan ke sini."
"Tidak apa-apa , Mam. Dinda pamit dulu." kata Dinda sambil mencium tangan nyonya Hendiyana. Dan nyonya Hendiyana membalasnya dengan pelukan hangat dan menepuk bahu Dinda dengan lembut.
"Zaidan, tolong jaga Dinda. Antarkan sampai ke rumah dengan selamat."
"Aldo. Kamu sudah tahu tugasku kan?"
"Sudah nyonya."
"Bagus."
Melihat Dinda akan meninggalkan rumah, si kecil Anya berdiri dan menatap Dinda penuh harap untuk bisa ikut dengannya. Dia menghampiri Dinda dan bermanja.
"Aku boleh ikut ya?" Anya berkata penuh harap.
Dinda hanya membalas dengan pelukan dan kecupan di kedua pipinya. Merasa tak nyaman bila harus menjawabnya.
"Lalu yang jaga eyang putri siapa?" jawab Dinda.
"Ya ... Eyang jadi sendirian dong. Eyang balik pulang ah..." kata nyonya Hendiyana. Membuat Anya mengurungkan niatnya untuk ikut serta ke rumah Dinda.
Nyonya Hendiyana dan Anya mengantarkan Dinda hingga di teras rumah. Mereka memperhatikan Dinda hingga menaiki mobil Zaidan. Dan mobil berjalan ke luar gerbang meninggalkan kediaman Zaidan.
Pikiran Dinda berputar-putar. Tentang persiapan acara lamaran nanti malam. Banyak yang harus diselesaikan. Tentang siapakah yang akan mewakili keluarganya untuk acara lamaran itu. Mengingat mereka yatim piatu. Tak ada orang tua maupun keluarga yang bisa dihubungi. Karena mereka di kota ini, orang perantauan juga.
Sebenarnya mereka punya kelarga yang ada di pulau Kalimantan. Yang tak mungkin mereka bisa hadir di sini, dalam waktu sesingkat ini. Semoga Kak Alfath sudah menyelesaikan masalah ini.
Kalau masalah jamuan, insya Allah beres. walaupun mendadak, bahan-bahan sudah tersedia. Dan setelah makan bersama tadi, Dinda sudah menghubungi bi Sumi, Hani dan Silvi untuk membantu mempersiapkannya. Semoga semua baik-baik saja dan acara bisa berjalan lancar.
Walaupun sedikit was-was, Aldo melajukan kendaraannya dengan tenang. Berharap mereka tidak mengikutinya lagi.
Alhamdulillah ternyata mereka sudah tidak menampakkan diri. Sehingga perjalanan pulang ke rumah Dinda tidak setegang waktu menuju rumah Zaidan. Namun Aldo tidak menghilangkan kewaspadaannya. Demi melindungi keluarga Zaidan.
"Zai, sepertinya mobilmu sudah dikenali mereka. Bagaimana kalau diganti?" kata Aldo.
"Iya. Aku juga kepikiran. Kamu aturlah Al."
"Baiklah. Setelah antar Dinda."
"Tapi aku ke kantor saja. Ada satu persoalan yang harus segera ku selesaikan. Kamu bisa pergi sendiri tho?"
"Kalau kamu percaya..."
"Ya. Nanti kamu langsung balik ke kantorku setelah tukar mobil itu. Ada tugas untukmu."
"Oke bosss."
Kembali mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Aldo dengan kemudinya. Sedangkan Zaidan tampak serius menanggapi chatt yang masuk di hpnya. Tanpa mengabaikan Dinda yang duduk di kursi belakang.
"Adinda Humaira," kata Zaidan dengan sedikit ditekan hingga terdengar napas keluar.
Mendengar itu Dinda jadi sedikit bingung. Tak biasanya Zaidan memanggil dengan nama yang sempurna.
"Ya. Ada apa mas?"
"Biasanya setelah lamaran, mommy akan meminta pernikahan dilakukan secepatnya. Semoga kamu tak keberatan."
