Di malam pertunangan Daniel dan Moza, Tiara kehilangan kesuciannya. Kehormatan Tiara direnggut oleh Daniel calon kakak iparnya sendiri.
Sejak malam itu Daniel tidak mau melepaskan Tiara malah memaksa Tiara untuk menjadi istri simpanannya. Tidak ada cinta atau kehamilan, Daniel hanya menginginkan tubuh Tiara semata.
Apa yang terjadi kalau akhirnya Tiara hamil?
Tamat perseason.
1-55 Daniel dan Tiara
Diko dan Laura
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah Lebih Kental Dari Air
Tiara seperti anak kecil yang tidak tau apa-apa diantara orang dewasa seperti Moza dan Andre. Pagi ini ia merasa ada yang aneh pada Moza, ketika Tiara kembali ke penginapan Moza sudah ada di sana mengemas pakaian dan barang-barang miliknya.
"Kita pulang sekarang." Moza menarik koper Tiara keluar dari tempat itu, bahkan tidak sedikitpun melihat kearah Tiara.
"Ke-kenapa mendadak? Bukannya masih ada beberapa hari lagi?" Tiara mengikuti Moza, namun kakaknya itu tetap bungkam seribu bahasa.
Bahkan, ketika sudah sampai di Bandara pun Moza tidak menjelaskan apapun, tetapi tidak sungkan mengajak Andre bicara.
Kenapa keadaannya menjadi canggung membuat Tiara merasa seperti ada yang hilang, kosong bahkan sedari tadi lehernya tidak berhenti bergerak seperti mencari mahkluk lain diantara mereka. Siapa?
"Ada di mana, dia?"
Sampai bunyi pengumuman keberangkatan pesawat mereka pun, sosok itu belum juga muncul, tanpa sadar Tiara meraba cincin saat hatinya terasa hening. Ah Tiara bodoh, kenapa mencari Daniel?
Keanehan kian terasa ketika berada di dalam kabin pesawat, sedari awal Moza memilih tempat duduk bersebelahan dengan Andre, sejak kapan mereka sedekat itu? Tiara cuma bisa bermonolog dalam hati.
Menurut tiket, Tiara duduk di samping jendela, tetapi sudah ada orang lain yang mendudukinya, seorang laki-laki menyandar dengan wajah ditutup majalah.
"Permisi ... itu tempat dudukku." Bukannya tidak mau mengalah, hanya saja sudut jendela merupakan tempat terbaik menatap awan di luar sana.
"Tidak ada pergerakan sama sekali." Tiara menghela napas, dilihatnnya pramugari mendekatinya, daj dirinya masih berdiri seperti anak kecil minta uang jajan sebelum berangkat sekolah.
"Permisi ... tidak sopan mengambil tempat duduk orang lain!"
Pria itu tersentak dan menarik majalah yang tadi menutupi wajahnya. Pria tampan itu tersenyum dan berdiri, berjalan dan keluar dari tempat duduk itu.
"Silahkan duduk pemilik hatiku," ucap pria tersebut seraya mengedipkan satu matanya, sengaja menggoda Tiara.
"Pemilik hati?" Tiara tersipu malu. Diko selalu berhasil membuat ia melambung tinggi. Tiara mengambil posisi wenak di sudut jendela. Diko pun mengambil tempat di sampingnya.
"Kenapa ngeliatin gitu?" tanya Diko, ia memiringkan setengah punggungnya sengaja menghadap Tiara.
"Kakak misterius banget, sih? Datang nggak dijemput, pulang juga nggak diantar, kemarin muncul tiba-tiba terus seharian hilang ntah ke mana, dan sekarang ada di sini, mau pulang juga?"
Diko tertawa renyah sampai menarik perhatian beberapa orang di sana, ia mengacak rambut Tiara.
"Justru kamu yang misterius, selalu gentayangan di hati dan pikiranku." Diko meraih tangan Tiara, meraba cincin yang melingkari jari manisnya, diam beberapa detik dan kembali bicara. "Aku ingin melamarmu, menjadi istriku dan menjadi milikku." Diko menatap mata Tiara. "Nanti ... jika hari itu sudah tiba, aku harap kamu tidak menolak aku."
Tiara menarik tangannya, benar! Suatu hari nanti saat Daniel mengakhiri semuanya, ia akan melepaskan cincin ini, tetapi apakah Diko mau menerima statusnya barunya?
"Sebagai mantan istri simpanan."
"Tiara...." Diko melambaikan tangan di depan Tiara. "Kamu melamun? Atau ada yang kamu sembunyikan dariku?" selidik Diko.
"Nggak ada. Cuma tanpa kita sadari waktu sudah mengubah semuanya, kak. Kiita berpisah selama 12 tahun lamanya mungkin perasaan kita nggak sama seperti yang dulu."
"Tapi perasaanku masih sama dan aku bisa buktikan itu atau kamu yang sudah berubah?" selidik Diko.
