(Taka season 2)
Kisah ini lanjutan dari 'TAWAKU TERBALUT LUKA' sebelum membaca kisah ini, harap baca judul itu dulu agar menyambung dengan ceritanya.
Kisah cinta remaja. Sedih, romance.
Seorang pemuda bernama Taka harus berjuang untuk melawan penyakit kanker otak.
Sebelumnya pemuda itu dijuluki sebagai Pangeran Komedi, namun beberapa waktu berlalu julukan itu berubah menjadi Pangeran Kesedihan.
Disaat orang-orang terdekatnya mengetahui penyakit yang diderita, ia tak lagi membawa kebahagiaan. Melainkan kesedihan.
Ketika ia terjatuh dalam keterpurukan, pertama kali bertemu dengan gadis unik yang di panggilannya Hutapea(bukan nama sebenarnya)
Pertemuan pertama mampu tersimpan didalam memorinya. Dua kalimat singkat namun sarat makna yaitu 'Semangat dan Berjuang' membuat semangat dalam dirinya bangkit dan berusaha untuk melawan penyakitnya.
Akankah keduanya dipertemukan kembali? atau hanya satu kali itu saja?
Ayo ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mei_Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan satu kali, tapi masih diingat
Karna baby Saf-Saf terus memaksa, akhirnya Nata beranjak menyusul ke pinggiran pantai untuk bermain pasir lembut juga ombak air yang tidak terlalu besar.
"Kak, aku susul Nata, ya." pamit Mujirah. Mijiren mengangguk.
Kini tinggal Taka, Albert dan Mujiren yang ada di pondok itu, sedangkan para orang dewasa memisahkan diri mengobrol dengan anggota keluarga, tapi hanya berjarak satu meter saja.
Ayah Arsel memberi kesempatan pada Taka untuk menikmati waktu bersama teman-temannya, sebelum mereka kembali ke tanah air.
"Suamiku, apa tidak apa-apa kalau kita terlalu lama disini?" bunda Sensa sedikit khawatir takut Taka kelelahan. Matanya tak pernah lepas mengawasi Taka dari tempatnya duduk.
Ayah Arsel juga memperhatikan Taka, putranya sedang mengobrol dan sesekali terlihat tersenyum. Hati Arsel menghangat. Andai Ayah selalu bisa melihat senyummu, bukan tangis mu.
"Sepertinya Taka baik-baik saja." jawab Arsel.
"Lihat Bi, putrimu asik banget mainan air, nanti masuk angin enggak ya?" celetuk Seika pada Saka.
Saka malah mengulas senyum dengan memperhatikan baby Saf-Saf bermain air dengan yang lainnya. Baju yang dikenakan sudah basah tapi terlihat tawanya yang riang.
Dudung berlari kearah Albert yang menyimpan kamera didalam tas kecil yang digendongnya. Mereka akan mengabadikan momen indah dan sebagai bukti bahwa mereka pernah singgah di negeri Paman Sam ini.
Albert dan Mujiren terlihat perbicangan. Taka terdiam dikursi rodanya, namun menggunakan Indra pendengaran untuk menerka keadaan sekeliling. Suara tawa dan deburan ombak begitu mendominasi.
Dulu setiap kali keluarganya berlibur dipantai, dia lah orang permata yang menceburkan kaki panjangnya kedalam air. Tak lupa menjahili si saudara kembarnya, menggendong Nata dan menceburkannya ke air.
Meski saat ini tengah berada disituasi seperti itu, tapi semua berbeda. Tak lagi bisa menikmati terjangan air pada kakinya, tak bisa menjahili Nata dan baby saf-saf.
Meski berada diwaktu sekarang, namun bayangan Taka membumbung pada masa lalu. Dimasa sekarang tidak dapat melihat, tapi dimasa lalu dapat mengingat momen kebersamaan.
*Andai aku baik-baik saja. Andai tubuhku bisa berlari dan menerjang air pantai, pasti aku lah yang pertama berlari dipinggiran pantai itu.
Tuhan, meski aku tidak bisa lagi merasakan itu, tapi terimakasih, Engkau mengijinkan aku berada disini, masih memberiku kesempatan untuk menghembus udara kehidupan.
tes...tes*...
Dua kristal bening menetes begitu saja. Antara rasa syukur dan rasa sedih.
Bukti keinginan dan harapan yang masih ada, namun terhalang keadaan yang mungkin tanpa bisa diduga. Jika hari ini masih diberi napas, tapi entah untuk hari esok.
Penderita kanker seperti dirinya tak bisa menduga akan hari-hari selanjutnya.
"Kakak," panggil Nata dari kejauhan dengan suara setengah berteriak dan suara tawanya.
Taka yang tersadar lalu melambaikan tangan ke segala arah. Dia pun ikut tersenyum.
Tiba-tiba bunda Sensa mendekat. "Nak Albert, Nak Mujiren, kalian kalau mau menyusul mereka, kesana saja. Biar Taka, gantian Tante yang jagain." kata bunda Sensa.
"Enggak Tan, kita disini saja bersama si Bos." jawab Dudung.
"Udah, sana... susul mereka." bunda Sensa sedikit memaksa.