"Saya akan musyawarah dengan kakak dulu, Mas."
"Aku rasa kalau itu dibuat masalah, bisa. Tidak dibuat masalah, bisa. Tapi Mas jadi ingin tahu tentang mahar. Mas takut nanti apa yang mas berikan tidak sesuai dengan yang Dinda harapkan. Bolehkah mas tahu mahar apa yang engkau minta agar mas bisa memilikimu?"
Dinda hanya tersenyum mendengar kegelisahan Zaidan yang diungkapkan lewat kata-kata.
"Mas Zaidan ini aneh. Masak, saya yang harus menentukan."
"Tidak begitu. Kadang kala waktu ijab qobul ada keluarga yang langsung menodong mahar harus sekian-sekian. Lalu tak siap.
Mach ... kalau itu terjadi pada mas, keluarga mas bisa malu dong."
"Oh masalah itu, insya Allah keluargaku tidak begitu. Tapi karena sudah ngomong, boleh dong aku meminta sesuatu yang harus mas penuhi sebagai mahar."
"Ya, boleh," jawab Zaidan lemah sambil mengerutkan dahi, merasa terjebak dengan kata-katanya sendiri.
"Bolehkah aku mendengar lantunan surat cinta dari bibir mas." jawab Dinda serius.
"Maksudnya?"
"Iya. Surat cinta dari al Qur'an." jawab Dinda malu.
"Surat Ar Rohman?"
Dinda mengangguk dan tersenyum. Membuat Zaidan lemas seketika. Dipikir surat cinta seperti surat cinta anak-anak sekolah atau anak baru kuliah. Atau puisi-puisi romantis yang biasa dia buat.
"Mantap." seru Aldo sambil tersenyum bangga dan gembira. Sebenarnya Aldo sendiri kaget dan aneh mendengar permintaan Dinda. Biasa wanita tertarik dengan perhiasan, uang, kendaraan, rumah atau yang semacamnya. Ini kok hanya melantunkan ayat Alqur'an. Permintaan yang unik.
"Kenapa, Mas?"
"Tak apa. Mas pikir, membaca surat cinta atau puisi gitu. Malukan kalau orang dengar surat cinta mas." kata Zaidan menutupi keterjutannya.
Dinda tersenyum lebar sambil menahan tawa.
"Idiiih ... seperti anak abg saja macam gitu. Bagaimana, sanggup tidak?"
"Aku pikir-pikir dulu." jawab Zaidan sambil memainkan hpnya. Menghubungi seseorang.
"Silakan dipikir. Kalau nanti nggak bisa jangan salahkan aku, kalau mami protes."
"Ceeeile ... yang punya mami. Tadi sebelum ketemu mommy takutnya setengah mati, giliran sudah bertemu malah berlindung pada mommy."kata Zaidan membuat Dinda tersipu.
"Gimana. Mas sanggup?"kata Dinda.
"Insya Allah."
Surat Ar Rohman itu sudah pernah kuhafalkan, tapi itu dulu ketika masih kuliah. Tapi sudah lama tidak pernah aku murojaah lagi. Meski kumasih sering membacanya. Coba aku minta tolong Syarif untuk menyimak hafalananku. Bagaimanapun, ini adalah mahar yang mungkin sangat dinginkan oleh Dinda. Bila dapat memenuhinya alangkah bahagia hatinya. Pikir Zaidan ....
Tapi yang agak jadi masalah, dalam waktu singkat ini dapatkah aku menghafalkannya dengan baik dan tartil. Mengingat banyaknya pengulangan ayat yang sama. Sambungannya yang perlu ekstra hati-hati. Bisa-bisa 'mbulet'. Dan surat tersebut tak selesai-selesai terbaca.
q jd kepo sama ceritanya
semangat terus berkarya 👍
Mampir ya ke karya ku "Menikah Denganmu Adalah Takdirku"
Insyaa Allah Update setiap hari
terimakasih
salam kenal dari sajak cinta sufi dan araby
dan salam kenal dari aku dia rahasia kak 👋