spin-off dari novel Menjadi Istri Tuan Muda.
Karena menunggu di kamar seseorang yang menjadi Nyonya Mudanya. Bunga Florencia harus mengalami kejadian yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Dia harus kehilangan kesucian yang dia jaga selama ini.
Maxime Anderson pulang dalam keadaan mabuk dan masuk ke dalam kamar orang yang dicintainya, dan berpikir untuk memilikinya seutuhnya. Tapi tidak pernah dia duga jika gadis yang menghabiskan malam bersamanya adalah gadis lain yang dia ketahui sebagai pelayan pribadi Kakak iparnya.
Karena kejadian itu mereka akhirnya menikah, Akankah keduanya akan sama-sama membuka hati dan membuat cinta akan bersemi diantara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 1PM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
"Papi," kata Max dan Bunga bersamaan.
"Kenapa Papi kesini? Bagaimana dengan Mami? siapa yang menjaga Mami di rumah sakit?" Tanya Max yang melihat kehadiran William Papinya berada di tempat acara.
"Mami di jaga oleh Liora dan Bibi Lu. Mami mu yang meminta Papi hadir, dia bilang tidak enak jika Papi sebagai sahabat Scot tidak hadir di hari bahagia mereka," Jelas William menjawab pertanyaan yang Max ajukan.
Gracia menatap tajam pada pengawal yang tadi mengusirnya.
"Selamat malam Tuan William," sapa Gracia mengulurkan tangan dengan senyum lebarnya
"Jadi Anda yang ingin mengusir putriku pergi dari acara milik sahabatku," ucap William yang memasukkan kedua tangannya ke saku celana, tanpa membalas uluran tangan Gracia.
"Tuan bukan seperti itu maksudku, tadi dia membuat kerusuhan makanya aku menyuruhnya keluar," kata Gracia berkelit.
"Tidak Tuan bukan Bunga yang membuat kekacauan tapi dia," kata Kinan yang sedari tadi diam sambil menunjuk ke arah Gracia.
"Maaf Tuan, Anda bilang dia putri Anda, Bukankah dia hanya pelayan dari istri putra pertama Anda," kata Gracia sengaja menekankan kata pelayan.
"Wah, sepertinya Anda tahu banyak tentang istriku," kata Max menyela.
Max dan William saling pandang dan semakin yakin jika orang dibalik gosip yang tersebar kemarin adalah ulah wanita di hadapannya ini.
William kemudian tersenyum, "Bukannya kau tahu jelas tentang semuanya Nona, dan ditambah lagi dengan putraku yang mengatakan jika Bunga istrinya. Jika dia istri putraku, berarti dia menantuku, dan menantuku itu adalah Putriku juga, jadi apa masalahmu dengan aku menyebut menantuku dengan putriku?" Kata William yang membuat Gracia bungkam.
Dan tak lama asisten Gracia berlari tergopoh-gopoh.
"Nona hentikan, apa Anda ingin nama Anda akan menjadi perbincangan di berbagai media besok, setelah melihat apa yang Anda lakukan ini?" Bisik asisten Gracia.
"Kau! Beraninya kau!" Kata Gracia menatap tajam asistennya.
Gracia pun menatap sekeliling dan terlihat begitu banyak dari sebagian orang yang hadir di pesta, sedang menatap pertengkaran mereka, bahkan ada beberapa mereka yang merekam apa yang telah dia lakukan, dia sampai lupa imagenya sebagai publik figur.
"Awas kau!" Ucap Gracia menunjuk Kinan dan Bunga bergantian. Kemudian setelah mengatakan itu dia pun langsung pergi begitu saja, karena sepertinya dirinya sudah tidak punya muka lagi untuk berada di tempat itu.
Asisten Gracia berlari mengikuti dirinya di belakangnya. Dia merutuki dirinya sendiri yang tidak berada di dalam hingga, Gracia melakukan hal yang gila menurutnya.
"Kamu tidak apa-apa Nak?" Tanya William menatap Bunga iba. Karena kini tampak orang berbisik-bisik.
"Aku tidak apa-apa Pi," jawab Bunga mencoba tersenyum.
Tuan Scot dan istrinya langsung menghampiri dimana William berada.
"Maafkan kami Willy karena tidak bisa mencegah kekacauan ini," kata Nyonya Scot merasa bersalah.
"Kenapa minta maaf padaku harusnya kalian minta maaf pada menantuku," kata William kesal karena menantunya dipermalukan seperti itu di depan orang banyak.
