NovelToon NovelToon
The Failed Playboy

The Failed Playboy

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Tamat
Popularitas:204.7k
Nilai: 4.7
Nama Author: Nureti

Cerita ini tentang cowok 'penakut' yang selalu ditolak sama cewek.

Dia bernama Dafa, dimana dia selalu berteman dengan cewek dan dengan mudahnya dia jatuh cinta. Entah beneran cinta atau karena merasa iri sama yang lain yang bisa dengan mudahnya mendapatkan pacar. Dafa tipe orang yang mudah terbawa perasaan, sehingga jika ada seseorang yang baik kepadanya dia langsung suka. Tetapi sayangnya, yang dekat dengannya rata-rata hanya menganggap dia sebagai teman tidak lebih.

Ikuti ceritanya dalam judul THE FAILED PLAYBOY.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nureti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26

"Selamat pagi yah, bu." ucapku ketika keluar dari kamar.

"Pagi sayang." ucap ibu.

"Pagi juga putriku." ucap ayah.

"Iya sudah kamu sarapan dulu, ini ibu sudah buatin nasi goreng." kata ibu.

"Wah, kelihatannya enak tuh. Sudah lama sekali tidak makan masakan ibu." kataku.

"Maafkan ibu iya nak." kata ibu membelai kepalaku.

"Iya bu, sudah tidak apa-apa yang penting sekarang kita sudah kumpul lagi." kataku tersenyum.

"Ibu sayang kamu nak." kata ibu mencium kepalaku.

"Nina juga sayang ibu dan ayah." kataku menatap keduanya.

"Iya sudah cepat makannya nanti terlambat." kata ayah.

"Iya yah." kataku memakan nasi goreng buatan ibu itu.

"Ke sekolahnya ayah hantar yah." kata ayah.

"Iya ayah." kataku.

Aku yang sudah selesai sarapan, langsung bergegas memakai sepatu.

"Ibu, Nina sekolah dulu iya." kataku mencium tangannya.

"Iya nak, sekolah yang pintar." kata ibu.

"Iya bu. Assalamualaikum." kataku menaiki motor.

"Waalaikumsalam. Hati-hati yah bawa motornya." kata ibu.

"Iya bu." kata ayah melajukan motornya.

Di gerbang sekolah.

Aku yang melihat Viana turun dari bus langsung memanggilnya.

"Viana, tungguin gue." kataku melambaikan tangan.

"Yah, Nina masuk dulu iya. Assalamualaikum." kataku mencium tangan ayah dan berlari menghampiri Viana.

"Waalaikumsalam." kata ayah melajukan motornya untuk pulang.

"Eh Nin, itu ayah kan?" tanya Viana.

"Bukan, itu gebetan gue. Iya iyalah Na itu ayah." kataku.

"Iya kirain kan siapa. Pulang kapan?" tanyanya.

"Pulang kemarin sama ibu juga." kataku.

"Wah ada oleh-oleh tidak nih?" tanyanya.

"Ada tuh di rumah ban bajaj." kataku ketawa.

"Kurang ajar." katanya memukul lenganku.

"Haha... iya lu ada-ada saja." kataku.

"Ayah sama ibu pindah kesini?" tanyanya.

"Iya dan sebagai rasa bahagia ku karena ayah dan ibu sudah pulang. Gue traktir makan deh." kataku.

"Ahh mantap." katanya.

Aku dan Viana memasuki kelas.

"Kok tumben Lastri belum datang?" kata Viana.

"Paling bentar lagi sampai." kataku.

Tidak lama kemudian Lastri memasuki kelas.

"Tuh orangnya datang." kataku.

"Tri, hari ini kita makan gratis lagi." kata Viana.

Lastri melirik ku sebelum akhirnya dia duduk dan berkata "Lu beneran jadian sama Dafa?"

"Sembarangan." kataku.

"Lalu lu traktir kita ada acara apa?" tanyanya.

"Kemarin ayah dan ibu gue pulang dan memutuskan tinggal disini." kataku.

"Wah gue ikut bahagia mendengarnya." katanya.

"Iya terimakasih Tri." kataku.

"Kirain lu beneran jadian sama Dafa." katanya.

"Lu saja sono." kataku.

"Ogah gue mah." katanya.

Dafa yang baru datang tiba-tiba ikut ngobrol dan berkata "Ada apa sih, pagi-pagi sudah ngegosip."

"Kepo saja lu." Kata Viana.

