Bunga adalah gadis piatu malang yang menjalani hidupnya dalam penderitaan meski pun dia tinggal bersama ayah kandung dan keluarga barunya.
Menderita dalam diam tapi Bunga bukan orang yang lemah.
Di kemudian hari Bunga berhasil membongkar rahasia kelam sang ayah sekaligus merebut haknya yang dirampas.
Awalnya Bunga mengira penderitaannya berakhir. Tapi ternyata masih ada luka lain yang akan mengoyak hatinya.
Mampu kah Bunga menyembuhkan semua luka di hatinya ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Ganti Sasaran
Tekad Melati untuk menghancurkan kebahagiaan Bunga ternyata bukan hanya wacana. Melati serius dengan niatnya dan mulai mencari cara untuk melancarkan aksinya itu.
Meski pun Melati telah jatuh bangkrut, tapi Melati masih bisa menghubungi orang-orang di masa lalunya dan meminta bantuan mereka. Melati pun terpaksa harus merogoh koceknya dalam-dalam karena mereka meminta imbalan yang tak sedikit.
" Jadi apalagi sekarang ?" tanya ketua preman yang kerap membantu Melati menyingkirkan rivalnya.
" Hancurkan dia. Bikin Suaminya ga mau lagi sama dia. Kalian pasti paham maksud Gue," sahut Melati sambil menyodorkan selembar foto.
Ketua preman itu meraih foto Bunga yang sedang tertawa bahagia bersama anak dan suaminya. Sesaat kemudian ketua preman itu mengerutkan keningnya karena mengenali siapa calon korbannya.
" Dia lagi ?" tanya ketua preman itu tak percaya.
" Iya. Kenapa memangnya ?" tanya Melati tak mengerti.
" Bukannya Lo udah sering nyoba mencelakainya tapi selalu gagal ?" tanya ketua preman.
" Kata siapa gagal ?. Gue cuma kurang beruntung aja," sahut Melati sambil melengos.
Ketua preman itu pun mendengus lalu tertawa. Dia ingat beberapa kali Melati menggunakan jasanya untuk mengerjai Bunga. Biasanya Melati akan datang tiap kali anak buahnya berhasil mengganggu Bunga. Dan dia juga ingat jika Melati selalu gagal menyelesaikan semuanya karena Bunga selalu saja berhasil kabur seolah dilindungi oleh seseorang entah siapa.
" Baik lah. Itu bukan urusan Gue. Asal bayarannya cocok, Kita deal ...," kata ketua preman beberapa saat kemudian.
Melati pun mengangguk lalu menyerahkan amplop berisi uang sebagai uang muka. Setelahnya Melati pergi meninggalkan tempat itu sambil tersenyum puas.
\=\=\=\=\=
Beberapa Minggu pun berlalu namun Melati belum mendapat kabar apa pun dari para preman suruhannya itu.
Ternyata upaya para preman itu untuk mengganggu Bunga gagal total. Itu karena Bunga selalu dikelilingi pengawal sang kakek selama 24 jam. Rupanya pak Omar tak mau 'kecolongan'. Dia memberi pengawalan khusus untuk Bunga dan anaknya.
Karena tenggat waktu yang dijanjikan telah lewat, maka Melati pun menghubungi ketua preman itu untuk meminta penjelasan.
" Gimana, kenapa sampe sekarang Kalian belum bergerak juga ?" tanya Melati.
" Siapa bilang Kami ga bergerak. Kami selalu berusaha mendekati Bunga dan Anaknya tapi selalu gagal karena Bunga dikawal body guard," sahut ketua preman dari seberang telepon.
" Body guard, berapa orang ?" tanya Melati tak percaya.
" Cuma dua orang tapi mereka terlatih dan handal," sahut ketua preman itu dengan cepat.
" Jadi, Kalian kalah sama body guardnya Bunga ?" tanya Melati kecewa.
" Bukan kalah tapi Kami sulit mendekat. Kami masih menunggu waktu yang tepat untuk bergerak. Keliatannya mereka tau kalo ada yang lagi ngincer Bunga," sahut ketua preman tak mau kalah.
" Kalo gitu ganti sasaran aja. Gue mau Anaknya Bunga," kata Melati.
" Anaknya Bunga ?" ulang ketua preman memastikan.
" Iya. Gue pikir itu jauh lebih mudah bukan ?" tanya Melati tak sabar.
" Tentu," sahut ketua preman itu sambil tertawa.
Melati pun mengakhiri pembicaraan mereka saat tangis Bintang terdengar memekakkan telinga.
" Dasar Anak sial. Nangis aja bisanya," gerutu Melati tanpa mau menoleh apalagi menggendong sang anak.
\=\=\=\=\=
Dua hari setelah Melati memerintahkan menculik anak Bunga, dia bisa tersenyum lebar. Para preman berhasil menculik Edrick lalu membawanya pergi entah kemana.
