Ada sebuah kepercayaan pada legenda 'pamali' di kampung kebun jeruk nipis. yang dimana para gadis yang belum menikah dilarang keluar malam hari, duduk di depan pintu, potong kuku malam hari, gunting rambut pas malam hari.
Namun ada, sekelompok remaja yang melanggar aturan itu dan berujung malapetaka bagi dirinya sendiri. Dari mereka diganggu setan di rumah sampai dibuat tersesat di hutan belakang rumah.
Apakah Anda bisa menyelesaikan pamali yang telah mereka langgar dan pergi dari pamali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Samsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Setelah capek melakukan kegiatan di kebun jeruk kini semua murid sudah masuk dalam kamar mereka masing-masing untuk istirahat.
“Cantika, lu benar mau tidur di situ?” Tanya dini merasa kasihan melihat teman sekelas nya tidur di kasur biasa di lantai bukan di ranjang kasur.
“Gpp kok, ini kasur nya juga empuk loh. Emang enggak kayak kalian tapi nyaman ini”
Jawab Cantika yang tidak merasa tidak nyaman, justru ia lebih suka seperti ini daripada sekamar dengan bunga.
Bisa bisa ia akan selalu kena amukan bunga yang sifat emosi nya jarang sulit dikontrol oleh nya.
“Gpp, kan Cantika dekat aku. Jadi kalo dia gak nyaman atau kedinginan bisa bareng satu kasur. Lagi pula kasur nya ini cukup gede buat dua orang”
Kata putri tersenyum ramah, ia tahu sekali alasan Cantika tetap kekeh mau di kamar dibandingkan di kamar sebelah.
“Ouh, yah Risma kamu udah sehat belum? Besok kita mau ke pasar tau” tanya ayu begitu tidak sabar menunggu hari esok.
“Emang kalian besok ke pasar mau ngapain?” Tanya Risma ia merasa badannya memang sudah lebih enak. Tapi belum bisa untuk beraktifitas berat.
“Di sana kita cuma jual hasil panen kita ke tukang buah, nanti kalo udah kita bisa jajan” jawab putri
Mendengar itu raut wajah risma langsung berseri seri. ‘kayaknya bakalan seru nih, semoga aku besok beneran sudah sembuh sepenuhnya’
“Seru banget gak sih, tapi semoga aja aku besok sehat yah. Biar bisa ikut kegiatan bareng kalian” kata Risma ia benar benar berharap bisa ikut besok.
“Berpelukan” ujar ayu dan yang lain termasuk Risma ikut berpelukan bersama.
“Udah tidur yuk, biar besok kita bangun nya enak gak kurang tidur” kata putri.
Putri, dini, ayu, Risma dan Cantika kembali ke kasur mereka masing-masing.
“Tunggu, ini selimut biasanya tengah malam suka dingin banget” dini mengeluarkan selimut tebal milik nya dari koper lalu memberikannya kepada Cantika.
“makasih yah” Cantika dengan senang hati menerima selimut yang diberikan oleh dini, dan benar selimut itu berat karena tebal. Tapi membuat tubuh nya tidak kedinginan.
Melihat semua teman nya sudah begitu nyenyak tidur nya, putri mematikan lampu kamar nya dan segera tidur.
Jam demi jam berlalu begitu cepat sampai tidak terasa, jam dinding sudah menunjukkan pukul 00.00, semua masih tertidur pulas.
“Anjir lah jam segini kebangun, kebelet ke kamar mandi” bunga langsung bangkit dari kasur namun saat ia melihat kamar mandi. Pintu nya tertutup.
‘lah, siapa yang di kamar mandi dah? Mungkin si Cantika kali ya. Dah gua pake kamar mandi bawah aja’ batin bunga ia berjalan perlahan karena lampu kamar nya masih mati belum dinyalakan.
Sesampainya di lantai 1 suasana hening sesaat, sebelum angin dingin menusuk tulang belakang nya. Membuat bunga langsung membuka mata sepenuhnya.
“Dingin banget jir, udah kayak di gunung aja” gumam bunga ia langsung berjalan cepat menuju kamar mandi yang letaknya di ujung dekat dapur.
Selesai bunga buang air kecil di kamar mandi saat ia sedang berjalan menuju tangga. Samar samar ia melihat risma lagi duduk di sofa nonton tv.
