Halo readers, author ucapkan terima kasih karena sudah berkenan membaca karya author. Semoga kalian suka😊
Cerita ini hanyalah karya fiksi semata. Kalaupun ada kesamaan nama dan jalan cerita, itu hanyalah sebuah kebetulan yang tidak disangka. Semoga kalian suka.
Rosaline Ariana Hadinata, seorang anak hasil perselingkuhan yang terpaksa menumpang hidup pada ayah kandung dan saudara tirinya. Hidup Aline yang kacau karena terus dicaci dan dihina, menjadikan wanita itu kuat, mandiri dan sulit ditindas. Penderitaannya semakin memuncak saat dia dijebak dan harus terenggut kesuciannya oleh lelaki asing yang tidak dia kenal. Kekasihnya membatalkan pertunangannya dan menyebabkan ayahnya mengalami serangan jantung. Ibu tirinya mengusirnya dari rumah sebab ia dianggap sebagai aib bagi keluarga.
Seketika hidupnya hancur. Dua bulan kemudian ia dinyatakan hamil. Axello adalah putranya yang cerdas menjadi penyemangatnya. Bagaimana kisah Aline selanjutnya?
Apakah Axel bisa bertemu ayah kandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rozmine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Let's Get Married
Keesokan harinya, Aline pergi ke supermarket sendirian di kawasan mall M2. Dea membawa Axel ke butik. Aline ingin memasak rendang kesukaan Axel untuk menu makan malam nanti. Selesai berbelanja, Aline mampir ke sebuah cafe. Dia ingin menikmati caffè latte hangat sebelum kembali ke butik. Saat sedang menikmati minumannya, tiba-tiba Alexa menghampirinya dengan wajah marahnya.
"Dasar wanita m*****n tidak tahu diri!" umpat Alexa sambil membentak.
Aline terperanjat. Aline mengangkat wajahnya melihat Alexa dan Nyonya Maria sudah ada di hadapannya. Aline pun berdiri menghadap mereka.
"Ada apa ini, Kak? Kenapa tiba-tiba Kakak marah dan menghinaku?" tanya Aline.
Alexa mengangkat satu tangannya hendak menampar wajah Aline, tapi Aline menahannya dan menghempaskannya.
"Gara-gara j****g sepertimu, Rio memutuskan pertunangan kami agar bisa kembali padamu. Kau memang pembawa sial dalam hidupku!" ucap Alexa sambil berteriak meluapkan emosinya.
"Tapi aku tidak tahu apa-apa. Dan aku tidak ada hubungannya dengan masalah kalian," sanggah Aline.
"Cukup ya Aline. Saya dulu sudah memperingatkan kamu agar menjauh dari putraku, Rio. Dan jangan pernah bermimpi bisa menjadi menantu di keluarga Abimana. Aku tidak sudi menerima wanita rendahan yang mempunyai anak h***m menjadi menantu di rumahku. Menjijikkan!" ucap Nyonya Maria semakin merendahkan Aline.
"Jaga bicara Anda, Nyonya Maria. Putraku adalah anak yang bersih dan suci saat aku melahirkannya. Jangan pernah menghina putraku. Dan aku sama sekali tidak pernah mendekati Rio, putra Anda," ucap Aline sambil tangannya menggengam menahan emosi.
"Lalu siapa ayahnya? Apa kalian menikah? Tidak kan. Anak itu lahir tanpa adanya ikatan pernikahan. Itu artinya dia anak h***m yang lahir dari seorang j*****," hina Nyonya Maria.
Wajah Aline semakin memerah dan pembuluh darah di lehernya menegang. Dia tidak terima putranya dihina.
Alexa sudah tidak tahan lagi, dia masih berusaha untuk menampar Aline. Saat Alexa mengangkat tangannya lagi, ada sebuah tangan kekar yang menahannya dan menghempaskannya dengan keras membuat tangan Alexa sakit. Alexa memandang pria yang sudah menahannya tadi. Pria tinggi tegap, berwajah tampan, bernetra safir dengan rambut coklatnya. Aline terkejut dengan kedatangan pria yang memiliki wajah mirip dengan Zayn dan putranya, Axel.
"Siapa kau? Jangan ikut campur urusan orang lain!" bentak Alexa.
