NovelToon NovelToon
Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia
Popularitas:239
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Malam itu, dengan kaki telanjang menembus jalanan Jakarta, Sekar nekat menghentikan sebuah mobil mewah… dan takdirnya berubah selamanya.

**Bramantyo Adiwangsa.** Empat puluh tahun, konglomerat paling disegani di ibu kota. Pria yang dingin pada dunia—tapi memungut gadis malang itu, memberinya rumah, nama, dan perlindungan yang tak pernah ia punya. Bertahun-tahun Om Bram menjaganya seperti harta paling rapuh miliknya.

Sampai gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita. Dan berani mengucap kalimat yang mengubah segalanya:

*"Om… aku mencintaimu."*

*"Ini salah,"* tolaknya dingin. *"Om dua puluh tahun lebih tua darimu."*

Tapi bagaimana kalau pria yang paling keras menolaknya… justru pria yang paling tak sanggup melepaskannya?

Di antara gunjingan tetangga, penghinaan karena ia "cuma gadis pungut", mantan yang kembali dari 'kematian' untuk membalas dendam, dan satu kecelakaan yang merenggut sesuatu dari tubuh Om Bram selamanya—cinta mereka harus melewati badai yang tak pernah mereka bayangkan.

Dulu, Om yang menyelamatkannya. Kini, giliran Sekar yang bersumpah menyembuhkan pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26

Cemburu

POV Bram

Aku kembali dari Surabaya dua hari setelah pembukaan Nabra Boutique.

Nama toko itu sudah sampai kepadaku melalui pesan Gunawan sebelum pesawat mendarat. Dia mengirim foto papan merah muda dengan tiga tanda tanya dan satu kalimat.

`Nadia masih terobsesi masa lalu atau saya yang terlalu pandai membaca singkatan?`

Aku tidak membalas. Setelah keluar bandara, aku menelepon pengacara merek perusahaan dan meminta pemeriksaan biasa terhadap penggunaan nama tersebut. Bukan untuk menyerang Nadia, hanya memastikan tidak ada unsur merek Adiwangsa atau identitas pribadiku yang dipakai tanpa izin.

Sekar belum menceritakan bahwa dia mengunjungi toko itu. Pesannya selama aku di Surabaya hanya tentang jadwal kuliah, foto makan siang, dan keluhan karena Dinda memaksanya membeli syal mahal.

Aku seharusnya langsung menuju kantor. Sebaliknya, aku menyuruh Fikri membawa koper ke SCBD, lalu mengemudikan mobil sendiri ke kampus UI.

`Rapat pertama dipindah satu jam,` pesanku kepadanya.

Balasannya datang cepat.

`Baik, Pak. Apakah perlu saya siapkan alasan profesional?`

`Tidak.`

`Berarti alasan pribadi.`

Aku mengunci layar tanpa menjawab.

Pukul empat sore, mahasiswa memenuhi gerbang kampus. Aku memarkir mobil di tempat yang biasa dan hendak mengirim pesan kepada Sekar ketika melihatnya menuruni tangga.

Dia tidak sendirian.

Seorang laki-laki muda berjalan di sampingnya. Tubuhnya tinggi, kemeja kampusnya digulung sampai siku, dan tawa lepasnya membuat Sekar ikut tersenyum. Dia membawa dua gelas minuman, lalu menyerahkan satu kepada Sekar.

Sekar menerimanya.

Tanganku mengencang pada kemudi.

Laki-laki itu mengatakan sesuatu yang tidak bisa kudengar. Sekar memukul ringan lengannya dengan gulungan kertas. Mereka berdiri dalam jarak yang wajar bagi dua teman, tetapi pikiranku mengukur setiap sentimeter seolah jarak itu pelanggaran.

Aku mengenali wajahnya setelah beberapa detik.

Rangga Saputra, putra Pak Suryo. Namanya pernah muncul dalam berkas SMA Tunas Bangsa dan beberapa kegiatan alumni. Usianya sebaya dengan Sekar, latar belakang keluarganya baik, dan dari cara teman-teman lain menyapanya, dia jelas mudah disukai.

Semua fakta itu justru membuat perutku semakin tidak nyaman.

Aku ini kenapa? Cemburu sama anak muda seumuran dia?