Melihat itu bunga heran dan langsung menghampiri si Risma. “Woy, lu jam segini masih nonton tv jir. Gila lu”
Tepat saat tangan bunga menepuk pundak Risma, bunga merasa badannya Risma sangat dingin. Kayak orang baru keluar dari kulkas raksasa gitu.
‘nih, bocah pasti sakit. Iya sih pasti ini’ batin bunga dengan kesabaran yang entah datang dari mana.
Bunga dengan sedikit lembut berkata kembali. “Risma, ayo masuk ke kamar. Lu tar sakit loh, badan lu aja ini udah dingin banget”
Mendengar ocehan lembut bunga Risma masih diam tidur bergeming sama sekali. Perlahan Risma menolehkan kepalanya tepat ke belakang.
Dan alangkah kagetnya bunga melihat wajahnya Risma hancur lebur, darah mengotori baju dan sofa.
“To-tolong … tolong aku” rintih nya dengan suara yang lirih, sambil kepala nya terus berputar hingga 180 derajat.
Melihat itu tubuh bunga seketika kaku, mulut nya tidak bisa digerakkan dan matanya seolah menolak untuk tertutup.
Seperti memaksa nya melihat apa yang ada di depannya,
‘lah, kok kenapa begini? … Gak bener nih, yah Allah tolong hamba mu ini. Gua mau teriak mulut gua gak bisa keluar suara’
Keringat dingin mulai mengucur deras dari pelipisnya bunga, sekuat apapun ia mencoba hasilnya nihil. tidak lama kemudian bunga langsung jatuh pingsan di tempat.
__________________________________
“Bunga, bangun coy udah pagi nih” ujar Dinda melihat sahabatnya itu seperti lagi bermimpi buruk.
Karena bunga tidak kunjung bangun dengan terpaksa Dinda menjepit hidung bunga. Sampai ia langsung terbangun dengan ekspresi begitu panik dan berkeringat.
‘kenapa dah nih orang yah? … Masa bangun tidur malah keringetan’ heran Dinda dalam hati nya, namun ia tidak mau ambil pusing soal itu.
“Mandi cuy, udah jam 5 nih” kata Dinda yang sudah rapi dari tadi.
Mendengar itu refleksi bunga langsung melihat jam dinding dan benar sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi.
Dan anehnya dia berada di atas kasur bukan di ruang tamu dekat sofa. Menyadarkan keanehan itu bunga merasa benar benar bingung.
‘mungkin itu cuma mimpi aja kali yah’ batin bunga sedikit tenang.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama sampai ia sadar ada bercak darah di ujung baju nya.
“Eh, gua tunggu di ruang tamu yah cuy. Mandi jangan lama” ujar Dinda langsung pergi dari kamar.
“Enggak ini pasti halusinasi” bunga langsung buru-buru bangkit mengambil handuk dan masuk kedalam kamar mandi.
Untuk mandi sekaligus membersihkan noda di baju nya itu.
“Loh, bunga kamu kenapa pucat nak? Kamu sakit kah?” Tanya Bu Yanti merasa khawatir melihat wajah bunga yang agak pucat.
“Kayaknya mah cuma kecapean aja Bude, mungkin nanti kalo udah kena matahari juga gak bakal pucat” jawab bunga langsung nyelonong menuju meja makan.
Tanpa tahu jika Bu Yanti sebenarnya tahu jika jawaban yang dilontarkan bunga adalah jawaban bohong.
“Dasar anak muda jaman sekarang, selalu ada saja kelakuan nya” kekeh Bu Yanti menggelengkan kepalanya.
Sesampainya di meja makan ternyata semua murid dan para guru sudah berada di kursi masing-masing, yang berarti hanya bunga yang terlambat kali ini.
“Loh, bunga tumben banget kamu paling terakhir dateng nya” kata pak Yanto terkekeh melihat merasa lucu melihat bunga yang datang terakhir ke meja makan.
“Mungkin kecapean kali pak, kegiatan kemarin kemarin itu memang menguras tenaga untuk mereka loh” jawab Bu nana menyenggol lengan pak yahman.
Pak yahman yang sadar langsung buka suara. “Eh, yaudah sarapan dulu yuk sebelum memulai kegiatan hari ini. Sebelum makan jangan lupa berdoa”
__________________________________