"Emang." kata Dafa.

Dafa duduk di tempat duduknya.

Bel masuk sudah berbunyi. Kita mengikuti jam pelajaran pertama dan kedua dengan kepala yang berat karena harus menampung semua materi yang akan di UN (Ujian Nasional) kan. Iya sebentar lagi kita akan menghadapi ujian nasional.

Jam istirahat.

"Padahal ujiannya masih semingguan lagi tapi kepala gue berasa mau pecah." kata Lastri.

"Gue juga." kata Dafa.

"Dari pada mikirin ujian mending kita makan." kataku.

"Iya benar itu. Yuk ahh." kata Viana yang sudah berdiri.

Kita pergi menuju kantin. Ternyata masih ada tempat kosong dan kita duduk disana.

"Kalian mau pesan apa?" tanyaku.

"Gue mie rendang Nin kasih cabe." kata Viana.

"Kalau gue nasi lengkoh saja, gue belum sarapan tadi pagi." kata Dafa.

"Gue pempek Nin." kata Lastri.

"Oke siap." kataku pergi memesan makanan.

Aku kembali ke tempat duduk membawa minuman.

"Thanks Nin." kata Lastri.

"Iya." jawabku.

"Eh kenapa sih lu traktir kita?" tanya Dafa.

"Ayah dan ibu ku pulang kemarin." kataku.

"Berarti lu sekarang tidur di rumah lu? bukan di rumah nenek lagi?" tanyanya.

"Iya." kataku menganggukan kepala.

Makanan yang kita pesan sudah datang.

"Terimakasih bi." kataku tersenyum ke ibu-ibu yang membawa pesanan kita.

"Iya neng sama-sama." katanya.

"Wah banyak banget lu pesannya." kata Dafa.

"Sudah tinggal makan saja." kataku.

"Iya ribet amat sih lu Daf." kata Viana.

Aku memesan gorengan untuk kita makan bersama, dan bakso ikan untuk aku makan sendiri.

"Sumpah gue kenyang banget." kata Dafa yang sudah selesai makan.

"Iyalah lu makan nasi dan gorengan tiga." kata Lastri.

"Tolongin gue, gue tidak bisa bangun." kata Dafa.

"Lebay lu." kata Viana.

Kita meninggalkan kantin dan menuju ke kelas.

Pelajaran selanjutnya sudah di mulai. Kali ini pelajaran pendidikan agama islam.

"Gara-gara kekenyangan sekarang gue ngantuk Nin." kata Dafa.

Sebenarnya aku pengen ketawa karena lihat muka Dafa dan matanya yang sudah ngantuk itu.

"Dafa." teriak pak Hasan. Guru yang lagi menerangkan di depan kelas.

"Eh iya pak." kata Dafa kaget.

"Kamu ngantuk? pergi cuci muka sana." kata pak Hasan.

"Iya pak." kata Dafa meninggalkan kelas.

Kita bertiga nahan tawa karena Dafa di tegur sama pak Hasan.

Jam pelajaran pendidikan agama islam sudah selesai. Sekarang jam terakhir yaitu IPA. Guru yang mengajar mata pelajaran tersebut terkesan galak namanya ibu Linda. Untung saja Dafa tadi ngantuknya pas pelajarannya pak Hasan, kalau pas pelajaran ibu Linda bisa kelar itu anak.

Bel berbunyi menandakan sudah waktunya pulang sekolah. Kita akhirnya bisa bernafas lega karena pelajaran ini sudah selesai.

"Kita main ke rumah Lastri yuk." kataku.

"Ke rumah lu saja Nin." kata Lastri.

"Emang lu berani sama bapak lu kalau nanti pulangnya telat?" kataku.

"Haha tahu sok-sokan saja lu." kata Viana.

"Iya Tri sudah ke rumah lu saja." kata Dafa.

"Iya sudah." kata Lastri pasrah.

Kita berjalan kaki ke rumah Lastri. Rumahnya tidak jauh hanya di belakang sekolah saja.

"Assalamualaikum." ucap Sri memasuki rumahnya dan diikuti kita bertiga.

Ternyata rumahnya kosong.

"Bapak kemana Tri?" kataku.

"Mungkin belum pulang, paling bentar lagi." katanya.

Kita duduk di ruang televisi. Sedangkan Lastri keluar membeli makanan dan minuman di samping rumahnya.

"Iya ampun Tri repot-repot segala." kata Dafa.

