Untuk menunjukkan rasa terima kasih kepada orang tua angkatnya, Arabella bersedia menyamar dan menikah dengan Fardhan, lelaki yang sebenarnya dijodohkan dengan kakak angkatnya.
Fardhan adalah lelaki berhati dingin yang terluka karena cinta sebelumnya. Meskipun dia tahu keluarga angkat Bella telah menipunya, tapi dia tetap menikahi gadis itu.
Tapi cinta masa lalu Fardhan hadir kembali, merusak apa yang sudah terjalin dan membuat dia dilema. Sementara Bella merasa bersalah karena sudah membohongi Fardhan dan Ibunya.
Akankah Fardhan dan Bella mampu mempertahankan rumah tangga mereka setelah semua rahasia terbongkar?
Atau justru berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZiOzil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Fardhan dan Bella pun tiba, di depan rumah sudah terparkir mobil sedan mewah berwarna hitam yang Bella tahu pasti siapa pemiliknya. Raka bergegas turun dari mobil dan menghampiri Bella serta Fardhan.
"Mas Raka apa kabar? Kapan datang dari Kalimantan?" tanya Bella.
"Baik. Aku baru tadi pagi nyampenya dan langsung ke rumah kamu, tapi katanya kamu udah nikah. Kok nggak kabari aku?"
"Hmmm, maaf, Mas. Soalnya mendadak." jawab Bella gugup. "Oh iya, kenalin ini ... suami aku."
Bella memperkenalkan Fardhan kepada Raka dengan sedikit ragu saat menyebutkan kata suami, meskipun mereka pasangan yang sah, tapi sesungguhnya mereka tidak seperti suami-isteri pada umumnya.
Raka mengulurkan tangannya kehadapan Fardhan dan menatapnya tajam. "Aku Raka, sahabatnya Karina sejak kecil. Tugasku dari dulu adalah menjaga Karin, dan siapapun yang berani menyakitinya, akan berhadapan denganku."
"Fardhan." balas Fardhan singkat sambil menjabat tangan Raka. Entah mengapa dia merasa kesal dengan pernyataan Raka yang terdengar seperti ancaman itu.
Raka beralih memandang Bella setelah melepas tautan tangannya dengan Fardhan. "Karin, aku ingin bicara berdua denganmu, biasakan?"
Bella tak berani menjawab, dia sontak memandang Fardhan untuk meminta izin.
Seolah tahu maksud tatapan Bella, Fardhan pun mengangguk. "Silahkan, aku masuk duluan, permisi."
Fardhan bergegas pergi meninggalkan Bella dan Raka yang masih berdiri di depan rumah sambil menggerutu dalam hati. "Memangnya siapa juga yang dengarkan pembicaraan mereka? Nggak penting!"
Setelah kepergian Fardhan, Raka langsung meraih tangan Bella dan menggenggamnya dengan erat. "Aku kesini untuk melihat sendiri suamimu. Agar aku bisa memastikan jika dia bukan orang jahat, karena tak ada yang tahu kepribadiannya."
Tak nyaman dengan genggaman tangan Raka, Bella cepat-cepat menarik tangannya, tapi dia tak menyadari jika Fardhan melihat semua itu dari dalam rumah dengan perasaan tidak suka.
"Kau sedang lihat apa?" tanya Ranti demi memergoki sang putra mengintip dari balik jendela.
Fardhan yang gugup langsung menguasai dirinya dan berusaha tenang. "Tidak ada, Bu."
Ranti tak percaya dan ikut mengintip dari jendela. "Karin sedang bicara dengan siapa?"
"Sahabatnya." jawab Fardhan.
"Memangnya wanita dan pria bisa bersahabat?"
Fardhan mengernyit heran. "Maksud Ibu?"
"Fakta persahabatan lawan jenis itu hanya khayalan belaka. Wanita dan pria tidak akan bisa memiliki hubungan platonis karena pasti akan muncul benih-benih cinta, entah pada sang wanita, sang pria, ataupun keduanya. Kau yakin salah satu dari mereka nggak menyimpan rasa cinta?" ujar Ranti sambil tersenyum penuh arti.
Fardhan bergeming, dia mendadak galau mendengar ucapan Ranti itu, dia kembali teringat saat Bella tersenyum mendapat telepon dari Raka dan ketika lelaki itu menggenggam tangan Bella tadi.
"Contohnya saja antara kau dan Keyla. Kalian juga awalnya bersahabat, lalu saling jatuh cinta. Mungkin mereka juga. Apalagi kan kau menikah dengan Karin kerena dijodohkan, bukan karena saling mencintai." lanjut Ranti dan Fardhan masih bergeming.
Ranti menghela napas lalu lanjut berucap. "Ibu benar-benar nggak rela menantu kesayangan Ibu yang cantik dan baik itu jadi menantu orang lain."
