NovelToon NovelToon
Terjerat Hati Adik Ipar

Terjerat Hati Adik Ipar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Thanaya Radiva dikira menikah adalah akhir dari kesepiannya. Arkan lelaki yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya setiap malam, selalu membuatnya bahagia.

Tapi setelah menikah, malam pertamanya jadi malam terakhir Arkan menyentuhnya. Akhir dari sikap hangatnya, semuanya telah berubah.

Sampai Naya tau, Mertuanya yang ternyata bermuka dua dan kehadiran Bara, adik Arkan, jadi bumerang dalam rumah tangganya. Bara lelaki dingin berhati hangat, siswa populer di sekolahnya dulu, menyimpan sejuta rahasia yang Naya ingin bongkar. Semakin Naya tahu, semakin ia terjebak dalam hati Bara.

Akankah Naya terus terjerat dalam cinta yang salah dengan adik iparnya? Atau ia akan mengakhiri jeratan itu demi suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26•Pergi Untuk Menghindar

Apartemen Dewi

Ponsel Dewi bergetar di atas meja. Nama Arkan menyala lagi, kali ini tengah malam. Jantungnya berdebar, tapi bukan karena takut. Ada rasa menang di ujung bibirnya.

Ia menggeser layar.

“Halo, Mas…” Suaranya dilembutkan, sedikit bergetar seperti perempuan yang baru saja menangis.

Suara Arkan langsung meledak dari seberang. Marah. Panas. “Barusan Naya muterin rekaman omongan kamu di depan Ibu. Dia bikin ribut tengah malam, Apa benar apa yang kamu ucapkan itu Dew?”

Dewi memejamkan mata sebentar. Kesempatan. Ia menarik napas, lalu membiarkan air mata jatuh lebih dulu sebelum bicara.

“Mas…” Suaranya pecah. “Aku gak tau Mbak Naya ngerekam aku. Aku cuma… aku cuma mau bicara baik-baik sama dia malam ini. Aku minta maaf kalau keberadaanku bikin Mbak Naya tersinggung.”

Keheningan sebentar. Arkan masih terengah di seberang.

Dewi melanjutkan, pelan tapi menusuk.

“Tapi Mas, aku capek dituduh terus. Sejak awal Mbak Naya memang gak suka sama aku. Tadi di kafe dia maksa aku ngaku macem-macem.”

Itu bohong. Tapi bohong yang rapi.

“Dia yang mancing aku, Mas. Dia yang bilang mau mundur. Aku cuma… aku cuma gak mau jadi alasan keributan di rumah Mas.”

Suara Arkan mengeras lagi, kali ini bukan marah ke Dewi. “Jadi dia yang mulai?”

Dewi terisak pelan, seolah menahan diri.

“Aku gak mau nuduh, Mas. Tapi… Mbak Naya keluar tengah malam ketemu aku. Itu aja sudah cukup buat orang mikir macem-macem. Aku takut, Mas. Takut kalau Mbak Naya pikir aku yang ngerebut Mas dari dia.”

Kali ini Arkan diam lebih lama. Dewi bisa mendengar napasnya yang berat, seperti bara yang baru disiram bensin dan makin menyala.

“Udah, Dewi. Kamu gak salah,” kata Arkan akhirnya. Nadanya berubah. Lebih lembut. Lebih percaya. “Aku yang beresin ini.”

Dewi menutup sambungan. Ia menurunkan ponsel dari telinganya. Senyumnya muncul perlahan. Tipis. Puas.

Di luar jendela kamarnya, langit masih gelap. Tapi bagi Dewi, pagi sudah datang lebih cepat dari yang seharusnya.

......................

Langkah Naya cepat dan tanpa arah. Kakinya seperti punya kemauan sendiri, membawa ia menjauh dari rumah yang selama lima tahun ia sebut tempat pulang.

Di belakangnya, suara Bara memanggil.

“Nay!”

Naya tidak menoleh. Ia terus berjalan, menembus angin malam yang menusuk kulit.

Bara mengejar. Ia meraih lengan Naya tepat saat mereka sampai di gerbang. Tarikannya membuat Naya berhenti, tapi tidak berbalik.

“Nay, denger aku dulu,” ujar Bara. Napasnya masih terengah.

Naya baru menoleh. Matanya merah, tapi kering.

“Untuk apa, Bar?”

