NovelToon NovelToon
Om Bian!

Om Bian!

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Beda Usia / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.8
Nama Author: Icha Annisa Amanda

"Zee, kalau Zee udah besar nanti. Zee nikahnya sama Kak Bian, ya?" ucap Albian pada bayi mungil yang ada di dalam pangkuan sang Ibu. Seolah mengerti maksud Bian. Zeeviana kecil pun tersenyum, sambil menggerakkan tangganya. Mencoba untuk menyentuh wajah tampan Albian yang menatap ke arahnya.

"Janji, ya?" Bian memberikan jari kelingkingnya, dan Zeeviana menggenggamnya, dengan genggaman yang begitu erat.

× × ×

"Aku tidak menyangka, kalau aku benar-benar jatuh cinta padanya!"

- Zeeviana.

"Aku akan melakukan apapun yang membuatnya bahagia. Tidak akan memaksa jika dia tidak ingin menepati janjinya!"

- Albian Wijaya Saputra.

× × ×

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha Annisa Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Obat Tambahan

...💙 Episode - 25 💙...

Zeeviana mendongakkan kepalanya menatap wajah Bian. Bibir Bian tersenyum manis, dengan bola mata yang berbinar penuh cinta menatap Zeeviana. Gadis itu sendiri menatap Bian dengan tatapan bingung dan dipenuhi tanda tanya.

"Tu-tuan? Apa yang Anda lakukan?" Zeeviana memegang keningnya. Rasa hangat dari kecupan bibir Bian terasa begitu jelas dan masih Zeeviana rasakan sampai sekarang.

"Memberikan obat tambahan untuk keningmu, itu saja," jawab Bian dengan santai.

'Apa?! Dia bilang obat tambahan?! Apakah Anda tidak tau, Tuan! Anda adalah orang pertama yang mencium keningku, selain Ibu! Dan apakah Anda tidak tau, jantungku hampir saja loncat karena ulah Anda!' Batin Zeeviana. Gadis itu ingin mengatakan semua isi hatinya pada Bian. Namun ia terlalu malu untuk mengatakan semua itu.

"Kenapa melamun? Apakah kamu mau obat tambahan lagi dariku?" Goda Bian lalu kembali menundukkan kepala, mendekati wajah Zeeviana. Gadis itu memalingkan wajahnya.

"Keluarlah, Zee. Sebelum Morgan masuk dan melihatmu di sini bersamaku. Morgan nanti berpikir yang tidak-tidak tentangmu," bisik Bian lembut.

Bian hanya ingin menakuti Zeeviana. Karena Morgan sebenarnya masih di perusahan. Dan kalaupun Morgan masuk nanti, Morgan pasti tidak akan menuduh mereka melakukan hal yang tidak-tidak. Morgan tau seperti apa sifat Bian dan juga Zeeviana.

Bian adalah pria yang sangat mencintai dan menyayangi Zeeviana. Jadi Bian tidak mungkin melakukan hal sekecil apapun, yang membuat Zeeviana terluka. Tapi tidak dengan kecupan kening tadi. Bian melakukan sebagai bentuk permintaan maafnya pada Zeeviana. Obat tambahan hanya alasan Bian saja.

Begitu pula dengan Zeeviana. Dia seorang gadis yang tidak mungkin berani melampaui batas. Dia tipe gadis yang tidak mudah goyah pada prinsipnya. Jadi, gadis seperti Zeeviana pasti sulit untuk dirayu dan diajak melakukan hal yang tidak pantas untuk dia lakukan.

"Maaf, Tuan. Saya keluar dulu. Dan terimakasih, karena Anda sudah mengobati kening saja," gumam Zeeviana lalu bangkit dari kasur Bian.

"Untuk obat tambahan tadi. Itu hanya bisa didapatkan sekali saja. Jadi, kamu tidak memiliki kesempatan lagi untuk mendapatkannya!" Goda Bian. Padahal Zeeviana sudah melangkah keluar dari kamarnya.

"Anda tenang saja, Tuan. Saya tidak akan meminta obat tambahan pada Anda! Yang ini saja sudah...," Zeeviana menghentikan ucapannya lalu berlari menjauhi kamar Bian. Gadis itu menuruni tangga dengan jantung yang berdebar kencang.

