NovelToon NovelToon
DEWA PERANG DAN KUCING BENCANA

DEWA PERANG DAN KUCING BENCANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:875
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

Di dunia di mana batas tertinggi manusia hanyalah Saint Rank, Sander Duster—putra ketiga keluarga militer terkuat di Elegrand Kingdom—dianggap gagal karena tidak memiliki bakat Life Energy seperti para ksatria lain. Namun takdirnya berubah saat ia menyelamatkan seekor kucing hitam misterius di tengah badai salju.

Kucing itu ternyata adalah Behemoth, salah satu Legendary Beast pemegang Hukum Devouring yang hampir memusnahkan dunia di masa lalu.

Melalui ikatan Soul Resonance yang tak disengaja, Sander perlahan memperoleh kekuatan fisik abnormal yang melampaui logika manusia biasa. Di balik kehidupan akademi, intrik politik bangsawan, ancaman perang antar kerajaan, dan kebangkitan monster legendaris mulai mengguncang dunia.

Saat semua orang memperebutkan kekuasaan, Sander justru berjalan menuju sesuatu yang belum pernah dicapai siapa pun dalam sejarah—

God Rank, ranah sang Dewa Perang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Tantangan

Suara desas-desus kembali memenuhi ruang kelas sejarah setelah pertanyaan provokatif dari Damian von Drake selesai diucapkan. Banyak murid bangsawan dari faksi selatan yang ikut tersenyum meremehkan, sementara Profesor Alistair masih tampak membeku di depan papan tulis, kebingungan mencari kalimat yang tepat untuk mencairkan ketegangan politik yang tiba-tiba mendidih di ruangannya.

Sebelum sang profesor sempat menenangkan suasana, sebuah bantingan telapak tangan yang cukup keras terdengar dari arah bangku barisan tengah. Elena Aurelius berdiri dari duduknya, membuat kursi kayu ek di belakangnya bergeser nyaring. Wajah cantiknya kini benar-benar bersih dari senyuman, digantikan oleh ekspresi ketegasan mutlak dengan sepasang mata biru langit yang memancarkan kilatan amarah seorang putri kerajaan.

"Damian von Drake! Jaga ucapanmu di dalam ruangan ini!" seru Elena, suaranya yang jernih namun sarat akan nada perintah bergaung lantang mengintimidasi seisi kelas. "Otoritas dan kelayakan seorang keturunan Grand Duke bukanlah sesuatu yang bisa dipertanyakan oleh murid tahun pertama sepertimu. Apakah kau lupa bahwa institusi ini dibangun atas dasar kesetaraan dalam menuntut ilmu, dan bukan tempat bagi faksi keluargamu untuk menebar kebencian?"

Damian tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun menghadapi kemarahan sang putri. Ia justru melipat kedua tangannya di depan dada, menyipitkan mata merahnya yang beringas sembari memberikan senyuman sinis yang semakin tebal.

"Saya tidak bermaksud menentang Yang Mulia Putri Elena," jawab Damian dengan nada suara yang dibuat sehalus mungkin namun tetap sarat akan kelancangan. "Namun, ini adalah kelas sejarah peradaban. Sejarah mencatat klan Duster sebagai monster perang yang mengerikan. Jika keturunan mereka saat ini bahkan tidak bisa memicu energi dasar, bukankah itu berarti takdir klan Frost Wolf di Utara sudah mulai meredup? Saya hanya menyatakan kebenaran objektif yang disaksikan oleh seluruh murid di aula ujian kemarin."

Sylvia Frost yang berada di samping Sander mulai mengalirkan sirkulasi elemen es murni dari dalam tubuhnya secara tidak sadar, membuat suhu udara di sekitar bangku mereka mendadak merosot drastis hingga memicu lapisan embun tipis di atas meja batu. Gideon Valentine juga telah menyipitkan mata hijaunya, bersiap untuk meremukkan arogansi Damian menggunakan konspirasi kata-kata yang jauh lebih mematikan.

Namun, tepat sebelum situasi di dalam kelas semakin liar dan tidak terkendali, sebuah telapak tangan yang kokoh mendarat perlahan di atas pundak Elena. Sander Duster, yang sejak tadi hanya diam mendengarkan seluruh cemoohan, kini bangkit berdiri dari kursi kayunya dengan gerakan yang sangat tenang dan teratur.

Sander menepuk pundak Elena dengan lembut, memberi kode batin agar sang putri kembali duduk dan menenangkan emosinya. Elena menoleh, menatap sepasang mata hitam Sander yang begitu jernih dan bebas dari kabut kemarahan, sebelum akhirnya menghela napas panjang dan kembali duduk dengan posisi kaku.

