Tok ... tok ... tok ...
Apa yang akan kalian lakukan jika ada yang mengetuk pintu utama rumah kalian malam-malam? Membiarkannya atau beranjak untuk membukanya. Saranku lebih baik kalian acuhkan saja daripada membukanya. Aku tidak mau kejadian yang kualami terjadi pada kalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ritual
Wanita itu -Kakak kandung Nyonya Tiara- menghampiri Nyonya Tiara yang duduk termenung sambil tertunduk di ruang kerja Tuan Dika.
Nyonya Chika merangkul bahu Nyonya Tiara perlahan. "Ada apa Tiara? Kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir.
Nyonya Tiara menengadah menatap Nyonya Chika lalu tersenyum saat tahu siapa yang menghampirinya. "Iya, aku baik," jawabnya lalu kembali menunduk.
"Besok kau akan mengunjungi Ahra?" tanya Nyonya Chika.
"Mungkin ... tidak," jawabnya sambil memainkan jemarinya di atas meja kerja Tuan Dika.
"Kenapa? Dia putrimu kan. Lagipula aku yakin, Ahra tidak mungkin melakukan semua itu," ujar Nyonya Chika.
"Bukan itu masalahnya," gumam Nyonya Tiara.
"Lalu apa?"
"Dia ... tidak ada di sana."
"Maksudmu?"
"Dia melarikan diri."
Nyonya Chika mengerutkan kening. "Benarkah?" tanyanya tak percaya. "Siapa yang bilang?"
"Tadi polisi meneleponku," jawabnya menjelaskan.
"Jadi maksudmu, sekarang dia adalah buronan?" Nyonya Chika menatap Nyonya Tiara dengan wajah menebaknya.
"Jangan berkata begitu. Lagipula tuduhan itu palsu, sejak kapan dia membunuh orang?" Nyonya Tiara menatap marah Nyonya Chika yang langsung menatapnya heran.
Ia malah pergi dari ruang kerja Tuan Dika meninggalkan Nyonya Chika yang berekspresi bingung.
---
Nyonya Nia bersiap akan menutup toko. Saat ia akan menutup garasi toko, seseorang mengetuk kaca jendela tokonya dengan keras. Saat melihat siapa yang melakukannya. Nyonya Nia terkejut, dan segera membuka pintu toko. Ternyata itu Mia, yang memakai jaket tebal dan kupluk.
"Nona? Kenapa datang malam-malam begini?" tanyanya.
"Aku--" Belum sempat Mia menjawab, Nyonya Nia lebih dulu memotongnya.
"Kenapa denganmu, Nona? Kamu baik-baik saja? Bagaimana kamu penuh luka begini?" tanyanya kaget setelah sadar bahwa wajah Mia diperban. Nyonya Nia melihat Mia dari atas ke bawah bergantian.
"Aku ... mengalami kecelakaan," jawabnya.
"Sekarang kau sudah baikan?" tanya Nyonya Nia sambil menggenggam bahu Mia.
"Iya, Nek," jawab Mia sambil mengangguk-angguk.
Nyonya Nia langsung membuang napas lega. Ia bersyukur, jika gadis di hadapannya ini baik-baik saja.
"Nek, tentang ritual itu--"
"Ah, ayo masuk!"
Lagi, ucapan Mia dipotong olehnya. Mia membuang napas berat, lalu segera mengikuti langkah Nyonya Nia yang berlalu masuk. Mia mengikuti Nyonya Nia masuk ke dalam ruangan yang dindingnya tertutup kain hitam. Mia duduk di kursi dekat pintu masuk tadi.
"Nek, tentang ritual itu ... bisakah kita melakukannya sekarang?" tanya Mia meminta.
Nyonya Nia yang sedang menyiapkan minum di dapur dekat dengan posisi Mia, langsung menghentikan aktifitasnya yang mengaduk teh hangat. Ia langsung menatap Mia. Posisi dapur, ruang makan, dan ruang tengah berada dalam satu ruangan.
"Itu ... tidak mungkin," jawabnya pasti.
Mia menggigit bibir bawahnya, ia ragu jika harus mengatakan sesuatu yang ia pendam sendirian.
"Aku merasakan firasat buruk," gumamnya. "Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi ... aku merasa sosok yang merasuki Ahra sangat berbahaya," jelas Mia lirih.
Nyonya Nia menatap Mia sebentar, laku kembali mengaduk teh hangat. Mia mengalihkan tatapannya ke bawah. Ia melihat sepatunya dengan tatapan kosong.
Nyonya Nia segera menghampiri Mia dengan nampan di tangannya dan menyuguhkan teh hangat di depan gadis itu.
"Terima kasih, Nek," ucap Mia sambil mengambil teh itu.
"Sama-sama," ucapnya tersenyum lalu duduk di seberang Mia yang terhalangi meja.
Teringat sesuatu. Mia langsung menatap Nyonya Nia, "Ooh iya, nenek sudah sembuh? Kapan nenek pulang dari rumah sakit?"