Bian hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum puas. Pria itu merebahkan tubuhnya di atas kasur, lalu memegang bibir beruntungnya yang sudah berani mencium kening Zeeviana.

'Tahan, Bian. Tahan! Jangan turuti terus tubuh gilamu ini! Bisa-bisa tubuh ini bisa meminta lebih lagi. Sekarang kening, lalu besok dia meminta bibir Zee! Tidak! Tidak! Itu tidak akan terjadi! Bian, tahan dirimu. Demi Zee! Demi kesucian cintamu pada Zee!' Batin Bian memperingati dirinya sendiri.

...*****...

Morgan melangkahkan kakinya memasuki sebuah butik di tengah kota. Karena jadwal yang terlalu padat membuat Morgan tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan hal yang sudah direncanakannya.

Semalam, Morgan sudah meminta seseorang untuk menyelidiki siapa nama teman dekat Nona Zeeviana, dimana rumahnya dan apa pekerjaan.

Dari hasil laporan penyelidikkan yang Morgan dapatkan. Gadis yang menjadi teman dekat Zeeviana ternyata bernama Fathia, dia tinggal di alamat yang sama dengan Zeeviana. Bahkan rumahnya hanya berjarak 3 rumah saja dari rumah Zeeviana.

Dan dia berkerja di sebuah butik sebagai karyawan tetap. Fathia sudah bekerja selama lebih dari tiga tahun di sana.

"Selamat sore, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang penjaga butik pada Morgan yang baru saja melangkahkan kakinya memasuki butik itu.

"Maaf, apakah saya boleh bertanya tentang seseorang?" tanya Morgan. Sang penjaga pun hanya mengangguk pelan.

"Tenang saja, saya hanya ingin menanyakan gadis ini. Apakah benar, dia berkerja di butik ini?" Morgan menunjuk foto Fathia pada penjaga butik tadi.

"Benar, Tuan. Kak Fathia memang bekerja di sini," ucap penjaga itu membenarkan.

"Baiklah, kalau begitu, boleh kah saya bertemu dengannya sebentar?"

"Tunggu sebentar, Tuan. Saya panggilkan." Penjaga itu pun berlalu meninggalkan Morgan. Ia memasuki sebuah ruangan. Terlihat Fathia sedang sibuk memeriksa beberapa data pesanan pelanggan di sana.

"Permisi, Kak," ucap penjaga tadi mengagetkan Fathia.

"Ada apa, Qis?" tanya Fathia sambil meletakkan beberapa lembar kertas di tangannya. Ia melangkah mendekati penjaga butik yang bernama Balqis itu.

"Itu, Kak. Di depan ada Tuan Tampan yang mencari Kak Fathia. Katanya ingin bertemu dengan Kakak!"

"Tuan Tampan siapa?" tanya Fathia dengan mengerutkan dahinya.

"Kak Fathia langsung samperin aja orangnya. Kasihan pria setampan dia menunggu lama!" Balqis menatap Fathia yang masih menampakkan ekspresi bingung di wajahnya.

"Baiklah, aku akan menemuinya!" Fathia pun berderap menuju bagian depan butik. Batin gadis itu menebak-nebak Tuan Tampan yang seperti apakah yang mencari dirinya yang seperti kentang goreng ini.

"Permisi, Tuan? Apakah Anda mencari saya?" tanya Fathia sopan pada Morgan yang berdiri membelakanginya.

Morgan membalik tubuhnya dengan perlahan. Matanya menatap lekat kaki gadis yang berdiri di hadapannya sekarang. Gadis itu mengunakan sandal jepit berwarna hitam, celana kain longgar berwarna abu, dan baju kaos lengan panjang dengan tulisan kecil di bangian depan dan belakang.

"Saya Morgan," ucap Morgan sembari mengulurkan tangan pada Fathia. Fathia segera membalas uluran tangan Morgan dengan senyum canggung di wajahnya. "Fathia."

"Ada perlu apa, ya, sampai Tuan Morgan datang ke sini mencari saya?" tanya Fathia sambil menatap Morgan curiga.

"Ini ada hubungan dengan Nona Zeeviana. Tidak lebih dari itu," jawab Morgan.

"Apa yang terjadi pada, Zee?!" Fathia bertanya dengan mata yang memancarkan kekhawatiran.