"Urusan Aline adalah urusanku juga. Sebaiknya kalian enyah dari sini dan jangan pernah ganggu Aline lagi," seru Vero dengan wajah dinginnya.
"Kau siapa sampai membelanya? Jangan-jangan kau adalah pacar gelap wanita rendahan ini," ucap Alexa mengejek.
"Aku tak menyangka kamu menggunakan wajah dan tubuhmu agar bisa menggoda dan menjerat pria muda dan kaya, sama seperti yang dulu kau lakukan pada putraku. Kau benar-benar menjijikkan Aline," tambah Nyonya Maria.
Vero memerintahkan anak buahnya untuk menjauhkan Alexa dan Nyonya Maria dari Aline.
"Lancang sekali kalian!" bentak Alexa.
"Kalian jangan kurang ajar, aku ini wanita terhormat. Aku adalah Nyonya Abirama," ucap Nyonya Marian sambil berteriak.
"Jika kalian masih membuat masalah dengan Aline, maka kalian akan berhadapan langsung dengan keluarga Alvaro," ancam Vero dengan senyum evilnya membuat Alexa dan Nyonya Maria merinding. Anak buah Vero membawa Alexa dan Nyonya Maria keluar dari cafe.
Aline terduduk sambil menangis. Vero menghampirinya.
"Sudahlah, jangan menangis lagi kakak ipar. Mereka sudah pergi. Kau bisa tenang sekarang," ujar Vero.
"Terima kasih atas bantuannya, Vero," ucap Aline sambil tersenyum lembut.
"Sebaiknya aku antar kamu pulang dan jangan menolak tawaranku," paksa Vero.
Aline hanya pasrah, dia juga tidak membawa mobil tadi. Pikirannya sedang kacau dan sebaiknya dia tidak pergi sendirian.
Vero mengendarai mobilnya sendiri, sedangkan anak buahnya menggunakan mobil lain dan mengikutinya dari belakang.
Aline masih terus menangis dalam diam. Semua perkataan dan hinaan Nyonya Maria sangat menyakitkan dan melukai hatinya. Hatinya sakit mendengar hinaan yang ditujukan pada putranya. Vero iba melihatnya.
"Kau mau aku antarkan ke mana, Lin?" tanya Vero dengan wajah datarnya.
"Tolong antarkan aku ke tempat Zayn," pinta Aline.
Vero mengangguk dan melajukan mobil semakin cepat menuju Alvaro Group. Sesampainya di Alvaro Group, Vero memasuki parkiran khusus keluarga Alvaro dan memasuki perusahaan tanpa melewati lobby. Vero tidak ingin Aline menjadi pusat perhatian para karyawan Alvaro Group. Vero membawa Aline menggunakan lift rahasia yang hanya diketahui keluarga Alvaro dan orang kepercayaan mereka. Lift itu langsung menuju lantai kantor Zayn berada. Begitu keluar dari lift Vero segera mengantarkan Aline masuk ke dalam ruangan Zayn, ruangan CEO Alvaro Group, yang dulu pernah Aline masuki saat pertama kali bertemu Zayn.
Nadine segera masuk ke dalam ruang meeting dan memberi tahu Zayn bahwa Aline berada di ruangannya. Zayn segera pergi meninggalkan ruangan meeting menuju ruangannya dan meminta Arya untuk melanjutkan meeting mereka.
Begitu Zayn masuk ke dalam ruangannya, Vero segera keluar dari sana meninggalkan Zayn dan Aline berdua. Zayn bingung melihat Aline yang duduk di sofa menangis tersedu-sedu. Dia langsung berlari menghampirinya. Zayn berlutut di hadapan Aline.
"Ada apa Aline?" tanya Zayn lembut.
Aline mengangkat wajahnya dan langsung memeluk Zayn sambil terus menangis. Zayn mengusap kepala Aline lembut untuk menenangkannya.
"Tenanglah, aku ada di sini," ucap Zayn.
Aline melepas pelukannya dan menatap mata Zayn lekat.
"Ayo kita menikah," tutur Aline membuat Zayn terkejut.
"Ap-apa?" tanya Zayn tak percaya.
"Aku tidak akan mengulangi ucapanku lagi Zayn," ucap Aline sedikit kesal.