Sander mengalihkan pandangan lurusnya, mengunci tatapannya tepat pada sepasang mata merah milik Damian von Drake. Postur tubuh pemuda berusia empat belas tahun itu tampak begitu tegap, memancarkan kerapatan fisik murni yang sangat kokoh dan tidak bergeming sedikit pun oleh hantaman intimidasi udara panas yang sengaja dilepaskan oleh Damian.

"Warna cahaya di atas batu penguji ataupun ketiadaan Life Energy tradisional dalam tubuhku tidak akan pernah mengurangi rasa hormatku terhadap pengorbanan yang telah dilakukan oleh ayah dan kedua kakakku di perbatasan Utara," ucap Sander dengan nada suara bariton yang sangat datar, dingin, namun bergaung dengan kepekatan intonasi yang luar biasa tegas. "Jika kau begitu mengkhawatirkan masa depan klan Duster hanya karena hasil ujian di atas kertas kemarin, Damian, maka simpanlah seluruh analisis sepihakmu itu untuk dibuktikan di atas tempat yang semestinya."

Seringai di wajah Damian seketika membeku, digantikan oleh kilatan kemarahan yang mendidih saat melihat ketenangan Sander yang sama sekali tidak bisa ia goyahkan.

"Apa maksudmu, manusia tanpa energi?" desis Damian dengan nada beringas.

"Sesi latihan tempur berikutnya akan diadakan di arena terbuka besok pagi," jawab Sander, suaranya tetap tenang tanpa riak emosi sedikit pun. "Jika kau begitu penasaran dengan kekuatan klan Duster, aku menantangmu untuk bertukar tebakan senjata sekali lagi secara resmi di hadapan instruktur tempur. Apakah kau berani menerima tantangan dari seorang anak Grand Duke yang kau sebut gagal ini, Damian?"

Mendengar tantangan terbuka yang dilontarkan oleh Sander di tengah kelas sejarah, seluruh murid tahun pertama langsung menahan napas mereka karena syok setengah mati. Bahkan Profesor Alistair sampai menjatuhkan penggaris kayunya ke atas meja batu karena tidak menyangka bahwa pemuda Duster yang dinilai tidak memiliki energi itu akan berani mengambil inisiatif untuk menantang kembali puncak Bronze Rank yang telah mengalahkannya kemarin.

Di atas bahu kiri Sander, sepasang mata emas Behemoth mendadak berkilat dengan kepuasan yang luar biasa besar. Kucing hitam itu menegakkan kepalanya yang lebat, melirik ke arah Damian dengan pandangan yang dipenuhi penghinaan alami, sembari mepaskan seulas dengkur puas di dalam kepala partner manusianya.

(Hahaha! Luar biasa, Sander! Begitulah cara seorang ksatria sejati merobek mulut lancang dari seekor cacing tanah! Biarkan manusia api murahan itu menerima tantangan ini, dan besok pagi, aku akan memastikan sirkulasi energi hukum hitam keperakan kita akan menghancurkan kesombongan kosongnya itu sampai tidak tersisa!)

Damian von Drake mengepalkan kedua tangannya yang kini mulai mengeluarkan percikan api kegelapan kecil akibat gelombang amarah yang meledak-ledak di dalam dadanya. Ia menatap Sander dengan tatapan pembunuhan yang pekat, sebelum akhirnya menyemburkan tawa beringas yang menggema konstan di dinding kelas.

"Bagus! Benar-benar sebuah keberanian yang sangat konyol, Sander Duster!" teriak Damian dengan seringai kejamnya yang kembali mengembang. "Aku menerima tantanganmu! Besok pagi di arena terbuka, di hadapan seluruh murid akademi, aku akan memastikan bahwa pedang api kegenapanku tidak hanya akan membuatmu mundur beberapa langkah, melainkan akan meremukkan seluruh harga diri klan Frost Wolf yang kau bawa itu sampai menjadi abu!"

Setelah mengucapkan kalimat tantangan balik tersebut, Damian langsung membalikkan badannya dan melangkah keluar dari ruang kelas sejarah dengan kasar, diikuti oleh beberapa murid faksi selatan yang wajahnya tampak dipenuhi antisipasi kejam untuk hari esok.

Sander kembali duduk di kursinya dengan ketenangan yang tidak terusik sedikit pun, mengabaikan tatapan khawatir dari Elena dan Sylvia yang kini mulai memikirkan bagaimana caranya membantu Sander mempersiapkan diri menghadapi pertarungan berbahaya besok pagi. Di bawah pendaran cahaya sore yang menembus jendela kaca, babak baru penuh benturan fisik murni dan sirkulasi energi rahasia pun siap diledakkan di atas arena Elegrand Royal Academy.

1
Manusia Ikan 🫪
bagus bagus, aku kasih nawar untuk kamu/Chuckle//Rose/

folback aku yah ehehe
Argo Sujendro: termakasih kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!