Edrick yang diasuh baby sitter itu hilang saat sang pengasuh lengah. Dan kesempatan itulah yang dimanfaatkan oleh para preman bayaran Melati.
Mengetahui anak semata wayangnya hilang,Edo dan Bunga pun panik. Mereka segera melaporkan peristiwa penculikan Edrick ke polisi. Selain itu mereka juga menyebar brosur anak hilang sebagai upaya mempersempit ruang gerak para penculik.
Berita tentang hilangnya Edrick juga sampai di telinga Alin. Wanita itu ikut cemas dan panik hingga membuat Melati kesal.
" Mama mau kemana. Kok udah rapi banget ?" tanya Melati saat melihat Alin mematut diri di depan cermin.
" Mau ke rumahnya Bunga. Mama dengar Anaknya Bunga hilang. Jadi Mama mau ke sana untuk memberi support," sahut Alin.
" Oohh ...," kata Melati santai hingga mengejutkan Alin.
" Kok cuma oh. Apa Kamu ga mau ikut sama Mama menghibur Bunga Mel ?" tanya Alin.
" Untuk apa Ma. Yang hilang kan Anaknya Bunga bukan Anakku. Jadi ga ada urusannya sama Aku," sahut Melati ketus.
Alin menghela nafas panjang mendengar jawaban Melati.
" Ini lah yang bikin hubungan Kamu sama Bunga ga pernah membaik. Apa Kamu ga sadar juga kalo di sini Kita yang salah. Harusnya Kamu berubah supaya Bunga percaya kalo Kita memang benar-benar menyesali semuanya Mel," tegur Alin.
" Ck, Aku ga perlu pura-pura lagi Ma. Aku muak sama Bunga. Aku ga suka ngeliat dia hidup enak di rumah Opanya. Punya Suami kaya dan pintar juga Anak yang sehat. Sedangkan Aku, Mama liat kan apa yang terjadi sama Aku. Kita hidup melarat, Aku diperk*sa dan Anak yang kulahirkan cacat. Apa yang bisa Aku banggain dari semua ini Ma !" kata Melati gusar.
" Mel ...," panggil Alin berusaha membujuk.
" Cukup Ma. Aku ga peduli lagi sama Bunga dan semua orang yang berkaitan sama dia. Kalo Mama mau pergi menghibur dia, ya pergi aja. Tapi jangan paksa Aku untuk ikut karena Aku ga mau !" kata Melati lantang.
" Iya iya, Mama ga akan maksa Kamu Mel. Tapi Mama titip Bintang ya karena Mama ga mungkin bawa dia ke rumah Bunga. Mama khawatir dia rewel nanti. Tolong awasi Bintang. Mama udah kasih makan tadi. Kalo pup tolong cepet diganti popoknya biar ga iritasi. Terus kalo dia nangis, buatin susu. Susunya ada di meja ya," pesan Alin sambil membuka pintu.
" Iya Ma," sahut Melati dengan enggan.
Setelah sang mama pergi, Melati bergegas menghubungi para preman bayarannya itu.
" Mana uang sisa yang Lo janjiin itu Mel ?" tanya ketua preman saat telepon tersambung.
" Sabar dong. Kasih tau Gue dulu dimana Kalian menyimpan bayi itu," kata Melati.
" Karena bayi itu terus menangis dan Kami ga bisa mengasuhnya, Anak buah Gue naro bayi itu di depan panti asuhan," sahut ketua preman.
" Panti asuhan ?" ulang Melati.
" Iya. Kan Lo juga ga bilang bayi itu mau diapain. Apalagi Lo juga ga datang buat ngambil bayi itu. Daripada ngerepotin, mending Gue suruh Anak buah Gue buat buang bayi itu," sahut ketua preman dengan santai.
Melati menghela nafas panjang. Meski pun tak setuju dengan tindakan para preman, tapi Melati bersyukur karena Edrick berada di tempat yang aman. Melati juga berharap Edrick segera diadopsi oleh orang tua asuh agar Bunga benar-benar kehilangan jejak.
" Melati ...!" panggil ketua preman itu tak sabar.
" Iya. Gue anter uang itu sebentar lagi. Di tempat biasa ya," kata Melati.
" Ok. Jangan coba-coba mangkir karena Gue tau dimana Lo tinggal," kata ketua preman setengah mengancam.
Melati hanya berdecak lalu mengakhiri pembicaraan mereka.
Tak lama kemudian Melati nampak keluar dari rumah sambil menggendong bayinya. Dia bergegas menemui ketua preman itu di sebuah tempat yang telah disepakati.
Setelahnya Melati melangkah menuju mini market untuk membeli beberapa keperluan bayinya. Sesekali senyum tersungging di bibirnya saat membayangkan kepanikan Bunga yang kehilangan bayinya.
" Jangan pernah berpikir untuk bahagia karena Lo ga layak bahagia Bunga ...," gumam Melati sambil tersenyum penuh makna.
\=\=\=\=\=