Nyonya Nia mengerutkan kening. "Bagaimana bisa kau tahu? Apa kau--"
"Iya, aku yang menolong nenek," jawabnya tersenyum. "Itu pun karena Ahra yang memberitahu ku," gumam Mia yang tak terdengar oleh Nyonya Nia.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa bisa nenek tak sadarkan diri saat itu?" tanya Mia menampilkan wajah khawatirnya.
Nyonya Nia langsung mengingat kejadian malam itu. Kejadian mengerikan yang terjadi padanya.
"Sepertinya ini ulah sosok itu," simpulnya. "Dia menyerang ku malam-malam. Dia datang ke sini saat aku akan menutup toko," lanjutnya.
Mia hanya menatap Nyonya Nia dengan tatapan sendu.
"Jadi ... namamu Mia?"
"Iya, Nek."
Nyonya Nia tersenyum. "Lalu bagaimana dengan lelaki itu? Apa dia baik-baik saja?"
Wajah Mia langsung berubah sedih. "Maksud nenek Paman Dika?" tanyanya memastikan. "Dia sudah tiada, Nek," jelasnya terdengar lirih.
"Kenapa?"
Nyonya Nia terkejut mendengarnya. Bahkan baru pertama kali ia bertemu dengan Tuan Dika. Ia ingin sekali berterima kasih.
"Katanya Paman Dika bunuh diri, tapi aku tidak percaya itu. Pasti itu ada hubungannya dengan sosok itu."
Nyonya Nia pun tentu tidak percaya itu. Sepertinya memang benar, ini ulah sosok itu.
"Bagaimana dengan gelang itu? Apa kau sudah memakaikannya?"
Mia menggeleng pelan. "Belum, aku tidak berhasil memakaikannya."
"Kalau begitu besok saja," ucapnya.
"Nek, kenapa harus menunggu bulan purnama?" tanya Mia ingin tahu.
Mia meletakan gelas yang sudah kosong di atas meja.
"Karena ... makhluk sepertinya akan melemah saat bulan purnama. Itulah kenapa banyak siluman yang bekerja sama dengan manusia meminta tumbal pada saat bulan purnama," jelas Nyonya Nia. "Besok kita harus mengikatnya setelah dia memakai gelang itu," ujarnnya.
Mia hanya mengangguk mengerti.
"Dia berada di mana sekarang?" tanya Nyonya Nia penasaran.
"Mungkin ... di rumahnya," jawab Mia menebak.
"Kau sudah memberitahu keluarganya kan?"
"Sudah, sayangnya Tante Tiara tidak percaya," keluhnya.
"Tenang saja, besok pasti dia akan percaya," ucap Nyonya Nia percaya diri.
"Caranya?" tanya Mia bingung.
"Lebih baik kamu pulang, Mia. Nanti orangtuamu mencarimu. Lagipula hari semakin malam," ujar Nyonya Nia mengalihakan pembicaraan.
Nyonya Nia mengambil gelas bekas Mia minum tadi. Ia menyimpan di tempat pencucian piring lalu kembali menghampiri Mia yang bersiap pulang.
Mia setuju jika ia harus pulang segera. Ia juga merasa tak enak karena sudah datang terlalu malam. "Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu," pamit Mia sambil membungkukan kepalanya sedikit.
"Hati-hati di jalan." Nyonya Nia mengantar Mia sampai ke depan toko.
"Iya, Nek. Selamat malam." Mia lagi-lagi kembali membungkukan badannya laku segera pergi dari sana.
"Selamat malam," balas Nyonya Nia.
Ia menatap punggung gadis di depannya itu dengan tatapan kasihan. Ia tahu bagaimana hancurnya Mia saat tahu temannya adalah orang yang berbeda.
Nyonya Nia terus menatap punggung itu yang semakin menjauh. Setelah netranya tidak menangkap sosok Mia lagi, ia segera masuk ke toko dan menutup jendela.
---
Apa maksud nenek itu Tante Tiara akan percaya dengan apa yang kuucapkan? Bagaimana caranya agar Tante Tiara percaya? Aku mengatakan berkali-kali pun, ia tetap tidak akan percaya, batin Mia berpikir.
Ooh iya, bagaimana caranya aku memakaikan gelang itu ke tangan Ahra? Ais, kenapa aku tidak menanyakannya saja!
Mia berbalik lalu berjalan menuju Toko Nyonya Nia, tapi ia urungkan. Saat sampai di sana, toko itu benar-benar sudah ditutup. Berbeda dengan tadi, jendela toko belum ditutup.
Ia membuang napas perlahan, lalu dengan terpaksa ia berbalik dan akan memikirkan caranya sendiri bagaimana agar gelang itu dipakai oleh Ahra.
.
.
.
Terima kasih semuanya
Jangan lupa tinggalkan jejak
Rate, like, comen, vote, and tap love
Sampai jumpa!
bagus sekali ceritanya 👍
seremmm weehh tp seruu