Ranti pun melenggang pergi setelah mengatakan kata-kata yang membuat Fardhan semakin galau. Dia sengaja memanas-manasi sang putra agar membuka matanya bahwa Bella bisa kapan saja pergi dari hidupnya dan direbut orang lain jika dia tidak bisa menghargai keberadaan wanita itu.
Sementara di luar rumah, Raka masih menyampaikan kekesalan hatinya karena Bella mendadak menikah tanpa memberitahunya.
"Mas, aku menikah karena ingin membalas budi kepada Ayah dan Ibu. Jadi aku mohon, tolong jaga rahasia keluarga kami ini." ucap Bella dengan nada memohon.
"Tapi, Bel ... kau masih bisa membalas budi dengan cara yang lain. Nggak harus seperti ini."
"Mas, saat ini Ayah benar-benar membutuhkan bantuan ku dengan cara ini. Aku mohon Mas mengerti dan bersedia merahasiakan semua ini."
"Aku pasti bisa merahasiakannya, tapi aku tetap khawatir denganmu. Aku takut kau nggak bahagia, apalagi jika suamimu itu sampai tahu jika kau bukan Karina. Aku takut dia menyakitimu, Bel."
"Mas tenang saja! Percaya padaku." sahut Bella dengan senyuman manis, senyum yang membuat Raka terpesona berkali-kali.
Raka menghela napas. "Baiklah. Aku harus pastikan kau bahagia, tapi jika nggak, aku akan memaksamu meninggalkan lelaki itu."
"Wow, Mas lagi ngancam aku ni?" ledek Bella.
"Bel, aku nggak akan maafkan diriku sendiri jika sampai kau sedih apalagi terluka, aku sudah berjanji akan selalu menjagamu. Makanya aku kesal banget saat tahu kau nikah begini tanpa sepengetahuanku."
"Terima kasih, ya, Mas. Aku beruntung banget bisa punya sahabat seperti saudara begini. Sekali lagi aku minta maaf." ucap Bella.
Raka tersenyum getir. "Iya, sahabat rasa saudara. Baiklah, kalau begitu aku pulang."
"Mas, benar-benar nggak mau masuk dulu ni? Kenalan sama mertuaku."
"Lain kali aja. Aku pulang ya, baik-baik disini dan kabari aku kalau terjadi sesuatu denganmu." sahut Raka sembari mengusap lembut pucuk kepala Bella. Dan semua itu disaksikan oleh Fardhan yang masih setia mengintip dari balik jendela.
"Iya, Mas. Hati-hati dijalan."
Raka melesatkan mobilnya meninggalkan rumah Fardhan, Bella melambaikan tangan sambil tersenyum sampai mobil Raka menghilangkan di balik mobil lain, baru dia berjalan masuk dan begitu sampai di teras ...
Byuuuurrr ....
Fardhan tiba-tiba menyiramkan seember air kepada Bella sehingga wanita itu basah kuyup.
"Apa yang lakukan? Kenapa menyiram ku?" sungut Bella.
"Astaghfirullah, Fardhan! Apa-apaan kau ini?" tanya Ranti heboh saat melihat Bella berdiri di teras dengan basah kuyup.
"Dia baru saja dipegang pria lain, aku nggak mau dia membawa penyakit ke dalam rumah." jawab Fardhan seenaknya.
Bella tercengang mendengar jawaban suaminya itu. "Kau pikir Mas Raka itu virus apa?"
"Dia bisa lebih berbahaya dari virus." sahut Fardhan dan segera pergi dari hadapan Bella dan Ranti.
Ranti geleng-geleng kepala melihat tingkah putranya itu sambil tersenyum, dia sepertinya menyadari sesuatu.
"Ibu akan ambilkan kau handuk, tunggu sebentar."
Bella benar-benar kesal dengan ulah Fardhan. Dia tak habis pikir dengan sikap suaminya itu, terkadang dingin juga kasar tapi kadang konyol dan kekanak-kanakan.
Sungguh aneh!
***
jadi begini misalnya suami author punya teman cewek yang perhatian pada suami author (kayak perhatian raka dan bella) dan suami author dengan senang hati menerima segala kebaikan cewek itu, dan suami author berinteraksi dengan cewek itu kayak intraksi raka dan bella
bagaimana perasaan author
coba tanyakan pada dirimu thor
*jika kau Terima suamimu berteman dan berinteraksi dengan cewek lain (kayak interaksi raka dan bella) maka pola pikir mu tidak ada masalah
*tapi jika kau tidak suka suamimu berteman dan berinteraksi dengan cewek lain ( kayak interaksi raka dan bella), maka pola pikir mu ada masalh thor
renungkan lah
saat di novelmu, kau membenarkan seorang istri berteman dan diperhatikan pria lain dan semua interkasi sang istri dengan pria lain kau benarkan maka tanya kan pada dirimu sendiri apakah kau Terima juga jika suamimu punya teman cewek dan diperhatikan oleh cewek lain
renungkan lah