• Buku ini memiliki 5 cerita ber-sekuel, kalian bisa membacanya dari awal agar lebih mengerti •
• Psycho Man
• My Girl
• Destiny Of Love
• Her Secret
• Possessive Brother
Dulu Eros pergi tanpa alasan dan meninggalkan luka padanya. Kini saat Adara sudah melupakan pria itu dan sebentar lagi akan menikah, Eros malah kembali dan memintanya untuk bersama. Luka dan kesakitan membuat Adara menolaknya, tapi pria itu malah berbuat hal gila yang membuat Adara semakin terluka.
Bagi yang suka cerita berkonflik berat genre hurt mari mampir, di sini hatimu akan di bolak-balik oleh kisah percintaan mereka. Selamat membaca, di tunggu juga dukungan dari kalian semua❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Enam
Vote sebelum membaca 😘
.
.
"Syukurlah butik kamu selalu ramai, besok ajak aku ke sana ya?"
Maya mengangguk. "Siap, nanti sekalian jalan-jalan lagi, masih lamakan di Bali?"
"Lima hari lagi."
"Oke."
Indri dan Maya dari tadi terus mengobrol dengan asiknya khas ibu-ibu, sedangkan anak mereka terlihat diam bahkan tak mengeluarkan sepatah katapun dari mulut.
Alvaro menatap sendu Adara yang duduk di depannya, wanita itu jadi banyak diam setelah kepulangan mereka dari pura luhur. Ia juga harus mengerti, pasti Adara merasa canggung padanya. Lamarannya tadi sore pasti membuat wanita itu terkejut, apalagi mereka ini memang tidak punya hubungan apapun.
Apa Adara menerima lamarannya? Belum.
Lagi pula Alvaro memberikan waktu pada Adara untuk memikirkannya dengan baik-baik. Ia sudah dewasa dan sebentar lagi akan menginjak usia kepala tiga, sekarang bukan lagi kekasih yang Alvaro pikirkan, tapi pendamping hidup.
"Kalian ini kenapa saling diam? Apa lagi marahan?" Tanya Indri pada kedua orang itu.
"Gak kok." Jawab Alvaro.
Maya menatap heran putrinya yang duduk di sampingnya, dari pertama makan malam anak itu terus diam. Padahal jika saat bersamanya akan menjadi anak yang cerewet.
"Kapan kalian menikah?"
"Apa?!" Pekik Alvaro dan Adara bersamaan.
"Kenapa harus kaget begitu?" Kekeh Indri.
"Menurut Mama jangan di lama-lama, kamu juga Alvaro udah dewasa dan kalian memang sudah waktunya menikah. Lagi pula setelah menikah pasti akan lebih menyenangkan, percaya deh!"
Alvaro berdehem, sempat melirik Adara yang ternyata sedang menatapnya.
"Ck Alvaro tahu kok Ma, hanyakan kita butuh persiapan yang matang." Lalu tiba-tiba Alvaro beralih berdiri disamping Adara, pria itu mengusap kepala wanita itu pelan dan menyandarkan kepala itu di perutnya.
"Kita pasti akan cepat menikah karena Alvaro juga gak mau kehilangan Adara, Alvaro cinta banget sama dia."
Setelah mengatakan itu Indri dan Maya langsung menyorakinya sambil tertawa melihat tingkah pasangan kekasih itu, astaga Alvaro ini ternyata anak yang tidak maluan dan prontal. Sedang Adara langsung menutup wajah dengan kedua tangannya, Ia sangat malu sekarang. Pipinya pasti sudah merah seperti tomat.
***
Tok tok!
Adara yang sedang menyisir rambutnya menoleh mendengar ketukan pintu, Ia menyimpan sisirnya diatas meja rias lalu membuka pintu kamarnya dan langsung terkejut melihat Alvaro.
"Boleh saya masuk? Saya ingin mengobrol dengan kamu."
Sempat menghela nafasnya sejenak, Adara lalu mengangguk, setelah Alvaro masuk kembali Ia menutup pintu kamar.
Alvaro memperhatikan seluruh kamar yang menurutnya sangat nyaman, tak terlalu besar tapi bersih dan rapih. Hampir semuanya dihias dengan warna pink, mungkin warna kesukaan wanita itu. Pria itu lalu berbalik untuk menatap Adara, satu tangannya Ia masukan ke saku celana kainnya.
"Jadi bagaimana?"
"Hah, bagaimana apanya?"
"Lamaran saya."
Adara meringis mendengar itu, padahal Ia sempat meluapakan lamaran itu, tapi sekarang Alvaro malah mengungkitnya kembali.
"Saya tidak-"
"Stop!" Ucap Alvaro cepat. Dada pria itu naik turun karena hampir saja Adara berucap yang tidak Ia harapkan.
"Baiklah, saya mungkin terlalu cepat, jadi saya benar-benar akan memberi kamu waktu untuk memikirkannya dengan baik-baik."
