Selamat Membaca 💖
Asyila seorang gadis cantik, periang dan sederhana. Ia terlahir dari keluarga yang serba pas-pasan. Diusianya yang sangat muda yaitu 18 tahun, dirinya harus menikah dengan seorang pria yang usianya jauh diatasnya.
Ayah Asyila yaitu Herwan hanya bekerja sebagai buruh tani sementara Ibu Asyila yaitu Arumi hanya bekerja sebagai tukang masak. Hidupnya berubah saat orang tuanya meminta Asyila menikahi seorang pria yang sudah dijodohkan olehnya saat usia Asyila menginjak 2 tahun, Sementara Asyila tidak tahu siapa pria itu.
Akankah hubungan mereka bisa berjalan baik dan saling jatuh cinta?
Abraham seorang pria yang sangat mencintai Asyila sedari Asyila kecil bahkan rela melakukan apapun agar Asyila dapat menerimanya sebagai suami Asyila.
Apakah perjuangan Abraham berakhir dengan saling bahagia?
Ikuti terus kelanjutannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mungkin Aku Salah Lihat
Setelah temu kangen dengan kedua orangtuanya dan bermalam dikediamannya, Asyila memutuskan untuk kembali Ke Bandung. Arumi sangat senang karena Asyila menyetujui permintaannya untuk tidak bekerja lagi dan hanya fokus dengan kuliahnya saja. Pagi itu Asyila tengah bersiap-siap untuk kembali ke Bandung.
“Ayah dan ibu, Asyila pamit ke Bandung, doakan agar Asyila dan Ema bisa belajar dengan baik!” pinta Asyila.
“Kami pasti mendoakan yang terbaik buat anak kami ini dan Ema. Ingat pesan kami semalam, kamu dan Ema harus menjaga diri baik-baik disana!” pesan Arumi.
“Ibu dan ayah tenang saja, kami akan menjaga diri kami disana sebaik mungkin.”
“Nah gitu dong!” sahut Herwan.
“Asyila pamit ya Ayah dan ibu! Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam nak!” sahut suami istri itu.
Asyila ke kota Bandung dengan menyewa mobil travel, gadis itu duduk sambil memikirkan keputusan apa yang harus diambilnya karena bulan suci Ramadhan sebentar lagi.
Minggu lagi bulan ramadhan, ayah dan ibu memintaku untuk mau menemui dia! lalu aku harus bagaimana? kenapa jalan hidupku harus seperti ini, namun jika aku sampai menolak terus-menerus ayah dan ibu pasti bersedih dan malah kecewa terhadapku. Ya Allah berikan jalan bagi hamba agar hamba bisa mengambil keputusan yang tepat Amin Ya Allah.
Asyila masih terus-menerus bergulat dengan pemikirannya, hingga ia pun tertidur karena kepalanya sudah mulai pusing akibat pemikiran yang tak berujung dengan tepat.
Disisi lain.
Disaat bersamaan rupanya Abraham dan Dyah membututi mobil yang dikendarai oleh Asyila dari belakang. Sebelumnya Dyah telah meminta Asyila untuk kembali ke Bandung bersamanya namun Asyila malah menolak.
“Coba tadi aunty tidak menolak untuk kembali bersama kita, pasti sangat seru aunty disini!” ucap Dyah sambil memainkan game di ponselnya.
“Kalau istriku tidak mau ya tidak apa-apa, yang terpenting dia bisa sampai rumah dengan selamat,” sahut Abraham yang masih dengan tatapan tajam ke arah depan.
“Lebih dekat lagi Eko, aku tidak ingin kehilangan jejak istriku!” perintah Abraham.
“Baik tuan muda,” sahut Eko.
Eko melirik pada kaca mobil dengan menatap ke arah majikannya itu terlihat jelas jika Abraham fokus memperhatikan mobil di depan.
Tuan muda begitu mencintai nona Asyila, kasihan sekali tuan muda. Semoga suami istri itu bisa segera bersatu.