Memang tidak dipungkiri, melihat yang lain bersenang-senang Mujiren pun ingin turut seperti mereka, tapi tak enak hati dengan Taka.
"Iya Ren, Kak Albert, ke sanalah. Biar aku ditemani Bunda." Taka ikut memerintah.
"Baiklah, kami kesana sebentar." kata Mujiren.
"Ayo Kak, kita kesana." Mujiren mengajak Albert. Albert juga menyetujui. Ada suatu tujuan untuk menyusul mereka, yaitu ingin melihat kebahagiaan Nata lebih dekat. Suara dan senyumannya mampu mengusik kedamaian hati Albert. Meski lelaki itu berpuluh-puluh kali menyangkal tapi tetap hatinya melanggar pemikirannya. Karna ketika hati telah bergerak, maka mengalahkan akal pikiran.
Albert dan Mujiren telah menyusul yang lainnya. Bunda Sensa mendudukan diri disamping Taka. Jilbab panjang yang menutupi sebagian badannya telah berkibar terkena terpaan angin yang lumayan kencang.
Wajah tuanya tak memudarkan kecantikan yang dimiliki seorang ibu tiga anak itu. Afsensa Faiha Azahra, seorang perempuan yang paling tegar, baik, sabar dan ikhlas dalam menjalani kehidupan.
Tak pernah mengeluh dan selalu mendekatkan diri pada sang pemilik napasnya.
"Nak, apa kamu merasa lelah atau pusing?" tanya bunda Sensa pada Taka.
"Enggak Bun, Taka biasa saja." jawab Taka singkat. Tapi tangannya tengah meraba keberadaan tangan bunda Sensa untuk digenggam.
Dengan senang hati telapak tangan bunda Sensa lebih dulu menggenggam tangan Taka.
"Taka laper? mau Bunda suapin?" pertanyaan kedua dari bunda Sensa. Kedua jemari ibu dan anak itu saling bertautan.
"Taka masih kenyang, Bun." lagi-lagi Taka menjawab singkat.
"Taka pengen mendekat kesana, ya?" tebaknya.
"Enggak Bun. Meski mendekat kesana, tapi mataku tetap tak mampu melihat kebahagiaan mereka."
Bunda Sensa mengelus punggung tangan yang kurus itu. "Meski kamu tidak melihat, tapi kamu bisa merasakan." ucap bunda Sensa.
"Bun, meski Tuhan tidak memberiku keadilan merasakan seperti yang mereka rasakan, tapi aku sangat bersyukur, Tuhan memberiku Bunda dan Ayah yang sangat baik. Sekarang aku bisa merasakan kalimat dari peribahasa 'Kasih Ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah.'
"Ternyata semua itu benar, kasih sayang yang Bunda berikan selalu bisa ku rasakan. Tapi... sejauh ini, tak ada yang bisa lakukan untuk membuat bangga Bunda."
"Jika Tuhan mengambil nyawaku, maka aku tidak melakukan apapun untuk Bunda." Taka mengangkat punggung tangan bundanya lalu mengecup dengan lembut.
Bunda Sensa tersenyum dengan buliran airmata menetes. "Semua bunda-bunda didunia ini pasti menyayangi anak-anaknya tanpa pamrih. Jika kelak kamu menjadi orang tua, maka kamu akan merasakan sendiri apa yang disampaikan oleh kalimat peribahasa itu. Bunda tidak menginginkan kamu melakukan sesuatu. Cukup berjuang sembuh demi Bunda, dekatkan hati pada sang pemilik kehidupan, maka kamu akan jauh dari keputusasaan."
"Kamu tidak menyaksikan perjuangan Bunda pada saat mengalami keterpurukan, kesedihan, kesengsaraan. Semua Bunda alami bertubi-tubi, sampai rasanya Bunda ingin menyerah. Tapi Bunda tidak pernah meninggalkan Tuhan, Bunda percaya jika rencana Tuhan lebih indah dari bayangan angan manusia. Dialah yang mampu mengubah hal yang tidak mungkin menjadi mungkin, dia pemilik keajaiban semesta dan seisinya. Apapun bisa menjadi mungkin jika Tuhan sudah berkehendak. Bahkan ada juga manusia yang bangkit dari kubur itu juga berkat keajaiban dari Tuhan."
Deg...
Jantung Taka langsung berdebar. "Manusia bangkit dari kubur? gadis bangkit dari kematian?"
"Huta... Huta... pea?" Taka mengingat-ingat sesuatu. 'Gadis unik itu' batinnya.
"Siapa Huta pea?" tanya Bunda Sensa yang samar-samar mendengar Taka menyebut nama Hutapea.
"Eum... enggak Bun. Nama temenku, dia juga pernah bangkit dari kematian." Taka bercerita.
Meski sebagian memori ingatannya ada yang terlewatkan, tapi entah kenapa pertemuan satu kali dengan gadis unik itu masih diingatnya.
bnyak bngt pelajaran yg bisa di ambil dri cerita ini
kembali ke tawa lg ☺
soal nya air mata ku sudah kering 😂
makasih banyak author aq pada mu yg sudah meng obrak abrik hatiku 🤗
tetap semangat...
jaga kesehatan Tor ku