“Aku cuma… aku gak mau kamu pergi kayak gini. Tengah malam. Sendirian.”

Naya tertawa pendek. Suara tawanya pecah.

“Aku sudah sendirian dari lama, Bar. Baru kamu sadar sekarang?”

Bara terdiam. Tangannya masih menggenggam lengan Naya, tapi perlahan mengendur. Seolah ia takut kalau genggamannya akan menyakiti.

“Nay…” Suaranya turun. “Kalau kamu pergi, kamu mau ke mana?”

Naya menatap jalanan kosong di depan mereka. Lampu jalan menyinari aspal basah.

“Aku belum tau. Tapi aku tau aku gak bisa balik ke rumah itu.”

Angin berembus lagi, membawa dingin yang membuat Naya merapatkan jaketnya. Bara melihat itu. Refleks, ia melepas jaketnya sendiri, lalu menyampirkannya ke bahu Naya.

Naya tidak menolak. Ia menunduk.

“Kamu gak harus nahan semua ini sendiri,” kata Bara pelan.

Naya mendongak. Tatapan mereka bertemu. Terlalu dekat. Terlalu lama.

“Aku tau,” jawab Naya lirih. “Tapi kalau aku gak pergi sekarang, aku takut aku gak akan pernah punya keberanian lagi.”

Ia mundur selangkah. Melepaskan diri dari jangkauan Bara.

“Pulang, Bar. Sebelum Ibu lihat kamu di luar sama aku.”

Bara tidak bergerak. Ia menatap punggung Naya yang menjauh, ditelan gelapnya jalanan.

Ia masuk lagi ke dalam rumah dengan langkah yang ia tahan sehalus mungkin. Tangga kayu tua itu berderit pelan di bawah kakinya, tapi syukurnya tidak cukup keras untuk membangunkan Ibu Desy.

Ia masuk ke kamarnya, menutup pintu tanpa suara. Lampu ia nyalakan hanya setitik, cukup untuk melihat isi lemari.

Tangannya bergerak cepat. Kunci mobil ia raih dari nakas. Lalu sebuah tas kanvas kecil ia tarik dari bawah ranjang.

Bara membuka lemari. Ia memilih baju ganti untuk Naya, kaus katun dan celana panjang. Semua ia lipat asal, masukkan ke dalam tas. Lalu ia meraih selimut tebal di ujung ranjang. Selimut yang biasa Naya pakai kalau kedinginan nonton TV di ruang tengah.

Jantungnya berdetak cepat. Bukan karena takut ketahuan. Tapi karena ia tau apa yang sedang ia lakukan ini salah. Membantu istri kakaknya kabur tengah malam.

Ia menutup tas itu, lalu keluar lagi dengan langkah hati-hati. Di ruang tengah, Ibu Desy sudah tidak ada, sudah di dalam kamarnya, tidur kembali. Arkan sudah mengunci diri di kamar sejak tadi.

Bara keluar lewat pintu belakang. Udara malam langsung menghantam wajahnya.

Mobilnya terparkir beberapa meter dari gerbang. Ia membuka bagasi, memasukkan tas dan selimut itu ke dalam. Menutupnya pelan. Tidak ada suara selain detak jantungnya sendiri.

Sebelum masuk ke mobil, Bara menoleh ke arah jalan tempat Naya menghilang tadi. Gelap. Kosong. Tapi ia tau ia harus mengejar lagi.

1
azzura faradiva
terlalu berbelit²,tinggal bilang aku ga jadi nikah aja kok susah....🙄
azzura faradiva
dasar si Arkan bunglon semoga saja pasangan gila itu mendapatkan karma,mereka tertawa bahagia diatas penderitaan dan luka hati si naya
azzura faradiva
seharusnya Naya menghilang dan pergi yg jauh,biar ga pernah bertemu lagi dgn kluarga gila itu lagi
azzura faradiva
pergi aja, ngapain juga masih bertahan di rumah syetan itu.udah di tindas harga diri di injak² masih aja mau di jadikan budak🙄
azzura faradiva
lagian jadi perempuan ga ada harga dirinya sama sekali,udah tau di budakin dan di khianati masih saja bertahan tinggal disitu
Raden Saleh
💪 semangat terus berupaya, karena cinta tak selalu mulus, dan perlu di perjuangkan. 👍
senjani jingga: benar sekali😁💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!