"Cynta, kenalin ini Gama ... temen kampung gue" ucap Maya sambil meraih pergelangan tangan Cynta untuk berkenalan dengan seorang cowok yang terlihat dingin dan angkuh.
"Dan perlahan rasa itu datang dan tumbuh bersemi begitu saja tanpa bisa gue cegah ...." Cynta.
"Jangan salahkan dirimu jika rasa itu datang ... Karna rasa kita sama ...." Gama.
Bagaimana akhir kisah Gama dan Cynta, meski keduanya memiliki rasa yang sama akankah cinta mereka berlanjut di saat Cynta mengetahui bahwa Maya sangat mencintai Gama semenjak sahabatnya itu duduk di bangku SMP ...
Akankah Cynta tega menyakiti Maya ...???
Mampir yak ke lapak Gama and Cynta biar bisa tau kisah akhir ceritanya ...
Kita lanjut baca yukkk ...
Nama tokoh, tempat, alur cerita hanyalah kehaluan othor ... tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan real othor yakk ...
Selamat Membaca ...
Semoga syukak ... Tengyu so much for my beloved readers 😍😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ikha dito, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Posesif? 2
Haishh....
"Dasar ceroboh!"
Umpat Gama seraya mengusap wajahnya kasar, kemudian dengan segera beranjak dari tempatnya duduk.
Dengan langkah kaki tergesa serta raut wajah yang memerah menahan marah Gama mendekat pada Cynta yang tengah memposisikan kakinya membentuk kuda kuda di depan mesin permainan boxing arcade. Dengan sedikit mendongak, kedua tangan Cynta mengambang layaknya gerakan seorang petinju yang siap untuk memukul lawan. Namun karena saat ini hanya berada dalam salah satu permainan boxing yang ada di timezone, lawan Cynta adalah benda bulat berbentuk layaknya sarung tinju pada mesin permainan boxing.
Beberapa saat lalu Cynta telah memukul mesin tinju itu dengan menyalurkan seluruh kekuatannya. Sepertinya melakukannya dengan cukup baik, terbukti gadis itu mampu mencetak skor 950. Patut diacungi jempol karena sebagai seorang cewek, Cynta mampu meraih skor yang hampir mendekati sempurna.
Namun Gama mendekat bukan karena senang dan hendak memberinya semangat ataupun pujian pada Cynta. Melainkan lelaki itu hendak menghentikan aksi lanjutan gadis itu.
Srett...
Dengan posisi dari belakang tubuh Cynta, Gama melingkari pinggang hingga perut Cynta dengan satu tangan dan menyeret tubuh gadis itu menjauh dari mesin boxing arcade.
"Gama lepas. Elo apa apaan sih." Cynta dengan memberontak berusaha melepaskan tangan kanan Gama dari atas perutnya.
"Gak bakal gue lepasin." Gama terdengar marah saat menolak keinginan Cynta. Gama tetap menyeret gadis itu tanpa peduli dengan beberapa pasang mata yang menatapnya tengah menyeret Cynta.
Gama melakukan itu bukan tanpa alasan. Beberapa saat lalu sebelum memutuskan menyeret Cynta. Netra Gama mendapati area pinggang hingga perut Cynta yang putih mulus terlihat terekspose efek kaos yang dipakai gadis itu terangkat karena kedua tangannya melayangkan tinju pada mesin boxing. Dan itu membuat Gama marah serta kesal.
Sesampainya di area tempat duduk Gama saat menunggu Cynta beberapa saat lalu, lelaki itu melepaskan tangannya dari perut Cynta. Segera membuka kemeja flanel miliknya kemudian mengenakannya pada tubuh Cynta.
Gama tetap memaksa Cynta memakai kemeja flanel miliknya meski gadis itu berulangkali menolaknya.
"Ngapain sih gue musti pakek baju lo kek gini." ketus Cynta dengn tatapan tak suka pada kedua tangan Gama yang bergerak mengaitkan kancing kemeja flanel yang telah berpindah membalut tubuhnya.
"Gama Gerah ihh..." Cynta berdecak kesal.
Gama mengabaikan kekesalan Cynta. Setelah mengakhiri aksi mengaitkan kancing depan kemeja flanel pada tubuh Cynta, kedua tangan lelaki itu bergerak menaikkan lengan panjang kemeja sampai siku pada kedua lengan Cynta silih berganti.
"Kek gini lo bisa bergerak bebas sekarang." Gama dengan senyum tipis menghias wajahnya.
"Bebas gimana, orang kegedean gini." Cynta dengan menarik bagian kanan dan kiri kemeja flanel Gama yang terlihat sedikit kebesaran pada tubuhnya.
"Nggak juga."
"Kegedean ini Gam." Tangan Cynta dengan merangkak pada kancing baju bagian atasnya untuk melepaskan kemeja Gama dari tubuhnya.
"Lo lepas, kita pulang sekarang!" Gama terdengar mengancam.
Jemari Cynta yang hendak membuka kancing pun seketika berhenti. Segera mendongakkan kepala.
Hek
Mulut Cynta yang hendak melayangkan protes pada Gama pun seketika bungkam. Entah mengapa Cynta tak berani membuka mulutnya saat merasakan kemarahan pada sorot mata tajam Gama yang mengarah kepadanya. Dan itu membuat Cynta tak bisa berkutik.
