Kisah seorang Anak yang di tinggal pergi Ayahnya untuk selama-lamanya, membuat Ia kecewa pada Ibunya, dan berubah sikap dari anak yang penurut dan perhatian jadi anak yang cuek dan melawan Ibunya bahkan tega mengusirnya di masa tua.
Akan kah sang Anak bisa kembali menjadi penyayang? dan bagaimana nasib Ibunya setelah di usir oleh putranya? lalu apa sebenarnya yang terjadi kenapa si Anak bisa berubah sikapnya? penasaran kita langsung saja ke TKP.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadataskia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MASALAH 5.
Tiiinnn ... tin-tin.
Suara klakson motor ayah mengagetkan ibu, saat ibu melihat jam ternyata sudah pukul 12.00 Wib, sangking sibuknya ngelipetin baju sampe ga sadar sudah siang.
"Asyik ... Ayah pulang!" seru Nadia dan Kasih berlari keluar.
"Hati-hati Nak, jangan lari-lari!" kata ibu melihat Kasih yang hampir saja jatuh.
Tapi Kasih terus saja berlari tak mendengar uncapan ibu, dan ibu pun akhirnya mengikuti Anak-anak bangun menyusul ayah.
"Ayah, sudah pulang ...," ujar Nadia
"Ayah bawa apa?" tanya Kasih.
"Hayo tebak Ayah bawa apa?" tidak langsung menjawab ayah malah balik bertanya.
"Pasti bawa jajan buat Aku, sama Kakak!" tebak Kasih.
"Hmmm ... bener ga yach?" ledek ayah.
"Apa sih Yah! Kasih tau dong?" pinta Nadia.
Ayah terus meledek kedua Anaknya dengan terus memberikan bertanyaan suruh menebak ibu tersenyum melihat tinggkah mereka, tapi saat melihat Kasih mulai menanggis ayah pun tidak tega dan memberikan jajannya ke Kasih dan Nadia.
"Ayah nih, senengnya ngeledikin Anak-anak mulu, kalo belum nanggis belum berhenti!" omel ibu.
"Iya maaf ya sayang, Ayah ga maksud buat bikin nanggis kok Ayah cuma bercanda!" Sesal ayah sambil gendong Kasih.
"Udah-udah yuk pada masuk ke dalam udah siang waktunya makan terus Nadia dan Kasih mandi kita berangkat sekolah sore!" perintah ibu.
"Siap Bosss ... Ayo kita masuk!" gurau ayah bersama kedua Anaknya.
Ibu masuk duluan menaruh baju yang belum rapi, terus ibu langsung menyiapkan makan untuk ayah dan kedua anaknya, lalu untuk ibu sendiri dan mereka makan bersama duduk di depan tivi.
Setelah makan keluarga ayah melakukan ibadah solat dzuhur, sebelumnya Nadia, Kasih dan ibu sudah mandi, begitu pun dengan ayah mereka sholat berjamaah ayah yang menjadi imamnya Nadia dan Kasih masih dalam masa belajar.
Setelah solat ayah berangkat jualan lagi, sedangkan ibu mengantar Nadia dan Kasih sekolah seperti biasa mereka jalan kaki, saat di tenggah jalan ayah merasa kasihan melihat ibu yang harus jalan kaki, pagi dan sore setiap hari pasti lelah.
"Apa aku belikan motor saja ya, buat Ibu kasihan kalo tiap hari harus berjalan kaki pagi dan sore lagi, di tambah juga harus membereskan rumah." Kata ayah pelan melihat ibu dari jauh.
Karena saat ayah berangkat jualan di tenggah jalan ada yang memanggil jadi saat ibu lewat ayah melihatnya.
*****
Sampainya ibu di sekolahan, Nadia segera berpencar bermain dengan temannya sedang Kasih seperti biasa hanya di dalam kelas masih malu-malu, jadi ibu hanya melatih bacaan Kasih saja mengikuti kemauan Kasih kalo dia hanya ingin di kelas, mainnya nanti saat istirahat.
TENG! TENG! TENG ...
Suara bel berbunyi waktu masuk kelas pun di mulai, Anak-anak yang sedari tad di luar mulai masuk ruangan dan duduk di tempatnya masing-masing, duduk dengan rapih.
Sekitar sepuluh menit bu Ustad baru masuk kelas agak terlambat lima menit, mungkin ada kepentingannya makannya bisa terlambat.
Bu Ustad memimpin doa sebelum belajar di ikuti semua murid mereka baca dengan khusu walau masih ada yang belum hafal dengan doanya.
"Assalamualaikum Anak-anak, gimana kabarnya hari ini?" sapa bu Ustad.
"Waalaikumsalam, Bu Ustad Alhamdulilah luar biasa tetap semanggat Yes ... Yes ...!" jawab Anak-anak serentak.
"Alhamdulilah kalo semua sehat Bu Ustad seneng dengernya, nah hari ini kalian menulis halaman yang sedang kalian baca ya, soalnya kita akan pulang cepet Ibu Ustad ada rapat di kantor pusat!" jelas bu Ustad.
"Baik Bu Ustad ...!" seru semua santri kompak.