"Baiklah. Maaf aku hanya terkejut. Apa kau yakin? Apa yang membuatmu tiba-tiba bersedia menikah denganku? Dan siapa yang sudah membuatmu menangis? Aku akan memberikan pelajaran dan pembalasan berkali lipat padanya. Kau harus mengatakan siapa yang sudah menyakitimu," Zayn terus berbicara tanpa henti.
Cup...
Aline mengecup pipi Zayn, seketika Zayn berhenti berbicara. Lalu tersenyum pada Aline. Zayn bangun dan duduk di samping Aline. Zayn menarik Aline ke dalam pelukannya membuat tubuh Aline bertabrakan dengan dada bidangnya. Jantung Aline berdegup kencang sama halnya dengan degup jantung Zayn. Zayn menatap Aline lembut.
"Let's get married, My Cherry," ucap Zayn lembut.
Zayn menarik tengkuk leher Aline lalu menc*** bibir Aline lembut, Aline pun pasrah dan menutup matanya. Zayn sangat merindukan moment seperti ini bersama Aline. Setelah beberapa lama, Zayn melepaskan tautan bibir mereka dan menyatukan dahi mereka dengan napas keduanya yang masih terengah-engah.
"Terima kasih sudah mau menerimaku dan bersedia menjadi istriku. Aku janji akan selalu membahagiakanmu dan anak kita," tutur Zayn.
Aline membuka matanya dan tersenyum memandang Zayn. Meskipun Aline belum tahu apakah dia bisa mencintai Zayn atau tidak, tapi yang pasti Aline merasa nyaman berada di dekat Zayn.
Zayn membawa Aline pulang ke mansion Alvaro untuk bertemu orang tuanya dan memberitahu rencana pernikahan mereka. Ketika keluar dari ruangannya, Zayn menggandeng dan menggenggam erat tangan Aline. Mereka menjadi pusat perhatian. Zayn sengaja ingin memamerkan wanitanya pada semua orang yang ada di sana. Semua karyawan terheran melihat Zayn bergandengan tangan dengan seorang wanita cantik. Banyak yang bersyukur dan senang akhirnya bos mereka yang terkenal seperti es batu akan menikah dan memiliki seorang istri. Namun tidak sedikit karyawan wanita yang mengalami patah hati massal.
Sesampaianya di mansion Alvaro, Tuan Alex dan Nyonya Savira bahagia sekali mendengar kabar baik ini. Nyonya Savira memeluk Aline dengan penuh kehangatan. Kedua orang tua Zayn segera pergi ke perusahan ayah Aline, PT. Hadinata Textile, untuk menemui ayah dan kakak Aline dan membahas rencana pernikahan Aline dan Zayn. Karena Zayn tidak ingin direpotkan dengan acara lamaran atau pertunangan, dia ingin segera melangsungkan acara pernikahan dengan Aline.
...***...
DńA Fashion
Vero masuk ke dalam butik membawa bungkusan berisi es krim dan mainan. Ana segera menghampirinya.
"Selamat datang di DńA Fashion, Tuan. Ada yang bisa saya bantu? Atau mungkin Anda ingin melihat koleksi terbaru kami, Tuan?" sapa Ana sopan.
"Terima kasih. Tapi aku ke sini karena ingin menemui putraku dan ibunya," jawab Vero datar dan melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Dea.
Ana pun dibuat bingung dan mengikuti Vero dari belakang.
"Hai Mimi dan putra Pipi," sapa Vero yang langsung masuk ke dalam ruangan Dea.
Dea terkejut dan merasa kesal Vero tanpa permisi masuk ke dalam ruangannya. Sedangkan Axel langsung melompat ke dalam pelukan Vero.
"Maaf, Nona. Tuan ini tiba-tiba langsung masuk ke dalam ruangan Anda," ucap Ana merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, Ana. Kembalilah bekerja," sahut Dea. Anapun segera kembali bekerja.
"Mau apa kau ke sini?" tanya Dea kesal.
"Aku ingin mengunjungi Axel, juga Miminya," jawab Vero dengan senyum menggoda. "Pipi bawakan Axel es krim dan mainan baru." Vero menyerahkan bungkusan yang dia bawa. Axel melompat kegirangan.
