Rela menunggu kepulangan seorang lelaki selama 5 tahun. Alisa harus dihadapkan dengan kenyataan pahit bahwa gadis yang akan Gus Hafidz nikahi, bukanlah dirinya.
Sebagai salam perpisahan terakhir, Alisa rela menjadi bridesmaid pengantin wanita sebelum ia memilih untuk pergi dari pesantren.
Namun ternyata, kakaknya, Zefano. Pria yang baru pulang dari luar negeri itu jatuh cinta pada Alisa pada pandangan pertama. Dan berusaha menjerat Alisa agar menjadi miliknya. Hingga melakukan hal diluar nalar demi menjadikan Alisa istri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mur Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dubai
10 Hari Kemudian....
Sejak kecelakaan itu, Alisa terus bersama Nyonya Zahroh. wanita paruh baya itupun memperlakukan Alisa layaknya keluarga. Seolah ia sedang merawat cucunya yang sedang sakit.
"Alisa makan dulu, Nak. Biar kamu cepet pulih." dengan telaten Nyonya Zahroh mengaduk bubur di mangkok yang ia pegang, lalu mengulurkannya ke arah mulut Alisa.
Alisa yang tak lagi canggung pun menerima uluran tangan Nyonya Zahroh dengan terbuka.
Nyonya Zahroh tersenyum saat Alisa mulai makan lebih banyak dari sebelumnya. Meski gadis itu banyak diam, setidaknya energi dalam tubuhnya terpenuhi dengan baik.
"Jangan terlalu difikirkan berat-berat Alisa....nanti kepalamu sakit lagi." nasihatnya lirih, menyodorkan sesendok bubur lagi ke mulut gadis itu.
Alisa membalasnya dengan senyuman tipis, merunduk menatap jari-jemarinya yang saling memilin.
"Saya cuma tidak menyangka hidup saya akan seberubah ini, Nyonya." lirihnya, air matanya menitik kecil.
Nyonya Zahroh langsung cemas, ia usap sudut mata Alisa yang mengembun itu dengan penuh perhatian.
"Jangan bersedih, Alisa. Kita memang tidak bisa menentukan nasib hidup kita akan seperti apa. Tapi setidaknya kamu harus tetap bangkit dan terus semangat untuk menjalani semuanya, Alisa." lirihnya semakin merasa iba.
Alisa mengulum senyum tipis, ia tatap haru sosok seorang nenek yang begitu tulus padanya. Padahal ia bukan keluarganya, tapi setiap hari Nyonya Zahroh selalu menyempatkan waktunya untuk menjenguk Alisa.
"Nyonya, ini—"
"Panggil Oma saja, jangan Nyonya ah!" lurusnya tersenyum tipis.
Alisa spontan tersenyum, "Iya, Oma."
"Nah gitu, nah aaa...makanlah yang banyak." ucap Nyonya Zahroh mengulurkan sesendok bubur lagi ke mulut Alisa.
Dengan senang hati gadis itu membuka bibirnya, mengunyah dengan pelan bubur di dalam mulutnya, "Oma, sebenarnya kita dimana?" tanya Alisa penasaran, pasalnya lingkungannya seperti asing, dan Alisa kerap menemukan pasien bule disini.
Nyonya Zahroh mengulum senyum tipis, "Oma bawa kamu ke rumah sakit di Dubai, Alisa. Soalnya Oma ada urusan disini sebulan, Oma gabisa ninggalin kamu jadi Oma bawa saja kamu kesini. Disini alat medisnya lebih lengkap daripada di Indonesia."
Terkejut bukan main Alisa disitu. Ia yang semula sandaran di bantal refleks bangkit. Nyelinguk ke arah jendela dimana tanah tampak jauh di bawah sana, nyaris membuatnya jantungan.
"Du-Dubai?!" pekik Alisa syok, "Bagaimana bisa aku pergi sejauh ini?!" batinnya.
Nyonya Zahroh mengulum senyum tipis, mengelus lengan Alisa lembut, "Gapapa, nak. Ini sebagai tanggung jawab saya yang sudah bikin kamu kaya gini. Jadi saya mencoba memberikan perawatan yang terbaik untuk kamu."
Wajah Alisa langsung muram. Disaat seperti ini ia jadi teringat tentang ia yang harus bekerja di cafe om-nya Fatimah. Tapi malah justru sudah ga masuk seminggu lebih.
Seolah tau kegundahan Alisa, Nyonya Zahroh lantas mengelus bahu gadis itu lembut, "Kamu—tinggal dengan siapa, Alisa?"
Alisa menoleh pelan, menatap Nyonya Zahroh intens, "Saya....tinggal sendiri, Oma."
Tertegun Nyonya Zahroh disitu, lalu tersenyum haru setelahnya, "Makasih yah, Alisa."
Gadis itu spontan tertegun, "Makasih kenapa, Oma?"