Aku baru saja meminta Sekar memberiku waktu. Tidak ada janji bahwa dia harus menolak semua kemungkinan lain sementara aku menimbang ketakutanku sendiri. Jika Rangga menyukainya, dia memiliki kebebasan untuk memilih.

Pikiran yang masuk akal itu tidak menolong sedikit pun.

Rangga membuka sedotan minumannya. Sekar tertawa lagi. Jemariku semakin memutih pada kemudi.

Ponselku akhirnya bergetar.

`Om sudah sampai?`

Aku menjawab singkat.

`Di depan gerbang.`

Sekar langsung menoleh ke area parkir. Ketika melihat mobilku, seluruh wajahnya berubah cerah. Dia mengatakan sesuatu kepada Rangga, lalu berlari kecil ke arahku.

Simpul di perutku mengendur dengan cara yang memalukan.

Selama dua hari di Surabaya, aku menolak menyebut rasa rindu bahkan dalam pikiran sendiri. Aku hanya memeriksa pesan Sekar sebelum rapat, setelah rapat, dan setiap kali layar ponsel menyala. Sekarang satu senyum darinya membuktikan bahwa semua penyangkalan itu sia-sia.

Masalahnya bukan apakah Rangga laki-laki baik. Masalahnya adalah Sekar bisa tersenyum seperti itu kepada orang lain, dan aku tidak memiliki hak untuk meminta senyum tersebut disimpan hanya untukku.

Janji meminta waktu mendadak terasa egois. Aku menahannya di dekat pintu, tetapi belum mengundangnya masuk.

Aku keluar dan membukakan pintu penumpang.

"Om pulang lebih cepat," katanya. "Katanya malam."

"Rapat selesai."

"Aku kira Om langsung ke kantor."

"Harusnya begitu."

Sekar masuk sambil masih memegang minuman. Aku menutup pintu, lalu melihat Rangga dari atas kap mobil. Laki-laki itu mengangkat tangan dengan sopan. Aku membalas anggukan sekecil mungkin.

Di dalam mobil, Sekar memasang sabuk pengaman.

"Itu Rangga," katanya. "Dia dari kelas sebelah. Orangnya baik. Tadi dia beli minuman untuk satu kelompok karena presentasi kami selesai."

"Oh."

"Cuma oh?"

"Saya harus bilang apa?"

"Nggak tahu. Biasanya Om bertanya sampai nama orang tuanya."

Aku menyalakan mesin. "Kamu tidak suka kalau saya terlalu banyak bertanya."

"Sekarang malah diam."

"Saya sedang belajar tidak mengendalikan."

Sekar menatapku beberapa detik, lalu senyum kecil muncul. "Bagus."

Dia menyodorkan gelas minuman. "Mau coba?"

"Tidak."

"Ini cuma teh leci, bukan racun dari laki-laki muda."

Aku menoleh terlalu cepat. Sekar tertawa, jelas menangkap sesuatu dari wajahku.

"Kenapa menyebut racun?" tanyaku.

"Karena Om melihat gelas ini sejak tadi."

"Saya memastikan kamu tidak minum sesuatu yang mengganggu obat."

"Obatku sudah selesai dua minggu lalu."

"Tetap terlalu manis."

"Om bahkan belum mencicipi."

Aku memilih memusatkan perhatian pada jalan. Sekar meminum tehnya dengan senyum yang belum hilang. Dia mungkin belum memahami seluruh alasannya, tetapi aku merasa baru saja gagal menyembunyikan kecemburuan dari orang yang paling ingin kubohongi.

Seharusnya aku merasa berhasil. Namun saat mobil bergerak, aku melihat Rangga di kaca spion. Dia masih berdiri di tangga, memperhatikan kendaraan kami keluar.

"Om kenal ayahnya?" tanya Sekar.

"Pak Suryo dulu kepala sekolahmu."

"Aku baru tahu Rangga anak beliau."

"Keluarganya baik."

"Oh."

Sekarang giliran jawabannya yang membuatku kesal.

Sekar menyembunyikan senyum di balik sedotannya, membuat kekesalanku terasa semakin transparan dan kekanak-kanakan.

Kami keluar dari area kampus. Aku bertahan hampir satu menit sebelum pertanyaan itu lolos.

"Rangga itu... anak siapa?"

Sekar menoleh dengan alis terangkat. "Om baru saja jawab sendiri. Kenapa tanya lagi?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!