Dear,
Diriku yang kelak berusia 27 tahun.
Aku tak tahu akan jadi apa engkau kelak. Tapi aku akan mempersiapkan engkau menjadi perempuan tangguh yang memperjuangkan cita-citanya. Bukankah engkau masih ingin menjadi seperti Najwa Shihab - salah satu perempuan hebat yang dimiliki negeri ini?
Jika memang itu keinginanmu, maka hal pertama yang harus kulakukan adalah berhasil lulus tes dan bergabung dalam Midori Magz. Engkau tahu 'kan, majalah sekolah itu memiliki banyak penggemar. Bukan hanya dari kalangan Midori High School saja, melainkan menjadi idola anak muda seantero kota ini.
Hei diriku yang kelak akan berusia 27 tahun, kau harus tahu bagaimana perjuanganku untuk mewujudkan mimpimu, mimpiku, mimpi kita.
Salam sayang,
Darimu yang berusia 16 tahun
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoru Akira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27 : Pertolongan
Semesta Ayyara
Air mata tak mau berhenti mengalir dari pipiku. Kak Metha masih mengancam dengan mendekatkan pisau ke wajahku. Aku lelah memohon. Yang kulakukan hanya pasrah atas perbuatan yang dilakukan cewek itu.
“Oi, udah sadar belum sih. Nggak capek pingsan dari tadi nggak sadar-sadar! Oh, atau kamu sengaja pura-pura pingsan karena nggak mau menyapa orang-orang yang sedang nonton kita?” teriak Kak Metha membuatku semakin merinding. Berarti ada orang lain yang juga menjadi korban kekejian cewek itu. Tapi siapa?
Sungguh, aku tak pernah berpikiran jika Kak Metha memiliki sisi yang begitu keji, meski aku tahu ada yang aneh dengan cewek itu. Aku masih percaya jika dia memiliki sisi kemanusiaan di balik sikapnya selama ini. Tapi menyekap kami di ruang bekas UKS dan menyiarkan langsung perbuatan yang dia lakukan benar-benar tindakan gila.
“Heh kamu, lihat sini! Kamu harus tahu apa yang bakal aku lakukan pada cewek sialan ini. Cewek yang udah bikin kakakku keluar dari sekolah akibat perbuatannya. Kamu harus jadi saksi, kalau pembalasan atas sakit hati seseorang itu bisa lebih menyakitkan daripada apa yang udah dia lakukan,” bentak Kak Metha padaku sekali lagi.
Dia mencengkram kerah bajuku dan menatapku tajam, sebelum berjalan ke sudut ruangan tak jauh dari tempatku tertahan. Cewek itu berjongkok sambil memainkan pisau yang mengilat di tangannya. Sesekali ia mendekatkan pisau di tangannya itu pada wajah cewek yang masih tak sadarkan diri. Kondisi ruangan yang cukup gelap membuatku tidak mengenali siapa sosok yang tersungkur tak jauh dari bawah kakiku. Namun, aku bisa melihat samar apa yang dilakukan Kak Metha pada cewek itu. Dia benar-benar menyayat pipi cewek yang tersungkur di lantai ruang bekas UKS hingga berdarah. Walaupun tidak banyak, tetapi cukup membuatku bergidik ngeri.
Aku mengalihkan pandangan ke arah lain. Aku tak sanggup menyaksikan apa yang sudah Kak Metha lakukan. Terlebih lagi, aku tak bisa melakukan apa pun dalam kondisi seperti ini. Jangankan menghentikan perbuatan gila cewek itu, untuk menyelamatkan diriku sendiri pun aku tidak mampu. Air mataku semakin deras mengalir.
“Heh, kubilang kamu harus jadi saksi balas dendam ini!” Kak Metha membentakku dan memasakku untuk menonton adegan selanjutnya. Saat itulah aku bisa menatap dengan jelas wajah cewek yang tersungkur di lantai ruangan bekas UKS ketika cahaya menyorot dari luar.
“Kak Metha?” teriakku tertahan. Jika Kak Metha juga menjadi korban dalam penyandraan ini, lalu siapa cewek yang kini berdiri di depanku?
Tubuhku gemetar. Detak jantungku meningkat cepat. Aku benar-benar ketakutan saat ini. Ternyata, aku keliru saat beranggapan Kak Metha telah berbuat jahat dan aku tidak tahu siapa penjahat yang sebenarnya.
“Arata, kumohon. Selamatkan aku,” ratapku dalam hati.
“Sori Ayyara, demi membalaskan dendamku pada perempuan sialan ini, kamu harus menerima akibatnya juga. Seandainya kamu nggak ikut campur malam ini, aku pasti nggak akan nekat berbuat sampai seperti ini dan akan melenyapkannya diam-diam.”
“Ka … Kamu siapa? Apa salahku, apa salah Kak Metha sama kamu? Kamu tahu nggak, yang kamu lakukan ini tindakan kriminal. Bisa saja kamu bakal ditahan kalau melakukan hal lebih dari ini. Kumohon, siapa pun kamu, kamu nggak boleh nekat.”
Cewek itu tersenyum seram. Dia melepas topeng yang melekat elastis di wajahnya. Laura.
“Kamu mau tahu apa yang udah kamu perbuat dan cewek sialan ini? Karena dia Kakakku drop out dari sekolah. Kamu tahu apa penyebabnya?”
