Seorang duda beranak dua harus menikah demi kedua anaknya.
Arbaaz Raonar nama lelaki itu, pemilik perusahaan Arbaaz Studio. Perusahaan dengan lambang elang itu bergerak di bidang animasi.
Syazani Nur Albiru atau yang sering di panggil Biru karena memiliki mata yang kebiruan. Biru seorang pendongeng dengan teknik bayangan tangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon faiz bellzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Galak
Ting...
Kembali ponsel Biru mendapatkan pesan masuk.
"Waaw" pekil Biru dengan suara tertahan saat melihat isi pesannya. Membuat teman-temannya menoleh penasaran tapi tidak berani bertanya.
Raon yang melihat ekspresi Biru tersenyum tipis.
Ternyata sebuah pemberitahuan ada yang mengirim saldo ke rekeningnya dengan jumlah yang fantastis dari nama Arbaaz Raonar. Suaminya.
Ting...
Lagi-lagi ada pesan masuk 'itu uang jajan untuk mu, saya akan kirim setiap bulan. Jadi berhentilah bekerja!'
Biru langsung lemas saat membaca kalimat terakhir, Gia dan Nafisa yang penasaran tidak bisa di bendung lagi saat melihat raut wajah Biru berubah memilih bertanya.
"Kenapa?"
"Tidak mba". Biru tidak membalas pesan Raon, ia kembali menyendokan nasi kedalam mulut.
Biru sangat senang dan mencintai pekerjaannya, Biru merasa sangat sulit untuk berhenti bekerja mengingat perjuangan yang harus di lewati untuk meraih mimpi bekerja di perusahaan animasi.
Namun lebih dari itu, perkataan suami harus di turuti jika dalam hal kebaikan. Dari kejauhan Raon memperhatikan Biru.
🌻
'Saya tunggu di parkiran' isi pesan yang Raon kirim, tidak ada pilihan lain selain mengiyakan.
"Saya duluan ya teman-teman" pamit Biru pada teman satu timnya.
"Iya hati-hati" jawab mereka serentak.
"Pulang cepat pak?" Tanya Biru saat sudah di dalam mobil.
"Hem, tidak ada rapat penting" jawab Raon singkat.
Tidak ada balasan dari Biru membuat suasana menjadi hening.
"Kenapa tadi pesannya tidak di balas? Apa kamu tidak setuju?" Tanya Raon memecah keheningan.
Biru bingung harus menjawab apa.
Kerena tidak ada jawaban dari Biru Raon kembali bertanya "kenapa tidak di jawab? Apa yang saya kirim kurang?" Sentak Raon membuat Biru kaget.
"Bapak kenapa sih marah-marah terus? Kalau terus begini saya bisa jantungan pak"
Protes Biru dengan mata yang berkaca-kaca. Sekarang bukan hanya ginjal yang harus di jaga jantung juga!
Melihat Biru yang akan menangis membuat Raon merasa bersalah, ia juga bingung kenapa emosi terus sama Biru. Setelah menikah entah mengapa melihat Biru membuat Raon ingat dengan Jiya yang mengkhianatinya. Raon merasa takut jika Biru akan melakukan hal yang sama dan itu membuatnya meledak-ledak.
"Maaf, maafkan saya. Sudah jangan menangis lagi" ucap Raon melembutkan suara sambil menepikan mobil.
"Saya tidak suka di bentak pak, jika saya membuat salah tolong di bicarakan baik-baik. Saya bingung dengan sikap bapak" ujar Biru mengungkapkan isi hatinya.
"Iya..iya maaf saya salah"
Biru mengangguk.
"Kita lanjutkan pulang ya"
lagi-lagi Biru hanya mengangguk.
Raon merutuki dirinya yang begitu lemah jika melihat mata indah Biru mengeluarkan air mata. Tidak ada lagi percakapan sampai mobil terparkir di garasi.
"Mommy" panggil Juri sambil berlari, Biru berjongkok merentangkan tangan bersiap menyambut Juri "hap" ucap Biru saat Juri sudah dalam pelukannya.
"Mommy Juli kangen" adu Juri saat Biru menggendongnya.
"Baru juga beberapa jam" ujar Raon mengelus kepala Juri.
"Papa gak ngelti cih" jawab Juri yang membuat Biru mengulum senyum.
"Kak Erin dimana?" Tanya Biru karena tidak melihat Erina.