Santri pun mengikuti perintah Ustad dengan tertib dan tenang tanpa berisik, Ustad pun memanggil satu-persatu Santri maju untuk mengaji.
Di mulai dari barisan depan terus ke belakang, sekitar satu setengah jam semua santri sudah selesai ngaji dan menyelesaikan tugasnya, Ustad langsung menilai hasil kerja dan menutup pelajaran sore ini.
Sebelum baca doa Ustad memberikan pengumuman dulu, setelah tadi ada seorang Santri masuk kelas memberikan kertas putih seperti undangan sama dengan undagan yang Ibu dapat di sekolah pagi.
"hmm ... undangan! duit lagi nih bakalan!" batin Ibu.
"Assalamualaikum, Anak-anak besok kita libur yah, dua hari kamis dan Jumat, masuk kembali hari Sabtu, karena besok ada rapat orang tua murid ini Ustad kasih kertas undangan nanti kalian sampaikan ya ke orang tua nya di rumah!" pesan bu Ustad.
Ustad pun keliling ruangan membagikan surat undangan, yang masih di antar orang tuang nya, langsung menerima undangan begitu semua selesai Ustad langsung memulai doa sesudah belajar.
Baca doa sesudah belajar pun selesai semua Santri keluar kelas begitu pun dengan kelas Nadia, karena rata semua pulang cepet hari ini.
"Bu besok Nadia libur, nih Ibu suruh baca suratnya, kaya tadi di TK pagi, jadi Ibu dapet dua dong!" cerita Nadia memberikan kertas undangan berwarna putih.
"Kasih juga dapet, Kak! Ibu udah terima" sambung Kasih.
"Hah, berarti Ibu dapet tiga dong Bu?" tanya Nadia penasaran.
"Iya, Nak Ibu dapet tiga!" jawab ibu sedikit pusing juga sih masa secara bersamaan dapet undangan.
Kalo masalah undangan sekolah pagi udah jelas pasti bahas masalah seragam dan lain-lainnya, tapi sekolah sore hanya rapat musyawarah isinya, bahas tentang apa juga ibu belum tahu.
*****
Sampainya kbu dan Anak-anak di rumah mereka segera masuk rumah, cuci tangan dan Kaki, lalu menjalankan solat ashar karena sudah masuk waktunya.
Setelah menjalankan Ibadah, ibu dan Anak-anak hanya duduk menyaksikan acara televisi sambil menunggu waktu magrib dan menunggu ayah pulang.
Waktu terus berganti hari pun sudah mulai sore, suara adzan maghrib pun telah berkumandang ibu dan Anak-anak bersiap menjalankan Ibadah solat maghrib, selesai solat mereka tidak langsung pergi tapi duduk dulu untuk zdikir dan baca doa memohon keselamatan dunia akhirat.
"Ya Allah ampunilah dosa saya, dosa Ayah Ibu saya yang telah tiada, ampuni segala kesalahannya, dan terima segala amal kebaikannya, lapangan kuburnya dan ringankan siksa kubur, sayangi mereka sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu kecil, Ya Allah bimbing saya juga agar bisa menyekolahkan kedua anak saya agar menjadi orang sukses, berhasil, berbakti kepada orang tua dan agama, berguna bagi nusa dan bangsa, anak yang bisa di banggakan orang tuannya ... Aminn!" doa Ibu selesai sholat.
Setelah selesai sholat ibu merapikan mukenanya, mengantungnya agar tidak bau saat mau di pakai lagi.
Tak berapa lama terdangar suara motor ayah dari luar, Anak-anak pun segera berlari menghampiri suara tersebut dan membuka pintu terlihat ayah yang sedang membuka ikatan tali di gerobaknya.
"Yeah ... ayah pulang!" Seru Nadia dan Kasih.
"Iya dong siapa yang mau bantu Ayah, tar dapet hadiah dari Ayah." Tanya Ayah kepada kedua anaknya.
"Nadia Yah ...!" seru Nadia.
"Kasih juga Yah, mau bantu.!" Seru Kasih.
Ibu hanya tersenyum melihat tingkah mereka dari depan pintu, ayah yang sudah mendengar jawaban anaknya segera memberikan Nadia helem untuk di bawa masuk, sedangkan Kasih membantu membawa tasnya ayah, semua di letakkan di atas meja.
Sedang ibu membantu ayah mengotong Gerobak ke dalam rumah, saat semua sudah rapih tinggal tugas ayah membawa motor masuk ke dalam.
BERSAMBUNG ...
*****
Bab ini sudah selesai kita lanjut ke bab berikutnya ya, jangan lupa berikan like 👍 dan komennya juga vote author nya biar lebih semangat lagi nulisnya.
❤Terima kasih sudah baca.❤
Jangan lupa tambahkan ke favorit.❤
SELAMAT ULANG TAHUN NAJUA
semoga panjang umur sehat selalu. Jadi anak berbakti. kebanggaan orang tua. Amin.
🎊🎊🎊🎁🎁🎁🎈🎈🎈🎉🎉🎉
tetep semangat selalu pokoknya ya, love you kak 😘