Max kemudian menarik tangan Bunga untuk pergi dari sana tanpa berpamitan sama sekali pada pemilik acara.
"Kau lihatlah, putraku marah," kata William kemudian meninggalkan Scot dan istrinya dan melangkah menghampiri anak pertama dan menantunya.
"Sementara Max menarik tangan Bunga menuju ke tempat dimana mobilnya diparkirkan.
"Apa yang tadi kau lakukan? Kau tahu, itu akan membahayakan dirimu sendiri, apa kau tidak berpikir dulu sebelum bertindak gegabah, dia bukan lawanmu, kau hanya mempermalukan dirimu sendiri jika berhadapan dengan wanita licik itu," kesal Max pada Bunga dengan nada yang khawatir.
Bunga diam, dia diam bukan karena apa yang diucapkan oleh suaminya, tapi diam karena saat tadi dirinya keluar, dia mendengar beberapa orang berbincang. Bukan karena memperbincangkan dirinya setelah kejadian tadi, tapi karena mereka membicarakan orang yang sangat dikenalnya.
Mereka mengatakan jika Tuan Gomes sekarang dirawat dirumah sakit. Jika memang benar seperti itu kenapa dia sama sekali tidak tahu, kenapa tidak ada satupun orang yang menghubunginya dan mengabari tentang hal itu?" Itulah yang ada di pikiran Bunga saat ini.
"Bunga kenapa tidak masuk?" kata Max yang sudah membukakan pintu mobil, membuyarkan apa yang sedang Bunga pikirkan.
"Ah iya," ujar Bunga kemudian dia pun langsung masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, hening tidak ada suara sama sekali mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Bunga berharap agar cepat sampai di rumah karena dia ingin menghubungi seseorang untuk menanyakan hal itu, benar atau tidak.
Bunga menghadap ke jendela dan hanya melihat kendaraan lain yang berlalu lalang. Dan Max hal itu tidak luput dari penglihatan Max. Max terus melirik ke arah istrinya yang sedari tadi hanya diam saja, setelah keluar dari tempat pesta.
"Apa ucapanku tadi keterlaluan?" Tanya Max pada dirinya sendiri. "Tapi maksudku baik, aku hanya tidak ingin dia terlibat dengan wanita licik itu," ucapnya dalam hati.
Tak lama Max menghentikan mobilnya, begitu ada keramaian di depannya, membuat Bunga pun ikut menatap ke depan.
Max menurunkan kaca jendela mobilnya dan bertanya pada orang yang lewat disitu.
"Maaf Tuan, ada apa di depan? Kenapa ramai sekali?" Tanya Max pada pria paruh baya yang kebetulan lewat setelah melihat ada apa di depannya.
"Ada kecelakaan Tuan," kata pria paruh baya itu menjawab pertanyaan Max.
"Kecelakaan?" Tanya Bunga yang juga ikut mendengar apa yang pria paruh baya itu katakan.
"Iya Nyonya kondisinya sangat parah, mobilnya menabrak pembatas jalan, diduga sopirnya mengantuk," jelas pria paruh baya.
Bunga yang penasaran pun akhirnya turun, rasanya dia ingin menyaksikannya sendiri, atas apa yang tadi pria paruh baya itu katakan.
"Kamu mau kemana?" Tanya Max pada istrinya yang sudah turun dari mobil dan hendak melangkah mendekati tempat kejadian.
"Aku hanya ingin melihatnya," kata Bunga kemudian dia pun berjalan cepat menuju kerumunan banyak orang.
"Tunggu!" Kata Max.
Tapi Bunga tetap melangkahkan kakinya hingga Max pun ikut turun dan berjalan dibelakang istrinya, sebenarnya dia ragu saat hendak turun, tapi tidak ada pilihan lain, dia harus menjaga istrinya, takut terjadi apa-apa.
Bunga tampak mengintip korban kecelakaan itu, tapi karena tinggi orang di depannya lebih tinggi dari tubuhnya, Bunga jadi tidak bisa melihat.
Max hanya mengikuti apa yang istrinya lakukan karena tinggi tubuhnya jauh lebih tinggi dia dengan mudah untuk melihat korban kecelakaan yang kata pria paruh baya itu cukup parah. Apalagi saat orang-orang menyingkir setelah petugas medis datang, tubuh Max tiba-tiba lemas, wajahnya pucat dan tangannya gemetaran. Keringat di sekitar dahinya menetes deras. Hingga tiba-tiba pandangan Max menggelap dan dia sudah tidak tahu apa yang terjadi setelah itu.
, , .
,
,