"Iya Tri kayak sama siapa saja." kataku.

"Sudah makan saja, maaf di warungnya cuman ada snack-snackan saja." kata Lastri.

"Iya tidak apa-apa Tri, kita juga sudah makan banyak tadi di sekolah." kata Viana.

"Iya benar." kata Dafa.

Kita asik bercengkerama dan nonton televisi. Tiba-tiba bapaknya Lastri datang.

"Eh ada teman-temannya Tri ternyata." katanya.

"Eh iya pak." kata Dafa bersalaman diikuti kita berdua.

"Iya sudah kalian nonton televisi saja, bapak mau masuk ke kamar." katanya.

"Iya pak." kata kita bersamaan.

Hari sudah mau sore. Kita memutuskan untuk pulang.

"Kita pulang yuk, takut kesorean dan tidak ada bus yang lewat." kata Dafa.

"Eh iya ini sudah sore." kata Viana melihat jam tangannya.

"Iya sudah Tri, kita pulang iya." kataku.

"Iya sudah kalian hati-hati." kata Lastri.

Kita keluar rumah dan melihat bapaknya Lastri lagi duduk di warung sebelah rumahnya Lastri. Kita menghampirinya untuk berpamit pulang.

"Pak, kita pulang dulu sudah sore." kata Dafa.

"Iya sudah kalian hati-hati pulangnya." katanya.

"Iya pak." kata Dafa bersalaman dengannya.

Aku dan Viana ikut berpamitan juga.

Di tepi jalan raya.

"Eh gue duluan iya." kataku melanjutkan perjalanan pulang.

"Mau gue hantar Nin?" tanya Dafa.

"Tidak usah Daf." kataku.

"Yakin?" tanyanya.

"Iya." kataku menganggukan kepala.

"Nin lu naik bus saja dari pada sendirian jalan kaki." kata Viana.

"Tidak ahh, toh dekat saja. Gue juga sudah biasa jalan kaki kali Na. Tidak usah khawatit." kataku.

"Iya sudah kita duluan iya, itu sudah ada bus." kata Viana.

"Iya bye." kataku.

"Bye, lu hati-hati." kata Viana.

Aku berlalu jalan meninggalkan mereka. Dafa masih terus menatapku sebelum akhirnya dia masuk ke dalam bus.

...****************...

1
June
semangat terus kak
jangan lupa mampir di karyaku juga ya
Bryan Sbasthiant Pernandez
bacanya pusing
minding baca komik bobo
Jhie Abhy
ini tentang dafa ataw tentang nina... bikin pusing.. 🙈
Puan Harahap
mampir nih 10 like ya thor
Puan Harahap
salken thor, pria idola, mampir ya
Bahrudin Udin
anak rajin dan sholeha
Keii68
like buat cerita kakak, semangat selalu ya.

salam dari Barryneald :))
xiaoyu
yuuuhuuu aku mampir yak,, semangat buat karya karya baru lgi thorr 😘
Valerie Grachia
Hallo Kak salam kenal, mampir juga yuk ke novelku "Mengejar Cinta Rangga" siapa tahu suka, makasih
#Izin Thor
kh!@#g fu sh3=g
60 like hadir, semangat thor. salken"jangan panggil aku monster"
Agus Irawan
Yah kok End
HIATUS
Hai thor 👐
salam kenal 🤗
semangat berkarya 💖
jika ada waktu jgn lupa feedback ke karyaku "love in silence" dak tinggal kan jejak like dan comment mu sbg bentuk dukungan karayku 😘
Agus Irawan
Season 2 nya gak ada yah
Agus Irawan
kenapa belum Up
Dea Amira 🍁
ada nma ku tini 🤣🤣🤣smngt trus thor...
Dea Amira 🍁
aq mmpir thor...
Dream Sky
"Sayap Pelindungmu" Telah mampir nih! Dan memberi Like and Komen. Selalu semangat ya kakak! Dan di tunggu FeedBack kakak. Ayo kita sebagai penulis, saling support 😊.
Terima-kasih banyak.
Titin
semangat thor
Titin
like thor
Radin Zakiyah Musbich
aq hadir kembali 🥯🥯🥯

jgn lupa mampir juga di novelku dg judul "My Annoying wife" 🍇🍇🍇

kisah cewe bar bar yang jatuh cinta sama cowo polos ☘️☘️☘️

tinggalkan like and comment ya 🥭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!