"Alvaro ini semua aneh, saya sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kamu rencanakan. Kita bukan siapa-siapa, lalu kamu tiba-tiba melamar saya dan membuat saya bingung."
Alvaro mengangguk mendengar itu, baiklah sepertinya Ia memang harus memperjelas masalah ini. Kasihan juga Adara, karena sikapnya malah membuat wanita itu tak nyaman.
"Maaf sebelumnya kalau kamu merasa tidak enak dengan kejadian ini, kebohongan hubungan kita dan pastinya lamaran saya."
Satu langkah Alvaro mendekat, kini posisi mereka lumayan dekat. Alvaro memperhatikan wajah itu dalam, dan sialnya detak jantungnya selalu menjadi cepat sangking terpesona akan kecantikan Adara.
"Mungkin menurut kamu ini semua adalah kebohongan belaka, tapi saya serius. Saya benar-benar tertarik dan jatuh cinta sama kamu, bukan dari malam kemarin, tapi dari pertemuan pertama kita."
"Lupakanlah tentang hubungan kita yang berdusta pada orang tua kita, saya akan menjelaskannya besok. Tapi soal lamaran itu, saya benar-benar serius dan ingin memiliki kamu seutuhnya."
Tak bisa berbohong kalau didalam hatinya ada sedikit rasa hangat dan terharu mendengar ucapan Alvaro, apalagi pria itu mengatakannya sambil menatap matanya dan tak ada kebohongan dari mata itu. Sekarang Adara bingung dengan pikiran dan hatinya, mereka saling berbeda pendapat.
Lalu usapan lembut di keningnya membuat Adara mengangkat kepala menatap Alvaro yang ternyata sedang mengusap keningnya yang berkerut karena sedang berpikir.
"Sudah jangan terlalu dipikirkan, masih banyak waktu. Tapi saya mohon pikirkan dengan baik-baik, ini untuk masa depan kamu."
Adara menurunkan tangan Alvaro di keningnya, menghembuskan nafasnya berat. "Baiklah saya akan memikirkannya dengan baik, dan mungkin ini akan butuh waktu lumayan lama."
"Iya saya mengerti."
Kini kamar itu menjadi hening, mereka tampak gugup satu sama lain. Dan Alvaro sangat tidak suka dengan keheningan ini, maka pria itu berdehem lumayan keras lalu tak sengaja matanya melihat pigura kecil yang menempel di dinding. Alvaro mendekat pada pigura itu dan langsung tersenyum melihat foto bayi yang sedang tersenyum lebar sampai melihatkan kedua gigi susunya diatas.
"Ini kamu?"
Adara mendekat berdiri dibelakang Alvaro, wanita itu mengangguk kecil walau Ia juga sadar tak akan dilihat pria itu. "Iya itu saya."
"Dari kecil ternyata kamu ini memang sudah lucu, nanti anak kita kalau perempuan pasti cantik kaya kamu."
"Hah?"
Alvaro terkekeh dan langsung menggeleng, sial Ia terlalu berhalu.
Kemudian pria itu teringat sesuatu dan langsung berbalik menghadap Adara.
"Apa kamu mau ikut saya ke Jakarta?"
Alvaro bisa melihat perubahan di wajah itu, membuat Ia merasa aneh. Apa karena pria masa lalu Adara?
"Kamu bisa bekerja di perusahaan saya yang ada di Kemang, dan saya akan memposisikan kamu menjadi salah satu manajer di sana."
Tapi Adara menggeleng lesu. "Maaf saya tidak bisa."
"Kenapa?"
"Ini sulit bagi saya untuk kembali ke sana, lagi pula saya sudah nyaman di sini bersama Mama saya."
Alvaro tersenyum lembut, Ia mendekat lalu mengusap bahu wanita itu pelan. "Saya mengerti jika itu sangat sulit untuk kamu. Tapi, apa selama tiga bulan ini juga kamu belum mendapat pekerjaan?"
"Em tidak, saya hanya di rumah dan terkadang membantu Mama mengurus rumah."
"Kamu pasti ingin membahagiakan Mama kamukan? Maaf, tapi Mama kamu sudah tidak lagi muda. Saya tahu kalian memang memiliki butik, tapi pasti penghasilan butikpun kadang tidak menentu. Setelah kamu tidak bekerja, terasa bukan uangpun semakin menipis?"
Adara mengangguk.
"Maka dari itu saya ingin mengajak kamu kembali bekerja, ya walaupun harus kembali ke Jakarta dan meninggalkan Mama kamu di sini. Tapi ini demi masa depan kamu, lagi pula saya yakin kamu ingin kembali bekerja."
Alvaro membawa Adara ke pelukannya, mengusap belakang kepala wanita itu pelan.
"Lupakan semua kenangan buruk itu, masa depan kamu masih panjang. Jika kamu tidak bisa melupakannya, maka saya yang akan membuat kamu melupakan semua itu. Jangan takut, saya akan selalu ada bersama kamu."
enak aja ama perempuan..sini lawan emak2 jaman now pasti babak bunyak lo eros 😬😬😡😠