Aku memang mendengar rumor jika Kak Metha pernah merundung seorang siswa hingga anak itu memilih untuk keluar dari MHS. Dan, hal itu sudah menjadi rahasia umum. Namun, aku tidak percaya jika kini justru terlibat dalam pembalasdendaman seseorang yang terluka akibat ulah Kak Metha.
“Kakakku lebih cantik dan bisa membuat Jonathan jatuh cinta sama dia. Tapi cewek ini, dia melakukan perundungan pada kakakku, hingga harus membuat dia keluar dari MHS. Dan kamu bilang, aku nggak boleh nekat? Apa kamu pikir itu adil buatku dan kakakku? Kamu tahu, ini harga yang harus dia bayar akibat dari perbuatannya.”
Bukan hanya fisikku yang nyeri, kini hatiku pun ikut nyeri saat mengetahui fakta bahwa Kak Jojo pernah jatuh cinta pada cewek lain. Bukan, bukan aku mengharapkan dia tidak pernah suka orang lain. Hanya saja dia tak pernah bercerita kepadaku. Itu yang membuatku merasa tidak terima.
“Heh, dan kamu mau tahu apa salah kamu Ayyara? Salah kamu karena sudah membuat Haruto terluka. Dia menyukaimu, tapi kamu mempermainkan perasaannya.”
Apalagi ini? Apa Arata bercerita padanya tentang perasaan sukanya pada cewek itu? Tidak, tidak mungkin Arata berbagi kegundahan hatinya pada Laura. Tapi … tidak, itu tidak penting. Sekarang yang penting hanyalah bagaimana caranya aku bisa melepaskan diri dari situasi ini.
“Kamu nggak pantas bersanding di samping Haruto, Ayyara. Aku yang lebih pantas.”
“Kalau kamu memang merasa pantas, kamu nggak akan pernah melakukan hal ini padaku ataupun Kak Metha, Laura. Karena kamu pasti tahu, apa hal yang paling dibenci oleh Arata,” kataku dengan suara masih bergetar. Meski begitu aku sanggup menatap kedua mata Laura yang menyorotkan kebencian.
Aku tidak tahu darimana mendapat kekuatan itu. Mungkin lewat pesan yang dikirimkan para penonton di kolom komentar live video Laura. Atau mungkin ucapan Laura tentang Arata. Namun, ada satu hal yang pasti, ucapan cewek itu begitu menyakitkan saat menyebut aku tidak pantas berada di samping Arata. Siapa dia bisa mengaturku ataupun Arata dengan siapa yang lebih pantas di samping kami masing-masing.
“Heh, mulai berani melawan kamu sekarang? Udah merasa sok jogaan? Bisa apa kamu dengan tangan dan kaki terikat kayak gitu? Mau balas perbuatanku? Udah kepikiran bagaimana caranya?”
“Nggak, aku nggak akan membalas perbuatan kamu, Ra. Cukup buktikan kalau kamu memang pantas buat Arata. Gimana menurut kamu, Arata-kun?”
Laura terlihat kebingungan saat mendengar pertanyaan terakhirku. Yang tidak cewek itu tahu, aku bisa membaca pesan rahasia yang dikirimkan Arata lewat komentar live video milik Laura. Setidaknya aku bersyukur cewek itu cukup nekat dengan menyiarkan langsung tindakan gilanya dan mengetahui pesan rahasia yang ditinggalkan Arata. Juga fakta jika Arata telah berdiri di balik pintu dan menunggu aba-aba dariku.
“Laura, jika kamu merasa pantas bersamaku, kamu tidak perlu merukai Ayyara. Cukup aku yang menjadi milikmu.”
Suara Arata terdengar dari luar. Air mataku kembali mengalir. Kini, aku memasrahkan semuanya pada cowok itu. Aku yakin, Arata cukup cerdas untuk menyelamatkan aku dan Kak Metha dari situasi ini.
“Haruto?”
“Ya, ini aku. Boleh buka pintu?”
“Darimana kamu tahu tempat ini? Kamu sendirian? Ah tidak, kamu pasti tidak mau bertemu denganku, kamu pasti mau bertemu Ayyara ‘kan?”
“Tidak, aku mencarimu Laura.”
Brakk …
Laura melempar kursi ke arah pintu. Tak ada suara dari luar. Dalam hati aku terus memanggil nama Arata. Di saat seperti ini, hal itu bisa menjadi kekuatan bagiku.
“Laura, izinkan aku masuk.”
“Pergi!”
“Pergi!”
“Pembohong!”
“Penipu!”
“Pergi kamu!”
Amarah Laura semakin memuncak. Dia melempari semua barang yang ada dalam ruangan ke arah pintu.
Brakk …
“Ini Polisi, jangan bergerak!”
Suara sirine menggema di seluruh ruangan sesaat setelah pintu didobrak dari luar. Dalam sekali gerakan seorang petugas berhasil mengamankan Laura. Air mataku semakin deras saat melihat Arata berlari ke arahku bersama Kak Aditya. Aku menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Arata.
semangaaattttt
dtunggu up ny thor.
semangatttt
bagus cerita2 nya
feedback ya thor ke novelku Pendekar Wanita Dari Masa Depan 💙 gege tunggu di sana😆