Oma Zahroh tersenyum haru, matanya berkaca-kaca melihat keteguhan Alisa selama ini, mengelus bahu gadis itu lembut, "Terimakasih karena mampu bertahan hingga sejauh ini."
Hening.
Alisa terdiam, tanpa bisa di tahan air matanya luruh perlahan, ia lekas menutup wajahnya dengan tangan, terisak hebat. Seolah seluruh kegundahan, rasa sakit dan kecewa yang selama ini ia pendam meledak dalam satu waktu.
Nyonya Zahroh ikut terenyuh dibuatnya, lekas menarik tubuh Alisa ke dalam pelukannya, mengelus pucuk kepala gadis itu dengan penuh kelembutan.
"Sedari SMP diusir keluarga, ngaji di pondok dengan hasil keringat sendiri jualan-jualan yah sayang? Menikah dengan pria baik malah pria itu di rebut orang. Kasihan sekali kamu sayang....Suamimu pasti akan sangat kecarian jika kamu pergi sejauh ini, Alisa."
Alisa terdiam lagi, memaksakan senyumnya itu, menggeleng pelan, "Sekarang dia sudah bertemu cinta lamanya, Oma. Dia tidak akan memikirkan aku lagi."
Bohong.
Alisa tidak tahu apapun.
Zefano, mencari keberadaannya seperti orang gila selama ini. Ia saat tau Lora biang dari segala rusaknya rumah tangganya langsung menjebloskan gadis itu ke dalam penjara. Sementara dirinya terus mencari keberadaan Alisa.
"Beri tahu aku Fatimah Alisa dimana?!" teriak Zefano saat sampai di daerah kontrakan Alisa, namun ia tak menemukan lagi keberadaan gadis itu disana.
Fatimah yang juga baru menjenguk ke kontrakan Alisa ikut kebingungan. Semua baju dan peralatan yang baru Alisa beli beberapa Minggu lalu masih tertata rapih di dalam kontrakan, namun sudah 10 hari kontrakan itu kosong.
"Sa-saya tidak tau...." cicitnya gemetar, ia juga kehilangan disini.
Alisa tak ada kabar, kontrakannya kosong, Om pun mengabari Alisa tidak ada datang ke cafe sedari gadis itu melamar kerja disana.
Zefano menjotos dinding pagar di sampingnya kuat, mengusak rambutnya frustasi, menjerit layaknya orang gila yang kehilangan kendali diri.
Ia lantas melambai ke arah bodyguard yang sedang menanyai warga sekeliling untuk mendekat.
Mereka semua sekitar 7 orang, berjejer di hadapan Zefano sembari membungkuk sebagai tanda penghormatan pada atasan.
"Saya, Tuan!"
Zefano menatap mereka semua tajam, menunjuk mereka dengan tegas.
"Cari ke tempat lain! Tanyai siapapun yang bisa di tanya. Istriku harus cepat di temukan!" pekiknya kuat.
Fatimah lirik malas pria tak jauh di sampingnya itu. Tangannya mengepal kuat, seolah ada hal yang ingin ia tanyai padanya.
Tak bisa sabar lagi, gadis itu lantas menghadap pada Zefano, menatapnya serius, "Anda suaminya Alisa. Tapi anda membiarkan istri anda ngontrak sendiri di tempat sempit kaya gini?"
Zefano yang sibuk menelfon seseorang itu lantas menoleh, segera memasukkan hp ke dalam saku blazer miliknya serampangan.
"Saya amnesia, jadi saya tidak tau kalo Alisa istri saya." ucapnya datar, malas berbasa-basi.
"Tapi tetap saja! Anda seharusnya tidak egois seperti ini! Bukannya anda yang mengusirnya, kenapa sekarang jadi anda mencarinya lagi? Toh biarkan dia bahagia di luaran sana!" ketus Fatimah.
Fatimah paling tau seberapa tulusnya Alisa pada Zefano. Bahkan temannya itu dengan tulus menjaganya di rumah sakit. Namun saat siuman tiba-tiba mengakui wanita lain sebagai istri, sementara istri sahnya di usir. Fatimah kalo jadi Alisa juga pasti bakal milih pergi jauh lah!
Zefano lirik malas gadis yang malah cari gara-gara disaat dirinya sedang pusing begini. Dan ia malas untuk menggubris. Memilih menjaga jarak dari wanita itu. Masuk ke dalam kontrakan.
Ia cek ke dalam kontrakan kecil nan rapuh itu. Kegundahan dalam hatinya berganti dengan rasa trenyuh yang tidak bisa diutarakan. Ia refleks menutup mulutnya sendiri saat masuk ke dalam kamar Alisa. Kamar sekecil ini, ditinggali oleh istrinya yang mungil nan rapuh.
"Alisa.....aku—" Ia terisak hebat, menutup wajahnya yang menangis tertahan, "Aku—"
Zefano tak sanggup melanjutkan kata-katanya, tubuhnya langsung luruh ke bawah, bersandar pada tembok rapuk di belakangnya, "Aku benar-benar jahat padamu, sayang."