Dea merasa jengkel sekali. Selama satu minggu ini, setiap hari dia bertemu dengan Vero meskipun tanpa disengaja, seperti di mall, cafe, supermarket, bahkan di salon. Vero sudah seperti jailangkung yang tiba-tiba muncul di depannya, datang tak dijemput pulang tak diantar.
Pada kenyataannya Vero yang sengaja menyuruh anak buahnya untuk mengikuti dan mengintai Dea serta melaporkan apa saja yang Dea lakukan selama berada di luar mansion. Sehingga Vero bisa tahu di mana dan apa saja yang Dea lakukan. Sejak pertama kali bertemu, Vero sudah tertarik dengan Dea. Dea adalah satu-satunya wanita yang tidak tertarik pada pesonanya dan tidak pernah memandangnya dengan tatapan memuja seperti wanita yang lain. Membuat Vero tertantang untuk menakhlukkannya.
"Axel nanti pulangnya, Pipi yang antar ya," rayu Vero.
"Tapi Axel masih nunggu Mama, Pi," jawab Axel.
"Mama tidak ke sini, Nak. Mama nanti pulang diantarkan Papa," ucap Vero.
"Apa Aline bersama Zayn sekarang?" tanya Dea tak percaya.
"Betul, Mi. Jadi nanti pulangnya Pipi yang antar ya. Mobilnya Mimi taruh di sini saja," goda Vero.
"Aku bisa pulang sendiri," ketus Dea.
"Axel, Mimi tidak mau pulang sama kita," rajuk Vero pada Axel.
"Mimi harus pulang sama Axel," rengek Axel membuat Dea tidak bisa berkutik lagi jika Axel yang meminta. Vero tersenyum mengejek karena merasa menang dari Dea.
"Jadi Mama Axel sama Om Zayn sekarang?" tanya Axel.
"Iya. Kenapa Axel tidak mau memanggil Papa?" sahut Vero.
"Karena Om Zayn belum menikahi Mama," seru Axel membuat Vero tersenyum.
Vero menemani Axel bermain sambil menunggu Dea selesai dengan pekerjaannya. Kedatangan Vero membuat heboh karyawan butik dan menggosipkan bos mereka, Dea, yang ternyata sudah menikah dan punya suami juga anak yang tampan. Karena baru kali ini Axel datang ke butik. Semua orang mengira Axel adalah anak dari Dea dan Vero.
Sedangkan Aline dan Zayn saat ini sedang dalam perjalanan ke mansion Dea. Zayn duduk berdekatan dengan Aline di kursi belakang sopir.
"Nanti saat bertemu Axel kamu harus jelaskan padanya bahwa aku ini ayahnya, dia seharusnya memanggilku Papa bukan Om," ucap Zayn dengan nada kesal karena Axel belum mau memanggilnya Papa.
"Axel itu memang keras kepala. Kita harus lebih bersabar menghadapinya," ujar Aline menjelaskan.
"Aku sudah cukup bersabar selama hampir enam tahun. Dan aku tidak bisa bersabar lagi," ucap Zayn semakin jengkel.
"Aku yang hamil dan melahirkan Axel, tapi mengapa Axel menuruni semua sifatmu," ucap Aline.
"Karena saat kamu hamil, aku yang merasakan penderitaan yang dialami oleh ibu hamil. Aku yang mual, aku yang muntah, dan mau makan selalu serba salah," terang Zayn.
Aline mengerutkan dahinya tidak mengerti maksud dari ucapan Zayn.
"Couvade Syndrome. Saat kamu hamil aku mengalami couvade syndrome selama 7 bulan," ucap Zayn.
Aline membelalakkan matanya. Tak lama dia tersenyum senang dan membuat Zayn kesal.
"Setidaknya itu salah satu hukuman atas perbuatanmu malam itu," ucap Aline.
"Iya kau benar. Jangan-jangan selama kau hamil kau mengutuk perbuatanku yang menidurimu. Tapi seingatku kau juga menikmatinya malam itu?" goda Zayn yang seketika membuat wajah Aline memerah karena malu dan melihat Arya yang sedang mengemudi menahan tawanya.
"Zayn kurang a***. Dia membuatku malu di depan Arya," umpat Aline dalam hati.
Aline memilih diam selama perjalanan sampai tiba di mansion Dea.
TBC...
Jangan lupa dukung author dengan meninggalkan comment, like, vote dan favorite.
Terima kasih🙏🥰