Naya terpaksa menggantikan kakak tirinya yang kabur beberapa jam sebelum pernikahan dengan Adrian, seorang CEO dingin yang lumpuh akibat kecelakaan misterius.
Bagi Adrian, Naya hanyalah pengganti yang harus menanggung dosa keluarganya. Di rumah mewah yang terasa seperti penjara, Naya dipaksa menjalani kehidupan penuh penghinaan dan penderitaan.
Namun Adrian tidak mengetahui satu kebenaran besar.
Wanita yang selama ini ia benci adalah orang yang pernah mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan dirinya dari maut tiga tahun lalu.
Saat perlahan rahasia itu mulai terungkap dan hati Adrian mulai luluh, Naya justru memilih pergi.
Kini Adrian harus menghadapi satu pertanyaan yang terus menghantuinya:
Masih adakah kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahannya sebelum wanita yang dicintainya menghilang untuk selamanya? ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 – Bayangan dari Masa Lalu
Pagi yang hangat di kediaman keluarga Amarta perlahan berlanjut menjadi siang yang tenang.
Setelah sarapan bersama, Naya menemani ibunya berjalan-jalan ringan di taman belakang. Dokter menyarankan agar Ibu Rahayu mulai beraktivitas perlahan untuk mempercepat pemulihan.
Melihat ibunya tersenyum dan terlihat lebih sehat membuat hati Naya dipenuhi rasa syukur.
Sementara itu, di ruang kerja pribadi lantai dua, suasana jauh berbeda.
Adrian duduk di balik meja kerjanya dengan wajah serius.
Di hadapannya, Dimas baru saja menyerahkan sebuah map berwarna cokelat tua.
"Semua data yang berhasil kami kumpulkan ada di sini, Tuan."
Adrian membuka map tersebut.
Di halaman pertama tertera satu nama.
Arman Wijaya.
Pria itu langsung menyipitkan mata.
"Masih sedikit."
"Benar, Tuan."
Dimas mengangguk.
"Seolah-olah seseorang sengaja menghapus sebagian besar jejak hidupnya."
Adrian membalik halaman berikutnya.
Foto-foto lama mulai bermunculan.
Dokumen bisnis.
Catatan perjalanan.
Laporan keuangan.
Dan satu foto yang membuat tangannya berhenti bergerak.
Sorot mata Adrian langsung berubah.
"Itu..."
Dimas mengangguk pelan.
"Kami juga terkejut."
Foto tersebut memperlihatkan ayah Adrian ketika masih muda.
Di sampingnya berdiri dua orang.
Salah satunya adalah Arman Wijaya.
Dan yang lainnya...
Nyonya Dahlia.
Keheningan menyelimuti ruangan.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Adrian merasa ada bagian besar dari masa lalu keluarganya yang tidak pernah ia ketahui.
"Sudah berapa lama mereka saling mengenal?"
"Lebih dari tiga puluh tahun."
Jemari Adrian perlahan mengepal.
"Teruskan penyelidikannya."
"Baik, Tuan."
Namun sebelum Dimas sempat pergi, ponselnya bergetar.
Pria itu membaca pesan yang masuk.
Wajahnya langsung berubah serius.
"Tuan."
"Ada apa lagi?"
"Tim pengawasan baru saja mengirim laporan."
Adrian mengangkat wajah.
"Dahlia kembali menemui Arman pagi ini."
Sorot mata Adrian semakin tajam.
"Mereka bertemu di mana?"
"Sebuah restoran pribadi di kawasan pusat kota."
"Apa yang mereka bicarakan?"
Dimas menghela napas.
"Kami belum mendapatkan rekamannya."
"Lalu?"
"Tetapi sumber kami mendengar satu kalimat."
Ruangan mendadak hening.
Kalimat berikutnya membuat Adrian membeku.
"Mereka membicarakan seorang anak perempuan yang seharusnya tidak pernah ditemukan."
---
Di taman belakang.
Naya sedang membantu ibunya menyiram bunga.
Tawa kecil mereka sesekali terdengar di antara hamparan tanaman yang tertata rapi.
Tidak jauh dari sana, seorang pria mengenakan topi hitam berdiri di luar pagar.
Tatapannya tertuju pada Naya.
Ia mengangkat ponsel.
Lalu memotret wanita itu dari kejauhan.
Klik.
Beberapa detik kemudian foto tersebut terkirim.
Penerimanya hanya satu orang.
Arman Wijaya.
Tak lama setelah itu, balasan masuk.
"Pastikan tidak ada yang mengetahui keberadaanmu."
Pria bertopi itu langsung menghapus seluruh percakapan.
Kemudian pergi meninggalkan lokasi.
Tanpa menyadari bahwa salah satu kamera keamanan rumah telah merekam seluruh gerak-geriknya.
---
Menjelang sore.
Dimas berlari memasuki ruang kerja Adrian.
"Tuan!"
Adrian langsung menoleh.
"Ada apa?"
"Kamera keamanan menangkap seseorang yang memantau Nyonya Naya."
Wajah Adrian mengeras.
"Tunjukkan."
Rekaman segera diputar.
Meski wajah pria itu sebagian tertutup topi, Adrian dapat melihat dengan jelas bagaimana orang tersebut memotret Naya berkali-kali.
Tatapan Adrian berubah dingin.
Sangat dingin.
"Temukan orang itu."
"Tim sudah bergerak."
"Dalam keadaan hidup."
Dimas sedikit terkejut.
"Anda yakin?"
Adrian mengangguk perlahan.
"Karena aku ingin tahu siapa yang mengirimnya."
---
Malam harinya.
Saat seluruh penghuni rumah mulai beristirahat, sebuah amplop cokelat tiba di gerbang utama kediaman Amarta.
Tidak ada nama pengirim.
Tidak ada alamat.
Hanya sebuah foto di dalamnya.
Dimas yang menerima amplop itu langsung membawanya ke ruang kerja Adrian.
Begitu melihat isi foto tersebut, wajah Adrian membeku.
Foto itu memperlihatkan seorang anak perempuan kecil yang sedang digendong oleh seorang pria.
Anak perempuan itu adalah Naya.
Sedangkan pria yang menggendongnya...
Bukan ayah tirinya.
Bukan pula ayah yang selama ini dikenalnya.
Di balik foto itu terdapat tulisan tangan yang mulai pudar dimakan usia.
"Tolong lindungi putriku. Jika sesuatu terjadi padaku, jangan biarkan mereka menemukannya."
Ruangan mendadak terasa dingin.
Adrian membaca kalimat itu berulang kali.
Instingnya mengatakan satu hal.
Masa lalu Naya jauh lebih rumit daripada yang mereka bayangkan.
Dan seseorang baru saja membuka pintu menuju rahasia yang selama puluhan tahun disembunyikan.
Bersambung...