Mobil pun berhenti karena lampu sedang berwarna merah, bodohnya ternyata mobil yang ditumpangi oleh Asyila bersandingan dengan mobil yang ditumpangi oleh Abraham.
Abraham dengan senang memperhatikan Asyila yang duduk tepat di samping mobilnya, pria itu bahkan tersenyum lebar ke arah Asyila. Tentu saja Asyila tak menyadarinya karena saat itu gadis berumur 18 tahun sedang memperhatikan ponselnya.
Cantik, kamu begitu cantik istri kecilku. Aku bahkan tak pernah bosan memandangi wajahmu.
Tiba-tiba Abraham tertangkap basah sedang menatap penuh cinta ke arah Asyila membuat Abraham menyembunyikan wajahnya dan bersembunyi, tak lupa ia meminta Dyah maupun Eko menunduk bersembunyi.
“Cepat kalian semua menunduk!” perintah Abraham panik.
Dyah dan Eko langsung mengikuti perintah Abraham.
“Ada apa paman?” tanya Dyah keheranan.
“Aku sepertinya tertangkap basah oleh Asyila karena memandanginya,” sahut Abraham.
“Memang aunty tahu kita mengikutinya? kan paman mengganti mobil paman,” balas Dyah.
“Ssuuuttt, kamu diam saja! pokoknya kita menunduk sampai lampu hijau!” perintah Abraham.
“Baiklah paman,” sahut Dyah dengan pasrah.
Disisi lain.
Azizah terheran-heran dengan pemikirannya, ia bahkan mencubit pipinya.
“Awwww...” Asyila kesakitan karena pipinya kesakitan.
“Mbak kenapa?” tanya sopir travel.
“Ti..tidak apa-apa pak, hanya kepentok saja,” sahut Asyila.
“Benar tidak apa-apa mbak? apa perlu diobati?” tanya sopir travel itu lagi.
“Tidak perlu saya baik-baik saja, ini juga sudah sembuh,” sahut Asyila.
Lampu akhirnya berwarna hijau para kendaraan melanjutkan kembali perjalanan mereka termasuk mobil yang ditumpangi Asyila saat itu. Gadis berumur 18 tahun itu masih sibuk memperhatikan mobil yang tadi sempat berhenti di samping mobil yang ia tumpangi namun mobil itu berada jauh dibelakangnya.
Tidak mungkin itu paman Abraham, mungkin saja aku salah lihat. Kalau memang itu paman pasti dia tadi membuka kaca mobil, ini pasti imajinasi ku saja.
Asyila lalu melanjutkan tidurnya, ia berharap saat ia membuka mata ia sudah sampai di Bandung.
Dikontrakkan.
Ema dan Icha yang tak lain Mami dari Ema sibuk memasak, karena Asyila hari itu akan tiba di Bandung. Icha begitu senang jika Ema putri kesayangan bahagia.
“Tolong kamu tumis ini nak!” pinta Icha pada Ema.
“Ini ditumis setengah matang atau tidak mi?” tanya Ema.
Maklum Ema dirumahnya tidak pernah memasak, semenjak tinggal dikontrakkan ia belajar memasak walau hanya memasak telur mata sapi yang sedikit gosong. Setidaknya gadis itu berusaha belajar memasak.
“Kalau brokoli lebih baik setengah matang saja nak!” seru Icha.
Kevin tiba-tiba datang dengan membawa berbagai macam cemilan dan minuman.
“Assalamualaikum mami dan Ema sayang!” ucap Kevin.
“Waalaikumsalam, lagi-lagi bawa makanan sebanyak ini, yang kemarin saja belum habis,” ujar Icha yang melihat beberapa plastik yang ditenteng oleh Kevin.
“Kok mami tahu aku bawa makanan?” tanya Kevin.
“Ya mami tahu lah, kan tiap hari kamu pasti datang membawa cemilan makanan dan minuman,” sahut Icha.