"Masih mau maen atau pulang sekarang?" Gama menawarkan pilihan pada Cynta masih dengan nada yang terdengar marah. Kedua matanya menghujam tajam.
"Maen." lirih Cinta takut takut.
"Kalau masih mau maen, jangan dilepas." Gama dengan merendahkan ucapannya. "Dah sana, maen lagi." usir Gama layaknya pada anak kecil.
Cynta pun segera menjauhkan tubuhnya dari Gama, berjalan lambat sambil berfikir.
"Kenapa gue takut sama dia sih... Kenapa juga gue nurut sama dia." Kening Cynta bertaut kemudian kembali menoleh ke belakang.
Gama masih memandangi Cynta dari tempat duduknya, menggerakkan jemari tangan kiri seolah menyuruh Cynta segera melanjutkan permainannya.
Mendapati gerakan tangan Gama yang seolah mengusir Cynta, membuat mulut gadis itu mencebik. Dengan segera memalingkan pandangan dari Gama untuk mencari mesin permainan yang menarik baginya.
*
*
*
Gama merasakan ngilu saat melihat gerakan atraktif Cynta di lantai breakdance. Masih dari tempatnya duduk menunggu, Gama tak berhenti merubah ubah raut wajah tanpa sedikitpun melepas pandangan dari sosok Cynta yang tengah melakukan gerakan dance sesuai arahan mesin dance game.
Kaki dan tangan Gama terasa gatal untuk segera mendekat dan menghentikan aksi Cynta bermain dance. Namun sebisa mungkin Gama menahannya melihat gadis itu bergerak dengan apik hingga membuat banyak pasang mata memperhatikan bahkan tak jarang yang memuji aksinya.
Tanpa sadar bibir Gama melengkung saat melihat wajah Cynta yang terlihat bahagia dengan diiringi tawa lepas saat mampu mencetak skor maksimal setelah mengakhiri atraksi dancenya. Beberapa orang bertepuk riuh sembari memuji kemampuan Cynta saat mengetahui skor maksimal yang Cynta dapatkan.
"Capek banget ternyata." dengan deru nafas terengah Cynta mendudukkan diri di sebelah Gama. Tangan kanannya bergerak mengipaa wajah untuk menghilangkan gerah pada wajahnya. Meskipun di dalam ruangan mall itu telah dipasang alat penyejuk ruangan tetap saja Cynta merasa gerah efek gerakan dance yang telah ia lakukan beberapa saat lalu.
"Nih minum." Gama dengan menyodorkan air mineral dingin di depan wajah Cynta.
Tanpa banyak tanya, Cynta meraih air mineral dingin dalam kemasan botol tersebut dan meneguknya. Karena botol air mineral tersebut telah dibuka sebelumnya, Cynta tidak memerlukan tenaga kuat untuk membukanya.
Gama hanya menatap datar pada Cynta yang tengah minum air mineral dengan rakus tersebut kemudian mengalihkan pandangan kembali pada ponsel pintarnya.
"Ah seggerrr..." ucap Cynta setelah melepas dahaganya.
Hah...
Kedua mata Cynta membulat saat mendapati botol air mineral di tangannya telah habis lebih dari setengahnya.
"Perasaan gue nggak minum sebanyak itu deh." gumam Cynta heran saat air dalam kemasan botol tersebut hampir habis.
Gama pun menoleh mendengar gumaman Cynta. Sejenak menatap wajah Cynta kemudian beralih pada botol air mineral di tangan kanan Cynta.
"Wajarlah tinggal segitu, kan emang sisa gue." Ucap Gama santai saat mendapati tatapan heran Cynta pada botol air mineral yang hanya tinggal beberapa cecap saja.
"Sis_ssa lo?" gagap Cynta dengan kedua bola mata membulat sempurna.
Gama mengangguk dengan santai.
"Jadi.. jaddi.. ggue minum bek_kas lo?" Cynta menatap ujung botol air mineral yang masih terbuka lalu menatap Gama dengan tatapan seolah berharap otaknya salah menerka.
Namun ternyata harapannya tidak sesuai dengan kenyataan. Gama kembali mengangguk mengiyakan.
Seketika kedua mata Cynta melebar dengan mulut yang menganga.
❤❤❤❤
Othor. : Wow... wow... gimana Ta rasanya mencium mulut Gama? Enak gak?
Cynta. : Enak aja bilang mencium mulut Gama, orang gue cuma nyium mulut botol doang wlek....
Othor. : Itu berarti lo berdua ciuman secara tidak langsung. Itu kan yang otak mesum lo pikirkan Ta
Cynta. : Enggak! Gue nggak mikir kek gitu.
Othor. : Heleh... ngaku aja.... nggak usah malu sama gue doang😉😉😉
Cynta. : Elo tu yang bikin otak gue mikir ke sana, elo kan yang bikin skenario nya thor...
Othor. : Tu kan... gue bener kan Ta...
Cynta. : Dasar othor.... sebenernya yang otaknya mesum itu elo bukan gue....iya kan thor...😏😏😏😏