"Bukan perasaanku." Tiara tersenyum. "Nanti kalau saatnya tiba, kakak akan tau semuanya dan di situ cinta kakak akan diuji," jawab Tiara, ia memasukkan tangannya ke dalam kantung jaket hodie yang ia kenakan, jaket yang dititipkan Daniel ke petugas hotel tempatnya menginap dengan Daniel, Tiara meraba sesuatu di sana.
^^^"Pil anti mabuk?" Bahkan disaat seperti ini, wajah Daniel sudah gentayangan. Tiara meminta air hangat kepada pramugari untuk menelan pil itu dan ia memilih terlelap dari pada harus berbohong lebih banyak lagi kepada Diko.^^^
***
Tiara dan Moza berpisah di Bandara. Tiara tidak bisa menolak ketika Diko memaks untuk mengantarnya pulang, sementara Tiara bergegas ke suatu tempat.
"Aku mau mengadakan konfrensi pers sekarang! Aku akan mengumumkan kepada media kalau pertunanganku dengan Daniel tidak bisa dilanjutkan!" ucap Moza pada pihak managernya.
"Nggak bisa, Za. Publik akan kecewa dan karirmu bisa hancur dalam sekejap mata."
"Aku nggak perduli, hubungan ini palsu dan kami tidak bahagia menjalaninya!"
"Sebaiknya kalian duduk berdua, cari jalan keluar bersama, jangan mengambil keputusan secara sepihak."
"Masalahnya, aku nggak bisa menunda waktu lagi. Kalau kalian tidak bisa membantuku. Aku sendiri yang menemui mereka!" ancam Moza,
Pihak manajemen mencoba menghubungi Daniel, namun pria itu tidak bisa dihubungi.
***
Tangan Moza gemetaran, matanya terasa panas menatap satu persatu kamera di depannya, para awak media pun berebut mengambil gambarnya. Moza harus mewanti-wanti kemungkinan yang akan terjadi di kemudian hari, ia harus mengakhiri semuanya sevelum Tiara dicap sebagaai pihak ke tiga di dalam hubungannya.
"Terima kasih teman-teman bersedia memenuhi undangan ini, saya tidak bisa bicara banyak selain mengumumkan kalau hubungan saya dan Daniel sudah berakhir, itu artinya kami tidak akan pernah menikah!" ucap Moza lantang.
"Kenapa? Apa karena hadirnya pihak ke tiga?" tanya salah seorang wartawan.
"Tidak, memang sudah tidak ada kecocokan di antara kami. Maaf saya rasa cukup sampai di sini, terima kasih." Moza beranjak meninggalkan para awak media.
Dunia Tiara terasa berputar melihat siaran langsung di layar kaca, ada apa dengan kakaknya? Kenapa Moza mengakhiri semuanya? Inikah jawaban atas sikap Moza di Bandara, tadi? Air mata Tiara mengalir deras sebelum kehilangan kesadarannya.
Beberapa saat kemudian, kesadaran Tiara kembali seperti semula, saat membuka mata Moza adaalah orang pertama yang dilihatnya, kakaknya duduk di tepi tempat tidur.
"Tiara, kamu buat kakak takut." Moza memeluk Tiara. "Tolong jangan seperti ini, lagi. Jangan sembunyikan apapun dari kakak."
Tiara menatapnya dalam, ia.menyandar di kepala tempat tidur, air matanya mengalir lagi.
"Kenapa? Kenapa kakak mengakhiri hubungan kalian?" tanya Tiara.
"Kakak harus melakukannya, karena kakak nggak mau kamu berkorban lebih jauh lagi, kakak sudah tau apa yang dilakukan Daniel sama kamu."
Tiara semakin histeris, ia meraih tangan Moza dan menciumnya, beban pikirannya seakan runtuh ketika Moza membelai rambutnya.
"Maaf, kak ... maafkan, aku."
"Nggak, Tiara. Karena kakak kamu menjadi korban, kakak yang seharusnya minta maaf."
"Seharusnya kakak nggak mengambil keputusan ini. Harusnya kakak nggak milih aku, harusnya kakak membenciku."
"Kenapa harus membenci? Darah lebih kental daripada air, kita berasal dari rahim yang sama, dari benih yang sudah dititipkan ayah, aku menjagamu sedari kecil, dan bertemu Daniel ketika sudah dewasa, kenapa aku harus memilih dia?"
Moza tidak bisa memilih, ini pilihan yang sulit, awalnya ia membenci keadaan karena Tiara merusak hubungannya dan Daniel, tetapi setelah mendengar penjelasan Andre membuat pikirannya sedikit lapang.
Pantaskah ia menyalahkan dan membenci korban? Moza tidak akan menyesali keputusannya.
***
semangat teroos kaa,,karena bagi aq skalipun ada kemiripan dengan novel yg lain nya aq akan tetap stay..asalkan cerita nya seru, alur nya bagus dn minim typo plus g ada kata2 ato kalimat2 yg rancu...💪💪
I like it...
😍😍😍😍😍👍