WARNING MENGANDUNG ADEGAN 21+❗
HARAP BIJAK DALAM MEMBACA.
Arunayu Putri Ramadhani adalah seorang gadis yang memiliki kepribadian tomboy. Sering di panggil Aruna atau Una. Aruna tak terlalu mementingkan yang namanya masalah percintaan. Dia juga bukan gadis yang selalu caper atau suka menggoda kepada setiap laki-laki. Justru cenderung introvert pada kaum adam.Namun hingga suatu saat, ia bertemu seseorang yang dapat mengalihkan perhatiannya. Seseorang yang seharusnya tak boleh ada dalam hatinya, seseorang yang akan membuat dirinya dilibatkan Dengan berbagai macam masalah perasaan yang ia selalu hindari selama ini.
“Kenalin Runa, ini Galang… “ ujar Mika. Aku hanya mengangguk dan tersenyum simpul. Tanpa tau pandangan pertama itu akan jadi boomerang untuk hatiku di kemudian hari.
“Gimana Na? Mau nggak gua jodohin sama galang? Ganteng loh.” Ujar Mika sahabat dari Aruna.
“Apaan sih lo mik. Nggak ah! Orang dia minatnya sama elo ngapain lo kasih ke gua?” ujar ArunaDengan acuh. Ia sedikit tercubit Dengan tawaran mika
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon story adult7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Tatapan marah.
ini buat bab di hari minggu ya. selamat membaca. siap-siap bab-bab selanjutnya bikin bulu kuduk berdiri.
“Naaaaa….” Panggil putri.
“Apa sih.. pagi-pagi udah teriak-teriak aja”
“Eh… lo tau nggak. Manager utama yang baru itu temennya si Aryan kemarin!” heboh putri. Aruna menghela nafasnya.
“Udah tau kaleee. Kemana aja lu..!”
“Loh, lo kapan taunya?” tanya putri.
“Ya beberapa hari yang lalu. Kita nggak sengaja ketemu di lobby” jelas Aruna. Putri mengangguk lalu memasuki lift.
“Oya, lo keruangan gua dulu ya. Gua bawain tempe kremes buat lo” ujar Aruna. Putri pun langsung girang. Sesampaiknya di lantai teratas yaitu ruangan CEO, Aruna dan putri bergegas ke meja sekertaris.
~BRUUGH~
Alan berjalan terburu-buru menabrak putri hingga putri jatuh terduduk dilantai. Berkas yang di bawa alan pun berantakan.
“Aduh.. Bemper gua. Sshh.. sakit” ringik putri. Dan alan, sibuk mengurusi berkas yang berceceran. Alan bergegas mengumpulkan berkas yang berserakan di lantai dan ia segera berjalan tanpa menghiraukan putri yang kesakitan dan Aruna yang melongo.
“Kampret!! Siapa sih tu orang? Songong banget. Sial!!!” gerutu putri dengan kesal. Aruna membantu putri membangunkannya.
“Dia itu Alan, asisten pribadinya Pak Galang.” Ujar Aruna.
“Nyebelin banget tu orang. Minta maaf kek, bantuin gua bediri kek. Ini malah main nyelonong pergi aja kayak Cuma nabrak jemuran basah. Kampret bener!” putri marah-marah karena kesal.
“Udah jangan ngomel terus. Nanti naksir loh” ujar Aruna.
“Dih najis gua naksir sama orang yang gak punya etika gitu! Ogah! Makasih deh” jawab putri sambil bergidikkan tubuhnya. Aruna hanya senyam senyum melihat sahabatnya yang sedang mengomel.
Jam istirahat tiba. Aruna sangat lapar, karena tadi pagi ia makan sedikit. Nafsu makannya hilang dengan kejadian-kejadian di meja makan. Aruna langsung turun dan masuk ke kantin. Menunggu antrian, Aruna mengirim pesan pada putri untuk menyusulnya di kantin. Aruna telah mendapatkan makanannya. Kini ia duduk di meja dikat jendela.
“Aruna?..”
Aruna yang sedang mengunyah makanannya menoleh. Dan mendapati seorang lelaki memakai setelah suit berwarna hitam berdiri dihadapannya dengan Nampak makanan.
“Hei… fahzan!” sapa Aruna. Fahzan tersenyum. “Eh ma.. maaf pak fahzan.” Ujar Aruna. Ia lupa bahwa fahzan adalah atasannya.
“Ahahaha… boleh duduk disini?” tanya fahzan.
“Oh.. iya silahkan pak” ujar Aruna dengan canggung.
“Kamu jangan terlalu kaku na… panggil Fahzan aja. Ini juga sudah di luar jam kantor” ujar fahzan.
“Aduh.. saya nggak enak pak. Apalagi ini masih di lingkungan kantor. Walaupun diluar jam kerja” ujar Aruna.
“Nggak apa. Aku ingin belum beristri apalagi punya anak sampai kamu harus panggil pak-pak terus” lalu keduanya tertawa. Aruna dan fahzan terlibat percakan seru, di tambah lagi putri nggak datang karena ada tugas keluar kantor. Untung Aruna di temani fahzan selama makan siang.
“Aahahaha… jadi kamu suka naik motor gede na..?” tanya fahzan.
“Suka banget. Malah aku mau banget nyoba naik motor di sirkuit. Kayaknya seru deh” ujar Aruna.