"Nona Zee baik-baik saja. Saya hanya ingin menanyakan beberapa hal pada Anda, Nona Fathia. Apakah Anda bersedia untuk meluangkan waktu Anda. Dan menjawab pertanyan saya?"

"Tapi, saya tidak bisa sekarang, Tuan. Jam kerja saya masih tersisa satu setengah jam lagi," ucap Fathia sopan.

"Bagaimana kalau nanti malam?"

"Nanti malam?" Fathia berpikir sejenak. "Tapi Anda tidak berbohong kan pada saya? Ini benarkan ada hubungan dengan Zeeviana?" Fathia hanya ingin memastikan saja.

"Apakah Anda melihat ada tampang pembohong di wajah saya, Nona?" Morgan balik bertanya.

"Ti-Tidak, saya hanya melihat ketampanan saja di wajah Anda." Mode halu Fathia yang menjawab.

"Nona bicara apa?" tanya Morgan dengan sedikit menundukkan wajahnya.

"Tidak ada, saya tidak bicara apa-apa!" Fathia memalingkan wajahnya, lalu memukul pelan mulutnya.

"Bagaimana, Nona? Apakah Anda bisa meluangkan waktu Anda nanti malam?" tanya Morgan yang tidak ingin berlama-lama lagi.

"Akan saya usahakan!"

"Baiklah. Saya akan menunggu Anda di kafe Nirwana. Anda tau kan tempatnya?"

Fathia menganggukkan kepalanya. Tentu saja Fathia tahu di mana tempat kafe itu. Kafe Nirwana adalah tempat yang pernah menjadi saksi tentang betapa keras kehidupan yang Zeeviana lewati.

"Terimakasih, Nona. Saya akan menunggu Anda sampai jam setengah sembilan malam. Saya harap Anda datang dan tidak mengecewakan saya!" Tegas Morgan sebelum keluar dari butik dan meninggalkan Fathia.

"Saya tidak akan mengecewakan Anda. Jadi Anda tenang saja!" Lirih Fathia sambil menatap punggung Morgan yang sudah berjalan mendekati mobilnya. Pria itu hilang bersamaan dengan mobilnya yang melaju kencang menjauhi butik.

'Semoga semaunya baik-baik aja.' Batin Fathia berdo'a kemudian kembali masuk ke dalam ruangan dan menyelesaikan semua pekerjaannya.

1
Atik Marwati
semoga bisa bersama
Atik Marwati
morgan
Atik Marwati
kasigan teng... semoga lekas ketemu dg jodoh terbaikmu ya teng
juhaina R💫💫
pasti mau lama lama dekat Zee kan 🤭
ChaManda: Bian : /Shhh//Shhh//Shhh//Shhh/
total 1 replies
juhaina R💫💫
wkwkw enak saja nyuruh nyurih, cinta bukan karna disuruh suruh🤣
Atik Marwati
Morgan terbaik🥰🥰🥰🥰
ChaManda: ❤️❤️❤️
total 1 replies
Atik Marwati
sabar ya Zee.. semua akan indah pada waktunya...
Atik Marwati
aq selalu like thor...
ChaManda: terimakasih kakak 🤍
total 1 replies
juhaina R💫💫
duuhhh beraninya y megang² 😂
juhaina R💫💫
wahhhh selisih berapa sih usia zeeviana??
jdi om Mateng inikah yg akan jdi pendamping omom.
juhaina R💫💫
wkwwkk aku lanjut penasaran ah cubit author oyh🤏🤭
ChaManda: selamat datang kakk, semoga suka yaaa💙
total 1 replies
Atik Marwati
semoga niatnya tulus
Atik Marwati
Sandra belum kena batunya jadi belum kapok ...
Atik Marwati
bian beli cicin buat kamu zee
Atik Marwati
🤔🤔🤔🤔
Atik Marwati
aamiin...
Atik Marwati
waduh... bian 😅😅
Atik Marwati
teng... semoga kamu bahagia bertemu dengan orang yg juga mencintai kamu...
Atik Marwati
kok ga beli makanan tadi Zee kasihan kan
Atik Marwati
hhhh... kamu lucu Zee
tapi benar jangan tatap matanya takutnya kena hipnotis ...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!