"Kak Eyin agi di kamal dengelin mucik, kaya gini" jawab Juri sambil memperagakan kedua tangannya di tempelin di telinga lalu menggoyang-goyangkan kepala.
Tidak tangan dengan tingkah Juri Biru tertawa "haha.. haha"
Raon yang masih ada di ruang tamu kembali terpesona melihat Biru. Sebenarnya perasaannya itu seperti apa? Raon tidak bisa mendeskripsikan perasaanya.
"Kita ke atas yuk, mommy mau ganti baju dulu" ajak Biru setelah menghentikan tawanya.
Juri mengangguk.
Biru keluar dari kamar sambil menuntun Juri, ia sudah berganti pakaian dengan stelan rumahan. Biru masuk ke kamar anak-anak ingin melihat apa yang di kerjakan Erina "kaka Erin lagi dengerin lagu apa?" Tanya Biru sambil duduk di samping Erina dengan Juri di pangkuan.
Erina menoleh lalu melepaskan headshet yang menempel di telinganya "lagi dengerin musik mom, mommy mau dengar?" Ujar Erina sambil mendekatkan headshet ke telinga Biru, terdengar sangat keras.
"Erin kalau dengarin musik jangan kencang-kencang nanti telinganya rusak" Biru memberitahu.
"Iya mom, soalnya enak kalau kenceng" ujar Erina memberi alasan.
"Kamu tuh, sekarang ajak main dulu Juri mommy mau bantu bi Sumi dulu masak buat makan malam"
Erina mengangguk.
"Sini dek main sama Kaka" Juri menurut.
Sampai di dapur terlihat bi Sumi sedang menyiapkan bahan "masak apa bi?" Tanya Biru.
"Ini neng kata tuan tadi pengen yang segar-segar" Biru mengangguk, saat akan membantu bi Sumi Raon memanggil.
"Ada apa pak?" Tanya Biru saat mereka sudah ada di ruang kerja.
"Saya mau besok kamu menyerahkan surat pengunduran diri, saya mau kamu fokus di rumah saja" ujar Raon to the poin.
Bieu memutar bola matanya malas "bapak terus saja membahas masalah ini, saya belum memikirkannya"
"Kamu tidak perlu berpikir karena saya sudah membuat keputusan" jawab Raon tidak mau di bantah.
"Terserah bapak saja" ujar Biru yang malas berdebat.
"Tentu saja karena saya suamimu, saya berhak atas dirimu. Jadi menurutlah" jawab Raon tidak mau kalah.
'Dih baru juga nikah sehari udah keliatan galaknya, apalagi nanti' ucap Biru dalam hati.
"Iya pak iya, kumaha bapak we" jawaban Biru membuat Raon menyerngit ia tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan Biru di akhir kalimat.
Tidak terasa untuk berdebat saja menghabiskan banyak waktu karena sekarang adzan Maghrib sudah berkumandang.
"Bapak mau Salat dimana?" Tanya Biru.
"Saya tidak Salat" jawab Raon singkat.
Terlihat Biru menghela nafas "Salat itu kewajiban pak"
"Iya tahu, nanti saya Salat"
kembali Biru menghela nafas "ya sudah" ucap Biru sambil meninggalkan ruang kerja.
🌻
Biru kini sedang di meja makan berdua dengan Raon, Erina dan Juri sudah selesai makan sedangkan Raon memilih menunggu Biru yang baru mulai makan.
Tadi Biru memilih untuk menyuapi Juri terlebih dahulu.
"Saya kira kamu menyuapi Juri terlebih dahulu karena ingin makan pedas" ujar Raon yang berada di seberang meja.
Di meja makan terhidang beberapa menu makan salah satunya ayam geprek kesukaan Biru.
"Memang tadinya begitu, tapi setelah di pikir-pikir lebih baik jangan" jawab Biru.
Raon menyerngit mendengar jawaban Biru "kenapa? Kalau mau, makan saja".
"Saya memiliki magh kronis pak, takut kambuh".
Raon mengangguk mengerti.
Raon diam memperhatikan Biru yang sedang makan membuat Biru tidak nyaman tapi Biru tidak protes. Ia malas jika harus berdebat karena Raon sangat pintar membuatnya kesal dengan jawabannya.
"Saya sudah selesai pak, mau ke atas dulu" ujar Biru setelah menyelesaikan makan.
Raon mengangguk "selamat malam" ucap Raon ketika Biru sudah melangkah.
🌻
Terimakasih atas mampir...jangan lupa tinggalkan jejak ya
keren thor
sukses
semangat
mksh