“Sudah-sudah kok malah bahas soal makanan, mami sekarang bantuin Ema menumis,” ucap Ema.
“Loh kamu masak sayang? hati-hati loh gosong seperti telur mata sapi kemarin,” ledek Kevin.
“Kok kamu ngeledek aku? pergi sana!” Ema mengusir Kevin.
“Maaf sayang, kan aku cuma bercanda,” balas Kevin.
“Bercanda kamu bilang?” tanya Ema kesal.
Icha menggelengkan kepalanya menyaksikan perdebatan kecil antara Ema dan Kevin.
“Kevin sekarang kamu tunggu kamu di depan ya nak!” pinta Icha lembut.
“Iya mi, Kevin duduk di depan saja!” seru Kevin.
Ema dan Icha kembali melanjutkan aktivitas mereka memasak.
1 jam kemudian.
Mereka bertiga kini tengah bersantai di ruang tamu sambil menunggu kedatangan Asyila.
Tin... Tin.. Suara klakson mobil.
“Mi itu pasti Asyila!” ucap Ema.
Ema sangat senang gadis itu langsung berlari ke arah mobil yang terparkir di halaman depan rumah.
“Akhirnya kamu datang juga Asyila!” Ema berteriak semangat.
“Ema aku sangat rindu padamu!” seru Asyila.
Pengemudi mobil travel itu turun dan Icha mempersilahkan agar sang sopir ikut makan bersama.
Tak jauh dari Kontrakan Asyila dan Ema.
Abraham menatap ke arah rumah itu, ia sangat senang dan lega akhirnya sang istri kecilnya sampai dengan selamat.
Syukurlah kamu selamat sampai tujuan istri kecilku, besok kita akan bertemu lagi di kelas.
Ingin rasanya aku menemuimu dan berkata bahwa aku sangat mencinta dirimu.
“Sampai kapan paman melihat rumah kontrakan Aunty?” tanya Dyah.
“1 jam lagi,” sahut Abraham santai.
“Paman jangan bercanda, Dyah tahu bahwa paman sangat mencintai aunty tapi tidak begini juga paman. Dyah juga butuh asupan makanan, kan tadi pagi paman melarang Dyah untuk sarapan karena takut kehilangan jejak aunty. Sekarang malah kita harus menunggu disini, Dyah lapar paman! sangat lapar.” Dyah mengoceh karena kelaparan.
“Kamu mengganggu paman saja,” sahut Abraham kesal.
“Ya sudah, ayo Eko kita antar Dyah sekarang!” perintah Abraham.
“Ba...baik tuan muda,” sahut Eko.
“Kasihan sekali ya pak Eko kalau bersama paman Abraham,” ucap Dyah pada Eko.
“Kasihan kenapa Mbak?” tanya Eko terheran-heran.
“Iya bagaimana tidak kasihan, pasti pak Eko bosan karena menunggu paman Abraham memperhatikan aunty Asyila ya kan?” Ema menebak apa yang dirasakan Eko saat menunggu Abraham menyalurkan rindunya dengan memperhatikan Asyila.
“Se.. sebenarnya iya mbak,” sahut Eko sedikit terbata-bata.
“Haha.. jadi benar pak Eko bo.....”
“Sudah belum kalian membicarakan hal ini?” tanya Abraham dingin.
Dyah maupun Eko langsung terdiam, Eko fokus dengan mobil yang ia kendarai sementara Dyah dengan segera menutup matanya berharap agar dirinya langsung tertidur.
Memang apa salahnya jika terus memperhatikan dan memandangi istri sendiri? Kan tidak ada yang salah, mereka saja yang tidak pernah merasakan cinta sedalam aku mencintai Asyila.
Abraham ❤️ Asyila
Vote ya teman-teman...
Author akan mengupdate setiap hari kalau kalian memvote novel Author sebanyak mungkin..
Jangan lupa like ❤️ komen 👇 Terima kasih 😘😘😘
cz si romi tuh anak mama 🤣