“Ternyata kamu tomboy yah. Suka beladiri, suka motor gede, main gitar. Wow! Georgeus!” puji fahzan. Lalu fahzan melihat ada sedikit saus di ujung bibir Aruna. Fahzan merentangkan tangannya danmembantu membersihkannya. Banyak pasang mata yang melihatnya. Dari mereka ada yang berbisik-bisik negative dan positif. Ada yang merasa bahwa Aruna dan fahzan terlihat sweet, ada yang heran, dan ada yang merasa iri melihat kedekatan mereka. Seperti seseorang yang baru saja sampai ke hotel hayden.
Galang melihat Aruna dari luar karena Aruna duduk di dekat kaca. Awalnya Galang tak menghiraukan. Namun, saat uluran sebuah tangan mendarat ke wajah Aruna, Galang menjadi fokus melihat Aruna. Tatapannya dingin. Alan yang berada disamping Galang menyadari perubahan sikap Galang.
‘Mulai cemburu lu sob!’ ujar alan dalam hati lalu dia terkikik.
“Kenapa lo cekikikan?” tanya Galang. Alan pun langsung meredakan tawanya. Lalu melanjutkan langkah keruangan CEO. Galang menghempaskan tubuhnya di sofa. Begitu pun alan. Keduanya lelah karena berdiskusi tentang acara yang akan di selenggarakan dihotel.
“Lang..! Gimana kalau si Aruna kepincut sama cowok tadi?” tanya alan. Galang mengernyitkan dahinya.
“Tau darimana lo kalo dia bakal kepincut sama si manager utama?” Galang seakan tak percaya. “Lo liat gua, Gua ganteng, jabatan gua lebih tinggi. C.E.O, gua pemilik Hayden’s Group dan… gua suaminya. Kurang apa coba?” jawab Galang dengan penuh percaya diri. Alan yang mendengar jawaban Galang pun tertawa ter bahak-bahak sambil geleng-geleng kepala.
“Lang.. lang… ternyata lo belom khatam tentang wanita. Lo dengerin gua” ujar alan dengan menatap Galang serius. “Cewek, Perempuan, Wanita, Gadis atau yang sejenis dengan itu, bukan wajah,Harta, atau tahta prioritas mereka!” lanjut alan.
“Maksud lo?” tanya Galang tak mengerti.
“Lo tau apa yang paling diinginkan dihati perempuan?” tanya alan.
“Apa? Fashion? Tas, sepatu, barang-barang branded. Yah jenis itu lah” ujar Galang dengan santai.
“Salah!”
“Salah? Terus?”
“Kedudukan paling tinggi di hati wanita itu adalah… Cinta dan Ke.nya.ma.nan!” ujar alan menekan perpatah kata. Galang menatap alan yang kini malah tertawa.
“Percaya sama gua lang. lo emang Player. Tapi gua? THE COACH! Lo Cuma pacarin cewek-cewek tanpa pake perasaan karna lo Cuma have fun aja. Tapi gua, totalitas!” ujar alan.
“Tapi gua bener-bener jatuh cinta sama Mika. Buktinya gua udah sampe sejauh ini”
“Lo sama Mika ya?” alan Nampak berfikir. “Gua gak tau lo sama Mika disebut cinta atau apa.. tapi gua ingetin. Dalam suatu hubungan, gak Cuma modal cinta bro! cinta itu bisa muncul dan hilang dengan sedirinya. Yang pasti itu kenyaman! Mau seberapa sederhana dan miskin nya seseorang, atau penampilannya cupu dan bukan tipe elo sekalipun. Tapi kalo lo nyaman pas sama dia, cinta bakal hadir dengan sendirinya. Cinta yang indah, cinta yang bikin lo nyaman!” tutur alan panjang lebar. Galang terdiam. Entah apa yang ia pikirkan.
~TOK..TOK..TOK..~
“Masuk!”
Terlihat Aruna memasuki ruangan CEO. Aruna membawa beberapa berkas di tangannya. Aruna melihat Galang dan alan sedang duduk di sofa. Namun Aruna merasa aneh. Kenapa Galang menatapnya begitu tajam, seperti ia telah membuat kesalahan dan membuat Galang marah.
“Permisi pak ini data laporan persiapan penyambutan president turki. Tim perencanaan dan tim kreatif membuat beberapa usulan” ujar Aruna sambil meletakan map berkas di meja sofa. Galang memperhatikan Aruna. Entah kenapa ada rasa kesal di hatinya mengingat Aruna berdekatan dengan Fahzan tadi.
“Baik pak Galang, saya permisi dulu” ujar alan. Lalu tatapan beralih pada Aruna. “Saya permisi Bu”
“Eh..? Bu..?. Aruna bingung.
“Iya. Anda istri pak Galang, sudah seharusnya saya memanggil anda dengan sebutan itu. Atau mau saya panggil dengan sebutan nyonya hayden?” alan sedikit menjahili. Sontak Aruna terkejut dan langsung menolak.
“Eh? Nggak.. nggak boleh.. nggak usah… it…
“Kenapa?” tanya Galang menyela. Ada rasa kesal dalam dada Galang.
“Hah? Maksud bapak?” tanya Aruna.
“Kenapa kamu tidak mau di panggil dengan sebutan itu? Kamu lupa, kamu istri saya, kamu sudah menikah dan bersuami” ujar Galang dengan nada kesal. Alan yang melihat itu pun tersenyum. Namun ia memilih untuk pergi.
“Permisi pak.. buk” alan lalu keluar dari ruangan CEO.